Kuliner Global: Hui dan Padang


Hui dan Padang

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Setelah 3 jam melaju, kereta ekspress itu berhenti di peron yang tampil seperti bandara modern itu.  Bersama rombongan, saya pun segera turun dari kereta. Menutup perjalanan darat sekitar 900 kilometer dari Shenzhen dengan naik taksi menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui internet. Karena badan yang begitu lelah, sesampai di hotel pun saya segera mandi, sholat magrib isya secara jama’, lalu tertidur pulas.

Begitu terbangun keesokan hari, salah satu aktivitas yang mesti dijalani adalah makan pagi. Mencari makanan halal di kota yang secara administratif berada di bawah propinsi Guangdong itu tentu tidak mudah di Surabaya atau Jakarta. Maka, bersama rombongan saya pun merencanakan untuk sekalian keluar menuju kampus Shaoguan University. Di kampus yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan bus umum itu terdapat warung makanan muslim.

Gaya membuat mie khas resto Hui di RRC. Gambar dari http://www.pustakapanganku.blogspot.co.id

Setelah sejenak jalan-jalan di kampus seluas lebih dari 150 hektar itu, saya dan rombongan pun saaatnya makan pagi. Pergilah kami ke sebuah warung di sebuah komplek pertokoan kecil di samping pintu gerbang kampus. Seorang berpeci putih menyambut. Setelah duduk dan melihat daftar menu, kami pun memesan makanan. Waktu menunggu makanan terhidang jadi menyenangkan karena proses penyajiannya menarik. Atraksi memproses adonan tepung menjadi mie khas suku Hui menjadi sajian yang lebih istimewa sebelum makanan terhidang di kampus dimana salah satu rombongan menimba ilmu itu.

&&&

Makanan halal adalah kebutuhan pokok kaum muslimin dimanapun berada. Jika Anda bepergian di negara yang mayoritas muslim, mencari makanan halal tentu bukan masalah. Di Malaysia misalnya, Anda dengan mudah menemukan warung halal hampir di setiap komplek pertokoan atau perdagangan.

Bagaimana jika bepergian di negara yang kaum muslimin berposisi minoritas? Tentu membutuhkan seni tersendiri. Kala melancong ke RRC, Anda akan sangat terbantu dengan keberadaan suku Hui.  Suku yang secara statistik hanya sekitar 2% penduduk RRC ini memang bisa dikatakan selalu hadir di kota manapun di negeri tirai bambu ini. Hadir dengan warungnya yang khas dan halal. Mirip dengan restoran padang yang selalu Anda jumpai dimanapun berada di negeri merah putih ini.

Apa yang dilakukan oleh resto Hui dan Padang pada dasarnya memang kebutuhan masyarakat modern. Masyarkat yang dengan mudah bisa bepergian kesana kemari di berbagai penjuru membutuhkan kehadiran resto yang hadir dimana mana. McDonald’s & KFC adalah contoh jaringan resto yang pada dasarnya adalah seperti Hui dan Padang. Hadir dimana mana dengan cita rasa yang diterima oleh masyarakat luas.

Bedanya, jika Hui dan Padang bersifat tradisional dan tiap tiap resto hadir secara personal, McD dan KFC hadir dengan konsep manajemen modern. McD dan KFC tampil di dimana mana di seluruh dunia dengan format korporasi dan manajemen modern. Tentu saja tidak tiba tiba McD dan KFC tampil seperti sekarang ini. Ada proses yang panjang yang harus dilalui.

Hui dan Padang punya potensi yang besar untuk tampil di berbagai bangsa seperti McD dan KFC. Syaratnya tentu saja adalah korporasi dan manajemen modern. Jika saat ini masih tampil secara perorangan dengan dan terpisah antara satu resto dengan resto lainnya, dibutuhkan peran entrepreneur yang bisa melakukan proses manajerial bisnis untuk menjadikannya sekelas McD dan KFC.

Bagaimana kira-kira prosesnya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah melalui proses penyatuan dari para pebisnis resto yang ada. Istilah kerennya disebut merger. Walaupun di bidang berbeda, apa yang dilakukan oleh 10 ribu lebih peternak susu di New Zealand bisa dicontoh. Mereka menyatu dengan mendirikan koperasi. Semula ada sekitar 400 an koperasi, pemilik merek susu Anmum dan Anlene itu kini menjadi satu koperasi dengan aset, omset dan merek kuat di seluruh dunia. Hui dan Padang bisa menyatu menjadi koperasi dan kemudian tampil di berbagai penjuru dunia dengan satu manajemen, satu merek dan satu kekuatan.

Alternatif kedua adalah melalui cara sepearti yang ditempuh oleh Djoko Susanto melalui Alfamart. Mendirikan sebuah perusahaan di bidang ritel modern dan kemudian memperluasnya dengan melibatkan dana masyarakat melalui lantai bursa dan waralaba. Siapapun yang berminat bisa bergabung dengan Alfamart melalui dua cara itu.  McD dan KFC melakukan juga melakukan mekanisme ini.

Hui dan Padang, bagaimana? Kita tunggu jawaban dari kawan kawan pemain dan peminat bisnis resto untuk melakukannya. Hadir di seluruh dunia dengan puluhan ribu outlet resto halal. Dengan merek kuat dan kualitas standar. Agar kemanapun bepergian, kita bisa menikmati menu  halal tanpa kesulitan. Di Shaoguan dan dimanapun berada. Hui dan Padang….ayoo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s