Asing, Aseng, Penguasaan Ekonomi dan Analogi Sepak Bola


Tarian 10 jemari saya di atas keybord laptop kali ini dipicu oleh komentar seorang kawan terhadap posting saya di Facebook tentang tetangga kantor SNF Consulting. Setelah kemarin saya poting tentang Regus, pagi ini Vivo. Komentar yang saya maksud adalah terhadap perusahaan asal RRC ini.  Saya posting logo Vivo dengan caption bahwa karena berkantor persis di depan kantor SNF Cosulting, maka jangan heran akan banyak orang bercakap menggunakan bahasa Mandarin di lorong depan kantor hingga lift menuju lobi gedung. Mereka adalah staf kantor pusat Vivo. Kawan ini berkomentar “Semoga yang menyaksikan mereka hilir-mudik itu tidak ada yang mbatin “Bangsa kita dikuasai aseng””.  Maka saya menuliskan isu menarik ini dalam poin-poin berikut ini

Hasil gambar untuk salah football player

Salah: persaingan era modern itu seperti permainan sepak bola. Foto: http://www.edition.cnn.com

  1. Bahwa sudah sejak sekitar 150 tahun lalu perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia menyadari bahwa masuk dan melayani pasar berbagai negara adalah keharusan untuk memenuhi skala ekonomi. Meningkatkan volume produksi sehingga barang dan jasa bisa dijual kepada masyarakat luas seluruh dunia dengan harga yang terjangkau. Unilever misalnya, agar biaya riset untuk menghasilkan produk baru bisa dibebankan pada setiap unit produk dengan harga murah maka dalam setahun dua tahun setelah diluncurkan, produk tersebut harus terjual ke pasar lebih dari 20  Itulah mengapa hanya perusahan sekelas Unilever yang mampu membiayai riset secara berkelanjutan untuk menghasilkan temuan baru di bidang bisnisnya
  2. Untuk memenuhi kebutuhan eskpansi ke berbagai negara tersebut, perusahaan membutuhkan modal dalam jumlah besar dengan biaya modal (cost of capital) murah. Ini tidak bisa dipenuhi kecuali perusahaan melakukan korporatisasi secara terus-menerus. Itulah mengapa penguasa pasar dunia dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan fully public company yang tidak ada pemengang saham pengendali hasil dari proses korporatisasi secara terus-menerus
  3. Kini adalah era dimana komunikasi melalui internet, transportasi dan akomodasi antar negara menjadi sangat murah sehingga bepergian ke luar negeri makin terjangkau oleh makin banyak orang. Akibatnya, dunia cenderung seragam. Merek yang dikenal di sebuah negara dengan mudah juga akan dikenal di negara-negara lain di seluruh dunia. Batas-batas negara bagi anak-anak milenial hanyalah sekedar masalah paspor. Saya merasakan betul melalui anak-anak saya yang sejak SMA sudah belajar dan tinggal di negara-negara lain.
  4. Dalam kondisi makin pudarnya batas-batas antar negara, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan dari luar negeri. Analoginya jadi seperti pertandingan sepak bola. Dalam permainan bola, pemenenangnya bukanlah kesebelasan yang gawangnya sama sekali tidak dibobol lawan. Pemenangnya adalah kesebelasan yang membobol gawang lawan lebih banyak dari pada gawangnya dibobol lawan. Kesebelasan yang menghabiskan energi agar gawangya tidak dibobol lawan justru tidak mungkin menang karena kehilangan daya untuk menyerang
  5. Di dunia bisnis, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan asing. Pemenang adalah negara yang produk dan perusahaannya masuk ke pasar asing lebih banyak dari pada perusahaan atau produk asing masuk ke negerinya. Ini adalah hukum bisnis baru era milenial yang tidak bisa dihindari
  6. Maka, kita tidak akan memang jika menghabiskan energi untuk menahan masuknya produk atau perusahaan asing karena akan kehilangan daya serang. Sadarlah bahwa masuknya produk atau perusahaan asing sudah terjadi sejak pra kemerdekaan dan tidak mungkin dihindari. Sepatu Bata misalnya sudah masuk ke tanah air jauh sebelum kemerdekaan sedemikian rupa hingga merek dari Republik Cheko ini sering dianggap sebagai merek lokal
  7. Sekedar ilustrasi tambahan, kita sering mendengar protes mengapa bank-bank kita tidak bisa masuk pasar Malaysia dan Singapura sementara bank mereka masuk ke pasar RI sampai ke kota-kota kecil. Ini adalah kesalahan kita sendiri. Selama ini kita berpikir bahwa masuk ke pasar Malaysia atau Singapura adalah dengan membuka kantor cabang Bank Mandiri atau bank lokal lain di negeri jiran tersebut. Ini adalah pemikiran salah dalam bisnis. Masuk ke pasar luar negeri adalah melalui akuisisi perusahaan setempat. Maybank menyiapkan diri secara internal melalui korporatisasi sehingga mampu mengakuisisi bank BII yang kemudian diubah menajadi Maybank. Bank OCBC Singapura masuk melalui akuisisi bank NISP yang kemudian diubah menjadi bank OCBC NISP. Mereka masuk ke pasar RI melalui strategi logis akuisisi. Sementara Bank Mandiri dkk. tidak bisa melakukannya karena cost of capital tinggi akibat proses korporatisaasinya berhenti
  8. Tentang masuknya perusahaan perusahaan RRC ke RI itu adalah konsekuensi logis dari kekuatan ekonomi dunia. Dulu ketika negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua dunia adalah Jepang, maka negeri Matahari Terbit inilah yang paling rajin masuk ke pasar RI setelah si nomor satu USA. Kini karena RRC sudah menggeser Jepang dan menjadi kekuatan ekonomi nomor dua maka wajar jika perusahaan-perusahaan RRC menyusul USA menguasai pasar negeri ini. Mereka masuk dengan mengandalkan cost of capital yang murah untuk mendukung strategi harga produk murahnya. Sebuah alternatif untuk strategi akuisisi. Inilah juga yang dilakukan oleh Vivo yang berkantor di depan kantor SNF Consulting
  9. Jika masuknya perusahaan-perusahaan USA dibarengi dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Inggris, wajar jika masuknya Vivo juga diikuti dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Mandarin
  10. Maka, fokuslah pada penguatan perusahaan-perusahaan RI untuk bisa masuk ke pasar dunia dengan cost of capial rendah yang hanya mungkin dilakukan melalui korpooratisasi. Pelajari, pahami dan lakukan korporatisasi secara terus-menerus pada perusahaan-perusahaan RI agar berkemampuan membobol gawang lawan. Beberapa sudah mulai seperti Alfamart yang masuk Filipina atau Ciputra yang masuk Vietnam. Perusahaan-perusahaan lain harus segera menyusul. Ituah peran Anda para pengelola perusahaan
  11. Bagaimana peran individu? Korporatisasi perusahaan membutuhkan dana besar dari para investor. Munculnya dana besar hanya bisa terjadi pada masyarakat berbudaya investasi. Peran individu adalah menjadikan diri sendiri berbudaya investasi. Teknisnya adalah menyisihkan pendapatan bulanan paling tidak 10% untuk berinvestasi menjadi pemegang saham berbagai perusahaan baik perusahaan listed di lantai bursa maupun perusahaan yang belum listed. Anda harus melakukannya sejak gaji pertama. Jika terlanjur, hitunglah seluruh gaji Anda sejak gaji pertama dan segera sisihkan 10% dari seluruh gaji tersebut sebagai investasi dengan memiliki saham berbagai perusahaan. Logikanya mirip qodho dalam puasa. Jika karena sebuah alasan Anda tidak bisa puasa ramadhan, Anda wajib membayarnya di kemudian hari. Wajib puasa qodho. Terapkan logika ini pada investasi dari gaji.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  12. Orang yang melakukan investasi suatu saat pendapatan dividennya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat inilah Anda disebut bebas finansial. Jadi, budaya investasi mengandung manfaat bagi kekuatan ekonomi negara sekaligus manfaat bagi keuangan pribadi. Jangan hanya marah dengan menyalahkan asing dan aseng. Bertindaklah secara pribadi dengan menjadi investor. Bertindaklah sebagai pengelola perusahaan dengan melakukan korporatisasi. Jelas son? Hehehe… Ayo segera cetak gool….

Ditulis di SNF Consulting,  21 Maret 2019. SNF Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen untuk korporatisasi perusahaan.

10 responses to “Asing, Aseng, Penguasaan Ekonomi dan Analogi Sepak Bola

  1. Se777 sekali strategi tersebut mas Iman.

    Salah satu kekuatan sharing modal berada ditangan Bangsa Indonesia sendiri adalah besarnya populasi penduduk Indonesia, contohnya kelompok2 seperti koperasi yang masih belum menyadarinya.

    Menurut data dari kemenkop jumlah anggota koperasi seluruh Indonesia saat ini berkisar 24juta orang, jika setiap anggota menabung Rp100rb/bulan/orang, maka akan terhimpun modal Rp2,4T/bulan (Rp29T/tahun) yg bisa untuk membangun/ membeli saham perusahaan Indonesia sekelas unilever.

    Jika hal tsb dikerjakan dgn sungguh-sungguh, maka kemandirian ekonomi Indonesia akan terjadi.

    Mari kita bersatu, bahu membahu membangun Ekonomi Indonesia.

  2. Andi Erna Harun

    Peran konkret SNF consulting sendiri dalam proses ekspansi perusahaan/bisnis ke luar negeri bagaimana Bpk ?

  3. Ping-balik: Korporatisasi Langkah Demi Langkah | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Investment Company: Memulainya? | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Investor China atau Arab? | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Jangan Membaca: Nasihat Paradoks Dahlan Iskan | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Sepeda Brompton: Endorsed by Garuda Indonesia | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan ke Iman Supriyono Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s