Beli Indonesia: Jangan Hanya Slogan


Semalam saya sholat isya di Masjid kampus Universitas Bhayangkara. Masjid kampus yang juga dikenal dengan Ubhara ini saya pilih karena lokasinya dekat dengan Pizza Hutt DBL, tempat saya ada pertemuan dengan kolega bisnis dan klien SNF Consulting dari luar kota sore itu. Di masjid tersebut saya ketemu dengan beberapa kawan aktivis Indonesia Islamic Business Forum alias IIBF. Kebetulan komunitas dibawah pimpinan Bung Heppy Trenggono ini memang sedang ada acara nasional di gedung DBL.

Demi bertemu dengan aktivis komunitas bisnis, terjadilah diskusi kecil di sela-sela sholat berjamaah. Sampailah pada diskusi seputar “Beli Jawa Timur”. Ini adalah topik utama dalam event yang dihadiri para aktivis IIBF dari berbagai daerah tersebut. Terjemahan lokal dari semangat “Beli Indonesia”.

Jangan menyebut diri UKM2

Beli Indonesia dalam sisi sebagai produsen tidak bisa dilakukan oleh UKM atau UMKM

Diskusi singkat tetapi lumayan seru. Sebagai orang strategic management yang sehari-hari terbiasa menerjemahkan pemikiran stratejik menjadi angka keuangan, saya pun ada pertanyaan. Tentu saja tentang “Beli Jawa Timur” dan “Beli Indonesia” itu tadi.  Di benak saya, “Beli Jawa Timur” bisa diterjemahkan dalam dua sudut pandang. Sudut pandang produsen dan sudut pandang konsumen.

Korporatisasi

Menerjemahkan semangat beli Indonesia butuh korporasi besar yang prosesnya dibangun melalui proses korporatisasi

Sudut pandang konsumen artinya adalah bahwa saat menjadi konsumen semaksimal mungkin kita membeli segala sesuatu yang dihasilkan oleh produsen Jawa Timur. Jika kita akan mendaki gunung dan butuh mie instan misalnya, kita akan membeli Mie Sedaap, bukan Indomie. Kenapa? Karena Mie Sedap adalah produk perusahaan Jawa Timur. Indomie bukan.  Ke mall untuk jalan-jalan misalnya kita akan memilih TP daripada Grand City dengan alasan yang sama. Ruang pertemuan untuk IIBF memilih DBL dari Jawa Pos yang Jawa Timur dari pada Diandra-nya Kompas Gramedia yang bukan Jawa Timur.  Minum kopi saset milih Kapal Api daripada Nescafe yang milik Nestle. Nestle bukan Jawa Timur. Nestle Swiss. Demikian kira-kira terjemahan secara konsumen.

freeport beli indonesia

Tetapi menurut saya terjemahan dalam sudut pandang konsumen kurang menarik bagi komunitas entrepreneur. Lebih menarik adalah dari sudut pandang produsen. Sudut pandang pelaku ekonomi yang memproduksi barang dan jasa. Nah, dalam konteks ini saya melontarkan sebuah pertanyaan kepada kawan aktivis IIBF itu. Katakan di sektor properti. Di Jawa Timur ada perusahaan properti yang cukup disegani secara nasional. Namanya Pakuwon Jati. Yang disebut “Beli Jawa Timur” dalam kaca mata produsen adalah membeli Pakuwon Jati sebagai sebuah perusahaan. Mengingat perusahaan pemilik Tunjungan Plaza dan lain-lain ini sudah melantai di Bursa Efek Indonesia, harganya bisa langsung di cek. Saat ini harga 100% saham perusahaan berkode PWON ini adalah Rp 27,93 triliun.

IMG_20191028_202157_compress47

Beli Jawa Timur secara konsumen artinya memilih Coffee Toffee atau Excelso dari pada Starbucks untuk ngopi. Coffee Toffee dan Excelso perusahana asli Jawa Timur. Starbucks dari USA.  Tetapi bagi para entrepreneur, lebih menarik menerjemahkannya secara produsen. Beli perusahaannya.  Anda siap?

Sampean siap? Sudah punya duitnya? Ini pertanyaan terakhir saya kepada kawan aktivis IIBF ini sebelum akhirnya berpisah karena saya harus segera meninggalkan masjid di kawasan gedung DBL untuk sebuah pertemuan lain.  Jika sudah siap ayo segera dinego untuk dibeli. Semoga kawan-kawan IIBF sudah menyiapkan strategi atau paling tidak road map untuk melakukannya. Masih banyak perusahaan-perusahaan lain dari Jawa Timur yang produknya dikenal dan dipakai luas di masyarakat. Maspion, Sampoerna, Gudang Garam, Mas Murni Indonesia alias Hotel Garden Palace, Jawa Pos, dan masih banyak lagi. Apalagi jika diperluas menjadi “Beli Indonesia” yang berarti adalah perusahaan-perusahaan yang  yang melayani kebutuhan barang dan jasa di negeri ini.  Supaya  “Beli Jawa Timur” dan “Beli Indonesia” tidak menjadi hanya sekedar semangat. Sekedar slogan. Tetapi menjadi sebuah langkah stratejik yang diterjemahkan sampai aspek finansial. Dan itu artinya adalah bahwa perusahaan-perusahaan besutan teman-teman IIBF melakukan korporatisasi, baik di lantai bursa maupun di luar lantai bursa. Beli Jawa Timur, Beli Indonesia, Anda siap?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca ini untuk mempersiapkan diri:
Enam pilar kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi langkah demi langkah
Investment Company

*) Artikel ke-237 ini ditulis oleh Iman Supriyono di SNF House of Management yang berlokasi di Kota Pahlawan pada tanggal 9 Nopember 2019.

4 responses to “Beli Indonesia: Jangan Hanya Slogan

  1. Mencerahkan.
    Serasa pikiran ini di acak acak lagi.

    Suwun cak iman.

  2. Mantap pak Ustadz.. sepakat banget dengan tulisan ini.. Inspiring for me..

  3. Ping-balik: Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat & Bangsa | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s