Kampus Sekolah Pesantren, Jangan Berbisnis!


Bukankah sebuah lembaga pendidikan harus mencari sumber pendapatan di luar SPP  siswa? Apakah judul tulisan ini tidak salah? Tidak! Judul tulisan ini benar! Sama sekali tidak ada keraguan saat saya menulis judul dan tulisan ini. Kok bisa? Lalu apa solusinya? Ikuti penjelasannya pada poin poin berikut ini.

Hasil gambar untuk harvard management company

Logo HMC: Kampus itu berinvestasi, bukan berbisnis. Bisnis dan investasi adalah dua hal yang berbeda secara diametral.

  1. Paling tidak ada empat alasan mengapa sebuah lembaga pendidikan tidak boleh berbisnis. Yang dimaksud berbisnis adalah mendirikan usaha apapun di luar pendidikan.
  2. Alasan pertama bersifat filosofis. Bahwa pendidik dan pebisnis itu adalah dua konsep yang sama sekali berbeda. Bahkan pada banyak hal berbeda 180 derajat. Pendidikan bersifat sepenuhnya sosial. Bahkan sangat bagus jika sebuah institusi pendidikan bisa menerima siapapun untuk belajar secara gratis. Sebaliknya, berbisnis tidak mungkin dilakukan tanpa orientasi laba.
  3. Karena bersifat filosofis, tentu perbedaan ini sulit dijelaskan secara kuantitatif. Anda bisa merasakannya ketika berinteraksi dengan guru yang telah mendidik belasan tahun. Bedakan dengan para pebisnis yang telah menekuni bidangnya belasan tahun. Akan ada perbedaan yang sangat terasa.
  4. Alasan kedua adalah bahwa sebuah organisasi, berupa apapun, dituntut memiliki core compentence. Sebuah keahlian yang merasuk ke seluruh unsur organisasi. Keahlian yang diperkuat secara terus-menerus. Setiap organisasi pada dasarnya selalu bersaing baik dengan organisasi sejenis maupun dengan kekuatan pemasoknya, kekuatan konsumennya, disrupsi produk pengganti, maupun pemain baru yang datang dengan “bakar uang”. Porter menyebutnya sebagai five forces atau extended rivalry. Organisasi yang tidak setia pada core competence akan mudah dikalahkan dalam persaingan tersebut.
  5. Sebuah sekolah bersaing memperebutkan kepercayaan orang tua untuk mendidik putra putrinya. Betapa banyaknya sekolah dan kampus yang tutup karena tidak mendapat murid atau mahasiswa baru. Inilah hakekat sesungguhnya persaingan antara lembaga pendidikan. Tentu saja karena pendidikan adalah tentang budi pekerti luhur, persaingannya tidak bersuasana pertempuran apalagi dengan main kasar
  6. ketiga, institusi pendidikan harus merangkul dan bersahabat dengan siapapun. Prinsip ini akan terganggu jika sebuah lembaga pendidikan berbisnis. Mungkin memang tidak akan terasa jika bisnis masih kecil. Tetapi akan sangat berbeda jika bisnis tersebut sudah membesar.
  7. Sebagai gambaran, ITS, almamater saya, diberitakan memiliki bisnis sepeda motor berbendera Gesits. Saat ini mungkin oleh Honda, Yamaha, atau Suzuki sebagai pemain bisnis motor di tanah air, kehadiran Gesits tidak diperhatikan karena masih kecil. Tetapi suatu saat misalnya Gesits sudah mampu menjual 1 juta unit motor per tahun (total kebutuhan motor nasional sekitar 5 juta unit per tahun), ITS pasti akan kesulitan mengirimkan mahasiswanya untuk kerja praktek di Honda, Yamaha atau Suzuki. Alumni ITS juga akan kesulitan masuk bekerja di pabrikan sepeda motor itu. Padahal mengirim mahasiswa kerja praktek dan ketersediaan lapangan kerja bagi alumni di perusahaan mana pun adalah justru “bisnis utama” ITS.
  8. Dengan gambaran di atas, membesarnya Gesits justru akan merugikan ITS sebagai lembaga pendidikan. Lalu, apakah sebagai perusahaan Gesits tidak boleh membesar? Itulah dilemanya. Tetap kecil salah. Membesar juga salah. Sementara perusahaan yang tidak membesar kalah di pasar karena fenomena crowding effect. Perusahaan kecil juga kalah di pasar perebutan tenaga kerja dalam era career choice effect. Baca tulisan saya di kedua link tersebut.
  9. Keempat, jika dipaksakan, perusahaan yang dimiliki (sebagai pemegang saham pengendali) oleh kampus akan cenderung mengalami fenomena pseudo CEO. Perusahaan seperti ini akan mengalami kesulitan untuk unggul bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Itulah mengapa di dunia ini tidak ditemui perusahaan penguasa pasar yang dimiliki oleh kampus atau institusi pendidikan  pemegang saham pengendali. Yang ada adalah perusahaan-perusahaan fully public company yang tidak ada pesaham pengendali.
  10. Demikian alasan mengapa institusi pendidikaan tidak boleh melakukan bisnis. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar sebuah lembaga pendidikan bisa mandiri secara finansial? Bahkan bisa memberi beasiswa kepada para muridnya? Universitas Al Azhar di Kairo, Harvard University dan Yale University bisa menjadi contoh yang baik.  Silakan baca link ini. Prinsipnya, institusi pendidikan mengumpulkan dan mengakumulasikan aset wakaf atau endowment fund dan kemudian menginvestasikannya secara aman sesuai konsep portofolio. Secara teknis, lembaga pendidikan mesti mendirikan perusahaan investasi (investment company) seperti Harvard Management Company (HMC) milik Harvard University. Sebuah perusahaan investasi memiliki karakter yang berbeda diametral dengan perusahaan operasional.
  11. Bagi institusi pendidikan, perusahaan investasi paling tidak memiliki tiga nilai setratejik. Pertama, proses mengumpulkan dana wakaf atau endowment merupakan batu uji kepercayaan publik. Sebuah lembaga pendidikan akan kokoh jika mampu meraih kepercayaan tiga pihak sekaligus: SDM berkualitas sebagai karyawan maupun manajemen, calon murid yang potensial, dan donatur yang besar. Harvard University dipercaya donatur sehingga endowment fund-nya mencapai sekitar Rp 500 T.

    IMG_20190425_184052

    Moscow University: Kampus mesti menjaga marwahnya sebagai lembaga pendidikan yang bebas kepentingan apapun kecuali mendidik. Foto: koleksi pribadi

  12. Kedua, sebuah perusahaan investasi bekerja dengan prinsip tanpa pesaing. Perusahaan mana pun adalah mitra. Konsep portofolio menjadikan sebuah perusahaan investasi menyebar aset kelolaannya kepada berbagai perusahaan berbagai sektor. Kepemilikan saham pada tiap perusahaan pun kecil-kecil. Tidak sampai 10%. Sifatnya mendukung modal. Murni investasi. Bukan ikut mengelola perusahaan. Semua perusahaan operating company adalah peluang tempat investasi. Semua perusahaan prospek menjadi investee.
  13. Bahkan dengan sesama invesment company pun harus bermitra. Perusahaan-perusahaan yang produknya dipakai masyarakat dunia saat ini pememgeang sahamnya adalah gabungan dari berbagai investment company besar dan kecil. Mereka sama-sama berkepentingan untuk menyebar investasainya sesuai konsep portofolio. Berkshire Hathaway besutan Warren Buffet misalnya hanya punya saham sekitar 7% di McD. Lainnya adalah banyak investment company lain yang prosentasenya lebih kecil-kecil.
  14. Ketiga, investment company akan sekaligus berperan mendorong alumni lembaga pendidikan untuk mendirikan perusahaan rintisan alias start up. Tidak diragukan lagi bahwa pada era ini tidak jamananya lagi mendirikan perusahaan kecil-kecilan. Butuh perusahaan yang tumbuh pesat sejak berdiri. Dan di balik pertumbuhan pesat itu adalah peran investment company yang menganggarkan sekitar 0,1-0,3% dari aset kelolaannya untuk “dibakar” pada start up. Baca link ini untuk lebih detail tentang start up.
  15. Secara finansial, sebuah sekolah, pesantren atau kampus disebut mapan secara finansial jika pendapatan dari investasi sudah mampu memenuhi kebutuhan sebagian besar atau seluruh biaya operasional pendidikan. Artinya, lembaga pendidikan tersebut sudah mampu menggatiskan uang SPP untuk seluruh siswanya. Seperti Al Azhar. Itulah kondisi yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendirikan. Kalaupun tidak menggratiskan semua muridnya, lembaga pendidikan seperti itu akan mampu berbuat lebih banyak untuk dunia pendidikan.
  16. PR selanjutnya adalah menyusun roadmap untuk mencapai kondisi itu. Secara umum terdiri tiga tahap berikut ini.
    1. Tahap pertama adalah perbaikan legalitas. Pastikan badan hukum lembaga pendidikan sudah bisa memiliki rekening bank, menjadi nama aset properti, mendirikan badan hukum PT, dan mendapatkan lisensi sebagai nadzir.
    2. Tahap kedua mulai mengumpulkan dana wakaf untuk berinvestasi di sektor yang paling aman yaitu berupa properti di kawasan bisnis untuk disewakan. Dipilih kawasan bisnis agar mudah mencari penyewa. Masyarakat pun sudah paham bahwa properti adalah investasi yang aman.
    3. Tahap ketiga yaitu investasi pada perusahaan secara langsung melalui setor modal (saham). Bisa perusahaan listed maupun non listed.  Langkah ketiga ini menandai peran sejati lembaga pendidikan sebagai salah satu pilar kemerdekaan ekonomi bangsa melalui aset wakafnya. Jika semua lembaga pendidikan melakukannya, akan terkumpul aset ribuan trilyun yang diinvestasikan untuk pertumbuhan perusahaan-perusahaan melalui proses korporatisasi.
  17. Pada dasarnya tiga tahap di atas adalah idem dito dengan yang harus dilakukan oleh masjid-masjid seperti pada tulisan ini. Hanya berbeda pemanfaatkan pendapatan investasi wakaf. Masjid pendapatan investasinya untuk biaya operasional masjid. Lembaga pendidikan pendapatan investasi wakafnya untuk biaya operasional pendidikan.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  18. Pada umumnya pesantren, kampus, dan sekolah sudah biasa mengumpulkan dana dari donatur. Paling tidak dari orang tua siswa. Hanya saja selama ini orientasinya adalah yang bersifat konsumtif operasional lembaga. Kalaupun wakaf sifatnya adalah wakaf untuk keperluan operasional secara langsung seperti untuk membeli lahan atau gedung. Artinya, dengan memahami konsep investasi wakaf maka sebenarnya kampus tinggal menduplikasi kemampuan pengumpulan dana tersebut. Alokasikan sumber daya (jumlah karyawan beserta gaji dan segala pendukungnya) untuk mengumpulkan aset investasi wakaf minimal sama kuat dengan sumber daya untuk mengumpulkan donasi yang bersifat konsumtif operasional. Bisa dimulai dengan menugaskan seorang karyawan khusus untuk pengumpulan aset wakaf. Bebaskan dari tugas-tugas lain.

Demikian penjelasan tentang mengapa lembaga pendidikan tidak boleh berbisnis. Semoga bermanfaat. Anda insan pendidikan? Sekolah, pesantren atau kampus Anda siap mengeksekusinya?

Ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 15 Juli 2019 oleh Iman Supriyono, konsultan senior dan direktur SNF Consulting www.snfconsulting.com twitter/istagram/telegram @imansupri

5 responses to “Kampus Sekolah Pesantren, Jangan Berbisnis!

  1. Ping-balik: Korporatisasi Langkah Demi Langkah | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Wakaf Uang | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Kolaborasi Era Monopolistik, Anda Siap? | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: SNF Consulting: Peran Sosial & Pembiayaannya | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: SNF Consulting: Peran Kemasyarakatan & Pembiayaannya | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s