Sampingan

Bunga Bank 3% & Jokowi: Investment Banking


Presiden Jokowi minta agar suku bunga kredit diturunkan. Inilah head line Bisnis Indonesia 7 Nopember 2019. Bisakah? Bagaimana caranya? Bisa! Tetapi tidak bisa sekedar himbauan atau harapan. Mesti diterjemahkan dalam regulasi teknis. Begini caranya:

  1. Bunga bank (atau margin pada perbankan syariah) adalah hasil dari hukum penawaran-permintaan (supply and demand) dalam pasar uang. Artinya, memenuhi permintaan presiden sebagaimana judul tulisan ini mesti dilakukan dengan perubahan struktur  pasar uang.
    bunga bank turun jokowi-min

    Mustahil terjadi tanpa kehadiran investment banking

  2. Di dunia binis dikenal ada dua jenis bank yaitu bank komersial (commercial banking) dan bank investasi (investment banking). Bank komersial bekerja sebagai perantara utang piutang. Menerima uang dari masyarakat baik perorangan maupun perusahaan yang memiliki kelebihan uang kas dengan transaksi utang piutang. Bentuknya melalui tabungan dan deposito. Uangnya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkannya melalui mekanisme utang piutang juga yaitu berupa kredit modal kerja dan kredit investasi.
  3. Berbeda sekali dengan bank investasi. Bank investasi bekerja sebagai perantara transaksi ekuitas. Menerima uang dari masyarakat baik perorangan maupun institusi melalui skema investasi dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan melalui skema investasi juga.
  4. Dalam bahasa akuntansi, bank komersial bekerja melalui pintu atau skema liabilitas. Bank investasi bekerja melalui skema ekuitas. Kedua skema tersebut dituangkan dalam bentuk perjanjian. Bedanya, perjanjian pada skema liabilitas selalu mengandung batas waktu. Sebaliknya, perjanjian ekuitas dituangkan dalam akta (anggaran dasar) badan hukum PT yang bersifat tanpa batas waktu
  5. Dalam transaksi berbatas waktu para pemilik dana akan cenderung meminta imbal hasil yang tinggi. Penyebabnya, mereka tidak bisa menikmati capital gain. Uang yang disimpan di bank Rp 100 juta misalnya, saat diambil tetap akan bernilai Rp 100 juta. Walaupun bank yang menerimanya berkembang pesat. Walaupun pengusaha atau perusahaan yang meminjamnya berkembang pesat.
  6. Karena tidak ada capital gain, wajar jika kemudian si pemilik dana minta imbal hasil berupa bunga atau margin yang tinggi. Bunga deposito saat ini umumnya berada pada sekitar 6% (per tahun). Permintaan ini diteruskan oleh bank kepada debitur dengan bunga atau margin yang tinggi pula. Saat ini umumnya sekitar 10% atau lebih.
  7. Berbeda sekali pada investasi berskema ekuitas. Karena sifatnya jangka panjang (tanpa batas waktu) maka si pemilik dana bisa berharap adanya capital gain.
  8. Karakter mereka akan seperti orang yang membeli aset properti. Mereka tidak pernah risau dengan pendapatan tahunan. Banyak investor properti membiarkan begitu saja aset yang dibelinya. Tidak memanfaatkannya. Tidak juga menyewakannya. tidak ada pendapatann tahunan seperti bunga atau bagi hasil deposito.
  9. Mereka tahan dalam kondisi seperti itu sampai bertahun-tahun. Bahkan puuhan tahun. Mengapa? Karena ada harapan capital gain. Tanah yang sepuluh tahun lalu misalnya dibeli dengan harga Rp 100 ribu per meter persegi kini bisa naik Rp 1 miliar per meter persegi. Naik 10x lipat dalam waktu sepuluh tahun. Atau bahkan bisa lebih. Ivestasi Rp Rp 1 miliar bisa dijual dengan harga Rp 10 miliar. Selisih sebesar Rp 9 miliar itulah yang disebut capital gain.
  10. Karena melalui pintu ekuitas, maka pedapatan investment banking adalah berupa dividen dan capital gain. Sebagai gambaran, investor Sarbucks misaalnya tahun ini hanya mendapatkan dividen sebesar 1,85% dari dana yang diinvestasikannya. Ini sangat kecil dibanding bunga deposito. Mengapa mereka mau? Karena ada harapan capital gain.
  11. Tahun 1992 harga saaham raja gerai kopi modern ini hanya USD 0,34 per lembar. Saat ini harganya USD 88,67. Naik 261 x lipat dalam waktu 17 tahun. Investasi Rp 1 milar menjadi Rp 261 milar dalam waktu 17 tahun. Plus tiap tahun menerima dividen sekitar 1,85% sebagaimana penjelasan di atas. Jauh lebih besar dari pada peningkatan harga properti manapun. Inilah yang membuat para investor (pemegang saham) mau hanya menerima dividen yang kecil.
  12. Jika Anda pelaku bisnis membutuhkan dana untuk ekspansi, mana yang Anda pilih dari dua alternatif berikut ini? Alternatif pertama adalah meminjam di bank dengan bunga 10% dan jangka waktu lima tahun (tiap tahun mengembalikan pokok sebeaar 20%). Total dibutuhkan untuk membayarnya sebesar 30% dari uang yang Anda pinjam. Atau, alternatif kedua, menerbitkan saham dengan tuntutan para pemodal berupa dividen 1,85% pertahun tanpa harus mengembalikan pokok. Jadi 1,85% itu adalah total kas yang Anda butuhkan untuk membayar dana yang telah Anda terima untuk kebutuhan ekspansi bisnis. Mana yang Anda pilih, 30% atau 1,85%?
  13. Akal sehat tentu memilih alternati kedua. Jika para pebisnis berbondong-bondong memilih altenatif kedua, maka bank tidak akan bisaa menjual dananya dengana bunga 10%. Satu-satunya cara adalah dengan menurunkan suku bunga. Mendekati 1,85%. Bisa 3% atau 4%. Itulah mekanisme pasar. Presiden Jokowi dan semua pelaku bisnis akan senang sekali jika ini terjadi. Perusahaan-perusahaan akan tumbuh pesat. Ekonomi akan
  14. Masalahnya, di Indonesia tidak mengenal invesment banking. Sepanjang kondisi ini tidak diubah, permintaan Presiden untuk menurunkan suku bunga akan mustahil dipenuhi. Hanya harapan kosong.
  15. Agar tidak mustahil, pemerintah harus mengubah regulasi untuk munculnya invesement banking. Seperti di USA misalnya. Bank terbesar USA adalah JP Morgan Chase. Asetnya  USD 2 737 miliar alias IDR 38 246 triliun.  Bukan Citibank yang asaetnya USD 1 958 miliar. . JP Morgan Chase adalah invesment banking. Citibank adalah commercial banking.
  16. Munculnya invesment banking akan mendorong perubahan mindset masyarakat dari utang piutang menjadi investasi. Mereka akan bekerja mengedukasi masyarakat sesuai target perusahaan. Jika mindset investasi sudah kuat, masyarakat yang kelebihan uang akan menginvestasikannya dengan skema ekuitas. Yang membutuhkan uang akan mencari dana melalui skema ekuitas juga. Cost of capital akan rendah. Paraa pengusaha hanya dituntut untuk membayar dividen. Seperti Starbucks yang hanya butuh membayar dividen 1,85%. Bisnispun akan tumbuh pesat. Berekspansi lintas bangsa melalui akuisisi karena tuntutan biaya modalnya yang rendah.
  17. Inilah cara menurunkan bunga bank secara ekstrim. Seperti negara-negara maju. Melalui perubahan regulasi. Tidak hanya hanya melalui himbauan. Otoritasnya ada di Sri Mulyani menteri keuangan kita. Tentu harus bekerja bersama OJK dan BI. Bahkan bisa jadi harus mengubah Undang-udang. Bagaimana Mbak Sri?

*)Artikel ke-242 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 15 Desember 2019 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s