Jean Paul Agon: Kultur Perusahaan Kelas Dunia


oleh: Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Jean Paul Agon bergabung dengan L’oreal selulus dari HEC Business School, Paris,  tahun 1978. Ketika itu usianya 22 tahun.  Tahun 1980 diposisikan sebagai product manager for product division di Perancis. Tahun 1981 dipromosikan sebagai general manager L’oreal Yunani. Tahun 1985 kembali ke Perancis untuk posisi general manager L’oreal Paris dengan melakukan berbagai inovasi. Tahun 1989 diposisikan sebagai international managing director untuk Biotherm dan sukses melakukan pemodelan ulang merek milik L’oreal ini secara menyeluruh. Tahun 1994 kembali meninggalkan negeri asalnya dan dipromosikan sebagai managing director L’oreal Jerman. Di Jerman ia sukses melakukan akuisisi walaupun suasana ekonomi makro sedang mengalami perlambatan. Tahun 1997 dipercaya untuk tugas set up dan memimpin L’oreal wilayah Asia dalam suasana krisis ekonomi. Setelah sukses di Asia tahun 2001 kembali ditantang dengan diposisikan sebagai  presiden L’oreal USA. Di negeri Paman Sam  L’oreal sukses merajai pangsa pasar hampir di setiap kategori produk. Setelah sukses di negeri dengan PDB terbesar dunia itu,  tahun 2006, alias pada masa kerja 28 tahun,  ia diangkat menjadi CEO L’oreal. Kesuksesannya sebagai CEO menjadikannya kemudian dipercaya menjadi chairman sekaligus CEO L’oreal tahun 2011 hingga saat ini. Sudah menjadi CEO selama 12 tahun.

$$$

Sejarah L’oreal bermula pada tahun 1909 saat  Eugene Schueller memproduksi dan menjual pewarna rambut formulanya sendiri. Eugene adalah seorang insinyur kimia lulusan France’s National Chemical Enggineering School. Dengan keahlian kimia,  produk yang dimereki L’oreal ini menawarkan  warna-warna lembut alami. Ketika itu produk pewarna rambut yang ada menawarkan warna-warna mecolok menunjukkan ketidak-asliasnnya.

Memang sejarah L’oreal sebagai sebuah perusahaan baru bermula tahun 1909. Tetapi sesungguhnya Schueller telah memulai kerja kerasnya sebelum itu. Ia telah mendapatkan hak paten atas formulanya itu tahun 1908. Artinya, tentulah proses riset dan inovasinya sudah dimulai sebelum itu. Bahkan bisa jadi idenya sudah muncul sebelum wisudanya sebaagai insinyur tahun 1904.

JP AGON COMEX PHOTO FEB2018

Jean Paul Agon, gambar dari http://www.loreal.com

Produk L’oreal yang dijual di kalangan penata rambut Paris mendapatkan sambutan positif.  Ini memberi energi untuk ekspansi lebih lanjut.  Bukan hanya pasar Perancis. L’oreal masuk pasar Italia tahun 1910. Dilanjutkan masuk Austria tahun 1911, Belanda tahun 1913. Tidak hanya berhenti di Eropa. Perusahaan pemiliik merek Garnier ini kemudian juga berekpansi ke seberang samudra yaitu ke Amerika Serikat dan Kanada. Ini terus menerus dilakukan sehingga saat ini L’oreal telah menguasai pasar kosmetik di 150 negara. Termasuk Indonesia.

$$$

Pembaca yang baik, saya sering membaca visi sebuah organisasi untuk menjadi berkelas dunia.  Berkelas internasional. Bagaimana sebenarnya yang disebut sebagai berkelas dunia? Mari kita pelajari dari L’oreal. Kita tidak bisa meragukan bagaimana L’oreal berkelas dunia. Perusahaan yang per 31 Desember 2017 seluruh sahamnya bernilai EUR 103,7 Milyar ini sudah berekspansi ke luar negeri pada usianya yang ke 2 tahun. Saat ini, pada usianya yang ke 109 tahun, sudah memguasai pasar 150 negara. Artinya, rata-rata perusahaan ini masuk lebih dari 1 negara baru setiap tahun. Inilah kultur pertama dari sebuah organisasi kelas dunia. Ekspansi luar negerinya tidak diragukan.

Kedua, perhatikan bagaimana pemimpinnya.  Jean Paul Agon  sudah ditugaskan memimpin bisnis di luar negeri pada tahun ketiga masa kerjanya. Mendapat penugasan ke luar negeri saat posisinya masih jauh daria level CEO menunjukkan bahwa menugasi personil untuk ekspansi ke luar negeri adalah kultur yang sangat penting dari organisasi kelas dunia.

Agon menjadi CEO setelah malang melintang memimpin unit bisnis perusahaan  di lebih dari 5 negara. Ini adalah sebuah kaderisasi pimpinan tertinggi. Maka, bisa ditarik pelajaran bahwa kultur penting ketiga dari sebuah organisasi berkelas dunia adalah dipimpin oleh orang yang telah berpengalaman malang melintang memimpin unit organisasi di berbagai negara.

Keempat,  untuk bisa berekspansi di pasar global dengan aneka budaya dan karakter konsumen, riset dan inovasi tentulah  menjadi kultur. L’oreal bahkan telah memuai riset dan mendapatakan hak paten sebelum pendiriannya.  Riset dan inovasi telah menjadi DNA perusahaan kosmetik terbesar di dunia ini. Tahun 2017 perusahaan yang telah menjadi fully public company tanpa pemegang saham pengendali ini mendapatkan 498 hak paten. Artinya, rata-rata lebih dari 2 paten diperoleh tiap hari kerja.

Tahun 2016 perusahaan yang sempat mengakuisisi The Body Shop  ini mendapatkan 473 hak paten. Tahun sebelumnya, 2015, mendaftarkan dan memperoleh 497 hak paten. Konsisten dengan angka rata-rata 2 hak paten tiap hari kerja. Tentu ini melibatkan dana riset dan inovasi yang besar. Tahun 2017 L’oreal menggelontorkan EUR 877 juta untuk dana riset. Angka ini adalah 21% dari omzet tahun yang sama. Pembaca yang baik, itulah empat poin kultur dasar dari sebuah organisasi kelas dunia. Semoga kita bisa meneladaninya. Meneladani L’oreal sebagai sebuah organisasi. Meneladani Jean Paul Agon sebagai personil organisasai. Kita bisa!

*Tulisan ini pernah dimuat di  Majalah terbitan Tazkia International Business School

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s