Monopolistik Air Minum Danone: PDAM Menyerah?


Perusahaan Daerah Air Mandi. Ini adalah plesetan untuk Perusahaan Daerah Air Minum. PDAM. Apa masalah seseungguhnya di PDAM? Bagaimana nama plesetan itu bisa terjadi? Mengapa masyarakat kompak meninggalkan PDAM untuk kebutuhan air minumnya? Menyerahkah PDAM? Tidak bisakah perusahaan milik daerah ini bangkit sehingga warga bisa menikmati minum air langsung dari kran seperti di negara-negara  modern pada umumnya? Inilah sekumpulan petanyaan yang sering mengemuka dalam perbincangan tentang PDAM. Tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Hasil gambar untuk mujiaman sukirno pdam

Direktur PDAM Mujiaman Sukirno bersama Rektor ITS Joni Hermana dalam sebuah acara Bursa Karir di kampus tahun 2018. Ini adalah bagian dari upaya mendapatkan SDM terbaik untuk agenda besar transformasi PDAM menjadi modern water company.  Foto dari http://www.its.ac.id,  diunggah pada tanggal 20 Maret 2018

Saya menuliskannya sebagai hasil riset etnografis di PDAM Surya Sembada Surabaya. Ini dimungkinkan karena saya dan team konsultan SNF Consulting, www.snfconsultin.com, adalah sparring partner PDAM Kota Pahlawan dalam penyusunan road map. Etnografis asalnya adalah metode riset yang banyak digunakan untuk meneliti suku-suku terasing. Peneliti masuk langsung ke  research site yaitu suku terasing tersebut dalam kondisi pengetahuan nyaris nol terhadap obyek penelitian. Sama sekali tidak faham bahasa etnis yang diteitinya.. Bekalnya adalah kemapuan dirinya dalam metodologi. Peran peneliti adalah sebagai “alat” dalam penelitian yang kalau dalam penelitian statistik diperankan oleh kuesioner. Hasilnya, si peneliti bahkan bisa menulis kamus bahasa suku terasing tersebut

Penelitian manajemen modern mengadopsi etnografis dalam meneliti perusahaan sebagai obyek dan situs penelitian. Hasil dari penelitian itu lah yang saya tuangkan dalam tulisan ini. Penggunaan data sudah disetujui oleh “kepala suku” PDAM Surya Sembada yaitu direktur utama. Dirut PDAM Surya Sembada, Mujiaman Sukirno, memandang bahwa PDAM adalah milik pemerintah dan dengan demikian juga milik masyarakat. Harapannya adalah agar hasil riset ini bisa menjadi inspirasi bagi PDAM di kota-kota lain.  Agar lebih terstruktur, saya menuliskannya dalam bentuk poin-poin. Selamat menikmati.

  1. Air minum jaman dahulu adalah komoditas yang dimonopoli oleh PDAM melalui regulasi. Di Surabaya maupun di daerah atau kota lain. Saya menjadi warga Surabaya sejak 1990 saat mulai kuliah di kampus ITS. Ketika itu warga kota umumnya mengkonsumsi air PDAM untuk seluruh kebutuhan air minumnya. Memang warga merebus air sampai mendidih dan baru mengkonsumsi setelah dingin. Botol-botol kaca bekas botol sirup yang diisi air minum adalah pemandangan umum di kulkas-kulkas keluarga saat itu. Sebuah fenomena umum di Surabaya dan kota-kota lain pada saat itu.
  2. Bagaimana hari ini? Hampir tidak pernah ditemui warga yang masih mengkonsumsi air minum produk PDAM. Galon-galon air minum dalam kemasan (AMDK) lengkap dengan dispensernya telah menggantikan botol-botol bekas sirup di kulkas-kulkas. Masyakat menikmati air, air dingin, atau air panas untuk teh maupun kopi dari dispenser-dispenser tersebut. Logo Aqua dari Danone, Perancis, adalah yang paling umum tertera pada galon-galon itu.
  3. Dalam bahasa ekonomi, fenomena tahun 90-an adalah suasana pasar monopoli. Pemerintah hanya memberi kesempatan kepada PDAM sebagai satu-satunya pemasok kebutuhan air minum masyarakat. Sebagai konsumen masyarakat memanfaatkan produk tersebut untuk kebutuhan air minum dan air bersih untuk mandi ataupun mencuci pakaian, mencuci piring dan sebagainya. Dalam bahasa marketing, dengan hak monopoli PDAM menguasai dua segmen pasar air sekaligus. Segmen  air minum dan segmen air bersih.
  4. Dalam bahasa ekonomi pula, untuk segmen pasar air minum saat ini Danone adalah penguasa pasar secara monopolistik. Merek-merek AMDK lain berperan kecil dalam segmen air minum. Pun pula PDAM karena masih ada sebagian kecil masyarakat yang masih mengkonsumsi air PDAM untuk kebutuhan minumnya. Tentunya setelah merebus atau mengolahnya ulang dengan peralatan modern. Sedangkan untuk segmen pasar air bersih (mandi, mencuci) hingga saat ini PDAM masih memegang hak monopoli.
  5. Monopoli diperoleh PDAM melalui keputusan pemerintah. Degan monopolinya, pasar tidak bisa memperoleh penggantinya PDAM pasar. Monopolistik diperolah oleh Danone melalui Aqua sebagai merek yang kuat. Dengan kekuatan merek mereknya, Aqua tidak tergantikan di pasar. Monopolistik artinya seperti monopoli. Seperti monopoli karena kuatnya merek. Dunia bisnis terlah bertranformasi dari monopoli menjadi monopolistik.
  6. Pertanyaannya, mengapa terjadi perubahan nyaris total penguasaan pasar air minum dari PDAM beralih ke Danone? Tentu ada banyak penyebab. Salah satunya adalah strategi PDAM yang tergambarkan dalam kebijakan anggaran peremajaan jaringan perpipaan.
  7. PDAM Surabaya memiliki jaringan pipa air kurang lebih sepanjang 6000 km. Sampai tahun 2016 rata-rata PDAM hanya melakukan peremajaan pipa sepanjang sekitar 10 km. Dengan kebijakan ini biaya perawatan jadi rendah. Laba Rp 213 Milyar pada tahun 2016 tidak bisa dilepaskan dari kebijakan tersebut. Return on equity (ROE) 19%.
  8. Secara laba dan ROE memang menyenangkan. Tetapi mari kita perhatikaan dari sisi lain terkait dengan pasar. Dengan panjang pipa 6000 km dan peremajaan 10 km per tahun, artinya pipa hasil peremajaan tahun 2016 baru akan diremajakan lagi tahun 2116. Pipa dipaksa bertahan sampai usia 600 tahun. Sebagai konsumen air, bayangkan air yang sekualitas Aqua dari mesin pengolahan dilewatkan pipa logam berusia ratusan tahun. Maukah Anda meminumnya? Saya yakin Anda tidak akan mau. Apalagi masyarakat modern maunya praktis. Minum tinggal pencet keran tanpa perlu repot merebut dan mendinginkan air. Konsumen pun beralih ke AMDK.
  9. Demikianlah sikap konsumen. Sampai ada sebuah lelucon. Kapan air PDAM bisa langsung diminum dari keran? Jawabnya, kapan saja saat Anda ingin sakit perut hehehe. Inilah penjelasan tentang mengapa PDAM terbabat habis pada segmen air minum. PDAM hanya eksis di segmen air bersih. Sampai ada lelucon juga tentang kepanjangan PDAM. Bukan lagi Perusahaan Daerah Air Minum. Tetapi, Perusahaan Daerah Air Mandi hehehe.
  10. Dalam penyusunan road map PDAM, diskusi dengan manajemen yang seru dan panjang akhirnya muncul semangat baru. Para pahlawan tahun 1945 dengan gagah berani merebut kembali kemerdekaan dengan peristiwa heroiknya di Surabaya. Terinspirasi oleh arek-arek Surabaya Nopember 1945, Tahun 2018 manajemen dan karyawan PDAM Surabaya sepakat bulat untuk merebut kembali pasar air minum. Semangat itu dituangkan dalam visi PDAM sebagai perusahaan ari minum modern. Modern water company. PDAM Surya Sembada Surabaya tidak menyerah!
  11. Gambaran singkat modern water company adalah masyarakat dapat menikmati air minum langsung dari keran air PDAM di rumahnya tanpa harus melakukan proses tambahan. Air mengalir terus dalam 24 jam sampai keran-keran di lantai dua rumah-rumah mereka. PDAM Surabaya menuangkannya dalam semboyan sederhana 7/24. Artinya adalah air terus mengalir bertekanan 7 meter (0,7 Atm) dalam 24 jam sehari.
  12. Pencapaian visi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah 7/24 dengan kualitas air saat ini. Artinya, dengan kualitas “air mandi” saat ini, dalam 2 tahun PDAM membuat kebijakan anggaran sarana berupa reservoir air ukuran kecil dilengkapi pompa tekanan dalam jumlah yang cukup. Tujuannya agar air bisa mengalir di setiap rumah warga Surabaya dengan tekanan 7 meter 24 jam sehari. Sederhananya adalah menggantikan tandon pendam dan pompa di rumah-rumah warga dengan tandon dan pompa milik PDAM yang bisa dipakai bersama untuk untuk sekian ribu rumah.  Dengan ini masyarakat Surabaya bisa menyalakan keran di lantai 2 dan cukup untuk menghidupkan mesin cuci. Semua dilakukan tanpa perlu tandon pendam di rumah-rumah mereka. Juga tanpa pompa air. Masyarakat akan menghemat biaya tandon, pompa dan listrik untuk menyalakan pompa. Jika dihitung untuk sekitar 3 juta warga Surabaya, ada manfaat finansial luar biasa besar yang tidak tercatat di akuntansi PDAM. Inilah esensi fungsi PDAM sebagai perusahaan milik pemerintah. Milik masyarakat.
  13. Bagaimana membuat masyarakat bisa minum air PDAM langsung dari keran di rumah-rumah mereka? Ada dua isu: quality dan perceived quality. Kualitas dan persepsi terhadap kualitas. Kualitas bisa diukur dengan besaran-besaran seperti kandungan zat padat di air (TSS, total suspended solid), total dissolved solid (TDS), dan sebagainya. PDAM mulai tahun 2018 menyusun anggaran dan mengeksekusinya untuk secara berangsur-angsur meningkatkan kualitas nyata air.
  14. Kualitas bagus belum tentu dipersepsikan bagus oleh pasar. Untuk menjadikan persepsi kualitas yang bagus PDAM membuat kebijakan edukasi pasar secara paralel. Tujuannya adalah agar pada saat kualitas riil air di keran PDAM sudah sesuai standar air minum modern masyarakat mau meminumnya. Perceived quality meningkat seiring dengan peningkatan quality. Dengan demikian anggaran air minum keluarga-keluarga di Surabaya akan turun drastis. Semula harus membeli air minum dalam kemasan akan tergantikan dari keran-keran air PDAM baik di rumah-rumah  mereka maupun yang disediakan di tempat-tempat umum. Efek lainnya adalah pengurangan besar-besaran sampah plastik akibat konsumsi AMDK. Lingkungan akan lebih terjaga.
  15. Pada tahun 2018, sebenarnya fasilitas produksi PDAM Surabaya sudah mampu memproduksi air minum standar dengan kualitas seperti Aqua. Masalahnya adalah pada tuanya jaringan pipa. Banyak pipa logam sudah jaman Belanda berusia lintas abad belum diremajakan. Tentu sudah termakan korosi. Berkarat. Maka, PDAM mengubah kebijakan peremajaan pipa. Targetnya adalah tiap tahun meremajakan sekitar 150 km. Dengan demikian, pipa baru hasil peremajaan tahun 2019 misalnya akan diremajakan lagi 40 tahun kemudian alias tahun 2059. Bukan ratusan tahun. Butuh kerja keras insan PDAM yang dalam road map dituangkan dalam pernyataan misi PDAM yang disebut insan sembada. Sembada diambil dari nama resmi PDAM Surya Sembada. Sembada berasal dari  bahasa Jawa yang artinya kurang lebih adalah serba cepat, serba kuat, serba bagus.
  16. Jika tiap tahun “hanya” meremajakan 150 km maka peremajaan total jaringan pipa akan butuh waktu 40 tahun. Artinya, visi perusahaan air minum modern baru akan tercapai 40 tahun yang akan datang. Tentu ini terlalu panjang. Maka, dibutuhkan program percepatan dan tentu mengandung konsekuensi finansial
  17. Konsekuensi finansial itupun telah disimulasikan. Jika pendapatan PDAM masih seperti saat ini (Rp 783 milyar, 2018) dan depresiasi komersial dibuat 40 tahun maka laba akan menurun secara drastis. Laba 2018 Rp 239 Milyar akan turun menjadi hanya sekitar 50 Milyar. Muncullah pertanyaan, apakah pemegang saham (dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya) dan dewan mau menerima laba yang turun tinggal sekitar 1/5 itu? Inilah dilemanya. Ini tentu menyangkut masalah politis. Tetapi jika pertanyaan itu diubah menjadi “maukah warga Surabaya bisa menikmati air minum kualitas Aqua di keran-keran tempat-tempat umum dan di keran-keran rumah dengan tekanan 7 m dalam 24 jam?” tentu jawabnya akan kompak. Mau!
  18. Bagaimana mempercepatnya agar modern water company itu bisa tercapai dalam waktu yang lebih singkat? Lima tahun kedepan misalnya. Tahun 2024! Jika hanya mengandalkan kondisi finansial selama ini, tentu PDAM tidak mampu. Sebagai gambaran, kas PDAM akhir 2017 adalah Rp 670 M. Posisi itu menurun tinggal Rp 488 M pada akhir 2018. Tentu ini adalah pengaruh kebijakan peremajaan pipa yang mulai digenjot menjadi sekitar 80 km pada tahun 2018. Jika ini digenjot lagi menjadi 150 km, tentu kas akan segera menipis dan PDAM butuh tambahan modal baru.
  19. Dari mana tambahan modal? Mengingat PDAM sebagai milik pemerintah pada dasarnya adalah adalah milik dan untuk masyarakat maka dana investasi untuk kenaikan kualitas secara sederhana bisa didukung oleh masyarakat kenaikan tarif. Kenaikan tarif rata-rata sebesar Rp 1000 per meter kubik akan memberi tambahan pendapatan Rp 300 M per tahun. Tinggal diatur golongan tarif mana saya yang harus naik. Bisa dibuat agar golongan terendah sama sekali tidak naik.
  20. Jika alternatif kenaikan tarif tidak memungkinkan, dengan kondisi legalitas PDAM saat ini satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah menambah utang. Utang PDAM saat posisi akhir 2018 adalah Rp 102 M berupa utang usaha dan Rp 32 M berupa utang jangka panjang. Total utang adalah Rp 134. Dengan ekuitas Rp 1,211 T maka rasio utang terhadap ekuitas (DER) PDAM adalah 0,11. Angkanya masih sangat longgar. PDAM masih memiliki kapasitas utang Rp 800 Milyar lebih untuk menjaga DER aman dibawah angka 1.
  21. Kapasitas utang memang masih ada. Tetapi kapasitas itu ada batasnya. Batasannya adalah cash flow  untuk membayar bunga dan cicilan.  Juga akan menggerus laba sebesar biaya bunga sekitar Rp 80 lebih per tahun. PDAM akan tercekik secara cashflow dan rugi.  Belum lagi akan ada masalah keterbatasan agunan. Tidak bisa mencapai visi sebagai perusahaan air minum modern untuk Surabaya sebagai kota modern. Nasibnya akan seperti Krakatau Steel atau Garuda Indonesia. Baca selengkapnya pada link tersebut.
  22. Secara finansial keterbatasan itu akan terselesaikan jika PDAM berubah status legalnya menjadi dari perusahaan daerah menjadi perusahaan umum daerah berbadan hukum PT. PT dapat melakukan korporatisasi dan menerima dana dari masyarakat luas baik melalui private placement maupun melalui lantai bursa. Cara inilah yang sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh Danone sehingga bisa dengan mudah merayu pemegang saham pendiri Aqua untuk melepaskan perusahaan besutannya diakuisisi. Danone tidak mungkin bisa melakukannya jika mengandalkan utang. Jika melakukan korporatisasi terus menerus PDAM pun bisa melakukan akuisisi perusahaan air di luar negeri. Efek lainnya PDAM akan makin diminati kandidat terbaik SDM untuk bergabung sebagai perusahaan yang beroperasi di berbagai negara dengan sistem manajemen kuat.
  23. Sebagai gambaran, jika Danone membutuhkan dana investasi yang jauh lebih besar dari laba untuk ekspansi berupa akuisisi misalnya, cukup dengan menerbitkan 10% saham akan mendapatkan uang EUR 5,2 miliar (Rp 82 T) dengan cukup membayar dividen sebesar 2,53% alias  Rp 2 T (per tahun) tanpa harus mengembalikan pokoknya. Juga tidak perlu agunan.
  24. Korporatisasi akan menjadi pintu bagi PDAM untuk berekspansi lebih luas menjadi perusahaan yang melayani kebutuhan air minum kota-kota seluruh Indonesia bahkan dunia. Jika proses ini dilakukan secara terus menerus maka PDAM akan menjadi raksasa dalam pendapatan, laba, aset dan kapitalisasi pasar. Tiap tahun PDAM menerbitkan saham baru agar bisa berinvestasi meremajakan jaringan pipa, membangun tandon, pompa dan perbaikan fasilitas produksi dengan anggaran jauh lebih besar dari pada laba. Pemegang saham pun, termasuk Pemerintah Kota Surabaya, akan menerima dividen yang jauh lebih besar tanpa mengganggu anggaran investasi PDAM untuk peremajaan pipa dan lain-lain. Suatu saat PDAM akan menjadi perusahaan yang memiliki sistem manajemen kuat terhindar  dari fenomena pseudo CEO dan pseudo corporate yang saat ini terjadi pada perusahaan-perusahaan milik pemerintah. Baca tulisan saya di link ini dan link ini untuk memahami fenomena yang menyandra pertumbuhan BUMN ini.

Demikian uraian saya. Anda sudah menangkap bahwa PDAM Surya Sembada Surabaya telah membulatkan tekad untuk bangkit? Telah membulatkan tekad untuk merebut kembali kejayaan di era monopolistik ini.  Era dimana masyarakat makin percaya dan tergantung kepada merek. Baik merek produk maupun merek perusahaan alias corporate brand. PDAM Surabaya siap bertanding melawan Danone secara fair dan semangat kesetaraan sebagai korporasi. Bagaimana pendapat Anda warga Surabaya sebagai konsumen sekaligus pemilik tidak langsung PDAM Surya Sembada? Bagaimana Anda warga kota lain? Siap mendukung bangkitnya PDAM? Merdeka!

****Ditulis oleh Iman Supriyono, konsultan senior dan direktur SNF Consulting, www.snfconslting.com, sparring partner manajemen PDAM Surya Sembada dalam penyusunan road map. Penulisan dilakukan di SNF House of Management pada tanggal 9 Juli 2019. Email: imansupri@snfconsulting.com, IG/TG/Twitter @imansupri

4 responses to “Monopolistik Air Minum Danone: PDAM Menyerah?

  1. Ping-balik: Kolaborasi Era Monopolistik, Anda Siap? | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Dari Monopoli ke Monopolistik | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: BPJS Kesehatan: Berat! | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Cak Man dan Visi Besar PDAM Surabaya | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s