Disrupsi: Ojo Kagetan Ojo Gumunan


Ojo Gumunan Ojo Kagetan

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Disrupsi. Kata yang diadopsi dari bahasa inggris ini belakangan ini begitu terkenal di kalangan pebisnis. Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat menyebabkan ancaman bagi para pelaku bisnis yang tidak adaptif. Perusahaan perfotoan Kodak Film misanya yang menghilang seiring dengan populernya foto digital adalah contoh perusahaan yang terdisrupsi. Tidak bisa beradaptasi. Tapi Fuji Film tetap eksis dengan beradaptasi yang tepat.

Apakah disrupsi merupakan sebuah fenomena yang benar-benar baru? Tidak.  Jauh sebelum jaman kemunculan internet, di sekitar pasar Caruban, kota kecil tempat saya lahir, banyak dijumpai dokar alias delman. Itulah kendaraan utama masyarakat untuk pergi pulang ke pasar. Begitu marak orang memiliki sepeda motor, delman pun menghilang dari peredaran. Inilah fenomena disrupsi jauh sebelum internet muncul.

Hasil gambar untuk western union logo

Western Union: Ketahanan menghadapi disrupsi atau substitusi lintas abad

Secara konseptual pun disrupsi bukan sesuatu yang baru. Tahun 1979 Michael Porter telah menulis sebuah konsep yang disebutnya Five Forces. Tulisan di Harvard Business Review ini menjelaskan bahwa sebuah perusahaan bisa terancam eksistensinya oleh persaingan dari lima kekuatan. Masing masing adalah kekuatan perusahaan sejenis, perusahaan pemasok, perusahaan konsumen, pendatang baru dan produk substitusi. Perusahaan bisa habis oleh pesaing kuat yang produk sama persis. Perusahaan yang bahan bakunya diperoleh dari pemasok tunggal akan gulung tikar jika pemasoknya mogok. Perusahaan yang memiliki konsumen tunggal akan jatuh jika konsumen tersubut berpaling. Perusahaan juga bisa jatuh karena ada pendatang baru yang banting harga dalam jangka panjang. Pun perusahaan juga bisa mati karena ada produk substitusi. Hilangnya delman terjadi karena motor telah  muncul sebagai produk substitusi. Delman tersubstitusi alias  terdisrupsi oleh sepeda motor.

$$$

Western Union-selanjutnya disebut WU- hadir di dunia sejak tahun 1851 dengan layanan telegram. Ketika itu teknologi telegram sebagai cara penyampaian pesan jarak jauh bener-benar inovasi yang luar biasa. Pesan atau berita yang membutuhkan waktu berhari-harai jika dikirim dengan surat akan tiba dalam hitungan detik jika dikirim dengan telegram.  WU pun menjadi perusahaan yang kuat.

Sebagai teknologi telegragram pun tidak abadi. Belakangan tergantikan dengan internet. Tahun 2006 WU sudah resmin  menutup layanan telegramnya. Apakah WU habis tersubstitusi? Tidak. Jauh sebelum layanan telegram ditutup, WU telah lebih dulu meluncurkan layanan baru yaitu pengiriman uang sejak tahun 1871. Uang dari pengirim tidak benar-benar dikirim secara fisik oleh WU.  Yang dikirim hanya informasinya. Uangnya diambilkan dari kantor WU di tempat tujuan. Layanan teknologi keuangan (fintech, financial technology) ini hingga kini tetap menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan berbasis di Amerika Serikat ini.

Pertanyaannya, dalam suasana maraknya inovasi fintech terbaru, apakah WU akan terdisrupsi alias tersubstitusi? Dalam lima tahun terkahir, pendaptan dan laba WU cenerung stagnan. Bahkan pada tahun 2016 labanya turun drasti sebesar 70%.  Melihat angka ini, nampaknya ada tanda-tanda disrupsi atau subtitusi pada perushaaan berlogo warna hitam kuning ini.

Tetapi, jika membaca arus kas investasinya, tahun 2006 WU masih membelanjakan USD 271,1 juta untuk investasi. Angka ini adalah 107% dari labanya tahun berjalan sebesar USD 253,2 juta. Belanja investasi yang lebih besar dari laba adalah tanda adanya optimisme pegelola perusahaan yang layanananya terasedia nyaris di setiap jengkal tanah di muka bumi ini.

$$$

Ojo gumunan ojo kagetan. Jangan gampang takjub. Jangan gampang terkejut. Pepatah jawa ini bagus sekali untuk menghadapi fenomena yang belakangan disebut disrupsi. Disrupsi sendiri yang seolah olah hal baru sebenarnya adalah “barang” lama.  Paling tidak adalah “Barang” keluaran tahun 1979 walaupun disebut dengan istilah berbeda. Maka janganlah kita terpesona amat dengan hiruk pikuk orang mengucap kata disrupsi.

Sebagai fenomena, disrupsi atau substitusi dalam dunia bisnis juga bukan hal baru. Paling tidak Western Union telah merasakannya dalam perjalanan panjang hampir dua abad. Di dunia ini segalanya terus berubah. Tidak ada yang abadi. Jika pun ada, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Ojo gumunan. Ojo kagetan. Yang penting kita selalu optimis, terus berinovasi dan selalu siap-termasuk persiapan finansial- dengan manajemen risiko yang memadai menghadapi perubahan apapun. Seperti Western Union. Bisa!

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

2 responses to “Disrupsi: Ojo Kagetan Ojo Gumunan

  1. Ping-balik: Kolaborasi Era Monopolistik, Anda Siap? | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Bisnis & Hantu Teori Konspirasi | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s