Sari Roti, Intangible Asset: Menguangkannya?


Intangible asset. Saya yakin kalangan bisnis sering mendengar dan menggunakan istilah itu. Bagaimana membangun intangible asset? Bagaimana mengubah intanglible asset menjadi uang tunai? Ikuti penjelasan berikut ini:

IMG_20190826_080947-min

Sari Roti: perusahaan yang sukses menjual intangible assetnya untuk pertumbuhan perusahaan. Foto koleksi pribadi penulis.

  1. Kalau perusahaan Anda membeli mesin, maka akan ada uang yang dikeluarkan. Ada bukti transaksi yang valid dan legal. Dengan mudah bukti transaksi tersebut dibukukan dengan sistem akuntansi. Mesin akan ditampilkan di neraca beserta nilainya. Inilah tangible asset
  2. Tetapi, kalau para karyawan perusahaan Anda bekerja keras membenahi sistem manajemen maka hasil kerja mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam akuntansi. Memang tidak ada bukti transaksi. Pun tidak ada uang yang keluar untuk pekerjaan itu. Mereka sedang membangun apa yang disebut intangible asset.
  3. Contoh intangible asset lain: kekuatan merek, hubungan kuat dengan pemasok, hubungan kuat dengan distributor, kekuatan team riset, lokasi yang premium, dan sebagainya.
  4. Ada dan dirasakan secara nyata dalam perusahaan. Tetapi tidak muncul dalam akuntansi. Itulah sifat intangible asset. Yakin perusahaan Anda terus membangun intangible asset kan?
  5. Kabar baiknya, ada cara untuk mengubah intangible asset menjadi uang kas. Menjadi tangible asset. Dan uang tersebut bisa dipakai untuk membeli tanggible asset baru. Atau untuk membangun intangible asset lebih lanjut.
  6. Sebagai gambaran, mari kita perhatikan Sari Roti. Laporan keuangannya terbarunya menunjukkan bahwa nilai total aset penguasa pasar roti tanah air itu adalah Rp 4,408 triliun. Total utangnya adalah Rp 2,500 triliun. Dengan demikian aset bersihnya (aset dikurangi utang, ekuitas) adalah Rp 2,908 triliun.
  7. Dengan jumlah lembar saham sebesar 6 186 488 888 lembar maka nilai aset bersih per lembar saham adalah Rp 470 per lembar saham.
  8. Harga saham Sari Roti hari ini adalah Rp 1 315 per lembar. Dengan demikian bisa dibaca bahwa nilai dari intangible assset Sari Roti adalah Rp 1 315 dikurangi Rp 470 alias Rp 845 per lembar saham
  9. Secara total perusahaan nilai intangible asset adalah sebesar nilai seluruh perusahaan (market cap) Rp 8,14 triliun dikurangi aset bersih 2,908 triliun yaitu Rp 5,23 triliun. Perhatikan bahwa nilai intangible asset lebih besar yaitu 1,8 kali dari tangible asset
  10. Bagaimana Sari Roti menguangkan intangible assetnya? Jika saat ini Sari Roti menerbitkan saham baru sebesar 1 miliar lembar maka publik investor akan menyerapnya dengan harga Rp 1 315 per lembar. Sesuai harga pasar. Sari roti akan mendapatkan Rp 1,315 triliun. Rinciannya, Rp 470 miliar adalah untuk membayar intangible asset dan sisanya yaitu Rp 845 miliar untuk membayar intangible asset
  11. Saham baru 1 miliar lembar itu setara dengan 13,9% dari total saham setelah penerbitan saham baru. Inilah persentase dilusi kepemilikan si pemegang saham lama. Dilusi yang dibonusi Rp 845 miliar dari total Rp 1,315 triliun.
  12. Apakah dilusi tersebut tidak merugikan pemegang saham? Tentu saja tidak. Rp 845 miliar itu kedudukannya dalam perusahaan adalah seperti laba ditahan. Menjadi hak seluruh pemegang saham. Lama maupun baru. Artinya, pemegang saham lama berhak sebesar 86,1% dari angka itu. Pemegang saham baru 13,9%. Angka ini persis seperti proporsi kepemilikan dari pemegang saham baru
  13. Setelah masuk di perusahaan, uang itu akan digunakan untuk modal ekspansi. Meluaskan pasar dan meningkatkan kapasitas produksi yaitu membangun pabrik baru. Otomatis akan meningkatkan laba perusahaan. Peningkatan laba akan dinikmati oleh seluruh pemegang saham dengan komposisi 86.1 % dinikmati pemegang saham lama dan 13,9% dinikmati pemegang saham baru. Dilusi itu nikmat.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  14. Pertanyaannya, kenapa pemegang saham baru mau membeli saham yang nominalnya (par value, nilai di akta perusahaan) Rp 20 dengan harga Rp 1 315 alias 66x dari harga saham yang dibayar oleh pendiri? Tidak lain adalah karena adanya intangible asset tadi. Penghargaan terhadap pengalaman, merek, kekuatan manajamen, kekuatan hubungan dengan pemasok, kekuatan saluran distribusi dan lain-lain yang tidak bisa dicatat secara akuntansi
  15. Pertanyaan lebih lanjut, mengapa pemegang baru tetap mau membeli padahal tahu bahwa ROI pada harga tersebut adalah hanya 2,9%? Tidak lain adalah karena investor melihat adanya potensi capital gain yang besar. Sejarahnya, PT Nipon Indosari Corpindo berdiri tahun 1995. Artinya, harga Rp 20 per lembar saham tahun 1995 kini, 24 tahun kemudian, naik menjadi 66x. Naik 66 x lipat dalam waktu 24 tahun. Investasi properti pun kalah. Dulu Rp 20 kini Rp 1 315. Dengan stabilitas pertumbuhan omzet dan laba Sari Roti, pertumbuhan seperti itu dipercaya oleh investor juga akan terjadi pada masa yang akan datang. Ini memungkinkan karena Sari Roti terus menerus menerbitkan saham baru untuk ekspansi seperti selama ini.
  16. Itulah kenapa Sari Roti terus menerus menerbitkan saham baru untuk pengembangan perusahaan. Tahun 2017 menerbitkan 1,125 miliar lembar saham baru (setara dengan 18% total saham setelah penerbitan saham baru) dengan harga Rp 1 275 sehingga total menerima Rp 1,434 triliun. Dalam prospektusnya dana tersebut akan digunakan untuk membangun 4-6 pabrik baru.
  17. Penerbitan saham baru terus menerus adalah proses korporatisasi. Hasilnya adalah perusahaan fully public company.  Perusahaan yang terbebas dari fenomena pseudo CEO. Perusahaan yang mampu menghadapi fenonme crowding effect. Perusahaan yang mampu menghadapi fenomena career choice effect. Perusahaan yang mampu mengakuisisi. Bukan diakuisisi.  Silakan baca link-link tersebut untuk bahasan lebih detail

Demikianlah cara menguangkan intangible asset. Artinya, perusahaan yang tidak pernah menerbitkan saham baru selain saham pendiri berarti perusahaan tersebut tidak pernah menjual intangible assetnya kepada investor. Karena tidak pernah dijual maka juga tidak pernah diketahui berapa nilai intangible assetnya. Rugi kan? Perusahaan Anda bagaimana? Sudah seperti Sari Roti?

*)Artikel ke-220 ini ditulis ditulis di Jakarta oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

4 responses to “Sari Roti, Intangible Asset: Menguangkannya?

  1. Ping-balik: Direktur & Komisaris: Rancunya Peran Stratejik & Administratif | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: N250 & Kemustahilan Habibie | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: SNF Consulting: Peran Sosial & Pembiayaannya | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Erick Thohir Jadi Raja Utang atau BUMN Insyaf? | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s