Mobil Nasional Fin Komodo: Langkah Selanjutnya


Langkah Selanjutnya

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Obrolan ini terjadi di Cimahi, pinggiran kota Bandung. Tepatnya di ruang pertemuan -biasa disebut keminggris sebagai “ruang meeting”- sebuah perusahaan prinsipal mobil nasional bermerek Fin Komodo. Tokoh sentralnya adalah cak Ibnu si “komandan pasukan” mobil yang hadir dengan konsep off road itu. Peserta obrolan lainnya adalah cak Leo Herlambang yang sudah malang melintang menjadi CEO profesional di berbagai perusahaan,  kang Ari yang sedang memimpin sebuah perusahaan produsen panel elektrik, dan ning Izza yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya Jianxi University  dan kini berkarir di sebuah BUMN milik pemerintah Tiongkok.  Keberadaan Ning Izza menjadikan suasana obrolan menjadi lintas generasi.

Obrolan makin seru lagi karena persis sebelum masuk ruang pertemuan tersebut, saya, cak Leo, Kang Ari dan Ning Izza baru saja merasakan serunya mobil bandel itu. Merasakan bagaimana menggeber mobil bertransmisi otomatis tersebut melalui medan ekstrim di persawahan kawasan Cimahi yang konturnya berbukit-bukit. Mobil tetap nyaman medan penuh lobang  dan berbatu. Kaki-kakinya tetap menapak sempurna dengan suspensinya sangat nyaman walau melalui medan bergelombang semak belukar.

Cak Ibnu mengawali pembicaraan dengan menyebut beberapa contoh beberapa pendahulu mobil  nasional. Ada Maleo dari Pak Habibie, ada Perkasa dari Texmaco, ada Timor, ada MR 90, ada kancil. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Mati. Belajar dari kegagalan itu, cak Ibnu berfikir lain. Alih-alih bermain langsung head to head dengan Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki dan merek-merek populer lain, Cak Ibnu dengan bendera PT Fin Komodo Teknologi masuk pada mobil off road. Bukan mobil untuk jalan beraspal.

Hasil gambar untuk fin komodo

Fin Komodo: tangguh dan handal di medan berat. Foto: wikimapia.org

Pilihannya tepat. Perusahaan besutan insiyur yang berpengalaman menggawangi desain pesawat N250-nya pak Habie saat masih bekerja di IPTN itu kini telah cukup eksis sebagai sebuah perusahaan. Tiap tahun memproduksi dan menjual lebih dari 100 unit mobil seharga sekitar Rp 100 juta itu.  Perhitungan kasar saya, volume penjulan seperti itu sudah cukup ntuk menopang seluruh biaya operasinal perusahaan plus arus kas yang cukup untuk terus berinvestasi pengembangan produk lebih lanjut.

Yang menarik adalah cerita kakak kelas saya di teknik mesin ITS ini tentang bagaimana ia memandang bisnis otomotif yang kini digelutinya. Ada perbedaan antara membangun industri dan membangun pabrik. Apa yang dilakan PT Astra International dengan bisnis mobil Toyota misalnya adalah membangun pabrik. Semua konsep dari desain, manufaktur mobil dengan segala SOP-nya sampai pemasaran sudah ditentukan oleh pihak Toyota sebagai prinsipal. Membangun pabrik cukup waktu sekitar 3 tahun untuk beroperasi normal.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Hal yang serupa dilakukan juga oleh Kang Ari yang pagi ini sangat semangat berdiskusi. Ia memproduksi suku cadang peralatan elektronik yang dipesan oleh perusahaan prinsipal. Desain, spesifikasi dan SOP sudah ada dan tinggal menjalankan. Begitu selesai pabrikasi semua produk sudah langsung dibeli oleh si prinsipal. Dengan konsep ini, hanya dalam beberapa tahun perusahaan besutan kang Ari mampu menghidupi ratusan karyawan beserta keluargaanya.

Berbeda sekali dengan membangun industri. Cak Ibnu siap untuk melalui proses lebih dari 20 tahun sejak tahun 2006. Segala sesuatunya dimulai dari nol.  Dari sama sekali tidak ada apa-apa. Masa awal perjuangan membangun industri sudah dijalaninya dengan segenap daya upaya. Dilalui dengan segenap pengorbanan.

$$$

Apa yang dilalui Cak Ibnu dengan Fin Komodonya setali tiga uang dengan apa yang dilalui Mas Najib Hamid dengan Matan, majalah kita ini. Kuduanya hadir dengan sebuah idealisme membangun merek baru. Membangun platform dan menjadi prinsipal.   Keduanya telah menjalani proses mengerjakan segala sesuatu dari A sampai Z tanpa siapa-siapa.  Saat ini, dengan oplah belasan ribu eksemplar, Matan sudah bisa berada pada arus kas yang cukup stabil sebagai sebuah perusahaan. Sama seperti Fin Komodo.

Kini, keduanya berada pada tahapan untuk langkah selanjutnya. Next step.  Saya menyebutnya korporatisasi. Memanfaatkan kondisi arus kas yang sudah cukup stabil untuk membangun sistem manajemen dan tumbuh menjadi merek diterima di pasar yang lebih luas. Aspek keuangan adalah bagian penting dari sistem manajemen ini. Aspek keuangan yang mampu mendukung belanja modal yang cukup untuk ekspansi pasar mencapai posisi crowding effect. Hadir secara masif di pasar agar menjadi bagian dari gaya hidup. Tentu tetap dengan semangat juang seperti yang dimiliki oleh cak Ibnu dan Mas Najib sebagai “kepala pasukan” yang telah merintisnya dengan segenap jiwa. Semangat juang yang harus tertransfer dengan baik kepada generasi korporatisasi seumuran Ning Izza dalam obrolan lintas generasai di Cimahi pagi itu. Generasi yang akan melakukan korporatisasi sebagai langkah selanjutnya. Bisa!

Saksikan Video aksi Fin Komodo

*)Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s