Bekerja di Perusahaan Kecil, Bisakah Kaya Raya?


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, IG/TG/Twitter @imansupri

Saya biasanya menghindari terminologi kaya dalam diskusi lisan maupun tulisan. Kaya atau miskin sebenarnya tidak terlalu menarik dikarenakan konteksnya adalah personal. Sementara tema-tema seputar korporatisasi yang selalu saya tulis atau sampaikan membahas tentang membesarkan perusahaan dengan pasar melampaui sekat-sekat negara. Diskusi kekayaan individual ibarat bicara pelajaran penjumlahan dan pengurangan bagi seorang mahasiswa teknik yang tengah mengambil kuliah matematika tentang deret Fourier.

Tetapi kali ini saya mentolelir diri. Permakluman diri ini terkait dengan pertanyaan yang memang penting sekali bagi anak-anak muda yang sedang berada di awal perjuangannya membangun kesejahteraan masa depan bagi diri dan keluarganya. Bisakah menjadi kaya raya dengan bekerja di perusahaan kecil? Bisakah menjadi kaya raya dengan bekerja di perusahaan start up? Bisakah menjadi kaya raya dengan bekerja di perusahaan rintisan yang karyawannya baru beberapa gelintir orang?

Jawabnya saya tulis dengan huruf kapital: BISA! *)
….
….
…..

*) syarat dan ketentuan berlaku

Apa syarat dan ketentuannya? Syarat dan ketentuannya hanya dua. Pertama, pendiri perusahaan tempat Anda bekerja memahami konsep korporatisasi. Tanda-tandanya cukup sampaikan empat pertanyaan berikut ini kepada mereka:

1.Adakah aset yang mesti dibeli dan ditambahkan secara terus-menerus ke dalam perusahaan dan begitu dimiliki akan langsung meningkatkan omzet dan laba perusahaan?

2.Apakah ada sumber modal lain yang akan digunakan untuk membeli dan menambahkan aset tersebut secara terus-menerus selain dari laba dan utang?

3.Apakah para pendiri memahami istilah agio saham atau tambahan modal disetor alias adition paid in capital dalam neraca perusahaan?

4.Apakah perusahaan akan terus-menerus menerbitkan saham baru untuk tambahan setoran modal dari para pemegang saham baru di luar pendiri?

Jika pada menjawab ya pada keempat pertanyaan-pertanyaan tersebut maka artinya pendiri faham apa itu korporatisasi. Setelah seleksi tahap pertama ini lolos, Anda tinggal menilai syarat kedua yaitu menanyakan satu lagi pertanyaan terakhir: apakah perusahaan akan melaksanakan pertanyaan nomor 4 dan kapan akan mulai melaksanakannya?

Nah, jika syarat kedua alias pertanyaan terakhir ini dijawab ya lengkap dengan target waktunya dalam waktu dekat maka Anda beruntung. Anda berada di perusahaan yang akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi Anda untuk menjadi kaya raya karena:

1.Perusahaan sangat terbuka tumbuh pesat dalam pendapatan, laba, aset dan nilainya. Menjadi high growth enterprise alias HGE.

2.Pertumbuhan pendapatan, laba, aset dan nilai memungkinkan perusahaan untuk terus-menerus menambah karyawan baru. Anda yang telah berada di perusahaan sejak awal akan “dipaksa” untuk naik posisi berada di layer atas dalam hierarki struktur organisasi perusahaan. Tentu saja ini tidak berlaku bagi Anda yang tidak mau belajar memantaskan diri menjadi posisi lapis atas dalam hierarki perusahaan

3.Perusahaan yang terus-menerus menerbitkan saham baru akan memberikan kesempatan kepada para karyawan termasuk Anda untuk secara terus-menerus ikut menyetorkan uang pribadi dari gaji Anda guna memiliki dan menjadi pemegang saham perusahaan. Anda pun naik status dari sekedar karyawan menjadi karyawan sekaligus pemegang saham. Karyawan sekaligus investor. Layaknya pemegang saham, tiap tahun Anda akan diundang RUPS untuk ikut menentukan keputusan-keputusan stratejik perusahaan dan kemudian menerima dividen dari laba perusahaan. Efeknya Anda dan para karyawan lain akan cenderung berhemat agar dari tahun ke tahun terus-menerus bisa menambah jumlah lembar saham yang Anda miliki sampai suatu saat pendapatan dividen Anda cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat itu Anda juga akan menyebar kepemilikan saham sesuai prinsip portofolio tidak hanya pada perusahaan tempat Anda bekerja. Pada saat itulah Anda mencapai apa yang disebut sebagai bebas finansial

4.Setiap menerbitkan saham baru perusahaan akan menerima agio saham alias “upeti” dari pemegang saham baru untuk ekspansi secara agresif. Adanya “upeti” akan terus-menerus menaikkan nilai saham yang Anda miliki. Anda akan menjadi misalnya saja seperti pemegang saham Starbucks Corporation yang pada tahun 1992 membeli saham dengan harga USD 0,34 saat ini harganya menjadi USD 57,45 alias telah naik 170 kali lipat. Anda akan menjadi orang kaya seperti orang-orang yang masuk daftar orang-orang terkaya Forbes yang ciri-cirinya harta terbesarnya adalah berupa saham di berbagai perusahaan, bukan tabungan atau aset lain

5.Terus-menerus menerbitkan saham baru akan menjadikan perusahaan tempat Anda bekerja sebagai fully public company. Sebuah perusahaan raksasa pemilik merek kuat (principal) yang sahaamnya dimiliki jutaan orang tanpa ada lagi pemegang saham pengendali. Jumlah lembar saham pendiri akan tetap dengan nilai meningkat berkali lipat seperti contoh saham Starbuks di atas tetapi persentasennya akan turun kurang dari 51% seiring setiap penerbitan saham baru. Efek positifnya, naik atau tidaknya jabatan karyawan murni ditentukan oleh kinerja dan sistem. Tidak ada lagi like and dislike. Tidak ada lagi orang yang bisa main tunjuk suka-suka. Semua bekerja berbasis sistem dan kinerja. Ibarat negara, sistemnya sudah republik, bukan monarki absolut.

Tentu saja poin terakhir (nomor 5) ini menuntut Anda untuk terus membaca, belajar dan menempa diri agar berkinerja kinclong dan terus-menerus dipromosikan sampai posisi direksi. Anda akan berkesempatan menjadi karyawan dan direksi yang loyal puluhan tahun karena Anda bekerja pada perusahaan yang Anda juga memiliki sahamnya.

Lalu bagaimana jika perusahaan tempat Anda bekerja tidak memenuhi dua syarat di atas? Yang jelas secara logika matematis Anda akan mustahil menjadi kaya raya. Tentu saja masih ada perkecualiannya. Apa itu? Kecuali ada mukjizat. Kalau urusannya sudah mukjizat, itu sepenuhnya dalam otoritas Sang Maha Pemberi Rezeki. Anda dan saya tidak punya otoritas untuk itu.

Jadi jika perusahaan Anda tempat bekerja tidak lolos dua syarat itu, apakah Anda harus meninggalkanan perusahaan itu dan mencari perusahaan lain? Ini sepenuhnya tergantung Anda. Coba dulu dengan upaya satu ini: sodorkan tulisan ini pada pendiri perusahaan, siapa tahu yang bersangkutan berubah mindset dan kemudian mencapai sukses bersama. Asyik kan?

Jakarta, 25 September 2018

3 responses to “Bekerja di Perusahaan Kecil, Bisakah Kaya Raya?

  1. Kang iman, kalau kerja di perusahaan yang tidak menyediakan PERALATAN KERJA DAN FASILITAS KANTOR SERTA GAJI KARYAWAN YANG JAUH DARI UMK,TIDAK ADA FASILITAS BPJS (misal laptop Dan tempat parkir kendaraan karyawan,gaji sangat pas2an buat beli bensin, abis buat makan bahkan mungkin tekor ) jika Ada perusahaan dengan kondisi begitu apakah layak itu disebut perusahaan bonafit ??? Apakah menurut Kang iman setuju perusahaan seperti itu DITUTUP saja?? atau mungkin baiknya OWNERNYA suruh kerjain saja sendiri ya Kang …. gimana Kang? Dan jika Kang iman ditawari KERJA ditempat seperti itu apakah Kang iman Mau ?

  2. Ping-balik: Korporatisasi Langkah Demi Langkah | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s