Korporatisasi Langkah Demi Langkah


Korporatisasi adalah proses transformasi dari perusahaan dari personal menjadi korporasi. Atau bisa juga dari perusahaan milik pemerintah menjadi korporasi. Bagaimana langkah-langkahnya? Berikut ini adalah uraian berdasar riset SNF Consulting terhadap berbagai perusahaan di berbagai negara yang sebagian besar telah berusia lintas abad. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin. Bagian-bagian yang perlu mendapatkan penjelasan lebih detail sudah ada link tulisan saya terkait hal tersebut. Silakan klik jika Anda membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Hasil gambar untuk loreal logo

L’oreal adalah contoh perusahaan keluarga yang sukses melakukan korporatisasi.  Kini adalah fully public company tanpa pesaham pengendali. Pendiri kini memegang sekitar 30% saham dengan nilai sekitar Rp 600T.

  1. Paling tidak ada lima keuntungan sebuah perusahaan melakukan korporatisasi. Keuntungan pertama, perusahaan akan memiliki sistem manajemen yang kuat. perusahaan personal ibarat kerajaan yang segala sesuatunya tergantung raja. Perusahaan terkorporatisasi ibarat negara modern yang memiliki sistem kenegaraan tidak tergantung pada orang-perorang.
  2. Keuntungan kedua adalah perusahaan bisa berekspansi dengan dana investasi berkali kali lipat dari laba. Inilah yang membuat sebuah perusahaan menjadi tumbuh pesat. Contohnya adalah Alfamart dan Ciputra. Perusahaan pun akan mampu memenangkan persaingan dalam era crowding effect maupun career choice effect
  3. Keuntungan ketiga adalah terhindarnya perusahaan dari fenomena pseudo director atau pseudo CEO
  4. Keempat, perusahaan akan memiliki kemampuan mengakusisisi karena rendahnya cost of capital. Akuisisi adalah cara cepat untuk masuk pasar luar negeri.
  5. Kelima, perusahaan akan bisa diselenggarakan sesuai tata kelola yang perusahaan modern sehingga memiliki daya tarik bagi investor
  6. Itulah lima keuntungan perusahaan yang melakukan korporatisasi secara terus-menerus. Secara grafis, perusahaan seperti itu akan mengikuti ada yang disebut sebagai kurva dan gergaji korporatisasi.
  7. Perusahaan umumnya bermula dari seorang atau beberapa orang pendiri. Atau bisa bermula dari didirikan oleh pemerintah pada BUMN. Selanjutnya ada yang sukses bertranformasi menajadi korporasi  fully public company yang beroperasi lintas bangsa. Ada pula yang tidak. McD, Yum Brand, Toyoto, Ford, Unilever, Lóreal, adalah beberapa contoh dari ribuan perusahaan swasta yang telah sukses melakukan proses korporatisasi. DHL, Embraer, Vale, adalah beberapa contoh dari kalangan BUMN. Mereka membesar dengan menikmati lima keuntungan korporatisasi sebagaimana tersebut di atas. Lalu bagaimana garis besar langkah langkah untuk melakukannya? Ada lima langkah. Silakan ikuti.
  8. Langkah pertama adalah menemukan revenue and profit driver (RPD). Perusahaan sudah membuktikan bahwa model bisnisnya diterima masyarakat (pelanggaan) dan ada peluang untuk tumbuh pesat melalui penambahan aset. RPD adalah aset yang begitu dimiliki perusahaan akan langsung menghasilkan pendapatan (revenue) dan laba (profit). Dan ini harus sudah terbuktikan sampai memiliki laporan keuangan dengan tingkat keberhasilan historis yang tinggi. Di atas 90%. Starbuck misalnya memiliki tingkat keberhasilan sekitar 98,5%. Hanya sekitar 1,5% gerai yang rugi dan ditutup dari 100 gerai di seluruh dunia. Contoh RPD bagi sebuah perusahaan minimarket adalah gerai. Begitu menambah gerai baru, omzet dan labanya bertambah.
  9. Langkah kedua adalah pembenahan sistem manajemen. Wajar bila sebuah perusahaan pada awal masa pendiriannya sibuk mencurahkan segala energinya untuk menemukan RPD. Setelah ketemu langkah selanjutnya adalah membangun sistem manajemen. Termasuk didalamnya adalah pembenahan sistem akuntansi sehingga bisa menghasilkan laporan keuangan uang diaudit dengan opini wajar tanpa perkecualian
  10. Langkah ketiga adalah mengembangkan dengan dana pinjaman. Salah satu sumbernya adalah utang dagang. Bisa juga sampai batas tertentu ditambah utang bank (bank syariah bagi yang meyakini riba haram). Di tengah mindset dunia bisnis yang raja utang, tidak diajari pun utang sudah dilakukan secara berlebih. Nah, dalam konteks korporatisasi, utang bukanya tidak boleh, tetapi dibatasi oleh apa yang disebut sebagai gergaji korporatisasi.
  11. Langkah keempat adalah melakukan penerbitan saham baru alias rights issue. Yang dibutuhkan untuk tahap ini adalah proyeksi ekspansi perusahaan dalam setahun kedepan. Proyeksi tersebut sudah menghitung kebutuhan modal untuk investasi pengembangan pasar. Dan tentu saja kebutuhan modalnya sudah tidak bisa dipenuhi dari kas internal perusahaan sehingga dibutuhkan setoran modal dari penerbitan saham baru. Proyeksi tersebut kemudian digunakan sebagai dasar perhitungan jumlah lembar saham yang akan diterbitkan termasuk harganya. Bagi investor angka yang paling mudah ditangkap dari proyeksi ini adalah berupa return on investment (ROI) Untuk lebih teknis, perusahaan Anda bisa minta bantuan SNF Consulting, sebuah perusahaan konsultan manajemen yang memposisikan diri sebagai konsultan korporatisasi
  12. Untuk memastikan perusaan bisa menjalankan kurva korporatisasi dengan baik dan terhindar dari IPO Trap, langkah kelima ini perusahaan hanya boleh menerbitkan saham maksimum sekitar 10%.
  13. Siapa yang berpotensi menjadi penyetor dalam penerbitan saham baru tersebut? Tentu saja pihak-pihak yang telah berhubungan lama dan percaya kepada si pendiri perusahaan. Bisa perorangan, dana wakaf (endowment fund) masjid maupun lembaga sosial dan lembaga pendidikan atau investment company. Jangan salah dengan mencari penyetor saham dari operating company. Bahaya!
  14. Masuknya dana wakaf atau endowment fund melalui pintu penerbitan saham baru akan mengukuhkan peran perusahaan di bidang sosial, pendidikan dan kebajikan masyarakat seiring dengan pertumbuhan perusahaan melalui korporatisasi. Mengukuhkan niat bahwa berbisnis adalah bagian dari ibadah. Bukan sekedar mencari uang.
  15. Di era modern, sebuah setiap orang adalah pegawai dan setiap pegawai adalah investor. Korporatisasi adalah bentuk teknisnya. Dibutuhkan banyak corpopreneur. Karyawan pun harus kaya raya. Seorang pendiri perusahaan pun harus bekerja layaknya seorang karyawan karena perusahaannya melakukan korporatisasi secara terus-menerus.
  16. Sering kali ada pertanyaan pada langkah keempat ini. Pertanyaan berupa kesulitan mencari orang yang mau menjadi pemegang saham. Betul. Sesuatu yang baru dilakukan pertama kali pasti akan menghadapi kendala. Persis seperti perusahaan mencari pinjaman bank. Awalnya pasti akan sulit. Tetapi seiring dengan meningkatnya kepercayaan makan perusahaan akan makin mudah mendapatkan pinjaman. Seperti itu pulalah mencari investor untuk menjadi pemegang saham
  17. Sebagai catatan tambahan, investasi saham adalah bersifat jangka panjang. Maka, penilaian dari investasi seperti ini adalah pada ROI. Bukan pada pay back periode (PBP) alias kembalinya 100% uang yang telah dinvestasikan. PBP juga tidak relevan karena investasi akan balik sewaktu-waktu jika si investor menjual sahamnya. Persis seperti investasi properti. Tidak ada istilah PBP karena sewaktu-waktu bisa dijual dan investor mendapatkan kembali seluruh dana yang diinvestasikannya.
  18. Langkah kelima adalah manajemen bekerja keras menggunakan dana perolehan dari penerbitan saham kembali sesuai dengan rencana bisnis (prospektus) yang telah disampaikan kepada para pemegang saham dan calon pemegang saham saat penerbitan saham. Pastikan bahwa ROI yang dijanjikan kepada investor terpenuhi. Dan inilah inti dari manajemen: planning-executing-controlling. Business plan atau prospektus yang ditawarkan kepada investor adalah perencanaan. Kualitas manajemen dinilai dari kemampuan mengeksekusi perencanaan dan tercapai 100% atau lebih
  19. Setelah langkah kelima, perusahaan kembali ke langkah ketiga, keempat dan kelima lagi secara terus menerus. Inilah yang akan membentuk kurva korporatisasi
  20. Muncul pertanyaan, kapan perusahaan menerbitkan saham melalui lantai bursa atau melakukan IPO (initial public offering)? Ada dua tinjauan. Tinjauan pertama adalah berdasar kemampuan manajemen mencari investor baru. Saat kebutuhan dana penerbitan saham baru sudah sulit dipenuhi melalui private placement, berarti perusahaan sudah saatnya melakukan IPO.
  21. Tinjauan kedua adalah stabilitas harga saham di lantai bursa. Untuk kondisi di lantai bursa indonesia, paling tidak kapitalisasi pasar sudah lebih dari Rp 1T agar harga saham sudah tidak terlalu rentan terhadap aksi goreng-goreng saham yang merugikan perusahaan. Stabilitas harga ini penting agar saat perusahaan melakukan rights issue setelah IPO harganya tidak turun di bawah harga IPO karena dipermainkan pasar. Penurunan harga di bawah harga IPO akan menghambat proses korporatisasi selanjutnya.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  22. Ada pertanyaan lain, apakah mencari menggandeng investor baru sebagai pemegang saham tidak menyalahi regulasi? Regulasi perusahaan publik menyebut bahwa syarat jumlah pemegang saham minimum untuk IPO adalah 300 orang. Artinya, jika pemegang saham kurang dari angka tersebut private placement adalah satu-satunya alternatif. Apakah tidak termasuk mengumpulkan dana masyarakat? Tidak. Yang diinvestasaikan perusahaan untuk ekspansi adalah dananya sendiri dari para pemegang saham perusahaan tersebut plus laba ditahan. Bukan dana pihak lain.
  23. Bagaaimana korporatisasi pada sebuah perusahaan start up? Bisakah start up yang belum menghasilkan laba dan RPD melakukan korporatisasi? Logika dasar ini harus dikuasai oleh perusahaan start up. Menggaet investment company yang telah memiliki anggaran 0,1-0,3% dari dana kelolaannya untuk masuk pada start up.
  24. Bagaimana dengan waralaba yang selama ini marak di masyarakat? waralaba bukan termasuk langkah korporatisasi. Waralalaba berisiko tinggi bagi investor. Waralaba juga bermakna cost of capital yang tinggi bagi perusahaan.

Demikianlah langkah demi langkah proses korporatisasi. Proses inilah yang dibutuhkan untuk membangun enam pilar kebangkitan ekonomi negeri. Agar sedikit demi sedikit ketergantungan ekonomi bisa dibebaskan. Agar kita bisa unggul dalam persaingan antar bangsa yang dalam era modern suasananya seperti permainan bola.

**)Ditulis pada tanggal 22 Juli 2019 di kantor pusat SNF Consulting oleh Iman Supriyono, konsultan dan CEO SNF Consulting. Tulisan ini berperan sebagai text book tentang korporatisasi di era internet. Menenuhi permintaan banyak pihak agar saya menulis buku tentang korporatisasi.  Link-link di tulisan ini adalah ibarat bab-bab dalam sebuah buku tebal. 

37 responses to “Korporatisasi Langkah Demi Langkah

  1. Asslm Bapak Iman Supriyono,

    Bagaiaman mengatasi perpecahan atau perbedaan pendapat dlm perusahaan yg sdh masuk pesaham melalui private placement? Krn pesaham juga bertindak sebagai komisioner.

    Terima kasih. Wasslkm.

  2. Ping-balik: Visi Besar Keluarga Entrepreneur dan Perceraian | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Hibiscus Rosa Sinensis: Kenapa Harus Konsultan Manajemen Asing? | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Kolaborasi Era Monopolistik, Anda Siap? | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Kawin Tak Syar’i: Mengapa Impor Sapi | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Monopolistik Air Minum Danone: PDAM Menyerah? | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Entrepreneur, Jangan Menyebut Diri Sebagai UKM | Catatan Iman Supriyono

  9. Ping-balik: Semen Indonesia: Jebloknya Arus Kas Pasca Akuisisi Super Mahal Holcim | Catatan Iman Supriyono

  10. Ping-balik: Nha Hang: Hijrah untuk Tumbuh dan Berprestasi | Catatan Iman Supriyono

  11. Ping-balik: Dari Monopoli ke Monopolistik | Catatan Iman Supriyono

  12. Ping-balik: Zero Black Out, Mampukah PLN? | Catatan Iman Supriyono

  13. Ping-balik: Mengapa Rupiah Konsisten Melemah Sejak 1948? | Catatan Iman Supriyono

  14. Ping-balik: Thomas Edison-GE: Mengapa Riset Kita Mandul? | Catatan Iman Supriyono

  15. Ping-balik: DIRE: Siloam, Lippo & Lippo Way | Catatan Iman Supriyono

  16. Ping-balik: Manfaat Bagi Sesama: 4 Ukuran Perusahaan | Catatan Iman Supriyono

  17. Ping-balik: Manfaat Bagi Sesama: 4 Ukuran Perusahaan » Indonesia Press

  18. Ping-balik: Thomas Edison-GE: Mengapa Riset Kita Mandul? » Indonesia Press

  19. Ping-balik: Salah Kaprah ROI: Pertumbuhan Pesat | Catatan Iman Supriyono

  20. Ping-balik: Direktur & Komisaris: Rancunya Peran Stratejik & Administratif | Catatan Iman Supriyono

  21. Ping-balik: Esemka & Mimpi Mobnas: Pelajaran Tesla & Hyundai | Catatan Iman Supriyono

  22. Ping-balik: N250 & Kemustahilan Habibie | Catatan Iman Supriyono

  23. Ping-balik: Menjadi Ortu Era Milenial Monopolistik | Catatan Iman Supriyono

  24. Ping-balik: DMU Sebagai Investing Company: Connecting the Dots | Catatan Iman Supriyono

  25. Ping-balik: Start Up & OFO Bike: Bakar Uang, Pailit, Exit Strategy | Catatan Iman Supriyono

  26. Ping-balik: Erick Thohir Jadi Raja Utang atau BUMN Insyaf? | Catatan Iman Supriyono

  27. Ping-balik: Investor China atau Arab? | Catatan Iman Supriyono

  28. Ping-balik: Investment Company: Memulainya? | Catatan Iman Supriyono

  29. Ping-balik: Belanja di Warung Tetanga atau Warung Sendiri? | Catatan Iman Supriyono

  30. Ping-balik: Jangan Hanya Slogan: Beli Jawa Timur! Beli Indonesia! | Catatan Iman Supriyono

  31. Ping-balik: Korporatisasi Pertamina: Agar 84% Ladang Minyak Tidak Dikelola Asing | Catatan Iman Supriyono

  32. Ping-balik: Ahok dan Kemustahilan Pertamina | Catatan Iman Supriyono

  33. Ping-balik: Waralaba atau Korporatisasi? | Catatan Iman Supriyono

  34. Ping-balik: Investor Waralaba atau Korporatisasi | Catatan Iman Supriyono

  35. Ping-balik: Jangan Membaca: Nasihat Paradoks Dahlan Iskan | Catatan Iman Supriyono

  36. Ping-balik: Sepeda Brompton: Endorsed by Garuda Indonesia | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s