Ummi di Mata Jo


Ummi, menjelang penyembelihan dua ekor kambing pagi itu, kita sepakat nama Joang Dimarga Albarr untuk buah hati kedelapan kita itu.  Marga artinya jalan.  Albarr adalah asmaul husna yang artinya Maha Baik. Berjuang di jalan Sang Maha Baik. Itulah arti lengkap nama yang merupakan untaian doa untuk bungsu kita itu.

Ketika itu kita putar otak untuk mencari ide nama unik. Yang tidak sama dengan nama orang lain. Mengikuti pola nama kakak-kakaknya. Mulai si sulung Bina Izzatu Dini, disusul Raih Salsabila, Ahmad Aufa Bil Jihadi, Gina Aninnas, Dibela Syafaatillah, Siar Risalatunnabi, dan Disayang Ahlu Jannati.

Namanya adalah doa agar si sulung membina kehidupan untuk kemuliaan agama.  Agar si nomor dua meraih salsabila yaitu mata air di surga. Agar si nomor tiga memenuhi panggilan perjuangan di jalan-Nya. Agar si nomor empat kaya dari meminta-minta kepada manusia. Agar si nomor lima dibela oleh syafaat Tuhannya. Agar si nomor enam menyiarkan ajaran nabi. Agar si nomor tujuh menjadi orang yang disayang oleh pemilik surga. Semoga semuanya adalah untaian doa yang terkabul. Aamin.

Ummi, si bungsu itu masih berumur 3 tahun ketika kau tinggal pergi. Tentu saja si Jo belum bisa memahami apa arti kematian. Taunya adaah bahwa ummi pergi naik ambulan. Kebetulan bungsu kita itu sangat suka dengan mobil-mobilan. Ada macam-macam mainan mobil koleksinya. Ambulan adalah salah satunya. Maka, ia hafal betul apa itu ambulan. Dan kebetulan sepanjang sakit sampai meningal memang ummi beberapa kali berangkat dan pulang naik ambulan. Memori itu berbekas sekali bagi Jo.

Ummi, beberapa hari setelah kepergianmu, abi mengajaknya jalan-jalan bermobil sekitar rumah. Di jalan ada ibu-ibu berjilbab besar seperti jilbab yang biasa kau pakai. Jo pun menunjuk-nunjuk ibu itu. “Itu ummi ya?”. Itu kata yang terucap dari bibir mungilnya. Air mata harukupu meleleh lagi.

Jo sedang bereksperimen mencicipi garam himalaya

Tidak terhitung berapa kali Jo menanyakan kapan ummi pulang. Wajar karena sejak sakit ummi beberapa kali pergi naik ambulan dan  pulang kembali ke rumah.  Tentu kecuali ambulan yang kau naiki menuju  pemakaman.  Semula abi selalu menjawab bahwa ummi pergi tidak akan pulang. Belakangan ada ide jawaban bagus dari si sulung. Ummi pergi tidak akan pulang. Kita nanti yang akan menyusul ummi suatu saat. Jawaban itu yang akhirnya aku pakai menjawab pertanyaan tentang kepulangan umi dari si Jo.

Ummi, semalam, hampir genap sebulan kepergianmu, Jo minta abi untuk meneleponkan ummi. Abi tidak menyangka Jo punya permintaan seperti itu. Tapi abi tidak pikir panjang menjawabnya bahwa ummi tidak bisa ditelepon. Itu adalah seperti yang selama ini kau lakukan kepada anak-anak. Tidak pernah menjawab dengan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Katakan apa adanya. Tidak menipu anak-anak walau dengan maksud menghiburnya. Walaupun mungkin itu terasa berat. Itulah pelajaran kejujuran yang kau selalu ajarkan ke anak-anak.

Ummi, sepanjang usia Jo sampai kau tinggalkan, praktis hanya dua tahun kau sempat mengasuhnya sebagaimana kakak kakaknya. Sepanjang dua tahun kemanapun kau pergi kau ajaknya. Karena aktivitas sehari-harimu adalah mengajar Al Qur’an dan mengurusi TPQ Qiroaty se kota Surabaya, maka si bungsu itu juga mengikutimu berinteraksi dengan Al Qur’an.   Tahun ketiga kau sudah sakit. Disamping juga karena pandemi sehigga kau praktis hanya di rumah.

Insyaallah, dua tahun itu cukup untuk mewarnai jiwanya. Mulai mendengar adzan dan iqomat yang abi kumandangkan begitu ia lahir. Lalu kita hadirkan di dekat dua ekor kambing yang abi sembelih sendiri pada hari ketujuh hidupnya. Sebagaimana kakakak-kakaknya, kita pastikan buah hati kita merasakan dari dekat makna pengorbanan sejak dini. Lalu selalu mengikutimu mengajar dan mengurusi pengajaran Al Qur’an dari masjid ke masjid.  Lalu terus abi ajak sholat jamaah ke masjid sebelum pandemi. Lalu ikut menikmati lantunan adzan dan iqomat lima waktu yang abi kumandangkan sebelu sholat jamaah di rumah semasa pandemi.  Insyaallah harapanmu agar Jo menjadi anak sholeh akan terwujud. Menjadi anak yang terus mendoakanmu sepanjang hayatnya. Tentu juga mendoakanku juga. Aamin.

Ummi, obituari yang abi tulis ini pun juga punya maksud pendidikan bagi Jo. Harapan abi, kelak ketika Jo sudah faham arti kematian. Ketika Jo sudah bisa membaca. Ketika Jo sudah dewasa. Seri obituari untukmu yang insyallah akan diterbitkan menjadi buku ini akan membantunya mengenalmu. Mengenal ibunya yang pejuang Al Qur’an. Mengenalmu sebagai sosok ibu sempurna bagi anak-anakmu. Mengenalmu yang mengakhiri hidup dengan menyebut nama Tuhanmu. Dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang merupakan penanda husnul khotimah. Allahumarhamha.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu

*)Artikel ke-309 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya pada tanggal 23 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesebelas untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Musim Durian Tahun Lalu


Ummi,  kemarin sore aku menikmati durian di Lampung. Buah yang kita suka menikmatinya rame-rame bersama anak-anak. Kembali aku ingat keindahan bersamamu. Maka, di Cengkareng ini hatiku tergerak menuliskan obituari kesepuluh untukmu ini. Obituari tentang durian sebagai salah satu cara kita menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan keluarga. Kebahagianmu. Kebahagiaanku. Kebahagiaan anak-anak kita.

Musim durian tahun lalu, kita menikmati puncaknya dalam festifal tumpeng raksasa durian di Wonosalam. Pemicunya adalah seorang sahabat yang memposting di media sosial tentang event itu. Pendiri perusahaan perkekebunan durian itu mengumumkan adanya acara camping bersamaan dengan perhelatan besar itu. Kau langsung antusias saat kuajak ikut.

Dan, sore itu, selepas kau mengajar TPQ, kita berangkat berempat. Kau, aku,  Jo dan Disa. Enam buah hati yang lain sudah pada meninggalkan rumah karena menikah,  kuliah, maupun di pesantren. Sore itu kita berempat menikmati perjalanan menuju wonosalam dalam cuaca yang hujan deras nyaris sepanjang perjalanan. Jarak pandang terbatas.  Seperti biasanya kau selalu mengingatkan agar aku berhati-hati mengemudi dalam cuaca seperti itu. Kita menikmati kebersamaan perjalanan dengan kehati-hatian. Tetapi bersamamu, lambatnya laju kendaraan yang diakibatkannya pun sudah merupakan kegembiraan. Kita menikmatinya.

Tiba di lokasi, sahabatku bos kebun durian itu  langsung menyambut kita dengan setumpuk buah harum semerbak itu. Kita makan sepuasnya dalam keceriaan. Duriannya melimpah. Pembatasnya hanya perut kita. Paduan antara durian dan kebersamaan. Kebersamaan kita dengan anak-anak. Kebersamaan dengan sahabatku itu.

Kita puas-puaskan menikmatinya sebelum akhirnya tiba waktu adzan isya. Kita sholat jamak magrib dan isya di mushola kebun durian itu juga. Mushola di tengah kebun durian adalah sebuah kenikmatan tersediri. Berbalut keceriaan mondar mandir Jo dan Disa keluar masuk tenda. Bercengkerama menikmati suasana pegunungan.

Keesokan harinya kita bersama menikmati pesta akbar durian itu. Banyak pejabat datang untuk puncak acaranya. Kita gelar tikar sekedarnya di lokasi acara. Duduk-duduk menikmati keceriaan Jo dan Disa diterpa hangatnya sinar mentari pagi pegunungan nan menyehatkan. Diselingi keceriaan mereka naik komedi putar. Diselingi keceriaan kita menikmati aneka menu di para pedagang di sekitar lokasi acara.

&&&

Ummi, kita sekeluarga suka durian. Suka kebersamaan dalam menikmatinya.  Tapi kita penasaran bagaimana bisa memilih dan memastikan durian yang benar-benar enak. Yang dagingnya tebal. Yang teksturnya lembut. Yang rasanya legit. Yang ada sedikit  pahit-pahitnya. Yang aromanya menggoda. Tidak sekali dua kali kita salah pilih. Atau bahkan tertipu. Maka, musim durian tahun lalu kita berdua bertekat untuk belajar. Serius menguasai keahlian memilih durian.

Kita pelajari konspnya melalui berbagai sumber internet. Lalu kita prakekkan. Membeli durian yang belum masak. Kita bawa pulang. Lalu kita amati perkembanganya dari hari ke hari. Begitu matang kita belah bareng-bareng dengan penuh penasaran. Benarkah pilihan kita itu? Dan tiu terus-menerus kita lakukan sepanjang musim durian tahun lalu. Di rumah selalu ada durian menunggu masak.

Musim durian tahun lalu tepat berkahir ketika kita yakin telah menguasai keahlian itu. Keahlian memilih durian. Akurasinya telah kita buktikan dengan percobaan sederhana itu. Kita tidak bisa lagi ditipu-tipu tentang durian. Dan…kita akan menyambut musim durian tahun-tahun berikutnya dengan lebih suka cita. Terbayang sudah kenikmatannya. Terbayang sudah kebahagiaannya. Terbayag sudah manfaatnya untuk kekokohan keluarga kita.

Tapi takdir berkata lain.  Mejelang musim durian tahun ini kau dipanggil-Nya. Ummi, kini musim durian telah tiba. Tapi abi tidak bisa lagi menikmatinya denganmu. Menikmati lezatnya buah asli nusantara ini ini bersamamu. Menikmati hasil pembelajaran kita bersamamu. Menikmati keindahan bersamamu.

Tetapi itulah takdir-Nya. Aku masih terus berproses  untuk bisa sepenuhnya menerima. Memang tidak mudah. Air mata ini masih terus berlinang mengingatmu. Tetapi delapan anak-anakmu sangat membantu prosesnya. Alhamdulillah. Aku masih bisa menikati durian bersama mereka. Memang segala sesuatunya  tidak akan lagi seperti musim durian tahuh lalu. Ketika kau  masih bersamaku. Mempelajarinya bersamamu. Dan menikmatinya bersamamu.

Ummi, yang menguatkanku adalah keyakinan bahwa membahagiakan anak-anak adalah tugas mulia bagi setiap orang tua. Itulah keyakinan kita. Menjadikan keluarga sebagai tempat yang paling indah bagi mereka. Keceriaan durian di keluarga hanyalah salah satu dari cara sederhana kita mewujudkan keluarga idaman bagi anak-anak kita. Salah satu dari banyak cara.

&&&

Ummi, banyak orang yang suka durian tetapi tidak mampu memilihnya sendiri saat membelinya. Dan di situ ketrampilan yang kupelajari bersamamu mendapatkan tempatnya. Beberapa waktu lalu aku rapat dengan klien SNF Consulting di Wonosalam. Bagasi mobil penuh buah durian.  Sebagian untuk aku nikmati bersama anak-anak. Sebagian untuk diantar ke tetangga. Dan betapa bahagianya hati ini manakala mereka sangat mengapresiasi durian pilihanku. Durian yang dipilih dengan ilmu hasil belajar kita berdua.

Ummi, dalam hidupmu kau biasa melakukan banyak hal untuk membahagiakan orang lain. Bahkan bukan hanya kebahagiaan dunia semata. Dan kini, ketika kau telah tiada, ilmu sederhana pemilihan durianmu insyaallah akan tetap bisa membahagiakan orang lain. Walaupun kecil, aku yakin itu adalah tambahan pahala untukmu. Membahagiakan anak-anak kita. Membahagiakan tetangga kita. Membahagiakan sahabat-sahabat kita.  Melengkapi amal jariyah besarmu mengajarkan Al Qur’an selama lebih dari 20 tahun hidupmu. Allahumarhamha. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku

*)Artikel ke-308 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan pulang di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 21 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesepuluh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Istriku Editorku


Ummi, kehilanganmu adalah juga kehilangan seorang editor. Bukan sembarang editor. Ummi adalah editor luar dalam bagi abi. Kukura tidak akan ada lagi editor seperti dirimu itu. Air mataku kembali menetes deras. Air mata keridhoan untukmu duhai ibu anak-anakku.

Dulu awal kita menikah belum musim komputer. Kau punya mesin ketik manual yang kau beli untuk kepentingan mengerjakan tugas-tugas praktikummu. Jauh sebelum kita menikah. Aku punya mesin ketik yang aku beli dari hadiah lomba menulis artikel di Surabaaya Pos. Juga sebelum kita menikah. Praktis di rumah kita ada dua mesi ketik. Dan, ketika itu kita sepakat, ngapain harus ada dua mesin ketik. Maka tidak pikir panjang salah satu mesin ketik kita itu jual. Aku masih ingat yang dijual adalah mesin ketikmu. Mesin ketikku dipilih karena ketika itu kondisinya lebih baik.

Istriku editorku

Jaman itu kau dan aku menulis dengan mesin ketik manual. Maka tidak ada kebutuhan editor disitu. Yang ada alah type ex berupa cairan atau kertas untuk mengoreksi jika terjadi salah ketik. Dan sebagai penulis aku melakukannya sendiri. Aku sudah produktif menulis yang memang sudah menjadi hobiku sejak SMA. Tentu sudah akrab dengan type ex itu sejak SMA juga. Tapi belum terpikir kebutuhan seorang editor.

Kebutuhan editor baru muncul ketika kita pertama kali beli komputer sekitar tahun 1996. Masih ingat ketika itu sebagai pasangan suami istri yang sama-sama mahasiwa kita harus memastikan bahwa aku dan kau lulus dua duanya. Itu komitmen kita saat menikah. Itu juga janji kita kepada orang tuaku dan oranag tuamu. Bahwa pernikahan tidak akan menggagalkan kuliah kita. Dan alhamdulillah kita sukses membuktikannya.

Untuk memastikan hal itu kita datang berdua ke senior dan dosen kita, Pak Daniel Rosyid bersama istri beliau ketka itu. Kini sang istri itu juga sudah almarhumah. Allahumarhamhunna. Kita konsultasi bagaimana pengalaman beliau menyelesaikan studi bahkan sampai doktor sambil mengasuh anak-anak. Dan saran beliau luar biasa. Mujarab. Salah satunya adalah hal teknis. Bahwa kita harus beli komputer lengkap dengan printer. Agar tiap hari bisa menabung tulisan untuk kelulusan itu setiap hari. Jika sehari menulis satu halaman, maka 3 bulan skripsipun kelar.  Bulan keempat tinggal melakukan perbaikan ini dan itu. Simple sekali.

Dan atas saran itu maka kita beli komputer  untuk pertama kalinya. Komputer rakitan bekas. Kepentingan pokoknya adaLah untuk mengerjakan tugas akhir alias skripsiku  yang memang sudah waktunya diselesaikan. Tentu termasuk untuk melanjutkan hobi menulisku yang sudah kulakukan sejak SMA. Selanjutnya juga skripsi dan tugas akhirmu. Dan alhamdulillah saran pak Daniel Rosyid itu mujarab. Tugas akhirku selesai tidak lama setelah membeli komputer dan printer bekas itu. Tugas akhirmu menyusul tiga tahun kemudian karena kau harus banyak cuti untuk kelahiran anak-anak kita.

Nah, sejak ada komputer itu, begitu aku menulis sesuatu, engkaupun sigap. Membantu mengedit tulisanku manakala aku harus pergi mencari nafkah. Atau kadang aku harus beristirahat untuk menyimpan energi kuliah, aktif di masjid kampus kita, merintis bisnis untjk mencari nafkah, dan tentu mengasuh junior-junior kita. Itu semua kau lakukan disela-sela aktivitasmu yang juga tidak kalah padat.

Jika dihitung dari pembelian komputer itu, kau telah menjadi editorku sejak usia tiga tahun pernikahan kita. Hingga sakitmu dan kau tidak mungkin lagi mengedit tulisanku setahun lalu, berarti kau telah menjadi editor setiaku selama 23 tahun. Subhanallah. Belasan buku dan ribuan artiekel telah terlahir senjang waktu itu.

Mengedit 23 tahun plus kebersamaan dalam suka dan duka sepanjang itu, tentu membuat isi otakku sebagai seorang penulis semua tertumpah ke otakkmu. Jangan heran jika kau adalah editor yang sangat mengerti aku. Luar dalam. Sesekali aku bertanya kepadamu tentang artikel yang telah aku posting tanpa memintamu mengeditnya. Aku tanya kau baca tidak tulisan itu. Dan kau suka menjawab. Ndak usah membacapun aku sudah tau isinya. Begitu jawabmu. Bagaimana tidak tahu, kau adalah istriku sekaligus editorku yang membersamaiku 24 jam tanpa batas.

Maka jangan heran ketika aku pernah mencoba meminta seseorang mengedit tulisanku. Dia kerjakan dengan sangat serius. Tidak main-main. Tapi begitu aku baca lagi hasil editan dia, aku tidak bisa menerimanya. Jauh sekali dengan editanmu. Maka, akupun kembali ke kau. Ke dirimu. Istriku editorku. Dan itu hanya terhenti karena saat sakitmu tidak memungkinkanmu lagi untuk menjadi editor.

Umi, aku menulis berbagai konsep manajemen yang kemudian dipakai berbagai kalangan bisnis atau investor. Aku meiatkannya sebagai amal jariyah melalui ilmu yang bermanfaaat. Sejarah berbagai perusahaan,  gergaji korporatisasi, kurva korporatisasi, financial spiritual quotient, crowding effect, corporate life cycle, sistem manajemen, tripod  manajemen. Itu adalah beberapa contoh konsep yang kini dipakai berbagai perusahaan. Baik klien SNF Consulting maupun perusahaan manapun yang membaca tulisan yang memang aku share secara gratis kemana-mana itu. Dan….kau berkontribusi tak tergantikan disitu.

Ada yang tertulis secara formal posisimu sebagai editor dan itu bisa di-googling. Ada lebih banyak lagi yang tidak tertulis secara formal. Dan demi merasakan pengorbananmu bagiku dan bagi keluarga kita salama ini, aku yakin seyakin-yakinya. Saat ini kau sedang menikmatinya sebagai amal jariyah dari itu semua. Tentu saja disamping amal jariyahmu sendiri sebagai guru Al-Qur’an yang istiqomah selama lebih dari 20 tahun.

Ummi, rumah kita yang juga merupakan studio kepenulisanku adalah saksi bisunya. Di rumah itu buku adalah harta yag paling menonjol. Maka aku suka menamakan rumah itu sebagai SNF Consulting house of management. Melengkapi keberadaan kantor yang di jalan Pemuda itu. Logo SNF hijau segar merah merekah masih terpasang indah di terasnya. Rumah itu menjadi saksi peranmu sebagai editor yang tidak kenal waktu menjaga gawang tulisanku sebelum dibaca orang lain. Dua puluh empat jam. Meja kerja di kamar pribadi kita itu adalah bagian terpenting dari saksi bisu itu.

Ummi, kini kau tidak disisiku lagi. Tidak menjadi editorku lagi. Tapi aku telah berkomitmen untuk terus bekerja keras agar konsep-konsep manajemen itu terus dipakai di dunia korporasi. Melalui SNF Consulting, aku bersama seluruh tim bekerja keras untuk memastikannya. Walaupun profesi resmimu adalah guru Al Qur’an, tapi kau tahu betul konsep itu. Kau tau betul bahwa konsep-konsep itu adalah solusi terhadap eknomi bangsa dan umat ini. Agar kita menjadi bangsa dan umat produsen. Tidak seperti selama ini yang hanya bisa menjadi konsumen. Dan…di dalam peran itu semua ada namamu. Ada amal jariyahmu. Istriku editorku. Allahumarhamha. Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku

*)Artikel ke-307 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 19 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesembilan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Bisnis Rumah Sakit: Bagaimana 2021?


Bagi sebuah perusahaan, akhir tahun adalah saat penyusunan rencana bisnis. Salah satu tugas para direksi. Tugas administratif yang didalamnya mengandung konten stratatejik. Disebut tugas admistratif karena memang secara formal harus dilakukan. Undang-undang PT sebagai dasar berdirinya perusahaan mewajibkannya. Tidak melakukannya berarti melalaikan kewajiban. Bisa menjadi pintu masuk berbagai kesalahan-kesalahan berikutnya. Bahan bisa fatal.

Disebut mengandung konten stratejik karena rencana bisnis adalah bagian dari perencAnaan secara umum. Bagian dari planning. Planning adalah satu dari tiga tripod manejemen. Dua yang lainnya adalah executing dan controlling. Fungsinya persis seperti kaki-kaki sebuah tripot. Tidak adanya salah satu kaki mengakibatkan tripod tidak berfungsi. Lemahnya salah aatu kaki mengakibatkan kelemahan tripod secara keseluruhan.

Perencaan adalah berdiri diantara dua kutub waktu. Masa lalu dan masa yang akan datang. Ini yang menarik. Tahun 2020 dunia bisnis diobrak-abrik oleh pandemi. Ada yang menikmatinya sebagai durian runtuh. Ada yang datar-datar saja. Ada yang dihabisi. Bagimana tahun 2021?

$$$

Hingga triwulan ketiga tahun 2020, Siloam Hospital mencatatkan pendapatan Rp 5,00 triliun. Angka ini mengalami penurunan 4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesaar Rp 5,22 triliun. Penurunan omzet ini sampai berakitbat perusahaan jaringan rumah sakit ini mengalami kerugian Rp 43 miliar. Periode yang sama tahun lalu mengantongi laba Rp 55 miliar.

Bagaimana tahun 2021: Menyerang atau bertahan?

Namun demikian, dalam kondisi yang merugi, Siloam tetap berivestasi. Laporan arus kas nya menunjukan besaran investasi sebesar Rp 177 miliar. Lebih dari 3x laba tahun sebelumnya. Tepatnya 3,2x laba tahun sebelumnya. Dari catatan laporan keuangannya, sebagaian besar investasinya adalah berupa pembelian aset tetap.

$$$

Belanja modal. Ini adalah isu paling stratejik dalam sebuah perencanaan bisnis. Stratejik karena ini adalah tentang eksistensi perusahaan. Belanja modal terkait erat dengan ekspansi pasar. Bagi sebuah perusahaan rumah sakit misalnya, belanja modal artinya adalah menambah rumah sakit baru. Menambah kapasitas.

Kemungkinannya bisa dua. Rumah sakit baru itu disambut baik oleh pasar. Menghasilkan pendapatan yang cukup umtuk menutup biaya dan menghasilkan laba. Jika ini yang terjadi maka sebuah perusahaan akan makin eksis di pasar. Jika pesaing-pesaingnya tidak melakukan hal yang sama artinya pangsa pasar perusahaan mengalami kenaikan. Makin mendominasi pasar.

Sebaliknya jika investasi gagal diterima baik oleh pasar, perusahaan akan mengalami kerugian. Jika volume investasinya sangat besar, maka efeknya pun akan sangat besar. Bisa mengganggu dan bahkan menghancurkan eksistensi perusahaan. Inilah risikonya.

Pertanyaannya, jika Anda adalah CEO alias direktur utama Siloam, perencanaan seperti apa yang akan Anda putuskan? Tetap seperti tahun 2020 yang walaupun rugi tetap menggelontorkan investasi lebih dari 3x laba tahun sebelumnya? Atau menahan diri tidak berinvestasi sambil menunggu apa yang terjadi. Sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh para pesaing?

Bagaimana perushaaan Anda? Apakah merencankan untuk verinvestasi? Atau masih menahan diri sambil menunggu perkembangan? Menunggu apa yang akan dilakukan oleh para pesaing? Membiarkan para pesaing menguasai pasar? Anda yang bergerak di sektor rumah sakit, bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corona Pits Stop atau New Normal
Pandemi dan Analogi Rata-rata Kelas

*)Artikel ke-306 karya Iman Supriyono ini ditulis pada akhir tahun 2020 untuk Majalah Matan yang terbit di Surabaya edisi Januari 2021

Kau, Aku dan Adikku


Ummi, sejak awal kita sepakat bahwa pernikahan bukan hanya antara kau dan aku. Lebih dari itu, pernikahan ini adalah antara keluargaku dan keluargamu. Dan untuk ini, abi benar-benar bersyukur memilikimu. Kau pandai menjalin persaudaraaan dengan kakak adikku. Kau cakap berinteraksi dengan ayah ibuku.

Karena kau perempuan, tentu saja interaksi dengan saudara-saudaraku yang perempuanlah yang lebih menonjol. Dan karena kedekatan tempat tinggal, yang paling kompak tentu saja dengan adik perempuanku si nomor 4 yang rumahnya tidak sampai sejam perjalanan bermobil dari rumah kita. Kau biasa memanggilnya dengan panggilan sayang anak-anakmu kepada adikku itu, Amah Bud.  

Sesungguhnya, kedekatan itu sudah kau bangun sejak Amah Bud kuliah. Kebetulan dia adalah adik kelas kita di ITS. Adik kelas sangat jauh. Selisih 9 tahun dengan kita. Karena kita juga tinggal di kawasan tidak jauh dari kampus kita itu, maka, jadilah Amah Bud praktis seperti “ikut” kita saat kuliah.

Apalagi masuknya ke ITS pun atas arahan dan bimbingan kita. Mulai dari pemilihan jurusan sampai bagaimana belajar mempersiapkan diri untuk bisa tembus ujian masuknya. Praktis selama proses pembelajaran juga rajin berdiskusi dengan kita. Bahkan saat menulis tugas akhir alias skripsi untuk kelulusannya pun berdiskusi dengan kita. Aku masih ingat di Jurusan Biologi itu ia membuat tugas akhir tentang obat nyamuk.

Kedekatan Amah Bud denganmu itu kau wariskan dengan sempurna ke anak-anak kita. Jika sedang ada masalah, anak-anak kita itu mengadu kepada amah Bud seperti mengadu kepada ibunya sendiri. Bahkan ketika masalah itu begitu berat dan mereka perlu bantuan orang lain diluar bapak ibunya, Amah Bud adalah tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencurahkan masalahnya.

Bukan hanya kau yang merasa dekat dengan amah Bud. Tetapi juga sebaliknya. Amah Bud juga merasa sangat dekat denganmu. Ini jelas terbaca pada saat adikku itu dilamar seorang pemuda. Ketika itu, dia mantap bulat untuk menyerahkan keputusannya kepadamu. Adikku percaya penuh pada ketajaman jiwamu. Pada kekuatan hatimu. “Jika menurut mbak Anni iya aku akan memutuskan iya. Jika mbak Anni tidak, aku akan menolaknya”. Demikian sikapnya.

Kau bersama dua adik perempuanku

Setelah mempertimbangkannya dengan seksama, kau memutuskan iya. Subhanallah, ayahku, ibuku, aku, kakakku, adik-adikku semua percaya kepada keputusanmu. Dan itulah yang dijalani oleh Amah Bud hingga kini. Kini dua buah hati nan cantik shalihah terlahir dari pernikahan yang keputusannya didasarkan pada ketajaman hatimu itu. Semoga keputusan itu akan mengantarkan keluarga Amah Bud untuk juga mengikuti jejakmu kelak ketika sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Menghadap-Nya dengan cara yang indah. Menyebut nama Sang Khaliq pada kalimat terakhirnya. Menghadap-Nya dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang di agama kita adalah penanda husnul khotimah. Aamin.

Kau ringan sekali membantu adikku itu manakala ia membutuhkan. Saat-saat kau sudah sakit berat dan adikku itu ada masalah, kau dengan ringan hati bersamaku datang ke rumahnya. Kau turun dari mobil dengan berat untuk naik ke undak-undakan di depan rumahnya itu. Dengan penderitaan sakit yang sebenarnya tak tertahankan. Ragamu terasa berat. Tetapi hatimu terasa ringan untuk membantunya. Kau adalah kakak sejati baginya.

Sebaliknya, saat-saat sakitmu, adikku itulah orang yang paling banyak membantuku merawatmu. Mengantarmu ke rumah sakit dan gantian denganku menjagamu. Mengurusi penyewaan ranjang pasien untukmu ketika kau minta keluar dari rumah sakit dan memilih perawatan di rumah. Mencarikan tenaga profesional untuk perawatanmu di rumah. Dan tentu saja menjaga Jo dan kakak-kakaknya agar tetap dalam kondisi baik dalam segala hal manakala kita berdua tinggal di rumah sakit.

Saat-saat sakitmu makin memberat, adikku itulah yang menjadi temanku mengambil berbagai keputusan penting tentangmu.  Mengambil keputusan-keputusan penting tentang perawatanmu pada detik-detik terakhirmu berada di dunia ini. Dan akhirnya, air mata adikku itupun meleleh deras manakala kau pergi. Larut bersama air mata anak-anakmu. Larut bersama air mataku. Kau pergi dipangkuanku, di pangkuan anak-anakmu, dan di pangkuan adikku itu.

Dalam kondisiku galau sepeninggalmu, adikku itu yang membesarkan hatiku. Disampaikanya bahwa kau telah meninggalkan dunia dengan cara yang sangat baik. “Justru kita yang ditinggalkan ini yang tanda tanya. Bisakah kita meninggal dunia dengan amal jariyah sebanyak  yang Mbak Anni telah lakukan? Bisakah kita meninggal dengan cara yang sangat indah seperti Mbak Anni?”. Subhanallah. Ummi, air mataku kembali meleleh deras saat sepuluh jemariku menulis obituari kedelapan untukmu ini. Allahumarhamha. Duhai Dzat yang menggenggam jiwaku, berilah aku husnul khotimah saat Engkau takdirkanku menyusul almarhumah kelak. Berikan juga itu untuk anak-anakku. Pula untuk adikku itu.  Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu

*)Artikel ke-305 karya Iman Supriyono ini ditulis kantornya di Surabaya pada tanggal 14 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kedelapan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu


Ummi, kita memulai kehidupan bersama dari nol. Kau mahasiswi semester 7. Aku mahasiswa semester 7 juga. Sama-sama di kampus ITS. Sebuah kampus yang sangat kita nikmati lingkungan egaliter dan apa adanya. Tidak perlu jaim. Itu semua menjadikan kau dan aku biasa hidup sederhana.

Tetapi hidup sederhana itu sejatinya adalah jiwamu sejak kanak-kanak. Sejak kelas 1 SD kau sudah terpisah dari orang tua. Praktis kau sudah biasa pegang uang saku pribadi dari orang tuamu. Itupun nilainya pasti terbatas karena kondisi ekonomi ketika itu. Kesederhanaan itu adalah kamu.

Ummi, kesederhanaan adalah kamu. Adalah jiwamu sejak kecil. Bersamaku, kesederhanaan itu kau tampilkan dengan begitu baiknya. Kesederhanaan yang merupakan pilihan hidup. Kesederhanaan yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Kau pilih secara sadar dengan percaya diri. Itu yang kusuka. Itu yang kau mau. Itu yang kumau.

Bersamaku, jiwa itu kau munculkan dalam aneka kreasi penghematan. Sulung kita hafal betul menu mujair belek. Mujair adalah ikan yang semua orang kenal. Belek adalah bahasa jawa yang artinya belah.  Mujair yang dibelah menjadi dua bagian tipis-tipis. Pada masa awal kebersamaan kita sebagai mahasiwa, kita tetap konsen dengan gizi untuk anak-anak. Kita ingin mereka menjadi generasi yang cerdas otaknya, kuat fisiknya, dan tentu saja kokoh dalam ketakwaannya. Nah, kebutuhan gizi itu kau penuhi dengan cara yang sangat berhemat.

Mujair adalah ikan yang populer. Ikan tambak. Rumah kita memang tidak jauh dari kawasan tambak pantai timur Surabaya. Maka awal-awal pernikahan kita mujair adalah menu populer nomor satu. Kau suka beli yang ukuran kecil sehingga harganya murah. Mujair itu kemudian kau belah tipis menjadi dua. Kau goreng kering sehingga bisa dinikmati sebagai ikan krispi dengan harga super murah. Tentu lengkap dengan sayur dan buah buahan yang juga bergizi tinggi nan sederhana.

Mujairnya murah. Mujair ukuran kecil lebih murah lagi. Dan kau bisa membelinya dengan lebih lebih lebih murah murah murah lagi dengan kemaduraanmu. Pedagang ikan di pasar pagi sekitar kita umumnya orang Madura. Kau membeli dengan bahasa Madura yang bagimu adalah bahasa ibu. Tentu para pedagang itu langsung menyikapimu sebagai tretan tibi alias sudara sendiri. Harga pun jatuh. Muraaah….

Nah, mujair hanya salah satu yang populer. Masih banyak ikan laut lain  yang kau bisa beli dengan harga super murah. Itu tadi, kau beli yang ukuran kecil yang orang-orang sudah tidak suka. Belinya di tretan tibih. Jadilah anak-anak kita kaya protein. Jauh sebelum orang orang berkampanye makan ikan laut. Dan kini kita menikmatinya dengan prestasi akademik anak-anak kita yang membanggakan. Kita menikmatinya dengan kesehatan fisik mereka yang membahagiakan.

&&&

Ummi, biaya sekolah adalah sesuatu yang menyedot anggaran tinggi pada keluarga modern ini. Begitu juga keluarga kita. Apalagi kita pasang target yang tinggi. Kita ingin anak kita sejak SMA sudah sekolah di luar negeri. Kita melarang anak-anak kita kuliah sarjana di dalam negeri. Disitu jiwa sederhanamu muncul. Disitu jurus penghematanmu keluar.

Sebagian besar anakmu kau sekolahkan di SD negeri yang terjangkau bersepeda pancal dari rumah. Sekolah negeri nyaris tanpa biaya. Pelajaran agamanya kau cukupi sendiri sebagai guru Al-Qur’an. Antar jemputnya naik motor. Terlalu ribet kalau harus naik mobil. Kita hanya mengantar mereka naik mobil kalau pagi hujan deras. Naik motor hemat dan tidak ribet. Apalagi jaraknya dekat. Jalan kaki pun masih terjangkau. Jalan kaki itu yang dilakukan anak-anak kita kalau kondisi emergency.

Dan masih ada lagi pilihan hidupmu terkait motor dan mobil untuk keluarga kita. Untuk kau dan aku. Sepanjang 27 tahun kebersamaan kita, sudah tak terhitung berapa motor dan mobil yang pernah kita beli. Tapi sepanjang itu pula kita sama sekali tidak pernah membeli motor atau mobil baru. Kita selalu membeli yang tangan kedua. Motor dan mobil second hand. Kita suka pilih motor dan mobil yang berusia beberapa tahun. Harganya jauh lebih murah dari pada beli baru. Kualitasnya kita pilih yang masih standar seperti baru Pelajaran keinsinyuran mesinku dari ITS masih berguna untuk memilih motor atau mobil second yang kualitasnya baik.

Ummi juga nyaris tidak pernah memberi uang saku kepada anak-anak. Aku sangat mendukung itu.  Kau ajari anak-anak untuk makan pagi yang cukup. Lalu ke sekolah bawa bekal makanan dari rumah. Makanannya kau kontrol kesehatan dan nilai gizinya. Jadilah ini penghematan dan sekaligus higienis.

Makanan sederhana, praktis, kaya gizi, dan tentu dijamin halal. Tentang ini junior kita pernah menulis di media sosial pengalaman hidupnya. Dalam suasana mudik idul fitri kita pernah jalan-jalan semobil di hutan-hutan lereng gunung Wilis. Di perjalanan kita bersama menikmati pecel pincuk daun pisang di sebuah warung kecil. Nikmat luar biasa. Apalagi bagi lidahku yang aseli Madiun ini. Begitu nikmatnya, sampai kita lupa menghitung sebiji pisang goreng yang kita makan. Dan malangnya, kita ingatnya ketika sudah tiba di rumah di Surabaya.

Maka, kita diskusikan itu dengan anak-anak. Dan kita sepakati dengan anak-anak rencana kita tahun depan saat mudik idul fitri. Kita akan kembali lagi ke warung itu. Untuk menikmati pecel lagi dan membayar sebiji  pisang goreng yang kita lupa membayarnya. Dan idul fitri tahun berikutnya, kita jalankan rencana itu dengan baik. Anak-anak kita mencatatnya sebagai pelajaran tentang menjaga agar yang masuk ke mulut kita terjaga 100% halal. Bahkan untuk sebiji pisang goreng yang harganya tak seberapa.

Hasilnya, kau dan aku benar-benar bersyukur manakala mendengar sulung kita yang bekerja sebagai procurement di sebuah perusahaan multinasional. Dia cerita bagaimana para pemasok selalu menawari fasilitas ini dan itu. Menawari uang. Dan kita bersyukur bahagia bahwa semua tawaran itu ditolaknya dengan baik. Junior kita yakin tanpa ragu bahwa itu bukan haknya sebagai pegawai seorang karyawan. Dia bisa tampil kokoh mewakili perusahaan untuk mendapatkan harga terbaik. Anti menerima fasilitas dari pemasok. Bosnya begitu senang dan bangga dengan junior kita. Kisah sebiji pisang goreng itu selalu dikenangnya.

&&&

Biaya baju keluarga adalah contoh lain caramu berhemat. Cara lain ekspresi kesederhanaanmu.  Apalagi kalau hari raya. Membeli baju untuk anak-anak sebanyak anak kita tentu mahal. Apalagi kau dan aku masih mahasiswa. Saat aku masih merintis berkarir sebagai seorang entrepreneur. Itu yang kau antisipasi dengan sangat cerdik. Saat anak-anak kita masih kecil-kecil, kau memutuskan ikut kursus menjahit. Bukan kursus untuk menjadi seorang pebisnis busana. Tapi kursus dalam rangka berhemat. Kau ikuti kursus itu sampai kau punya ketrampilan menjahit yang cukup.

Mesin jahit bekas: caramu berhemat sebagai ekspresi jiwa sederhanamu. Allahummarhamha

Langkah selanjutnya adalah membeli mesin jahit bekas di Pasar Turi ketika itu. Sekali lagi ini bukan untuk bisnis. Kau hanya mau menjadi guru Al-Qur’an. Kau tidak mau berbisnis atau bekerja apapun. Mesin jahit itu kau gunakan untuk membuat sendiri baju-baju untuk anak-anak. Maka, jika orang-orang umumnya membeli baju untuk anak-anaknya, kau membeli kain. Membelinya pun di toko kain yang terkenal murahnya itu. Toko kain kiloan di Kertajaya itu.

Kau  juga tidak mau belajar menjahit model macam-macam. Hanya model dasar gamis polos. Variasi hanya mengandalkan warna dan motif kain. Tanpa model busana berlebih walau akhirnya aku mengganti mesin jahit sederhana itu dengan yang modern dan bisa menjahit motif macam-macam. Mana sempat kau belajar untuk itu. Mana sempat kau melakukannya. Waktumu lebih banyak kau curahkan untuk menjadi guru Al-Qur’an. Sebuah karir pilihanmu yang aku dan anak-anakmu yakin menyebabkanmu meninggalkan dunia ini dengan sangat indah. Kata-kata terakhirmu menyebut nama Tuhanmu. Wajahmu berseri-seri saat aku menutupnya dan mengangkat ragamu menuju masjid untuk disholatkan.

Model baju gamis panjang standar itu ternyata menjadi kebiasaan keenam anak perempuanmu. Anak-anak kita.  Mereka  juga tidak pernah nampak mengenakan baju model macam-macam. Persis seperti kau sebagai ibunya. Sederhana. Percaya diri dan nyaman dengan kesederhanaan itu.

&&&

Percaya diri dengan kesederhanaan itu ternyata juga terbawa ke berbagai aspek kehidupan. Percaya diri dengan bekal makan dari rumah menjadikan anak anak kita memanfaatkan waktu istirahatnya bukan ke kantin. Tetapi ke perpustakaan. Makannya cukup menikmati dari kotak yang dibawanya dari rumah. Sudah biasa hidup berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya.

Kebiasaan hidup berbeda itu benar-benar kita nikmati saat menikahkan sulung kita. Jika orang suka menikahkan anaknya dengan mengangkat tema kemegahan ala ratu dan raja, kita tidak. Kita dan si sulung memilih mengangkat tema kesakralan sebuah pernikahan suci. Kita rancang prosesi pernikahan anak kita dengan detail. Undangan kepada mereka kita sampaikan sepenuhnya melalui media elektronik lengkap dengan link konfirmasi kehadiran melalu google doc. Hemat biaya cetak undangan. Jumlah yang hadir pun sudah pasti. Di undangan sudah tertulis run down acara menit demi menit. Total persis satu jam. Kita eksekusi itu semua dengan tepat on time.

Sesuai run down di undangan, jam enam pagi kita sekeluarga sudah di pintu masjid. Tidak ada buku tamu. Tidak ada kotak amplop. Tidak ada petugas penerima tamu. Penerima tamunya adalah kau, aku dan semua anak-anak kita. Kita berikan big hug kepada tamu-tamu itu. Tamu laki laki denganku. Tamu perempuan denganmu. Banyak diantara mereka yang datang sekeluarga bersama anak-anak mereka. Memang kita mengundang mereka sekeluarga. Bukan hanya ayah ibunya. Sekaligus sebagai media rekreatif keluarga mereka.

Setelah itu tamu-tamu langsung kita persilahkan masuk masjid. Melalui undangan kita mohon mereka yang muslim untuk melaksanakan sholat dhuha. Sambil menunggu kedatangan tamu lain dan acara ijab kabul dilaksanakan.

Sesuai undangan jam 7 pagi persis rangkaian acara ijab kabul dimulai. Sesuai undangan juga jam 8 persis acara ijab kabul berakhir. Undangan kita persilahkan langsung menikmati menu makan pagi sederhana. Jumlahnya diperkirakan cukup untuk seluruh undangan yang telah mengkonfirmasi kehadirannya melalui google doc. Nasi krawu bungkus daun pisang, nasi cumi Madura, nasi jagung, pisang rebus, kacang rebus, jadah alias tetel, wajik dan aneka panganan tradisional lain. Alhamdulillah mereka semua senang. Mereka semua menikmati acara kita. Beberapa tamu menulis tentang itu dan viral di media massa. Kita masih bisa membacanya hingga saat ini.

Yang menarik, kau, dan tentu aku mengamininya, sangat percaya diri dengan model acara yang tidak umum itu. Yang kita sajikan memang kesakralan dan kesederhanaan. Tapi itu semua murni suguhan dari kita. Sebagaimana yang kita sampaikan lewat undangan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para tamu, kita mohon mereka untuk tidak memberikan cendera mata berupa amplop, karangan bunga atau apapun. Kita jamu tamu murni dengan dana keluarga kita. Dan alhamdulillah tamu yang memenuhi masjid Manarul Ilmi ITS yang besar itu semua senang. Semua terkesan. Semua menikmati suguhan kesederhanaan, kesakralan dan tepat waktu kita. Semua bahagia.

Ummi, masih banyak apa yang kau lakukan dengan kesederhanaanmu. Banyak teknik penghematan yang kau praktekkan. Tidak mungkin abi menuliskan semuanya. Maka, aku akhiri obituari ketujuh ini dengan apresiasi setinggi-tingginya untukmu belahan jiwaku. Terimakasih tak terhingga untuk 27 tahun kebersamaan yang luar biasa. Terimakasih untuk keteladanan yang indah. Terimakasih untuk kepercayaan diri pada kesederhanaan. Terimakasih untuk keteladanan hanya mengambil yang 100% halal. Terimakasih untuk semuanya. Terimalah ridho dari suamimu untukmu. Bawalah itu sebagai bekal menghadap Tuhanmu. Pakailah itu untuk masuk Surga dari  pintu manapun yang kau suka sebagaimana hadis Nabimu. Kelak aku dan anak-anakmu pasti akan menyusul.  Bahagialah disisiNya. Duhai Penggenggam Jiwaku, beri kekuatan aku dan anak-anakku untuk meneladani dan meneruskan kebaikannya. Allahummarhamha…..

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita

*)Artikel ke-304 karya Iman Supriyono ini ditulis rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari ketujuh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Caramu Memandirikan Anak-Anak Kita


Ummi, mengasuh 8 anak tentu tidak mudah bagi sebagian besar orang. Tapi kau tidak pernah takut. Kau tidak pernah mengeluh. Bahkan kau tidak pernah takut punya anak berapapun. Anak kedelapan kita lahir tiga tahun lalu. Saat usiamu 46 tahun.

Kau sama sekali tidak takut ketika dokter mengatakan bahwa risikomu terlalu tinggi. Kau juga tidak takut saat dokter menyampaikan bahwa air ketuban kandunganmu terlalu sedikit. Kau tetap mencoba untuk melahirkan normal. Tapi dokter kandungan yang juga kawan sekolahmu itu akhirnya kita ikuti. Persalinan dilakukan secara operasi. Sesuatu yang belum pernah terjadi kepadamu sebelumnya. Bahkan terhadap si kembar yang beratnya saat lahir 3,2 dan 3,3 kg pun alhamdulillah tetap dengan persalinan normal.

Kepada abi banyak orang menanyakan. Bagaimana mengasuh anak sebanyak itu terutama ketika masih kecil-kecil? Sedangkan orang lain mengasuh dua anak saja sudah sangat pusing. Nah, untuk pertanyaan ini, ummi punya jawaban yang manjur. Punya cara yang tepat. Yang membuatmu tetap bisa menjadi aktivis dengan seabreg kegiatan walaupun harus mengasuh banyak anak. Kuliahpun lulus dengan baik saat sudah ada 3 buah hati yang kau asuh plus hamil buah hati keempat.

Ummi, alhamdulillah kau sendiri punya latar belakang masa kanak-kanak yang mengkondisikanmu untuk mandiri. Sejak SD kelas satu sudah harus terpisah dari ayah ibu. Meninggalkan ibu dan kota kelahiranmu di Pamekasan untuk tinggal bersama nenekmu di Surabaya. Itupun bukan nenek langsung. Bukan ibu dari ibumu. Tapi saudara sebapak dari nenek langsungmu. Kisahmu, sejak SD itu kau sudah berani naik kendaraan umum sendiri Surabaya Pamekasan dan sebaliknya. Sejarah hidupmu mendukung pembelajaran kemandirian untuk anak-anakmu.

Itulah yang membuatmu santai saja ketika melepas si sulung dan 2 adiknya pergi pulang ke sekolah dan asramanya di Johor Bahru, Malaysia, sendirian. Bahkan terkadang harus berangkat dengan penerbangan malam. Tiba di bandara tujuan tengah malam bahkan dini hari. Yang penting dipastikan bahwa anak-anak tidak keluar bandara sampai pagi datang.

Si Jo -Joang Dimarga Albar- sedang makan pagi sendiri

Bahkan kau juga tanpa ragu melepas junior keempat kita yang baru lulus SMP untuk belajar bahasa Thailand di Bangkok. Berangkat dari Surabaya sendirian. Kita lepas dari bandara. Untuk dijemput kakaknya di bandara Singapura. Lalu diantar dan ditinggal oleh kakaknya di Bangkok.

Di bangkok ia harus sendirian pergi ke Laos untuk perpanjangan ijin tinggal selama belajar. Perpanjangan berikutnya juga harus pergi sendiri ke Kamboja. Anak gadis lulusan SMP berkelana sendiri lintas negara naik kendaraan umum jalur darat. Kau melepasnya dengan tulus dan yakin. Tentu dengan doamu yang tiada henti.

Dalam hal ini, kau ini seperti ibundanya KH Hasyim Asyari remaja. Atau seperti Ibundanya KH Ahmad Dahlan remaja. Atau seperti ibundanya Bung Hatta remaja. Mereka melepas buah  hatinya untuk perjalanan dan tinggal ribuan kilometer dari rumah untuk belajar. Berbekal keyakinan dan doa. Memang kau telah lebih diringankan dengan tersedianya sarana telekomunikasi modern yang tidak dijumpai pada jaman tokoh-tokoh besar itu. Tapi kekuatan seorang ibu seperti kau ini langka di era ini.

Ummi,  itu semua juga bukan sesuatu yang instan. Sejak bayi aku merasakan apa yang kau lakukan untuk buah hati kita itu. Aku ingat saat kau praktikum dan aku juga harus kuliah atau bekerja, kau menitipkan anak-anak balita kita pada sahabat-sahabatmu. Dan alhamdulillah sahabat-sahabatmu pada seneng karena anak-anak kita tidak rewel. Sepeninggalmu, seorang sahabatmu menawarkanku untuk dengan senang hati dititipi bungsu kita si Jo-Joang Dimarga Albarr- jika sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Subhanallah…

Tidak banyak digendong. Itulah langkah awalmu untuk kemandirian buah hati kita. Kau tidak akan menggendong anak-anak kecuali memang sangat dibutuhkan. Praktis di rumah anak-anak biasa bermain sendiri sejak bayi. Saat aku menulis ini di belakangku ada si Jo yang sedang asyik bermain mobil-mobilan setelah abi mandikan.

Untuk memberi kesempatan anak belajar mandiri  seperti itu butuh pengorbanan. Rumah berantakan adalah hal biasa. Abi masih ingat persis bagaimana dulu saat si sulung selalu ngobrak-abrik buku-buku di rak. Ditata lagi. Dibongkar lagi. Ditata lagi. Dibongkar lagi. Demikian juga adik-adiknya.

Abi juga masih ingat bagaimana beras yang mestinya untuk dimasak dipakai mainan anak-anak dan bercampur pasir. Kau menghadapi itu semua dengan kesabaran seorang ibu. Sebagai pendidikan kemandirian bagi buah hati kita. Itu istimewamu.

Agak besar sedikit, kau bisakan anak-anak kita mulai belajar makan sendiri. Ini juga butuh kesabaran ekstra. Makanan akan tercecer disana sini. Lantai rekat oleh ceceran  nasi.  Sebuah ketidaknyamanan sendiri bagi kau.  Tapi kau mengalah. Merelakan menerima  ketidaknyamanan untuk kemandiran anak-anak kita. Sebuah proses kemandirian yang sangat baik bagi anak seusia 3 tahun. Pagi ini pun Jo makan pagi sendiri. Tidak perlu disuapi.

Kebiasaan anak-anak yang asyik mencari aktivitas dan makan sendiri itu diperkuat dengan kebiasaanmu untuk berani meninggalkan anak-anak dirumah sendiri sementara kita pergi. Tentu bukan pergi yang sampai menginap. Maka, ketika kemarin aku berada di kantor sementara di rumah hanya ada si Jo dan si Disa yang SD kelas empat adalah meneruskan apa yang kau lakukan. Tentu abi tetap memonitor mereka melalui telepon sebagaimana yang juga biasa kau lakukan. Tetap dengan emergency plan yang sudah biasa kita ajarkan kepada mereka.

Ummi, kau memilihkan sekolah SD yang dekat dari rumah untuk semua anak-anak kita. Bukan dekat dalam pengertian terjangkau jalan kaki. Tetapi dekat dalam pengertian terjangkau naik sepeda pancal. Maka, pada umumnya anak-anak kita sudah berangkat dan pulang sendiri ke sekolahnya sejak kelas 3 SD. Menjadi anak SD yang mandiri mengelola waktu mereka. Jam berapa harus bangun, jam berapa harus mandi, jam berapa harus berangkat. Mereka mengelola sendiri aktivitas mereka. Tentu semua sudah kau pikirkan strategi keamanannya di tengah santernya isu penculikan anak. Tentu kau melepas mereka dengan doa. Alhamdulillah mereka melalui masa-masa itu dengan aman sentosa.

Sampai anak ketiga, kau masih memilihkan SMP yang dekat rumah untuk anak-anak kita. Terjangkau naik sepeda pancal.  Praktis di SMP mereka tinggal melanjutkan saja apa yang sudah mereka biasa lakukan sejak SD. Tapi sejak anak keempat, mereka bahkan lulus SD sudah meminta masuk pesantren. Jauh meninggalkan rumah dan orang tuanya untuk belajar di luar kota.

Kepada anak-anak yang belajar di pesantren, kau pun menyikapinya sebagai sebuah proses kemandirian. Kau tidak mau tiap bulan mengunjungi anak-anak. Cukup seperlunya saja. Bagimu, percuma saja sekolah di pesantren di luar kota jika orang tua masih sibuk ngurusi mereka. Tidak optimal untuk proses pembelajaran.

Dan hasilnya alhamdulillah kita sangat bersyukur. Di hari-hari terakhirmu, kita pernah diskusi asyik tentang anak-anak kita. Ketika aku bertanya, kau puas tidak dengan apa yang ada pada anak-anak kita hari ini? Alhamdulillah kau sangat puas dan bersyukur dengan mereka berdelapan. Akupun demikian. Mereka rukun-rukun. Kompak. Mandiri-mandiri. Sekolahnya bagus-bagus. Yang sudah lulus kuliah juga dicari oleh pekerjaan. Dan yang lebih penting…mereka semua dekat dengan masjid. Kau sekarang menikmatinya sebagai doa anak sholeh. Allahumarhamha….

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu

*)Artikel ke-303 karya Iman Supriyono ini ditulis rumahnya di Surabaya pada tanggal 10 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keenam untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu


Ummi, begitu kau sakit, abi makin takjub dengan sahabat-sahabatmu. Begitu kau meninggal, ketakjuban itu makin menjadi-jadi. Mereka begitu cintanya kepadamu. Perhatiannya luar biasa. Perhatian yang penuh ketulusan. Perhatian yang tanpa pamrih. Kecuali untuk menggapai ridho-Nya.

Yang paling sederhana adalah perhatian melalui kiriman makanan. Walau aku tidak pernah menulis status medsos apapun yang mengabarkan sakitmu, perlahan-lahan sahabat-sahabatmu tahu juga. Begitu tahu, perhatian itu mulai muncul. Makanan terus mengalir deras ke rumah kita. Bahkan datangnya berlebih. Aku dan anak-anakmu harus terus berbagi aneka makanan itu kepada orang lain. Aneka makanan terus menumpuk di rumah.

Bahkan sampai hari ini, aku dan anak-anakmu masih terus menikmati makanan kiriman dari sahabat-sahabatmu. Mbak Um dan buah hatinya di rumah juga ikut menikmatinya. Mbak Um sudah seperti keluarga kita. Bahkan kau sudah berpesan dan pesan itu dipegang oleh perempuan Madura itu. Kau memintanya untuk tetap bekerja di rumah kita. Membantu kita dalam membesarkan anak-anak. Suami mbak Um adalah orang yang berada di barisan depan dalam proses pemakamanmu.

Ummi, perhatian sahabat-sahabatmu bukan sebatas makanan. Ketika sakitmu semakin berat, ada beberapa dari mereka mengundang abi masuk sebuah grup WA yang dibuat khusus untuk memantau perkembanganmu. Mereka memperhatikanmu seperti saudara kandungmu memperhatikanmu. Seperti saudara-saudara kandungku memperhatikanmu. Seperti anak-anak kita memperhatikanmu. Maka, update perkembanganmu pun terus abi bagikan kepada mereka. Disamping kepada anak-anakmu, saudara-saudara kandungmu, dan saudara-saudara kandungku. Sampai ketika kau sudah tidak bisa berkomunikasi jelang subuh Jumat 25 Desember itu. Sampai ketika kau menghembuskan nafas terakhirmu. Bahkan sampai saat ini. Mereka sudah seperti keluarga kita.

Sahabatmu sahabatku juga. Sahabatku sahabatmu juga. Bahkan kita pun seperti dua sahabat. Sahabat yang tanpa batas.

Mereka bukan hanya peduli kepadamu. Tetapi juga kepada anak-anakmu. Dan itu bukan hanya mereka  lakukan saat ini. Itu sudah mereka lakukan sejak kelahiran anak pertama kita. Kau tentu masih sangat ingat bagaimana sulung kita dulu diasuh mereka saat kau harus berada di lab untuk praktikum teknik kimia yang menyibukkan itu. Sementara aku juga harus menghadapi urusan kampusku. Sekaligus urusan mencari nafkah. Sekaligus urusan masjid ITS yang  juga kau hadapi sebagai pengurus inti.

Mereka begitu baiknya kepadamu. Sampai seolah abi dan anak-anakmu sama sekali tidak boleh terbebani oleh sakitmu. Oleh kepergianmu. Mental maupun material. Mereka turut menanggung beban itu. Sama sekali tanpa pamrih duniawi. Kau hanya seorang guru Al Qur’an. Tidak ada jabatan, bisnis, atau sejenisnya yang bisa dipamrihkan kepadamu. Murni sebuah persahabatan karena Rabb-Mu.

Dan yang lebih mengharukan adalah….kau telah tuntas mentransfer semua sahabat-sahabat baikmu itu kepadaku. Mulai sahabat SD mu di Tembok Dukuh I, Surabaya. Sahabat biru putihmu di SMP 3 Surabaya. Sahabat abu-abumu di SMA 5 Surabaya. Sahabat kuliahmu di Teknik Kimia ITS. Sahabat-sahabatmu di pendidikan Al Qur’an. Dan tentu saja sahabat kita di masjid manarul ilmi ITS.  Terima kasih luar biasa untuk hal ini. Kau jagonya silaturahim.

Beberapa sahabatmu menyampaikan kepada abi. Abi akan tetap diundang jika ada kumpul-kumpul sahabatmu. Seperti yang selama ini kita lakukan. Aku selalu kau ajak hadir jika ada kumpul-kumpul sahabat-sahabatmu. Dan sebaliknya juga. Aku juga selalu mengajakmu hadir jika ada kumpul-kumpul sahabatku. Sahabatmu adalah sahabatku juga. Sahabatku adalah sahabatmu juga. Kita menyatu.

Ummi, ada saatnya kita menghadapi masalah dan pertengkaran berat.  Saat itulah abi merasakan bahwa sahabatku dan sahabatmu yang menyatu itu menjadi katalisator terbaik. Menjadi perekat agar kebersamaan kita tidak retak sedikitpun. Bagaimana bisa retak kalau ikatan kita dikuatkan oleh banyak sekali sahabatmu. Oleh banyak sekali sahabatku. Oleh banyak sekali sahabat kita. Itulah mengapa kau tidak pernah kuatir kepadaku kemanapun aku pergi. Aku pun juga begitu. Bahkan ke luar negeri pun sahabat kita menyatu. Sahabatmu adalah sahabatku juga. Sahabatku adalah sahabatmu juga. Alangkah indahnya hidup ini. Alhamdulillah….. Allahumarhamha….

Ummi, melepas kepergianmu memang berat. Tetapi kebaikanmu kepada sahabat-sahabatmu itu meringankanku. Meringankan anak-anak kita. Sepergimu mereka bertestimoni. Kau pandai sekali menjalin persahabatan. Kau adalah sahabat yang ringan tangan membantu. Kau adalah sahabat terbaik. Sahabat tersetia. Sahabat yang menyenangkan. Sahabat yang akan terus dikenang. Sahabat yang akan terus didoakan kebaikannya. Aku memohon kepada Dzat yang menguasai jiwaku. Aku memohon kepada Dzat yang menguasai jiwamu. Duhai Ar-Rahman, berikan kekuatan kepada aku dan anak-anakku untuk melanjutkan segala kebaikannya dalam menjalin persahabatan karena-Mu. Jadikan kebaikan bersahabat itu sebagai amal jariahnya. Aamin

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid

*)Artikel ke-302 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantornya, SNF Consulting, Jalan Pemuda Surabaya pada tanggal 7 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keempat untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Kau, Aku dan Masjid


Ummi, sampai hari ke-12 ku tanpamu, memori keberduaan kita masih terus menghiasi otakku. Apalagi hari ini si bungsu Jo, Joang Dimarga Albar, mengalami diare. Pagi-pagi abi sudah merencanakan ke kantor. Ada meeting jam 10 pagi ini. Tapi demi melihat Jo diare, abi urungkan ke kantornya. Meeting abi hadiri melalui Zoom. Praktis seharian ini abi di rumah. Apalagi junior kedua dan keempat kita yang ini masih di rumah sedang ada acara keluar. Praktis aku di rumah hanya dengan si  bungsu satu kakaknya yang juga masih kecil. Hari ini, rumah kita terasa sepi sekali tanpamu. Allahummarhamha….

Alhamdulillah jelang magrib diare si Jo sudah sembuh. Junior kedua dan keempat pun sudah pulang. Maka, selepas sholat jamaah abi kirim wa ke H2A. Di grup WA keluarga kita itu abi sampaikan bahwa abi mau tetap berada di masjid sampai isya. Abi ingin menghibur diri di masjid terakhir yang kau singgahi sebelum kau menuju peristirahatan terakhirmu di TPU Keputih.

Ummi, di komplek pesantren Hidayatullah itu memori indah bersamamu pada berbagai masjid muncul silih berganti di kepalaku. Tempat termulia di muka bumi yang sepanjang 27 tahun menjadi pengikat hatimu dan hatiku. Juga  pengikat hati kita dengan para junior. Maka, sesampai di rumah langsung kuraih laptop. Sepuluh jemariku pun menari-nari menuliskan memori indah kebersamaan kita di berbagai masjid.

Yang pertama tentu saja Masjid Manarul ilmi. Hampir sepanjang tahun pertama kebersamaan kita berdua dilalui di masjid kampus ITS itu.  Bagaimana tidak, kita menjadi pengurus inti di masjid megah itu mulai September 1993. Kau jadi sekretaris departemen keputrian. Aku sekretaris umum. Kita menikah Nopember 1993. Praktis sisa masa setahun pengabdian sebagai pengurus inti di masjid kampus ITS itu kita lalui berdua.

Di masjid kampus ternama itu itu secara fisik kita memang terpisah. Pengurus putra selalu terpisah tabir dengan pengurus putri dalam setiap forum. Tentu saja kita tidak bisa berduaan secara fisik di masjid itu. Tetapi masjid itu menyatukan hati kita. Bahkan menjadi tempat bermain yang paling menyenangkan bagi anak-anak  kita hingga saat ini.

Masjid Aqshol Madinah di komplek Pesantren Hidayatullah Surabaya. Inilah masjid terakhir yang disinggahi almarhumah sebelum dikebumikan di TPU Keputih Surabaya

Masjid kampus di kawasan timur Surabaya itu bahkan juga kita pilih sebagai tempat menikahkan si sulung kita dua tahun lalu. Sebuah  acara yang sangat membahagiakanmu. Membahagiakanku. Membahagiakan bagi si sulung dan suaminya. Betapa tidak, pada hari itu, masjid sebesar itu dipenuhi oleh sahabat-sahabat kita dari berbagai kalangan. Mereka semua membaur. Tidak pandang CEO tidak pandang buruh pabrik. Tidak pandang profesor tidak pandang mahasiswa. Tidak pandang ustadz tidak pandan non muslim. Semua membaur menikmati menu sarapan pagi  yang kita siapkan. Banyak sekali sahabat-sahabat kita yang memberi apresiasi membahagiakan atas acara itu.

Ummi, masjid memang menjadi penaut hati kita. Kau tentu ingat ketika kita kita berdua sedang dalam perjalanan pulang dari Pasuruan untuk sebuah urusan. Kita bertengkar hebat karena suatu masalah. Suasananya sangat emosional. Maka, berdua kita putuskan masuk masjid dengan hati dongkol. Mengambil air wudhu lalu sholat di dalamnya. Dan, selepas sholat, kemarahan kita pun mereda. Sampai di rumah kita sudah kembali damai.

Ada masjid agung Pamekasan. Masjid di kota kelahiranmu ini begitu sempurna mengikat hati kita.  Kebetulan rumah ibumu tidak jauh dari masjid itu. Maka, praktis jika kita ke Pamekasan, masjid itu menjadi tempatku menunaikan sholat fardhu.

Memang sholat wajib berjamaah di masjid dalam agama kita hanya ditekankan kepada kaum lelaki. Tetapi dimanapun kau selalu mengkondisikan agar aku bisa sholat fardhu berjamaah di masjid. Kalo berada di luar kota, kedekatan dengan masjid selalu menjadi kriteria pertama pemilihan hotel. Sesekali saja ummi ikut sholat berjamaah. Tetapi itu semua sudah lebih dari cukup untuk menyatukan hati kita.

Saat ibumu sudah meninggal dan rumahnya sudah di jual, kita suka menginap di hotel dekat masjid itu. Menikmati suasana masjid terbesar dan termegah di Madura itu dari dekat. Tentu lengkap dengan menikmati menu-menu khas kegemaranmu. Nase jejen, es sudi mampir, rujak madura. Sebuah nostalgia yang tidak mungkin abi lupakan walaupun kau telah pergi.

Ummi, banyak sekali daftar masjid yang sering kita singgahi. Masjid pengikat hati kita.  Masdjid agung Jombang, masjid Jami’ Al Ariefiyah Caruban, Masjid Agung Nganjuk, Masjid Agung Blitar, Masjid Agung Kediri, Masjid Agung Madiun, Masjid agung Malang, Masjid Agung Magetan, masjid Ummul Mukminin Bratang Surabaya, masjid di MERR, Masjid Assakinah Putra Bangsa, masjid Masithoh Wisma Permai, Masjid Al Akbar, Masjid Al Falah, Masjid Al Jihad, dan masih banyak lagi.

Hari-hari ramadhan adalah kenangan yang juga tidak mungkin aku lupakan. Sudah sejak dulu kala sepanjang ramadhan kau selalu memasak nasi persiapan buka puasa lebih banyak dari biasanya. Bukan karena kita makan lebih banyak. Tetapi karena kau selalu mengirim nasi bungkus untuk buka puasa di masjid. Sebulan penuh. Sejak hari pertama ramadhan sampai akhir bulan. Sesekali aku yang mengantarkannya ke masjid. Sesekali anak-anak kita. Atau kita juga banyak meminta takmir masjid untuk mengambilnya ke rumah.

Bahan dalam suasana sakitmu ramadhan lalu, tradisi ini tidak kau tinggalkan. Kau sudah tidak bisa mempersikannya sendiri karena sakitnmu. Tapi kau terus memastikan agar Mbak Um, orang yang tiap hari membantumu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah kita, untuk menyiapkan nasi bungkus  itu. Jumlahnya pun seperti yang selama ini biasa kau siapkan.  Istiqomahmu bahkan dalam keadaan sakit itu seolah menjadi pesanmu kepadaku dan anak anakmu untuk meneruskan tradisi keluarga itu. Walau kau telah tiada.

Kenangan i’tikaf sekeluarga lengkap di Masjid Arroyan Galaxi Gumi Permai, Ramadhan sebelum si sulung menikah

Allahummarhamha. Ummi, momen ramadhan juga akan selalu abi kenang. Sudah menjadi tradisi keluarga kita untuk menghabiskan sepuluh hari terakhir ramadhan di masjid. Kita melakukannya sejak tahun pertama pernikahan kita. Masjid Arroyan di Galaxi Bumi Permai menjadi pilihan kita bertahun-tahun belakangan ini. Sudah menjadi tradisimu, kau memberiku kesempatan kepadaku untuk 24 jam berada di masjid. Kau yang membereskan semua urusan rumah di siang hari. Malam harinya kau bersama anak anak menyusul ke masjid. Kau sendiri yang nyetir mobil bersama anak-anak menyusulku. Menikmati hari-hari terakhir ramadhan bersama keluarga di masjid.

Ummi, kita sepakat agar semua anak-anak belajar jauh meninggalkan rumah.  Tiga junior pertama kita melakukannya sejak lulus SMP.  Tiga setelah itu bahkan melakukannya sejak lulus SD. Mereka yang sudah kuliah semua belajar di berbagai kampus di luar negeri. Nah, dalam kondisi seperti itu kau akan merasa aman jika mereka telah tertaut dengan masjid.

Maka, hari jumat itu kau pasti sedang merasa aman. Bahkan bahagia. Berbunga-bunga. Memang abi memutuskan agar anak lelaki kita yang sedang kuliah di Vietnam National University itu tidak pulang. Cukup hanya meminta agar dia bersholat jenazah untukmu.

Dan hari itu abi berkaca-kaca demi membaca pesan di grup H2A. Si nomor 3 itu tidak sekedar sholat ghaib. Tetapi berhasil meminta takmir masjid kota Hanoi untuk menyelenggarakan sholat ghoib untukmu. Air mata abi meleleh merasakan bahwa anak lelaki tertua kita itu hatinya tetap tertaut dengan masjid. Walau berada di negeri komunis. Tidak mungkin dia bisa meminta sholat ghaib di masjid satu-satunya di Kota Hanoi itu kecuali memang memiliki kedekatan dengan takmirnya. Ummi, itu hasil didikanmu. Jumat siang itu kau menikmatinya sebelum dimakamkan di TPU Keputih. Aku merasakannya melalui ekspresi wajahmu sebelum aku menutupnya dengan kain putih bersih selepas sholat jumat itu. Wajahmu begitu berseri-seri. Allahumarha….

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita

*)Artikel ke-301 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 6 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keempat untuk alamarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.

Pernikahan, Pertengkaran & Sepiring Berdua Kita


Ummi,  pagi ini abi sudah mulai ngantor. Pertama kali abi berangkat ke kantor tanpa berpamitan dengan menciummu. Tanpa permintaan maaf yang selalu kau ikuti dengan permintaan maaf serupa saat melepasku berangkat kemana saja. Bayangan kebersamaan kita selama 27 tahun itu masih terus datang di otakku. Air mataku masih terus melelah saat mengingatnya.  Tapi kehidupan harus terus berjalan.

Sesampai di kantor abi buka laptop warna biru itu. Dan, panggilan jiwa itu kembali hadir. Panggilan jiwa untuk memadu hati denganmu. Walau hanya lewat tulisan. Moga ini sedikit mengobati dukaku. Moga ini nanti akan dibaca si Jo, buah hati ke delapan kita yang belum faham arti kematian saat Ummi pergi untuk selamanya. Dibaca sebagai pelajaran emas si Jo dari umminya.

Ummi, yang abi selalu akan ingat adalah proses pernikahan  kita. Walau sama-sama aktivis masjid kampus, kita tidak pernah berinteraksi secara personal. Satu-satunya interaksi adalah melalu rapat-rapat pengurus. Kau adalah sekretaris departemen keputrian. Aku sekretaris umum. Itupun sangat terbatas. Rapat-rapat pengurus selalu diselenggarakan dengan tabir pemisah laki-laki dan perempuan. Praktis aku hanya bisa mendengar suaramu. Apalagi ketika itu kau memang bercadar.

Sudah dalam perencanaan hidupku ketika itu untuk menikah muda. Targetku sebenarnya umur 20 tahun. Itu adalah demi mendengar penjelasan dari kawan fakultas kedokteran bahwa masa keemasan reproduksi manusia adalah antara umur 20 sampai dengan 30 tahun. Maka angka 20 menjadi targetku.

Agak meleset dari target. Aku baru siap menikah pada umur 22 tahun. Siap dalam pengertian secara ekonomi mampu mandiri tanpa tergantung orang tua. Siap juga dalam pengertian sudah mengantongi ijin ayah ibuku untuk menikah. Jadilah aku “hunting” untuk mencari calon istri.

Abi ingat ketika itu oleh guru ngajiku disodori 5 kandidat. Data abi terima berupa CV lengkap dengan foto. Lalu aku baca dan aku pertimbangkan secara seksama. Ternyata kelimanya tidak ada yang mendatangkan kemantapan jiwaku. Kukembalikanlah 5 CV itu kepada guru ngajiku.

Guru ngajiku pun putar otak. Kutunggu-tunggu tidak ada kandidat alternatif. Tetapi akhirnya solusi tiba. Dia meminta seorang kawannya untuk menyodorkan alternatif. Dan kawannya itu tidak lain adalah guru ngajimu. Si kawan menyodorkan sebuah CV. Dan itu adalah kamu.

Masih ingat aku disodori CV itu sekitar magrib. Dan subhanallah. Aku sudah mantab untuk memilihnya sejak membaca namamu. Malamnya aku mencoba sholat istikhoroh. Tetapi sebenarnya sholat itu tidak ada gunanya. Istikhoroh adalah sholat untuk orang yang sedang ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Sedang hatiku sudah bulat ke dirimu.

Maka, segeralaah aku kabarkan kepada guru ngajimu itu. Aku memilihmu tanpa ragu. Dan segaralah kau mengirim surat kilat khusus kepada ayahmu yang tinggal di Balikpapan. Dengan segala pertimbangannya akhirnya ayahmu pun setuju aku menikahimu.

Acara selanjutnya adalah pertemuan keluarga. Prosesnya dilakukan di rumah guru ngajimu. Yang juga senior kita di kampus ITS. Yang datang dari pihak keluargaku adalah ayah dan kakak adikku. Mereka pun mantap memberi restu aku untuk menikahimu.

Ayahku sempat bergurau. “Mana calon istrimu? Kok tidak ada?”. Aku sempat bingung juga. “Lho yang itu tadi”. Jawab ayahku “Itu tadi kan hanya bajunya”. Memang ketika itu kau mengenakan cadar sehingga yang nampak hanya baju yang menutupi seluruh tubuhmu kecuali sepasang mata.  Itupun ditutupi oleh sepasang kaca mata minusmu yang cukup tebal.

Kebersamaan 27 tahun yang berakhir dengan saling ridho. Allahummarhamha….

Ummi, 8 Nopember 1993 kita sah menjadi suami istri. Sekitar sebulan sejak aku mengantongi ijin nikah dari ayah ibuku. Akad nikah dilakukan dengan sangat sederhana di kantor KUA Gubeng. Tidak ada pesta-pesta. Selepas itu kita masing-masing langsung ke kampus untuk urusan akademis. Abi masih ingat selepas magrib hari itu aku datang ke rumah kosmu. Kamu menerimaku di ruang tamu. Aku bawa sebungkus nasi sayur lodeh dengan lauk pauk ikan pindang. Malam itu kita pertama kali makan sepiring berdua. Sebuah kebiasaan yang terus kita nikmati sepanjang 27 tahun kebersmaan kita.

Setelah makan malam yang indah itu, kita pergi ke rumah guru ngajimu berdua. Naik motormu yang plat nomornya KT itu.  Itulah pertama kali sejak kuliah di ITS aku naik motor berboncengan dengan perempuan bukan mahramku. Dan itu adalah kamu. Kau berpegangan erat pada pinggangku. Betapa hatiku berdebar kencang luar biasa. Campur aduk berbagai perasaan.

Aku juga masih ingat tanggal 10 Nopember itu kita untuk kali pertamanya hidup serumah. Hari ketiga kebersamaan itu mulai kita nikmati sebuah rumah kontrakan sederhana di Kejawanputih Tambak No. 107. Disitulah kita benar-benar merasakan hidup sebagai sebuah  keluarga. Aku menjadi lelakimu. Kau menjadi perempuanku. Sepenuhnya.

Ketika itu lalu lintas di jalan depan rumah masih sangat sepi. Seberang jalan adalah tambak. Jadi kita seperti tinggal di vila tepi laguna. Indah sekali untuk menikmati keberduaan kita. Tanpa siapa-siapa. Keindahan sejoli muda-mudi yang sebelumnya hanya bisa aku baca di novel-novel atau aku tonton di film-film menjadi milik kita. Berdua.

&&&

Hari-hari hari selanjutnya adalah realitas kehidupan. Kau dan aku berjuang untuk tetap lulus kuliah. Kau sambil mengasuh buah hati yang telah hadir tidak sampai setahun sejak pernikahan kita. Aku mencari nafkah. Kau menjalankan amanahmu sebagai sekretaris keputrian di Masjid Manarul Ilmi. Aku menjadi sekretaris umum. Praktis kita adalah pasangan orang tua yang sangat sibuk. Bersyukur kau punya banyak sahabat yang bisa dititipi untuk mengasuh buah hati kita manakala kondisi tidak memungkinkan untuk kau ajak.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penyesuaian. Kita dari keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda. Aku jawa Madiun. Kau Madura Pamekasan. Kau keras kepala. Aku juga. Disitulah pertengkaran selalu muncul menghiasi indahnya keberduaan kita. Sesuatu yang sangat alami dalam sebuah rumah tangga manapun.

Pertengkaran dalam keluarga adalah hal biasa. Aku menggapnya dalam rangka saling memahami dan menyesuaikan. Mari kita bertengkar seperlunya. Dan…..sepanjang hidup kita berdua 27 tahun ini, sudah tak terhitung berapa kali kita bertengkar. Ada pertengkaran remeh-temeh sekedar tentang menu makanan. Ada yang sangat serius bahkan mengancam keretakan rumah tangga kita.

Yang remeh-temeh misalnya adalah ktika kau menyiapkan dadar jagung untuk menu makan kita. Kita sudah sepakat bahwa empat sehat lima sempurna adalah menu standar untuk kita.  Dadar jagung bagiku tidak ada bedanya dengan nasi. Kita harus berhemat untuk kebutuhan gizi keluarga dengan anggaran terbatas ala suami istri mahasiswa. Dadar jagung bagiku adalah menu yang tidak memenuhi kebutuhan protein. Maka aku buang dadar jagung itu. Dan kau pun menangis.

Untuk yang remeh temeh seperti itu biasanya usia pertangkaran kita tidak akan berdurasi lama. Setelah emosi reda aku segera membicarakannya baik-baik denganmu. Aku juga segera minta maaf. Dan malamnya kita sudah damai sebagai suami istri. Seperti kala kita menjalani malam-malam pertama di rumah kontrakan kita itu.

Masalah yang berat dan menguras energi misalnya adalah keikutsertaamnu sebagai kader inti sebuah partai tanpa ijinku. Begitu tau aku marah besar. Keputusanmu itu mengandung konsekuensi besar. Maka kau salah ketika mengambil keputusan itu tanpa ijin suamimu. Aku protes ke senior-seniormu di partai itu. Aku layangkan surat resmi. Aku datangi mereka. Aku bertengkar dengan mereka. Aku diboikot oleh mereka. Aku larang kau ikut kegiatan mingguan partai itu.

Permasalahan itu sangat serius. Solusinya pun memakan waktu yang cukup lama. Berbulan-bulan. Tapi…ini yang aku syukuri. Akhirnya kau tetap lebih memilih aku sebagai suamimu. Kau keluar dari partai itu. Dan kita pun saling memaafkan. Kembali bersatu sebagai suami istri yang kompak. Allahumarhamha….

&&&

Ummi, kita bukan malaikat. Maka, pertengkaran adalah  hal yang biasa. Yang aku syukuri adalah, kita terbiasa saling memaafkan. Kita mencari cara untuk terus mengokohkan ikatan hati. Masih ingat ketika anak-anak masih kecil, kita sering curi-curi waktu keluar rumah berdua saat mereka tidur. Sekedar mencari angin sambil menikmati bubur kacang ijo atau bakso. Tetap sepiring berdua.

Dan yang sangat sangat aku syukuri adalah, saat sakitmu memberat, kita sempat berdiskusi serius tentang masalah-masalah yang masih ada di antara kita. Masih ada satu masalah besar tersisa. Begitu besarnya sampai-sampai maasalah itu sempat hampir-hampir meretakkan ikatan rumah tangga kita.

Awalnya masih alot. Kau masih bertahan pada pendapat dan sikapmu. Akupun demikian. Tapi, setelah kita berkonsultasi intens kepada seorang ustadz tentang sakitmu, hatimu luluh. Aku juga. Kau sepenuhnya memaafkan aku. Dan akupun demikian. Maka sejak hari itu, kau telah ridho dengan semua tentangku. Dan sebaliknya, akupun telah ridho dengan semua tentangmu. Kosong kosong. Kita pun berangkulan berciuman penuh haru. Air mataku meleleh. Air matamu juga.

Hari-hari sejak permaafan penuh haru itu, kondisi kesehatanmu terus memburuk. Pengobatan TB Kelanjar oleh dokter internis senior itu memang menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sakit nyeri berat yang selama ini kau rasakan di tulang punggung telah hilang. Tetapi kondisi fisikmu terus melemah. Akhirnya pun kateter tidak pernah lepas darimu. Tabung oksigen juga selalu di sampingmu.  Selang infus selalu terpasang. Aneka obat untuk memperbaiki kondisimu dimasukkan lewat infus. Termasuk tranfusi darah 3 bag. Tapi itu tidak banyak membantu.

Dalam dua bulan terakhir kehidupanmu, sebagaian  kau jalani di kamar rumah sakit. Karena kondisi pandemi, hanya aku yang boleh selalu menemanimu di kamar itu. Maka, disitulah aku merasa sakitmu justru menyatukan kita. Kita mengaggap kamar itu sebagai hotel. Belum pernah kita tinggal di  hotel berdua dalam rentang waktu sepanjang itu.

Iya…di kamar VIP Rumah sakit Al Irsyad itu kita hanya ada kita tinggal berdua. Saat malam sesekali kau minta pintu kamar rumah sakit itu dikunci. Agar kita bisa menikmatinya berdua sebagai sepasang suami istri. Disini kita bersyukur. Sakitmu justru berhikmah mengokohkan tautan hati antara kita. mengokohkan kembali cinta kita.

Sepuluh hari di rumah sakit kau merasa jenuh. Pingin kembali ke rumah bareng anak-anak.  Maka akupun menandatangani permohonan pulang atas kemauan sendiri. Malam itu kau pulang dengan ambulan. Tetap dengan infus dan kateter terpasang. Di rumah sudah disiapkan bed pasien. Jadi kepulanganmu itu pada dasarnya adalah memindahkan fasilitas rumah sakit ke kamar rumah kita. Tetap dengan kateter, infus, tabung oksigen, dan visit suster pagi sore untuk mengontrol kondisimu.

Yang amat sangat aku syukuri, sejak kita saling bermaafan haru dalam saakitmu itu, kita sama sekali tidak pernah bertengkar lagi. Itu terjadi sampai jumat 25 Desember 2020 jam 9.23 pagi ketika engkau menghembuskan nafas terakhir. Jadi, kau menghembuskan nafas terakhir dalam sepenuh ridhoku. Akupun kau tinggal dalam sepenuh ridhomu. Saling ridho sebagai suami istri. Itulah bekalmu menghadapNya. Kalimat terakhirmu jelas menyebut nama Tuhanmu. Allah…Allah….Allah.  Agama kita menajari bahwa ridho suamimu akan memberimu fasilitas untuk masuk ke firdausnya melaui pinti manapun yang kau suka. Kau pun meninggalkanku dan anak anakmu dengan wajah berseri-seri. Selamat menikmati kebahagiaan di sisiNya wahai kekasihku. Allhummarhamha…..

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkanal sang Insinyur

*)Artikel ke-300 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantor SNF Consulting di Surabaya pada tanggal 5 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari ketiga untuk alamarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.