Akibat Buta Sejarah: Bangsa Pembantu


Sedang ramai dibicarakan rencana penghapusan mata pelajaran sejarah.  MGMP Sejarah langsung memprotesnya. Apa pentingnya sejarah? Apa akibat buta sejarah?

Sejarah adalah studi tentang masa lalu. Selama ini obyeknya bisa dikatakan selalu institusi negara. Bahkan studi tentang masa lalu seseorang atau individu diberi sebutan sendiri. Biografi.

Obyek sejarah yang hanya berupa institusi negara itu tidak terpisahkan dari peran sentral negara dalam kehidupan masa lalu. Tetapi peran itu terus berkurang dari waktu ke waktu. Dahulu penanda sejarah adalah hasil karya negara. Piramida di Mesir atau Borobudur di Indonesia misalnya. Tapi kini komputer, internet, media sosial, mobil dan penanda-penanda sejarah lain merupakan hasil karya korporasi.

Nah, bicara sejarah adalah bicara penanda sejarah. Bicara penanda sejarah modern mestinya adalah bicara korporasi. Tapi malang sekali, sejarah korporasi sebagai kreator penanda sejarah tidak diajarkan di sekolah. Bahkan pelajaran sejarah keseluruhan pun ada wacana untuk dihapus. Haruskah kita buta sejarah? Haruskah kita tetap buta sejarah korporasi?

Selama ini kita sudah buta sejarah korporasi. Akibatnya sangat fatal. Paling tidak ada lima akibat buta sejarah korporasi. Pertama, karena sejarah korporasi tidak diajarkan di sekolah-sekolah, kita jadi tidak sadar bahwa penanda sejarah era modern yang sekarang kita nikmati adalah hasil kaya korporasi. Tidak sadar bawa  korporasi memiliki peran luar biasa besar dalam kehidupan kita. Tulisan ini tidak bisa Anda baca tanpa peran korporasi.

Akibat kedua, di negeri kita tidak terbentuk korporasi besar yang mampu membuat penanda sejarah. Mobil, gadged, laptop, android, googlemap, pesawat terbang, alat berat, bahkan produk lifestyle seperti McDonald, KFC, Starbucks dan sebagainya diproduksi oleh orang lain. Kita hanya menjadi bangsa konsumen. Tidak tahu bahwa bangsa produsen itu terbentuk melalui korporasi. Tidak faham bagaimana membentuk korporasi besar sampai pada stage ke 8 pada corporate life cycle.

Ketiga, sulitnya terjadi merger dan akuisisi. Padahal kalau mempelajari sejarahnya, korporasi besar seperti Unilever atau Danone misalnya adalah hasil dari proses merger dan akuisisi panjang berbagai perusahaan.

Merger dan akuisisi sulit dilakukan di negeri ini karena ketidakmampuan membedakan antara aset korporasi dengan aset pemegang saham. Apa yang terjadi pada saat debat kandidat presiden tahun 2019 lalu bisa menjadi gambaran. Saat itu Capres Jokowi menyatakan bahwa Capres Prabowo memiliki lahan seluas  220 ribu hektar di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah. Pernyataan ini terjadi tentu karena Capres Jokowi tidak membedakan antara aset Capres Prabowo sebagai pemegang saham dengan aset perusahan yang sahamnya dipegang oleh Capres Prabowo. Sebuah pernyataan yang tidak sesuai  dengan undang-Undang PT.

Dalam debat itu capres Prabowo menanggapi bahwa memang benar ia memiliki aset ini tetapi sewaktu waktu akan mengembalikan lahan ini kepada negara jika negara membutuhkan. Jawaban ini juga menunjukkan bahwa Capres Prabowo juga tidak membedakan antara aset dirinya sebagai pribadi dan aset perusahaan yang sahamnya dipegang sebagai badan hukum PT. Sebuah tanggapan yang juga tidak sesuai dengan Undang Undang PT

Jika Capres Prabowo mengikuti Undang Undang PT, tanggapannya kurang lebih akan begini “Pak Jokowi sekarang kan masih Presiden. Silahkan Bapak cek kepada kepala BPN atau kepada Dirjen Pajak karena tanah yang Bapak Maksud sudah bersertifikat BPN dan semua sudah dilaporkan dalam SPT. Dan saya jamin, pernyataan Bapak itu salah total. Saya sama sekali tidak memiliki tanah itu”

Setelah debat itu, Wapres JK menanggapi bahwa memang benar Prabowo memiliki lahan itu. Tetapi proses kepemilikannya dilakukan secara legal formal dan sah. Proses kepemilikan itu berada dalam koordinasi nya dalam pemerintahan. Tanggapan Wapres JK ini juga setali tiga uang. Tidak sesuai dengan Undang-Undang PT. Tidak mampu bisa membedakan antara aset korporasi dengan aset para pemegang sahamnya.

Merger dan akuisisi akan  mudah jika masyarakat bisa membedakan aset korporasi dengan aset pemegang sahamnya. Merger dan akuisisi sama sekali tidak mengurangi aset pemegang saham yang berupa lembaran saham dengan nilai pasarnya. Yang terjadi justru ada efisiensi dan nilai tambah dari hasil merger dan akuisisi sehingga nilai dan hak laba atau ROI bagi si pemegang saham justru meningkat.

Merger dan akuisisi adalah cara konsolidasi kekuatan ekonomi nasional. Jika belajar dan menghayati sejarah Unilever misalnya, Infofood, Indofood CPB, Mayora, Ultrajaya, Grup Orang Tua, dan Wings misalnya akan merger menjadi sebuah perusahaan FMCG besar dan berekspansi ke berbagai negara. Seperti Unilever. Jika mempelajari sejarah Citibank misalnya, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BCA, dan semua bank akan merger menjadi satu bank nasional yang asetnya sekitar Rp 8 ribu triliun. Dan sebagainya.

Keempat, tidak muncul masyarakt berbudauya investasi alias investing society. Adanya justru masyarakat berbudaya utang. Jika punya iddle money diutangkan melalui deposito dan tabungan perbankan. Jika butuh uang untuk ekspansi usaha utang. Akibatnya bunga bank pun selangit.

Dalam investing society, investment company lebih berkembang dari pada bank komersial. Seperti di USA   yang aset investment company terbesarnya yaitu BlackRock adalah senilai USD 7,4 triliun alias sekitar Rp 110 ribu triliun. Jauh lebih besar dari aset Citibank misalnya yang hanya sekitar Rp 12 ribu triliun. Bandingkan dengan investment company terkemuka di negeri ini yaitu Saratoga yang sekitar Rp 24 triliun. Jauh lebih kecil dari aset Bank Mandiri misalnya yang lebih dari Rp 1300 triliun. Investing society adalah darah bagi munculnya korporasi penanda sejarah.

Kelima, tercerabutnya riset dari korporasi sebagai akarnya. Ketika mempelajari Thomas Edison misalnya, anak anak kita tidak pernah tahu bahwa temuan bola lampu listrik itu adalah bagian dari riset General Electric. Posisi Edison adalah founder dan CEO General Electric, perusahaan yang juga memiliki pabrik di Indonesia.

Mestinya, anak anak belajar tentang sejarah General Electric. Belajar tentang bagaimana Thomas Edison mendirikannya. Belajar tentang bagaimana Generals Electric membangun lab dan kapasitas riset beserta sumber pembiayaannya. Anak-anak SMA yang sudah ada mata pelajaran akuntansi mempelajari sejarah General Electric sampai pada bab laporan keuangan perusahaan teknologi terkemuka hingga saat ini itu.


Dengan belajar sejarah korporasi, kita akan mendidik anak-anak bagaimana menjadikan warung pecel sebagai korporasi resto besar sekelas McDonald’s. Kita akan mengirim anak bangsa ke berbagai negara bukan sebagai pembantu rumah tangga. Tetapi sebagai manajer puluhan ribu gerai pecel di berbagai negara.

Saat waktunya wisata, anak anak dibimbing oleh para guru mengunjungi pabrik General Electric di Surabaya sebagai sebuah situs sejarah lintas abad yang masih berproduksi. Jadilah anak anak-akan belajar membangun korporasi besar seperti General Electric.

&&&

Itulah lima akibat buta sejarah korporasi. Sangat merugikan. Membuat kita lemah di ekonomi. Menjadi bangsa konsumen. Menjadi bangsa penonton. Menjadi bangsa pembantu rumah tangga di berbagai negara. Maka, pelajaran sejarah sangat dibutuhkan.  Mutlak. Tetapi tidak  boleh hanya membahas sejarah negara. Paling tidak separuhnya harus membahas sejarah korporasi. Agar terlahir banyak korporasi penanda sejarah yang menguasai pasar berbagai negara. Semoga. Aamin. Alllahuakbar! Merdeka!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Mengapa riset kita mandul?
Agar kita merdeka secara ekonomi

*)Artikel ke-291 ini ditulis pada tanggal 24 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Pensiun Dividen Rp 14 Juta Per Bulan


Misalkan Anda berinvestasi Rp 1 miliar pada tahun 2010. Dana tersebut Anda tanamkan sebagai saham di berbagai perusahaan. Misalkan portofolio Anda adalah saham Mayora, Alfamart, Sari Roti, Ultrajaya, Pakuwon Jati, Matahari Dept Store, Kalbe Farma, AKR, Arwana Keramik, dan Japfa Comfeed. Untuk perusahaan-perusahaan itu masing-masing Anda mengalokasikan dana Rp 100 juta. Berikut ini adalah kinerja ROI (return on investment) saham Anda pada saat ini. Angka dihitung berdasar kinerja laba perusahaan dengan laporan teraudit terbaru yaitu tahun 2019.

Harga per lembar saham Mayora Indah tahun 2010 adalah Rp 3,724. Sebagaimana disampaikan di atas, Anda menganggarkan dana Rp 100 juta untuk membelinya. Maka ketika itu Anda mendapatkan 26 853 lembar alias 269 lot (hasil pembulatan) Pada tahun 2016 perusahaan ini melakukan stock split 1:25. Maka saham Anda saat ini adalah sebanyak 6725 lot. Dengan laba per lembar saham terakhir (2019) sebesar  Rp 89 maka total hak laba Anda adalah Rp 59 852 500. Dengan demikian jika dihitung dari nilai investasi awal Anda, ROI Anda saat ini adalah 60%

Harga saham Alfamart tahun 2010 adalah Rp 51. Dengan menginvestasikan Rp 100 juta pada saat itu maka Anda akan memiliki 1 960 784 lembar alias 19 608 lot. Laba per lembar saham Alfamart tahun 2019 adalah Rp 26,79. Maka, dengan jumlah lembar saham yang Anda miliki hak laba Anda adalah Rp 52 529 403. Dihitung dari investasi awal maka ROI Anda adalah  53%

Harga saham Sari Roti tahun 2010 adalah Rp 1 684. Investasi Rp 100 juta pada tahun itu akan memperoleh 59 382 lembar alias 593 lot. Perusahaan roti ini tahun 2013 melakukan stock split 1:5. Dengan demikian jumlah saham Anda saat ini adalah 2 965 lot. Dengan laba per lembar saham tahun 2019 sebesar Rp 49,29 maka hak laba Anda saat ini adalah Rp 14 599 698 alias ROI 15% jika dihitung dari nilai investasi awal Anda tahun 2010.

Harga saham Ultrajaya Milk tahun 2020 adalah Rp 145. Dengan menginvestasikan Rp 100 juta maka Anda akan memegang 689 655 lembar alias 6 897 lot. Saat ini laba per lembar saham Ultrajaya adalah Rp 89. Dengan jumlah lot tersebut maka hak laba Anda adalah Rp 61 379 310 alias ROI 61% dihitung dari uang yang Anda tanamkan.

Harga saham Pakuwon Jati tahun 2010 adalah Rp 125. Investasi Rp 100 juta akan mendapatkan  800 000 lembar alias 8000 lot. Saat ini laba per lembar saham Pakuwon adalah Rp 56,47. Dengan jumlah lot tersebut maka hak laba Anda saat ini adalah Rp 45 176 000 alias ROI 45% dihitung dari investasi awal

Harga saham Matahari Dept Store tahun 2010 adalah Rp 1850. Menginvestasikan Rp 100 juta tahun itu akan menghasilkan 54 054 lembar alias 540 lot. Laba per lembar saham Matahari saat ini adalah Rp 492. Dengan jumlah lot tersebut maka hak laba Anda adalah Rp 26 594 595 alias ROI 27% dihitung dari investasi awal.

Harga saham Kalbe Farma tahun 2010 adalah Rp 276 per lembar. Investasi Rp 100 juta akan menghasilkan 362 319 lembar alias 3 623 lot. Dengan laba per lembar saham terakhir  Rp 53,48 maka hak laba Anda adalah Rp 19 376 812 alias ROI 19% dihitung dari total investasi awal.

Harga saham AKR Corporindo tahun 2010 adalah Rp 1310. Uang Rp 100 juta akan menghasilkan 76 336 lembar alias 763 lot. Dengan laba per lembar saham 2019   Rp 179,38 maka  hak laba Anda adalah Rp 13 693 130 alias ROI 14% dari dana yang diinvestasikan.

Harga saham Arwana Citramulia, pabrik keramik, tahun 2010 adalah Rp 38,25. Uang Rp 100 juta akan mendapatkan 2 514 379 lembar alias 25 144 lot. Laba per lembar saham tahun 2019 adalah Rp 29,41. Dengan kepemilikan lembar saham tersebut maka hak laba adalah Rp 76 888 889 alias ROI 77%

Harga saham Japfa Comfeed tahun 2010 adalah Rp 270. Investasi Rp 100 juta tahun itu akan menghasilkan 370 370 lembar alias 3 704 lot. Dengan laba per lembar saham Rp 151. Dengan kepemilikan saham tersebut hak laba Anda adalah Rp 55 925 926 alias ROI 56%.

&&&

Total hak laba Anda dari 10 perusahaan tersebut atas kinerja 2019 adalah Rp 426 016 263 alias ROI 42,60% dari uang yang Anda investasikan pada tahun 2010. Tentu tidak semua laba dibagikan sebagai dividen. Walau tidak dibagi itu tetaplah menjadi hak Anda. Misalkan saja hanya 40% dari  laba itu dibagikan sebagai dividen  maka Anda akan  menerima Rp  170 406 505 alias Rp  14,200,542 per bulan.

Dengan masa kerja rata-rata selama 25 tahun maka uang Rp 1 miliar artinya adalah sama dengan menyisihkan gaji rata-rata sebesar Rp 3,33 juta per bulan. Disebut rata-rata artinya bisa saja pada tahun pertama bekerja hanya beberapa ratus ribu per bulan terus naik sampai hari menjelang pensiun misalnya adalah belasan juta per bulan. Hasilnya adalah dividen Rp 14,2 juta per bulan.

Uang Rp 1 miliar tidak termakan inflasi seperti kalau didepositokan. Dan yang lebih penting, uang itu berputar untuk ekspansi perusahaan jika saham yang dibeli adalah primary market alias saham saat IPO atau bahkan pra IPO atau saat perusahaan menerbitkan saham baru (rights issue) setelah IPO. Tentu saja Anda harus faham cara pemilihan perusahaan yang bagus.

Bayangkan, suatu saat Anda bersama pasangan adalah kakek-nenek berjalan bergandengan tangan berdua menuju ruang RUPS perusahaan-perusahaan yang sahamnya dipegang. Asyik bukan?

Mungkin ada yang menganggap Rp 14,2 juta per bulan terlalu kecil. Solusinya gampang. Anda cukup meningkatkan nilai investasinya. Jika mau dividennya Rp 28,4 juta per bulan investasinya rata-rata adalah Rp 6,66 juta per bulan. Dua kali lipat. Demikian seterusnya.

Apa keuntungan lain? Anda dapat mewariskan saham tersebut kepada putra putri Anda saat meninggal kelak. Jika Anda memiliki dua anak, saat meninggal Anda akan mewariskan dividen Rp 7,1 juta per bulan untuk tiap anak. Lalu jika si buah hati  melakukan hal serupa selama masa kerjanya, saat meninggal nanti dia akan mewariskan saham dua kali lipat kepada cucu Anda. Demikian dan seterusnya. Dari generasi ke generasi kesejahteraan semakin meningkat.  Dan yang lebih penting, para ahli waris sudah biasa ikut RUPS berbagai perusahaan. Menjadi investor. Menjadi bos dari para direksi di berbagai perusahaan. Tentu ini akan memberikan sikap mental kelas atas kepada mereka. Dan tentu saja itu merupakan kontribusi Anda dalam mengembangkan korporasi negeri ini. Agar negeri ini benar-benar merdeka secara ekonomi. Korporasi negeri ini tumbuh menguasai pasar berbagai negara dengan dana ekuitas yang melimpah. Dengan cost of capital yang murah. Bagaimana menurut Anda?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Saham halal atau haram?
Tentang investasi saham
Capital gain dalam investasi saham

Investasi Berbasis Corporate Life Cycle

*)Artikel ke-290 ini ditulis pada tanggal 19 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Garuda, Air Asia & SQ Era Pandemi: Siapa Paling Parah?


Tidak terbantahkan. Maskapai penerbangan adalah industri yang terdampak akut oleh pandemi Covid-19. Mereka sedang mengalami ujian berat untuk tetap eksis di dunia bisnis. Mari kita lihat tiga perusahaan yang di berbagai rute penerbangan bersaing secara langsung: Garuda, Air Asia, dan Singapore Airlines.

Semester pertama 2020 PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., selanjutnya disebut Garuda, membukukan pendapatan USD 917 juta (IDR 13,64 triliun). Angka tersebut menurun 58% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 2,19 miliar (IDR 32,59 triliun). Garuda menggunakan mata uang USD untuk laporan keuangannya. Dengan pendapatan yang menurun itu, national flag ini membukukan rugi periode berjalan sebesar USD 723 juta alias Rp 10,76 triliun. Periode yang sama tahun sebelumnya Garuda masih  membukukan laba USD 24 juta (Rp 357 miliar). Rugi tersebut menggerus ekuitas Garuda menjadi minus USD 81 Juta (Rp 1,21 triliun). Artinya, jika seluruh aset Garuda dijual dengan harga sesuai akuntansi (USD 10,29 miliar alis IDR 152,66 triliun) lalu digunakan untuk melunasi seluruh utangnya (USD 10,37 miliar alias IDR 153,85 triliun) maka masih ada kekurangan USD 81 juta (IDR 1,20 triliun). Ekuitas akhir tahun 2019 masih positif USD 721 juta (IDR 10,70 triliun). Utang garuda ini naik sebesar USD 6,63 miliar (IDR 98,36 triliun) dibanding posisi akhir tahun 2019 yang sebesar USD 3,74 miliar alias IDR 55,49 triliun). Kenaikan ini sebagian terkait dengan penerapan PSAK 73.

Periode yang sama Airasia Group Berhad, selanjutnya disebut Air Asia, membukukan pendapatan MYR 2,23 miliar (IDR 8,01 triliun). Angka tersebut menurun 59% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar MYR 5,44 miliar (IDR 19,54 triliun). Dengan penurunan itu Air Asia membukukan rugi periode berjalan sebesar MYR 2,11 miliar (IDR 7,58 triliun). Rugi menggerus ekuitas Air Asia menjadi MYR 30 juta (IDR 108 miliar). Ekuitas akhir tahun 2019 adalah MYR 2,91 miliar (IDR 10,45 triliun). Dengan posisi utang MYR 24,16 miliar maka rasio utang terhadap ekuitas Air Asia adalah 805. Akhir tahun 2019 rasionya adalah 7,79. Kenaikan rasio ini terjadi karena kerugian yang menggerus ekuitas. Bukan karena adanya tambahan utang. Posisi utang relatif tetap antara akhir 2019 dengan akhir semester pertama 2020.

Singapore airlines, selanjutnya disebut SQ,  menggunakan kalender pembukuan yang berbeda. Awal kalender adalah 1 April sehingga untuk akhir juni 2020 ini adalah laporan keuangan kuartal pertama tahun buku 2020-2021. Kuartal pertama 2020/21 ini SQ membukukan pendapatan SGD 851 juta (IDR 9,27 triliun). Pencapaian tersebut mengalami penurunan sebesar 79 % dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,10 miliar (IDR 44,69 triliun). Penurunan tersebut mengakibatkan maskapai ini mengalami kerugian periode berjalan sebesar SGD 1,12 miliar (IDR 12,24 triliun). Periode yang sama tahun sebelumnya SQ membukukan laba SGD 111 juta (IDR 1,21 triliun). Dalam kondisi rugi justru ekuitas SQ meningkat menjadi USD 17,6 miliar (IDR 191,76 triliun). Ekuitas tersebut justru naik sebesar SGD 8,3 miliar (IDR 90,43 triliun) karena pada kuartal pertama 2020/21 ini SQ melakukan rights issue alias menerbitkan saham baru. Menerbitkan saham baru ini menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (DER, debt to equity) yang semula 1,27 menjadi 0,68

&&&

Dengan angka-angka di atas bisa ditarik paling tidak dua analisis. Analisis pertama, dalam hal penurunan pendapatan, SQ mengalami efek pandemi yang paling buruk. Menurun 79%. Penurunan seburuk ini terjadi karena memang SQ tidak memiliki penerbangan domestik. Semua penerbangannya adalah internasional dan negara manapun membatasi penerbangan internasional dalam era pandemi ini.

Penurunan drastis juga terjadi karena kalender laporan keuangan SQ yang berbeda dengan Air Asia dan Garuda. April – Juni 2020 semuanya sudah berada dalam situasi pandemi. Sementara itu Air Asia dan Garuda masih menikmati kuartal Januari-Maret 2020 yang masih mengandung masa sebelum pandemi.

Analisis kedua, secara posisi keuangan, Garuda mengalami kondisi paling parah. Ekuitasnya minus. Sebagaimana data di atas, rasio utang terhadap ekuitas (DER) Garuda pada akhir 2019 adalah 5,18 kali. Seandainya ekuitas Garuda masih positif, DER nya akan naik berkali lipat.

Dalam kondisi pandemi, Garuda justru menambah utang. Utang alias liabilitasnya meningkat IDR 98,36 triliun. Peningkatan utang ini terjadi akibat penerapan PSAK 74 yang diimbangi dengan kenaikan aset. Tetapi tetap ada peningkatan utang di luar akibat penerapan prinsip akuntansi itu. Padahal sebelum pandemi pun, yang juga berarti sebelum penerapan prinsip akuntansi tersebut, hutangnya sudah selangit. DER 5,18 kali. Bandingkan dengan SQ yang hanya 1,27 kali.

Dalam kondisi utang yang jauh lebih ringan daripada Garuda pun, SQ menyelesaikan permasalahan finansial yang terjadi akibat Covid-19 dengan menerbitkan saham baru. Dengan korporatisasi. Bukan dengan utang seperti yang dilakukan Garuda. Penerbitan saham baru mengakibatkan SQ menerima uang segar sehingga terjadi kenaikan ekuitas sebesar IDR 90,43 triliun. Rasio utang pun menurun tinggal 0,68.

Pandemi: Siapa paling tangguh?

Dibanding dengan Air Asia pun kebijakan Garuda jauh lebih rakus utang. Utang Air Asia posisi akhir tahun 2019 adalah MYR 22,68 miliar. Akhir semester pertama 2020 naik menjadi MYR 24,17 miliar. Hanya meningkat MYR 1,49 miliar (IDR 5,36 triliun).

Bagaimana kuartal ketiga tahun 2020 ini? Pandemi masih mengganas. Masyarakat masih takut terbang. Negara-negara masih menutup pintu penerbangan dari luar negeri. Tentu kondisinya masih sangat berat. Memperhatikan data di atas, kuartal ketiga ini nampaknya Garuda akan makin berat. SQ lebih kuat bernafas karena beban utang yang kecil. Air Asia berada diantara keduanya. Tapi semua hanya perkiraan. Hasilnya mari kita tunggu terbitnya laporan keuangan resminya. Ikuti terus www.korporatisasi.com.

Baca juga:
Pizza Hut era pandemi.
Pertamina versus AKR era pandemi
Pertamina versus ExxonMobil era pandemi

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-289 ini ditulis pada tanggal 16 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Pizza Hut Era Pandemi: Singkirkan Gengsi!


Tidak terbantahkan, resto dan kafe adalah salah satu industri yang terdampak parah pandemi Covid-19. Separah apakah? Mari kita lihat beberapa resto di tanah air satu demi satu. Tentunya resto yang telah tercatat di lantai bursa. Yang lain datanya tidak tersedia untuk publik.

KFC alias PT Fast Food Indonesia Tbk semester pertama 2020 ini membukukan omzet Rp 2,51 triliun. Omzet tersebut mengalami penurunan 26% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Beban pokok penjualan adalah Rp 1,03 triliun, juga turun 19% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Beban penjualan dan distribusi Rp 1,40 triliun turun 16% dari dari sebelumnya Rp 1,66 triliun. Dengan beban umum administrasi yang relatif konstan, Rp 289 miliar pada periode ini dan Rp 188 miliar pada periode sebelumnya, KFC akhirnya membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp 142 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 158 miliar (ROE 9,5%). Secara Cash Flow operasional, franchisee dari Yum! Brands ini masih membukukan nilai positif Rp 35 miliar walaupun menurun dari periode sebelumnya Rp 192 miliar

Starbucks alias PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. semester ini membukukan penjualan Rp 960 miliar. Menurun 33% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,43 triliun.  HPP Rp 294 miliar alias turun 28% dari tahun lalu Rp 406 miliar. Biaya penjualan dan distribusi Rp 667 miliar, turun 18% dari sebelumnya Rp 815 miliar.  Biaya umum dan administrasi juga dipangkas tinggal Rp 124 miliar dari sebelumnya Rp 136 miliar. Hasil akhirnya, Starbucks mengalami kerugian tahun berjalan sebesar Rp 115 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 58 miliar alias ROE 4,7%. Secara cashflow operasional masih positif Rp 127 miliar walaupun menurun 32% dari tahun sebelumnya Rp 188 miliar.

CFC alias PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. membukukan omzet Rp 202 miliar alias menurun 44% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 360 miliar. HPP juga mengalami penurunan menjadi Rp 88 miliar alias   37%   dari sebelumnya Rp 139 miliar. Beban penjualan Rp 127 miliar menurun 21% dari Rp 160 miliar.  Beban umum administrasi Rp 36 miliar menurun dari Rp 42 miliar. Hasilnya, perusahaan lokal ini rugi Rp 44 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 14 miliar alias ROE 7,3%. Arus kas operasional minus Rp 14 miliar. Tahun sebelumnya positif Rp 52 miliar. Minus arus kas operasional ditutup dengan uang utang bank jangka panjang.

Ketiganya mengalami rugi. Bahkan arus kas operasional sudah minus untuk kasus CFC. Apakah semua perusahaan resto dan kafe senasib? Mari kita lihat Pizza Hut alias PT Sarimelati Kencana Tbk. Omzet franchisee Yum! Brands ini adalah Rp 1,83 triliun alias menurun 6% dari periode sebelumnya 194 triliun. Beban pokok penjualan Rp 635 miliar naik 1% dari Rp 631 miliar. Beban penjualan Rp 1,06 triliun alias naik 4% dari sebelumnya Rp 1,10 triliun. Biaya umum dan administrasi Rp 101 miliar alias naik 9% dari tahun sebelumnya Rp 93 miliar. Hasilnya laba tahun berjalan Rp 10 miliar (ROE 6,8%) menurun 90% dari sebelumnya Rp 100 miliar (ROE 52%). Arus kas operasional minus tipis Rp 478 juta. Periode sebelumnya positif Rp 74 miliar.

&&&

Banyak yang diskusi di media sosial tentang kebijakan Pizza Hut yang buka lapak di pinggir-pinggir jalan menawarkan pizza murah meriah Rp 25 ribu. Nada sumbang pun tidak bisa dihindari. Dikatakan bahwa gerai waralaba merek asal USA ini telah menurunkan gengsinya. Semula kelas atas menjadi kelas pedagang kaki lima pinggir jalan.

Singkirkan gengsi!

Apakah kebijakan melapak di pinggir jalan itu tidak mengganggu branding sebagai intangible asset? Tentu ini belum bisa dinilai sekarang. Tetapi secara jangka pendek, paling tidak Pizza mampu  mengerem laju penurunan omzet hanya 6% dibanding KFC, Starbucks dan CFC yang masing-masing turun 26%, 33% dan 44%. Tentu ini prestasi yang patut diapresiasi walaupun secara cash flow masih minus tipis. KFC dan Starbucks positif Pizza Hut negatif walau negatifnya tidak signifikan. Minus kas operasional Pizza Hut belum separah CFC yang sampai harus menembaknya dengan utang bank jangka panjang. Pelajaran pentingnya, buang jauh-jauh gengsi di era pandemi ini! Ini masa krisis. Kehidupan lebih didahulukan daripada gengsi. Menjaga eksistensi adalah yang utama. Agar nanti ketika pandemi berakhir bisa langsung lari kencang. Bagaimana pendapat Anda?

Baca Juga:
Halu UKM Lebih Tahan Krisis
Pizza Hut Terancam Pailit?
Garuda Indonesia Era Pandemi

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-288 ini ditulis pada tanggal 14 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Kesalahan Wakaf Saham: Bagaimana Perbaikannya?


Seorang pendiri perusahaan manufaktur, sebut saja Fulan, menyampaikan kepada saya tentang rencana untuk mewakafkan saham miliknya. Rencana ini muncul karena proposal sebuah lembaga zakat infaq nasional, sebuat aja PQR.  PQR telah mendapatkan lisensi sebagai nadzir wakaf.

Dalam proposalnya, PQR menyampaikan agar Fulan mewakafkan saham yang dimilikinya di perusahaan manufaktur yang didirikannya, sebut saja PT XYZ.  Selama ini seluruh saham PT XYZ, sebut saja 1000 lembar, semuanya dimiliki Fulan dan keluarga. Nah, proposal PQR bermaksud agar Fulan mewakafkan 30% saham alias 300 lembar. Saham yang ada semula milik Fulan dibalik nama menjadi milik PQR dengan transaksi wakaf. PQR menjanjikan kompensasi berupa membantu pemasaran PQR di jaringan yang dimilikinya.

Proposal PQR itu kelihatannya bagus. Tapi paling tidak mengandung dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah transaksi itu akan langsung mengurangi kendali Fulan sebagai founder sebesar 30% tanpa dibarengi dengan penguatan sistem manajemen. Ini bahaya karena akan mempersempit ruang penerbitan saham baru bagi PT XYZ baik di lantai bursa maupun di luar lantai bursa.

sebuah perusahaan memang harus berproses menjadi fully corporatized company sesuai dengan corporate life cycle. Cirinya adalah sudah tidak ada lagi pemegang saham pengendali dan menguasai pasar lebih dari 100 negara. Pendiri pun tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali. Tapi titik kritis kepemilikan pendiri 51% baru boleh terjadi manakala sistem manajemen sudah terbentuk. Piramida manajemennya sudah tinggi dan lebar. dan ini butuh pertumbuhan omzet.

Kesalahan kedua adalah tidak fungsional bagi penguatan ekonomi umat. Memang masalah sosial akan teratasi dengan dividen yang akan diterima jika 300 lembar saham itu diwakafkan. Tetapi masalah ekonomi umat tidak terselesaikan.

Apa masalah ekonomi yang tidak terselesaikan itu? Penguatan ekonomi agar menjadi umat produsen. Bukan umat konsumen seperti yang selama ini. Pesawat, mobil, gadged, sabun, pasta gigi, dan semua produk diproduksi oleh perusahaan asing. Bangsa dan umat ini hanya bisa membelinya sebagai konsumen.

Bagaimana skema wakaf menyelesaikannya? Kembali kepada PT XYZ. Perusahaan itu adalah klien SNF Consulting, kantor tempat saya beraktifitas. Maka saya tahu bahwa ada peluang besar bagi PT XYZ yanG sudah di depan mata. Apa itu? Meningkatkan kapasitas pabrik untuk memproduksi barang yang selama ini telah dijualnya dan diterima pasar. Butuh dana untuk investasi.

Bagaimana teknisnya? PT XYZ menerbitkan saham baru. Katakan 300 lember.  Harga per lembarnya bisa dihitung agar fair bagi semua pihak. Tentu saja di atas harga nominal di akta (par value). Tentu juga di atas nilai buku karena perusahaan memiliki intangible asset. Besarnya bisa dihitung dengan metode valuasi yang selama ini dipakai oleh SNF Consulting untuk membantu klien-kliennya.

Saham beru itu kemudian seluruhnya dibeli oleh PQR. Dari mana PQR mendapatkan dananya? PQR sudah  dikenal jago dan kredibel dalam mengumpulkan dana sosial masyarakat. Tinggal memanfaatkan keahlian ini untuk mengumpulkan dana pembelian 300 lembar saham itu. Katakan harga per lembar saham adalah Rp 50 juta. Dengan mudah PQR bisa mengumpulkan dana Rp 15 M untuk membeli 300 lembar saham baru tersebut. Seluruhnya.

Uang Rp 15 M sepenuhnya menjadi hak PT XYZ. Sesuai kesepakatan, uang itu kemudian digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi pabrik. Scale up! Dengan demikian akan meningkatkan omzet dan laba. Selanjutnya, saat bagi dividen, PQR mendapatkan hak sesuai proporsi kepemilikan sahamnya yaitu 300 dari total saham 1300 alias 23%.

Apakah investasi ini aman? Aman karena PT XYZ selama ini telah memiliki pabrik produk yang sama dan menghasilkan laba yang bagus. Laporan keuangan tersedia. Siap diaudit akuntan publik. Hak dividen saham wakaf tidak digantungkan hanya pada pabrik baru. Tetapi seluruh pabrik milik perusahaan, lama maupun baru, yang sudah terbukti menghasilkan laba secara konsisten. Pabrik baru pun hanya merupakan proporsi kecil dari total pabrik milik PT XYZ.

Meningkatkan omzet dan laba ini efeknya banyak. Antara lain: penguasaan pasar meningkat, intangible asset PT XYZ meningkat karena kehadiran di pasar makin masif, karyawan makin sejahtera karena omzet dan laba meningkat, pengangguran berkurang karena PT XYZ merekrut karyawan baru untuk menjalankan pabrik yang baru dibangun. Para pemegang saham existing juga menikmati berupa kenaikan dividen seiring dengan peningkatan laba perusahaan. Ujung-ujungnya adalah kontribusi untuk tampilnya umat dan bangsa menjadi produsen. PT XYZ makin kuat menghadapi pesaing pesaingnya termasuk perusahaan-perusahaan asing.

Dana wakaf untuk meningkatkan kapasitas manufaktur untuk memproduksi barang kebutuhan umat

Diskusi dengan PQR cukup alot. Mereka tetap bertahan skema yang diajukannya. Penjelasan saya dengan simulasi akuntansi finansial ditolaknya. Jadilah transaksi wakaf itu batal. Sayang seribu sayang. Peluang besar terlewatkan begitu saja. Anda pekerja lembaga pengumpul dana sosial umat? Ayo tangkap peluang ini. Wakaf berbasis ekuitas untuk scale up korporasi. Wakaf modern!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-287 ini ditulis pada tanggal 13 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Ekonomi Berjamaah: Makna di Balik Angka Uang


Surabaya tahun 1993.  Kala itu saya mengikuti mata kuliah Analisis Teknik dan Biaya. Sesuai namanya, matakuliah di jurusan Teknik Mesin ITS itu adalah tentang hubungan antara ilmu engineering dengan biaya. Dengan uang. Sebagai mata kuliah wajib, saya memang harus mengikutinya. Tidak ada ketertarikan khusus terhadap mata kuliah itu.

Apa isinya? Kurang lebih adalah penerapan ilmu matematika di bidang keuangan. Nah, sebagai mahasiswa teknik mesin yang memang sehari-hari berkutat dengan persamaan matematika, mata kuliah itu bisa saya lalui dengan baik. Lulus dengan hasil yang cukup menyenangkan.

Apa daya tarik mata kuliah tentang keuangan itu? Sama sekali tidak ada.  Sekedar menjadi kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Uang hanya sebatas angka. Itulah kesan pertama saya mempelajari ilmu keuangan.

&&&

Surabaya 25 Agustus 2020. Hari ini saya menulis artikel ke 1879 untuk buletin elektronik bertajuk “Korporatisasi”. Karena temanya adalah tentang strategi korporasi, tulisan-tulisan yang bisa dibaca di www.korporatisasi.com itu tentu saja juga mengupas tentang uang. Karena buletin itu terbit harian, artinya saya sudah menulis 1879 hari alias lebih dari 5 tahun tanpa berhenti.

Apa energi untuk itu? Menulis tentang uang dalam waktu yang panjang tanpa jenuh? Jawabnya: ada makna di balik uang. Bukan uangnya itu sendiri. Tetapi apa yang ada di balik uang itu. Itulah daya tariknya.

Misalnya saja, hari ini saya menulis tentang Toyota. Aset perusahaan otomotif terbesar dunia isu saat ini adalah JPY 55,9 triliun alias IDR 7 664 triliun. Bagaimana sebuah perusahaan bisa memiliki aset yang nilainya lebih besar dari pada aset pemerintah RI? Ini adalah salah satu pertanyaan menarik tentang apa yang ada dibalik angka.

Di balik uang lebih dari tujuh ribu triliun Rupiah itu ada hal yang sangat menarik: ekonomi berjamaah. Tidak mungkin satu orang atau satu keluarga pendiri Toyota mampu mengumpulkan aset sebesar itu. Angka itu adalah hasil dari pengumpulan aset milik banyak sekali orang. Jutaan orang.

Mari kita lihat daftar pemegang saham Toyota Motor Corporation, demikian nama resminya. Pemegang saham terbesarnya adalah Toyota Motor Corporation dengan 14,3%. Ini artinya adalah saham yang dipegang sendiri oleh perusahaan. Caranya dengan buy back. Terbesar kedua dipegang oleh Toyota Industries Corporation sebesar 7,31%. Kedua pemegang saham ini bisa dihitung sebagai kontribusi pendiri dalam mengumpulkan aset hampir 8 ribu triliun itu. Total sebesar 21,61%. Dengan kata lain, selebihnya, yaitu 78,39%, adalah peran pihak lain diluar  keluarga pendiri.

Shalat berjamaah, ekonomi pun berjamaah

Nippon Life Insurance Co dengan 3,89% adalah kontributor terbesar ketiga. Karena ini adalah perusahan asuransi, tentu saja uangnya berasal dari para nasabah yang jumlahnya jutaan orang. Disinilah pelajaran tentang ekonomi berjamaah muncul. Bahwa perusahaan powerful itu tidak bisa hanya berdiri pada kekuatan pendiri atau keluarga pendiri. Butuh pihak lain. Butuh jutaan orang lain.

Bahkan berjamaahnya bukan hanya orang satu negara.  Pemegang saham terbesar ketujuh adalah The Vanguard Group Inc. dengan 2,14%. Vanguard adalah sebuah perusahaan investasi dari USA. Aset yang ditanamkan oleh Vanguard itu adalah sebagian kecil dari  aset kelolaan USD 6,2 triliun. Aset yang dalam Rupiah bernilai 90 486 triliun itu bukan milik seorang dua orang. Tetapi miliki jutaan orang dari berbagai negara.

Itulah makna dibalik angka uang. Makna ekonomi berjamaah dari angka angka uang. Bahwa sebuah perusahaan besar yang produknya dipakai masyarakat seluruh dunia lahir tidak dengan kekuatan satu orang atau satu keluarga. Tetapi lahir dari berkumpulnya uang milik jutaan orang dari berbagai negara.

Kembali ke certa mata kuliah Analisa Teknik Biaya tahun 1993. Jika hanya dipandang sebagai angka, uang tidak menarik. Hambar. Tetapi jika dipandang dengan apa yang ada dibalik angka, uang menjadi sangat menarik. Menjadi energi untuk menulis tiap hari selama 5 tahun lebih. Tulisannya menjadi energi bari SNF Consulting, kantor konsultan manajemen tempat saya berkarya, untuk menarik masuknya klien-klien baru. Hanya itulah makna di balik angka-angka uang? Tidak! Masih banyak lagi.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-286 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, sebagai pengantar buku “Filosofi Uang” yang diterbitkan oleh Penerbit Rejeki Baru, 2020

Pertamina Campakkan Rupiah: Dimana Nasionalisme?


Surabaya 2017. Melalui aplikasi WA saya menerima pesan dari anak ke-4 yang sedang berada di Krong Poi Pet, Kamboja. Disampaikan bahwa dalam perjalanannya mengurus perpanjangan ijin tinggal untuk belajar bahasa Thailand  di Bangkok anak gadis ini mengalami masalah. Handphone satu-satunya yang dimilikinya karena suatu hal masuk ke air dan rusak. Untuk menghubungi saya anak lulusan SMP meminjam gadget petugas hotel tempatnya menginap.

Segeralah saya mengirim uang kepadanya. Tujuannya untuk membeli gadget baru. Teknisnya dilakukan dengan mentransfer uang melalui rekening bank Mandiri. Ia kemudian  mengambil uang di mesin ATM di kota dekat perbatasan Kamboja-Thailand itu. Yang menarik, ATM mengeluarkan uang USD. Uang itu kemudian digunakan untuk membeli HP di toko terdekat. Toko pun langsung menerima uang itu tanpa harus menukarkannya dengan Kip, mata uang Laos.

&&&

Bangsa yang kuat mata uangnya berlaku, dicari dan dipakai di berbagai negara lain. Contoh negara seperti ini adalah USA. Pengalaman anak gadis yang sedang di Kamboja menggambarkannya. Bahkan anak gadis saya ini juga pernah menarik uang melalui ATM di Laos. Sama, yang keluar adalah USD. Uang pun bisa langsung dibelikan gadget tanpa harus menukarkannya dengan Riel, mata uang setempat. Saya juga pernah mengalaminya sendiri di kota Phnom Penh.

&&&

Bangsa yang kuat mata uangnya berlaku, dicari dan dipakai di berbagai negara lain. Sebaliknya, bangsa yang lemah mata uangnya tidak berlaku dimana-mana. Kecuali di negerinya sendiri. Bahkan di negerinya sendiri pun masih harus menggunakan mata uang asing.

Bagaimana bangsa ini? Bagaimana Rupiah? Tidak perlu mencari fakta jauh jauh. Lihatlah laporan keuangan Pertamina, BUMN yang dianggap sangat stratejik. Sejak tahun 2012 perusahaan perminyakan ini resmi meninggalkan Rupiah untuk laporan keuangannya. Mencampakkan Rupiah dan beralih kepada USD hingga laporan terbarunya. Laporan semester pertama 2020.

Dalam catatan laporan keuangan 2012, Pertamina memberikan alasan mengapa mencampakkan Rupiah menjadi USD. Ada empat alasan. Pertama, harga jual produk dari 6 (enam) unit bisnis utama mengacu pada harga publikasi yang didenominasikan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Kedua, biaya bahan baku dan pembelian produk mengacu pada harga publikasi yang didenominasikan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Ketiga, umumnya, ketika penjualan atau bahan baku dalam mata uang selain mata uang Dolar Amerika Serikat, harga tersebut akan berfluktuasi terhadap nilai tukar terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat. Keempat, pendanaan (utang) yang bersumber dari obligasi dan pinjaman bank didenominasikan dalam mata uang Dolar Amerika serikat.

Secara akuntansi, ada yang namanya mata uang fungsional, ada mata uang penyajian. Tahun 2011 dan tahun-tahun sebelumnya,  Pertamina masih menggunakan rupiah untuk mata uang penyajian laporan keuangannya. Adapun mata uang fungsionalnya, dengan mengacu pada empat alasan di atas, sudah menggunakan USD. Walaupun penjualan BBM adalah di Indonesia dan tentu saja pelanggannya pembayaran dengan rupiah, tapi harga patokannya adalah USD.

Bagaimana tahun 2020 ini? Laporan kuartal kedua Pertamina masih dinaytakan dalam USD. Kita tidak bisa melihat detail mengapa kebijakan merengkuh USD dan mencampakkan Rupiah ini tetap diambil  karena Pertamina tidak menampilkan catatan laporan keuangannya.

&&&

Saya Indonesia! Saya Pancasila! Beberapa tahun lalu slogan ini sempat ramai diperbincangkan di media. Utamanya media sosial. Maksudnya kurang lebih adalah untuk menunjukkan jiwa nasionalisme. Nah, jika diterjemahkan kedalam bidang ekonomi moneter, slogan itu akan berbunyi “Saya Indonesia! Saya Rupiah!”. Dan….kita akan malu karena ternyata Pertamina yang merupakan BUMN utama negeri ini lebih memilih USD dari pada Rupiah.

Apakah nasionalisme Rupiah sudah tidak relevan lagi?

Lalu kapan kita bisa berharap Rupiah dipakai di Kamboja atau Laos seperti pengalaman anak gadis saya dan bahkan dipakai oleh negeri-negeri lain? Nanti dulu. BUMN kita sendiri saja tidak mau memakainya. Pertamina tidak memakainya. Demikian juga Garuda yang di pundaknya diusung merah putih karena posisinya sebagai flag carrier. Apalagi  negara lain.

Siapa  yang bertanggung jawab terhadap masalah ini? Keputusan penggunaan mata uang berada di tangan direksi. Maka yang bertanggung jawab adalah direksi. Tetapi dalam tata kelola perseroan terbatas, kerja direksi diawasi oleh komisaris. Hingga kini direksi Pertamina masih mempertahankan kebijakan cinta USD dan mencampakkan Rupiah. Lalu siapa yang bisa mengoreksi kebijakan direksi ini? Tentu saja komisaris yang dipimpin oleh komisaris utama. Bahkan menurut Undang-undan PT, komisaris berwenang memberhentikan direksi. Kecuali jika komisaris beranggapan bahwa nasionalisme dalam mata uang sudah tidak relevan lagi. Apa Kabar pak komisaris utama? Anda cinta Rupiah atau cinta USD? Apakah nasionalisme sudah tidak relevan lagi di Pertamina?

Baca juga: Mengapa Rupiah Konsisten Melemah Sejak 1948?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-285 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 8 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Halu Covid-19: UKM Lebih Tahan Krisis?


“Covid-19 adalah karpet merah untuk UMKM”. Perusahaan besar terkapar. UKM jaya. Pernyataan-pernyatan seperti ini sering muncul di masa krisis ekonomi. UKM atau UMKM sering disebut-sebut sebagai penyelamat bangsa saat terjadi krisis. UKM lebih tahan terhadap krisis. Banyak orang yang mengamininya. Benarkah? Mari kita cermati.

Yang paling kelihatan di depan mata adalah bisnis ritel. Alfamart misalnya. Laporan semester pertama tahun ini Alfamart mencatatkan omzet Rp 38,085 triliun. Pencapaian tersebut adalah naik 5,3% dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 36,157 triliun.

Mari kita lihat juga raja consumer good Unilever. Semester pertama ini melaporkan penjualan Rp 21,772 triliun. Prestasi tersebut naik 1,5% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 21,457 triliun.

Selanjutnya Sari Roti. Perusahaan yang penjualannya sekitar 30% berasal dari gerai-gerai Alfamart ini semester pertama tahun ini memperoleh omzet Rp 1,674 tiliun. Naik 5,5% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,587 triliun.

Tiga Perusahaan-perusahaan di atas berkinerja pertumbuhan pendapatan positif. Jauh melampaui kinerja PDB nasional yang justru tumbuh minus 5,05%. Pertumbuhan minus ini diperoleh dari kinerja seluruh pelaku ekonomi di Republik ini. Tentu saja termasuk tiga perusahaan di atas. Artinya, tiga perusahaan itu mampu menjadi penyelamat pertumbuhan ekonomi nasional sehingga hasil akhirnya 5,05%.

Lalu siapakah yang tumbuh negatif sehingga akumulasi secara nasional menjadi minus 5,05%? Mari kita lihat Garuda Indonesia. Pendapatan semester pertama tahun ini adalah USD 917 juta. Angka tersebut menurun 58,19% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 2,193 miliar

Kita melihat Matahari Dept Store. Semester pertama tahun ini retail busana ini omzetnya Rp 2,252 triliun. Pendapatan tersebut turun % 62,155 dari tahun lalu yang sebesar Rp 5,950 trilium. Sebuah penurunan sangat besar.

Selanjutnya Hotel Dafam. Semester pertama tahun ini hotel yang sebelum corona tumbuh agresif ini membukukan omzet Rp 35,941 miliar. Angka tersebut turun % 56,16% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 81,973 miliar.

&&&

Enam perusahaan di atas semuanya adalah perusahaan besar. Perusahaan yang tidak bisa lagi disebut UKM atau UMKM. Sama-sama perusahaan besar, tetapi mengalami perbedaan nasib. Tiga yang disebut pertama mengalami pertumbuhan pendapatan yang jauh diatas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang minus.

Tiga perusahaan yang disebut berikutnya bernasib sebaliknya. Pendapatannya tergerus sedemikian dalamnya. Jauh lebih parah dari pada angka minus pertumbuhan ekonomi nasional. Menarik sekali. Bagaimana sesama perusahaan besar bisa berbeda nasib? Bagaimana hubungannya dengan pernyataan di paragraf pertama tulisan ini?

Kecil versus besar

Apakah UKM selamat menghadapi krisis ekonomi akibat Corona? Coba bayangkan seorang pengusaha UMKM yang berjualan tiket pesawat secara online sendirian tanpa karyawan. Tepat jika dikategorikan sebagai UKM. Bagaimana kira-kira nasibnya? Saya yakin akan seperti nasib maskapai penerbangan,  atau perusahaan busana, atau hotel seperti disebut di atas Pasti akan sangat terpuruk.

Tentu beda misalnya pengusaha UKM pedagang beras. Saya yakin omset mereka tidak termasuk yang merosot. Paling tidak akan stabil atau naik seperti tiga perusahaan yang disebut pertama.

Efek  Corona tidak pandang usaha besar atau kecil. Yang membedakan adalah bidang usahanya. Ada bidang usaha yang tetap tumbuh. Seperti bidang consumer good. Ada yang jatuh parah. Seperti bidang perhotelan. Pelajarannya, jangan bangga menjadi UKM. Jangan termakan halusinasi UKM. Jangan terlena pujian UKM lebih tahan krisis. Membesarlah!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-284 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, juga dimuat oleh Majalah Matan edisi September 2020, terbit di Surabaya.

Pertamina Rugi Vs. AKR Laba: Buka-bukaan, Siapa Takut?


Untuk mendapatkan bahan bakar minyak, masyarakat bisa mendapatkanya di SPBU Pertamina, Shell, BP, Total, Vivo,  dan AKR. Dengan demikian, di sektor ritel migas ini Pertamina adalah pesaing langsung Shell, BP dan AKR. Head to head.

Semua pesaing Pertamina di bisnis ritel  adalah perusahaan asing kecuali AKR. Maka, menarik sekali untuk membandingkan Pertamina dan AKR setelah sebelumnya saya membandingkannya dengan ExxonMobil. Memang selalu saja ada yang memprotes terhadap perbandingan seperti ini. Persis ketika indonesia sebagai  negara dibandingkan dengan negara lain. Si apel selalu dijadikan pembela. Tidak apple to apple katanya.

Indonesia dibandingkan dengan Singapura diprotes karena Singapura terlalu kecil sehingga mudah untuk dikelola. Tidak apple to apple.  Dibandingkan dengan RRC yang besar diprotes karena RRC menggunakan sistem komunis. Tidak apple to apple. Dibandingkan dengan USA yang demokratis diprotes karena USA sudah jauh lebih lama merdeka. Tidak apple to apple. Dibandingkan dengan Malaysia yang merdekanya lebih muda diprotes karena Malaysia tidak multietnis. Tidak apple to apple. Lagi-lagi si apel dijadikan pembela. Intinya tidak mau dibandingkan hehehehe

Padahal perbandingan alias benchmark sudah sangat dikenal dan umum dalam dunia manajemen modern. Pembanding dibutuhkan sebagai acuan dalam kerangka berfikir positif. Dalam rangka berkaca untuk memperbaiki diri. Dalam rangka strategi. Maka, mari kita berkaca.

&&&

PT AKR Corporindo Tbk adalah perusahaan di bidang logistik dan rantai pasokan  bahan bakar minyak dan bahan kimia dasar dengan jaringan tangki penyimpanan cair, gudang kering, fasilitas transportasi dan pelabuhan.  Pada bisnis SPBU, perusahaan yang berdiri sejak tahun 1960-an ini tampil dengan brand sendiri maupun bekerja sama dengan BP.

Semester pertama tahun 2020 ini AKR membukukan pendapatan Rp 10,001 triliun, naik 3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Omzet perusahaan diperoleh dari empat segmen yaitu perdagangan dan distribusi BBM sebesar Rp 9,171 triliun, perdagangan bahan kimia dasar Rp 1,814 triliun, pabrikan Rp 180 miliar, jasa logistik (pelabuhan & penyewaan tangki penyimpanan) Rp 410 miliar,  serta kawasan industri dan lain lain sebesar Rp 240 miliar. Dengan demikian, peran bisnis perdagangan dan distribusi BBM adalah sebesar 92%. Maka, pantas jika perusahaan ini menjadi pembanding Pertamina. Melengkapi kenyataan di pasar bahwa SPBU AKR maupun BP-AKR juga langsung bersaing dengan SPBU Pertamina di pasar ritel BBM. Tentu saja kalau Anda tidak menjadikan si apel sebagai alasan hehehe.

Beban pokok penjualan untuk segmen perdagangan dan distribusi BBM adalah Rp 8,392 triliun. Dengan demikian margin kotor bisnis BBM adalah sebesar 8,5%. AKR sudah memasukkan penyusutan untuk aset terkait pada beban pokok penjualan ini. Hasilnya adalah laba kotor sebesar Rp 779 miliar. Laba kotor ini berkontribusi 76% terhadap total laba kotor perusahaan.

Beban umum dan administrasi perusahaan adalah Rp 345 miliar. Beban penjualan adalah Rp 29 miliar. Dengan demikian total beban usaha AKR adalah Rp 374 miliar. Artinya, seandainya tidak ada pendapatan dari 3 segmen lain, perusahaan yang tercatat di lantai bursa ini akan memperoleh laba (sebelum pajak) sebesar Rp Rp 454 miliar. Karena perusahaan masih  punya pendapatan dari 3 segmen diluar BBM plus masih ada pendapatan lain-lain maka akhirnya laba sebelum pajak adalah Rp 549 miliar. Dengan pajak Rp 97 miliar maka laba setelah pajak periode semester pertama 2020 ini adalah Rp 452 miliar. Setelah dikoreksi dengan berbagai faktor non operasional maka pendapatan komprehensif perusahaan adalah Rp 476 miliar.

Dalam kacamata manajemen, laba sebesar itu adalah bermakna return on equity (ROE) sebesar 4,7% karena nilai ekuitas (nilai buku) perusahaan adalah Rp 10,235  triliun. Dalam kacamata investor (pemegang saham yang membeli saham dengan harga pasar saat ini) laba tersebut bermakna return on investment (ROI) sebesar 4,1% karena nilai pasar saat ini adalah Rp 11,520 triliun. Dengan nilai pasar tersebut kita juga bisa menghitung nilai intangible asset AKR adalah Rp 1,285 triliun.

&&&

Semester pertama 2020 ini Pertamina memperoleh pendapatan USD 20,483 miliar alias menurun 20% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tersebut berasal dari empat  segmen yaitu penjualan (minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak) dalam  negeri sebesar USD 15,567 miliar, penggantian biaya subsidi dari pemerintah USD 1,738 miliar, penjualan ekspor (minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak) USD 1,764 milar, dan pendapatan lain-lain sebesar USD 415 juta. Dengan demikian segmen penjualan dalam negeri berkontribusi paling besar yaitu 76%. Subsidi dari pemerintah hanya berkontribusi 8%.

Bagaimana kontribusi masing-masing segmen tersebut terhadap laba kotor Pertamina? Sayangnya BUMN ini tidak mempublikasikan catatan laporan keuangannya seperti yang dilakukan oleh AKR. Dengan demikian kita tidak bisa melihatnya secara detail satu demi satu.

Yang dilaporkan Pertamina dalam laporan laba ruginya adalah beban pokok total sebesar USD 15,401 miliar, beban hulu & lifting USD 2,433 miliar, beban eksplorasi USD 79 juta dan beban lain-lain USD 961 juta. Total beban beban pokok penjualan biaya langsung adalah USD 18,874 miliar. Dengan demikian laba kotornya adalah USD 1,609 miliar.

Beban periodik Pertamina terdiri dari beban penjualan dan pemasaran USD 641 juta, umum dan administrasi USD 525 juta, beban selisih kurs USD 211 juta, serta beban keuangan USD 523 juta. Setelah dimasukan pendapatan lain-lain maka Pertamina mengalami kerugian sebelum pajak sebesar USD 58 juta. Dikenai beban pajak penghasilan USD 703 juta maka rugi bersih setelah pajak adalah USD 761 juta. Koreksi faktor-faktor non operasionalnya kecil sehingga rugi komprehensif tetap USD 761 juta

Bagaimana ROE Pertamina? Dengan nilai ekuitas (nilai buku) sebesar USD 29,662 milar maka ROI adalah minus 2,6%. Bagaimana ROI bagi pemegang saham yaitu pemerintah RI a.k.a. rakyat Indonesia? Tidak bisa diketahui karena Pertamina tidak tercatat di lantai bursa sedemikian hingga kita tidak bisa mengetahui berapa nilai intangible asset Pertamina dan akibatnya tidak diketahui berapa nilai pasar Pertamina sebagai sebuah perusahaan.

Beban keuangan menjadi beban besar yaitu USD 525 juta alias Rp 7,63 triliun. Dari mana saja beban keuangan ini? Tidak ada informasi lebih detail karena Pertamina tidak menampilkan catatan laporan keuangannya.

Memperhatikan  neracanya, utang Pertamina memang besar yaitu USD 40,568 miliar alias Rp 590 triliun. Utang itu adalah 1,36 kali (disebut juga DER) dibanding modal sendiri (ekuitas) yang sebesar USD 29,662 miliar. Karakter perusahaan seperti Pertamina ini DER seperti ini termasuk besar.  Bandingkan dengan AKR yang hanya 0,81.

Utang jangka panjang Pertamina adalah USD 27,424 miliar alias Rp 398 triliun. Utang inilah yang kemungkinan menjadi sumber utama beban keuangan (beban bunga). Tetapi sekali lagi karena Pertamina tidak menampilkan catatan laporan keuangannya maka tidak bisa diketahui kepada siapa saja utang sebesar itu. Selama ini memang Pertamina tidak pernah menampilkan catatan laporan keuangannya

Pertamina jangan kalah dengan AKR dong…..

Pertamina sama dengan AKR dalam hal bahwa pendapatan keduanya diperoleh dari penjualan bahan bakar minyak dalam negeri. Dengan kondisi pasar yang sama-sama terpengaruh Covid-19, AKR tetap memperoleh laba. Pertamina menderita rugi.

&&&

Mengapa Pertamina tidak menampilkan catatan laporan keuangan? Ada yang menjawab. Kan pertamina bukan perusahaan publik. Kan Pertamina belum IPO. Pertanyaannya, mengapa kalah dengan AKR yang asetnya hanya ibarat setetes air dibanding pertamina yang ibarat lautan? Mengapa kalah dengan AKR yang pemegang sahamnya hanya segelintir dibanding sekitar 250 juta rakyat Indonesia yang merupakan pemegang saham sah dari Pertamina?

Mengapa Pertamina menggunakan laporan dengan mata uang USD? Sudah tidak relevankah bicara nasionalisme di dunia bisnis? Bukankah sebagian besar pendapatan Pertamina berasal dari dalam negeri dan dengan demikian bermata uang Rupiah? Mengapa BUMN justru tidak berkontribusi untuk menjayakan Rupiah? Mungkin akan dijawab bahwa komponen HPP Pertamina adalah impor minyak mentah dalam USD. Tapi sekali lagi ini hanya kira-kira karena Pertamina tidak berani buka-bukaan dengan mempublikasikan catatan laporan keuangannya semester ini kepada rakyat Indonesia yang merupakan pemegang saham sejatinya. Kalau memang jujur mengapa tidak berani buka-bukaan? Jangan kalah dengan pesaing kecil AKR. Pak komisaris utama, apakabar? Sudah baca tulisan tentang tugas komisaris ini belum? 🙂

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-283 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 30 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Pertamina Vs. ExxonMobil: Bisakah Dimaklumi Ruginya?


Ini adalah tentang Pertamina dan ExxonMobil. Dua perusahaan yang bersaing  head-to head dalam tender pengelolaan blok blok minyak oleh SKK migas.   

Semester pertama 2020 ini Pertamina rugi. Sontak menjadi ribut seluruh umat manusia di Indonesia raya hahahah.  Yaa….semua ribut. Kecuali yang tenang hehehe. Nah, apakah ExxonMobil bernasib seperti Pertamina? Rugi juga? Atau sebaliknya? Sebelum melihat angka-angka kedua perusahaan, mari kita telusuri riwayat profesional para pimpinan kedua perusahaan.

&&&

Saat ini ExxonMobil dipimpin oleh Darren Woods. Eksekutif kelahiran 1964 ini menamatkan pendidikan di Texas A&M University-Corpus Christi dan Northwestern University. Di Texas A& M University eksekuti kelahiran Kansas ini memperoleh bachelor di bidang electrical engineering. Di Northern University mempereolah MBA di Kellogg School of Management.

Wood bergabung di ExxonMobil tahun 1992 alias pada saat berumur 28 tahun. Posisi pertamanya adalah sebagai planning analyst dan berkantor di Florham Park, New Jersey. Sepanjang karirnya, ia menempati berbagai posisi di Exxon Company International, ExxonMobil Chemical Company, dan ExxonMobil Refining and Supply Company baik di USA maupun di luar negeri sampai tahun 2005.  Seja tahun itu ia diposisikan vice president of ExxonMobil Chemical Company di Houston, Texas. Pada posisi tersebut ia mengelola bisnis specialty-chemical ExxonMobil seluruh dunia.

Tahun 2008 ia dipindahtugaskan ke Brussels, Belgia. Posisinya adalah ExxonMobil Refining and Supply Company director of refining for Europe, Africa, and the Middle East.  Posisi itu hanya dipegangnya selama 2 tahun sampai diangkat menjadi vice president of supply and transportation dan berkantor di  Fairfax, Virginia, negeri asalnya,  tahun 2010.

Dua tahun kemudian kembali dipromosikan sebagai president of ExxonMobil Refining and Supply Company, anak perusahaan ExxonMobil. Pada posisi itu ia sekaligus merangkap sebagai  and vice president of Exxon Mobil, induk perusahaan.  Pada posisi yang didudukinya sejak tahun 2012 ini bertanggung jawab atas aktivitas aktivitas kilang global, pasokan dan transportasi ExxonMobil.

Dua tahun kemudian, tahun 2014, Woods dipromosikan senior vice president of Exxon Mobil Corporation. Saat menduduki posisi ini, ia juga beraktifitas non bisnis  sebagai  anggota the Board of the U.S.-China Business Council dan Engineering Advisory Council di almamaternya Texas A& M University.

Debutnya sebagai direksi dimulai pada tanggal 1 Januari 2016. Posisinya adalah presiden dan anggota board of director.  Puncak karirnya adalah memegang posisi tertinggi di perusahaan migas terbesar dunia itu sebagai CEO & Chairman and CEO sejak 1 Januari 2017. Posisi itu dipegangnya  setelah 25 tahun bekerja keras dengan prestasi gemilang di berbagai posisi di berbagai negara di perusahaan beraset USD 362,6 miliar alias Rp 5309 triliun itu. Hingga kini berarti ia telah malang melintang di perusahaan migas hasil merger Exxon dan Mobil itu selama 28 tahun.

Sebagaimana perusahaan-perusahaan di USA, ExxonMobil menganut tata kelola perusahaaan satu kamar. Dengan sistem ini, peran eksekutif (di Indonesia dipegang oleh dewan direksi) dan pengawas (di Indonesia dipegang oleh dewan komisaris) dijadikan satu kamar yang bernama board of director (BOD).  Ada anggota BOD yang memiliki tugas eksekutif, ada yang tidak. Yang memiliki tugas eksekutif disebut executive director dan dipimpin oleh seorang CEO. Yang tidak memiliki tugas eksekutif disebut non executive director. BOD dipimpin oleh seorang chairman atau president. Dengan posisinya saat ini, Woods adalah CEO sekaligus pemimpin BOD.

&&&

Pertamina saat ini dipimpin oleh Nicke Widyawati yang lahir tahun 1967 alias 3 tahun lebih muda daripada Woods. Saat berusia 21 tahun dan belum lulus dari ITB, Nicke sudah bekerja di Bank Duta cabang Bandung.  Begitu lulus, ia meninggalkan perbankan dan berkarir di PT Rekayasa Industri. Di perusahaan engineering yang juga dikenal sebagai REKIN itu Nicke mendapatkan tugas di berbagai proyek. Beberapa diantaranya adalah  proyek Pupuk Sriwidjaja di Palembang, di Lhokseumawe, Cilegon dan Malaysia.

Dari REKIN Nicke kemudian pindah berkarir di BUMN. Debut pertamanya adalah di  PT Mega Eltra, perusahaan BUMN yang bergerak di bidang kelistrikan dan peralatan teknik sebagai direktur utama. Tidak lama bertugas di Mega Eltra, tahun 2014 ia pindah ke PLN dan menduduki posisi sebagai direktur pengadaan strategis 1. Setelah 3 tahun menjadi direksi di PLN, tahun 2017 Nicke dipindah ke Pertamina menduduki posisi sebagai direktur sumber daya manusia merangkap sebagai Plt. direktur logistik, supply chain dan infrastruktur. Lima bulan di posisi itu wanita yang juga alumni magister hukum bisnis Universitas Padjajaran itu kemudian dipromosikan sebagai Plt direktur Pertamina dan selanjutnya direktur utama pertamina hingga saat ini.

Dengan biografi seperti di atas, maka Nicke memiliki pengalaman di industri migas selama 5 bulan sebelum menduduki posisi puncak di perusahaan minyak yang sahamnya 100% dipegang pemerintah RI ini.

Karena berbeda dengan ExxonMobil yang menganut tata kelola satu kamar, maka untuk Pertamina perlu diungkap  juga tentang komisarisnya. Saat ini komisaris utama Pertamina dijabat oleh  Basuki Tjahaja Purnama alias BTP. BTP lahir di Belitung Timur tahun 1966. Pendidikan sarjananya ditempuh di Jurusan Geologi Universitas Trisakti dan lulus tahun 1990. Karir pertamanya adalah sebagai entrepreneur yaitu mendirikan CV Panda yang bergerak sebagai kontraktor pertambangan di PT Timah. Dua tahun menekuni bisnis ia kembali meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh pendidikan magister manajemen di Prasetya Mulya, Jakarta.  Selulus S2,  BTP bekerja PT Simaxindo Primadaya di Jakarta sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek. Samaxindo adalah  perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik.

Tahun 1995 BTP memutuskan berhenti bekerja dan pulang kampung ke Belitung. Di kampung halamannya ia kembali menjadi entrepreneur dengan mengelola PT Nurindra Ekapersada. Nurindra adalah perusahaan yang didirikannya tahun 1992  sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS). Tahun 1994 perusahaan itu telah mendirikan pabrik pasir kuarsa tapi pabrik ditutup tahun 1995. Tahun 2004 BTP tercatat sebagai pendiri perusahaan pemurnian timah di tanah kelahirannya.

Karir politik dimulai tahun 2004 dengan bergabung ke Partai Perhimpunan Indonesia Baru sebagai ketua DPC Belitung Timur. Tahun itu juga ia terpilih menjadi anggota DPRD Belitung Timur di partai besutan Syahrir itu hingga tahun 2009. Tahun 2005 ia dicalonkan dan sukses menjadi bupati Belitung Timur. Tapi posisi itu ditinggalkannya tahun 2006 untuk menjadi calon gubernur dalam pilkada Provinsi Bangka Belitung. Ia gagal dalam kontestasi politik itu.

Tahun 2009 BTP menjadi caleg dari Partai Golkar dan sukses menjadi anggota DPRI. Posisi sebagai anggota dewan ditinggalkan dengan dicalonkan sebagai wakil gubernur dan menang pada pilkada DKI Jakarta tahun 2012. Tahun 2012 BTP menjadi Plt Gubernur DKI karena Jokowi ikut pilpres dan sukses terpilih menjadi presiden. Tahun 2014 resmi menjadi gubernur DKI hingga 2017. Setelah menjalani kehidupan di penjara selama 2 tahun karena kasus pelecehan agama, tahun 2019 ia diangkat menjadi komisaris Pertamina hingga saat ini.

Dengan latar belakang karir seperti di atas, maka BTP menjabat sebagai komisaris utama Pertamina dengan nol pengalaman di industri migas.

&&&

Semester pertama 2019 Pertamina mencatatkan omzet sebesar USD 20,48 miliar. Pertamina menggunakan mata uang USD dalam laporan keuangan resminya. Angka diatas mengalami penurunan sebesar 23% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 25,55 miliar. Penurunan itu berakibat Pertamina mengalami kerugian komprehensif sebesar USD 926 juta alias Rp 13 Triliun kurs hari ini. Periode  yang sama tahun sebelumnya Pertamina membukukan laba USD 628 juta alias Rp 9,24 triliu kurs hari ini.

Bagaimana dengan ExxonMobil? Tahun ini omzetnya adalah USD 88,76 miliar. Omzet itu mengalami penurunan  33% dari omzet periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 132,72 miliar. Dengan penurunan itu perusahaan migas terbesar dunia (omzet, laba, aset dan nilai) menurut Forbes ini mengalami kerugian sebesar USD 1,67 miliar alias Rp 24,9 triliun kurs hari ini. Periode yang sama tahun lalu ExxonMobil membukukan laba USD 5,48 miliar alias Rp 8 triliun kurs hari ini.

&&&

Pertamina rugi. Omzetnya turun drastis. ExxonMobil juga rugi. Omzetnya  juga idem. Keduanya memang berada pada industri yang terpengaruh berat oleh krisis akibat pandemi Covid 19. Orang pada tinggal dirumah. Kebutuhan BBM turun drastis. Tiga bulan pertama lockdown misalnya saya sama sekali tidak membeli bbm untuk mobil yang biasanya sehari hari saya pakai beraktivitas.

Secara bisnis, rugi pada kondisi krisis adalah hal yang biasa. Bagi para pemegang saham, yang penting adalah memastikan bahwa manajemen telah melakukan tindakan terbaik. Dalam hal inilah Pertamina dan ExxonMobil berbeda. Berbeda dalam track record tim manajemennya.

Menghadapi krisis ini, ExxonMobil dipimpin oleh orang  yang sudah berpengalaman di bisnis migas dan merintis karir dari nol sampai posisi puncak sepanjang 28 tahun. Ibarat karateka Woods adalah sabuk hitam. Dengan kapasitas seperti ini, pemegang saham dan stakeholder akan  mudah memahami bahwa efek krisis ini tidak bisa dihindari. Rugi bukan kesalahan dewan direksi. Bukan kesalahan CEO. Bukan kesalahan executive director. Bukan pula kesalahan non executive director alias komisaris dalam menjalankan peran strategiknya mengawasi kinerja direksi.

Karateka: sabuk putih mengawasi sabuk kuning melawan sabuk hitam

Bagaimana dengan Pertamina? Saat krisis covid ini, Pertamina dipimpin oleh dirut yang baru berpengalaman 3 tahun di industri migas. Ibarat karateka, di industri migas, Nicke adalah sabuk kuning. Padahal, dalam riset tentang masa jabatan CEO, proses pembelajaran CEO itu rata-rata butuh waktu 11 tahun sejak pengangkatannya. Maka bisa dibayangkan bagaimana sebuah perusahaan dengan aset USD 70,23 miliar alias Rp 1030 triliun  dipimpin oleh seorang CEO yang sedang dalam masa awal proses pembelajaran.

Tugas komisaris adalah pengawasan stratejik dan administratif. Pengawasan stratejik artinya adalah memastikan bahwa direksi telah mengambil keputusan yang tepat untuk menjadikan perusahaan laba dan terus tumbuh. Nah, dengan pengalaman yang jauh lebih pendek dari pada dirut, komisaris utama adalah ibarat karateka sabuk putih. Karateka sabuk putih mengawasi karateka sabuk kuning yang sedang bertarung melawan sabuk hitam si Covid-19. Maka, sulit untuk meyakini bahwa komisaris Pertamina telah mengawasi dan memastikan bahwa direksi telah mengambil kebijakan yang tepat dalam menghadapi gelombang besar industri migas dunia ini. Apalagi Pertamina juga kental dengan fenomena Pseudo CEO.

ExxonMobil melawan Covid-19 dengan dipimpin “karateka sabuk hitam”. Menghadapi lawan yang sama Pertamina dipimpin oleh “karateka sabuk kuning” dengan pengawasan “karateka sabuk putih”. Itulah kenyataan perusahaan BUMN migas milik rakyat Indonesia itu. Tetapi sebagai orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa mari kita tetap berdoa. Semoga Pertamina selamat menghadapi badai ekonomi ini. Semoga kedepan menjadi pelajaran. Agar Pertamina kelak selalu dipimpin oleh para “ karateka sabuk hitam” industri  migas hasil kaderisasi internal. Juga diawasi oleh “karateka sabuk hitam” hasil kaderisasi internal. Bukan cabutan dari luar. Agar Pertamina bisa menguasai tambang minyak seluruh dunia seperti ExxonMobil. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-282 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 28 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.