Membesar atau Mati: Career Choice Effect


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Tulisan ini melengkapi tulisan terdahulu tentang crowding effect. Singkat cerita, crowding effect adalah fenonema di mana  konsumen akan terkonsentrasi pada merek-merek yang dipakai secara luas dimana-mana. Merek-merek lain akan ditinggalkan dan mati. Fenomena ini sangat jelas terjadi pada matinya toko-toko kelontong dan pasar tradisional digantikan oleh mini market modern yang menjamur dimana-mana.

Untuk tulisan pelengkap ini, saya menyebutnya sebagai career choice effect.  Fenomena pilihan karir. Sebuah fenomena di dunia bisnis kekinian di mana perusahaan yang tidak tumbuh akan dijauhi oleh anak-anak muda berbakat. Fenomena ini dirasakan oleh perusahaan kecil berupa sulitnya merekrut karyawan yang berkualitas. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar merasakannya berupa melimpahnya peminat saat proses perekrutan.

&&&

“Warung Makan Lumajang. Tidak buka cabang”. Ini adalah sebuah tulisan menarik pada papan nama sebuah resto.  Saya menjumpainya saat lari pagi di sekitar kawasan Masjid Raya kota Sorong, Papua Barat.  Sebuah tulisan yang sebenarnya  sudah sering saya jumpai sebelumnya. Sebuah tulisan yang sebenarnya sangat berbahaya tetapi tidak disadari oleh pemiliknya. Mungkin maksudnya adalah untuk mencegah agar orang lain tidak membuka resto dengan memalsukan nama resto miliknya. Tapi lupa bahwa tulisan itu mengandung bahaya besar bagi bisnisnya.

Di mana bahayanya? Yang pertama tentu karena secara psikologis itu adalah afirmasi yang membuat bisnis  tidak berkembang. Ana inda thonni abdi. Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku. Demikian sebuah hadits qudsi. Pemilik resto itu menyangka dan mengafirmasikan bahwa bsinisnya hanya satu resto. Bahwa bisnisnya tidak berkemang. Hasilnya akan benar-benar seperti yang ditulis.

Yang kedua terjelaskan dengan adanya fenomena pilihan karir. Anak muda berkualitas tidak akan mau bekerja di resto yang hanya punya satu gerai. Tiak mau bekerja pada resto yang tidak tumbuh. Tidak ada peluang perkembangan karir di resto seperti ini. Struktur organisasnya hanya dua level. Kepala resto dan karyawan. Kepala restonya adalah sang pemilik. Selain itu semuanya adalah karyawan. Maka, untuk menjadi kepala resto saja, seorang karyawan harus menunggu sang pemilik pensiun atau meninggal dunia.  Padahal kalau pensiun atau meninggal, penggantinya adalah anak si pemilik. Maka, nyaris mustahil para karyawan meningkat karirnya menjadi kepala toko.

Bandingkan dengan anak muda yang juga bekerja di bisnis sejenis Warung Lumajang itu: McDonald’s. Menurut laporan tahun 2016, resto yang sering disebut McD ini setiap hari rata-rata membuka lebih dari satu gerai baru di berbagai penjuru dunia. Kini sudah beroperasi dan menjadi market leader bisnis resto di lebih dari 100  negara. Termasuk Indonesia. Total gerainya hampir 40 ribu.  Maka, setiap hari dibutuhkan satu kepala resto baru. Dan di atas kepala resto masih ada banyak level jabatan sampai pada posisi direktur utama alias CEO. CEO pun dipilih berdasarkans sisteam manajemen karena sudah tidak ada lagi pemegang saham pengendali.  Ini adalah jalur karir yang menantang bagi para pemuda. Belum lagi peluang untuk dipromosikan di lebih dari 100 negara. Tentu saja juga diikuti dengan peningkatan gaji dan fasilitas.

Hasil gambar untuk walmart

Walmart: perusahaan dengan lebih dari 1,5 juta karyawan

Maka, anak-anak muda berbakat lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi favorit akan lebih memilih bekerja di perusahaan-perusahaan besar yang terus tumbuh  seperti McD itu. Perusahaan-perusahaan stagnan seperti Warung Lumajang di Sorong itu hanya akan menjadi alternatif terakhir. Setealah melamar di berbagai perusahaan besar tidak diterima, barulah mau bekerja di warung yang stagnan.

Padahal, dalam persaingan antar perusahaan, SDM adalah faktor kunci keberhasilan. Jika SDM terbaik sudah masuk ke perusahaan-perusahaan besar yang tumbuh pesat, matinya perusahaan-perusahaan kecil dan stagnan hanyalah soal waktu. Itulah bahaya yang tidak disadari oleh pemilik warung Lumajang di Sorong itu.

Pembaca yang baik, itulah fenomena pilihan karir. Anak-anak muda terbaik hanya mau bekerja di perusahaan yang tumbuh pesat.  Maka, perusahaan-perusahaan harus memilih: tumbuh pesat atau mati. Tentu saja tumbuh pesat lebih menarik dari pada mati. Bagaimana supaya tumbuh pesat? Yang pertama dan utama adalah visi dan mindset.  Hilangkan pola pikir “tidak buka cabang”.  Setelah itu, tidak ada cara lain untuk tumbuh pesat melewati batas-batas negara seperti yang dilakukan oleh McD kecuali dengan melakukan korporatisasi. Pembaca yang baik,  perusahaan tempat Anda berkarya sudah sadar akan fenomena crowding effect? Sudah sadar akan fenomena career choice effect? Sudah melakukan korporatisasi?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

6 responses to “Membesar atau Mati: Career Choice Effect

  1. Ping-balik: Kampus Sekolah Pesantren, Jangan Berbisnis! | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Korporatisasi Langkah Demi Langkah | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Kolaborasi Era Monopolistik, Anda Siap? | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Entrepreneur, Jangan Menyebut Diri Sebagai UKM | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Dari Monopoli ke Monopolistik | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Sari Roti, Intangible Asset: Menguangkannya? | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s