Sendyakala BUMN: Dierencanakan atau Pasrah?


Sampai tahun 80-an atau 90-an, bank-bank BUMN mendominasi. Swasta atau asing tidak berperan. Bagaimana saat ini? Ekonomi tumbuh pesat. Kebutuhan akan jasa perbankan meningkat. Tapi peran BUMN terkikis. Bank swasta dan asing mengambil peran besar. Asing masuk melalui akuisisi. CIMB mengakuisisi Bank Niaga, Maybank mengakuisisi BII, Jtrust mengakuisi bank Mutiara dan sebagainya. Inilah gambaran terkikisnya peran BUMN dalam industri perbankan.

logo pos indonesia water1

Hal serupa terjadi di sektor kurir dan logistik. Sampai tahun 80-an atau 90-an, Pos Indonesia adalah pemain utama. Bahkan pemain satu-satunya. Bagaimana kini? Ekonomi tumbuh. Kebutuhan akan jasa kurir dan logistik juga tumbuh. Tapi pasar diisi oleh Tiki, JNE, DHL, Fedex, J&T dan sebagainya.

Sendyakala BUMN. BUMN berada di ujung senja. Peran BUMN makin terkikis oleh jaman.  Dua industri itu sekedar gambaran. Industri yang lain kurang lebih sama. Memang demikianlah perkembangan dunia. Masyarakat sadar bahwa negara yang menjadi pemain bisnis tidak tepat. Tidak tepat karena negara sebenarnya adalah wasit. Tentu tidak tepat jika pemain merangkap sebagai wasit. Trend modern negara akan sepenuhnya menjadi wasit. Kalau negara juga tampil sebagai pemain, siapa yang akan menjadi penengah dan wasit jika perusahaan negara bersengketa dengan perusahaan swasta?

Toh negara sebenarnya sudah seperti pemegang saham 25% dari semua perusahaan. Negara mengambil 25% dari laba perusahaan manapun melalui pajak. Dan itu harus dibayar tunai. Sementara pemegang saham umumnya tidak mengambil seluruh laba sebagai dividen. Banyak perusahaan yang dividennya tidak sampai 50% dari laba setelah diambil oleh pajak.

Alasan wasit dan pajak inilah yang secara akal sehat mau tidak mau menggerakkan dunia. Indonesia memilih membiarkan trend dunia itu terjadi tanpa rencana. Tanpa road map. Tanpa skenario. Dibiarkan begitu saja. Pasrah pada keadaan.  Akibatnya negara tidak bisa menerima manfaat dari terkikisnya peran bisnis tersebut.

Bisakah direncanakan? Bisa bangeeets. Caranya adalah melakukan korporatisasi terhadap BUMN. Terus-menerus menerbitkan saham baru untuk mendapatkan modal murah alias menguangkan intangible asset. Saham pemerintah akan terdilusi dalam prosentase tetapi meningkat secara nilai dan laba.

Contoh keberhasilan korporatisasi di sektor kurir-logistik adalah yang dilakukan oleh pemerintah Jerman melalui DHL. Perusahaan bernama lengkap Deutche Post DHL ini asalnya adalah seperti PT Pos Indonesia. Sahamnya 100% dipegang oleh pemerintah. Tetapi saat ini pemerintah Jerman tinggal memegang saham 20,5% melalui KfW Bankengruppe. KfW Bankengruppe adalah bank pembangunan yang dimiliki oleh pemerintah Jerman.

Posisi pemerintah terdilusi. DHL menjadi fully public company. Perusahaan tanpa pesaham pengendali. Sepenuhnya dijalankan dengan sistem manajemen. Perusahaan mendapatkan modal besar dari penerbitan saham. uangnya digunakan untuk berekspansi menguasai pasar dunia. Lebih dari 220 negara. Termasuk pasar Indonesia. Dalam laporan terbarunya, 2018 (laporan 2019 belum terbit), DHL membukukan laba EUR 2,075 miliar (IDR 33 triliun). Dengan laba itu, hak pemerintah Jerman adalah IDR 6,7 triliun.

Bagaimana hak pemerintah RI di Pos Indonesia? Laba Pos Indonesia pada tahun yang sama adalah Rp 355 miliar. Karena pemeritah memegang 100% saham maka keseluruhan laba adalah hak pemerintah RI. Tetapi laba ini jauh lebih kecil dari hak pemerintah Jerman dari laba DHL. Hanya 1/19-nya. Kecil sekali.

Apa bedanya? Pemerintah Jerman merencanakan dan mengelola penurunan peran pemerintah melalui proses korporatisasi. Melalui penerbitan saham baru. DHL pun membesar menguasai pasar dunia. Sementara itu pemerintah RI tidak merencanakan. Tidak  mengelola penurunan peran negara. Penurunan peran terjadi bukan melalui penurunan prosentase saham di Pos Indonesia. Tetapi melalui penggerogotan pasar kurir-logistik RI oleh pesaing-pesaing Pos Indonesia.  Baik pesaing dari luar negeri seperti DHL, Fedex, TNT dan sebagainya.  Ataupun pesaing dari dalam negeri seperti Tiki, JNE, J&T dan sebagaiya.

logo tag line korporatisasi animasi awan

Korporatisasi adalah layanan dengan managment tool orisiinil SNF Consulting

Pangsa pasar Pos Indonesia  di bumi pertiwi yang dulu 100% kini kalah jauh. Bisa-bisa yang tersisa dibawah 20,5%. Terkikis  jauh lebih dalam dari pada dilusi yang direncanakan dan dilakukan oleh DHL. Padahal dilusi yang dialami pemerintah Jerman dari DHL pun dikompensasi dengan penguasaan pasar lebih dari 220 negara. Saham 20,5 % dari pasar lebih dari 220 negara. Itulah bedanya terkikis secara terencana dengan terkikis secara liar alias pasrah dengan keadaan.  Anda pilih mana?

*)Artikel ke-251 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 5 Maret 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

5 responses to “Sendyakala BUMN: Dierencanakan atau Pasrah?

  1. Sulitkah PT.POS IND membuka/menembus pasar Internasional? Sebagaimana Bank2 BUMN Nasional untuk membuka kantor di LN nampaknya sulit atau tidak bisa mengikuti persyaratan negara2 yg bersangkutan. Ini yg mestinya didalami terlebih dulu. Untuk proses go publik mestinya tdk sulit tapi prospectusnya harus jelas apalagi BUMN Sekuritas juga sdh ada. Tinggal mau/berani atau tidak?

    • namanya masuk ke pasar negeri orang secara umum pasti lebih sulit dari pada masuk pasar negeri sendiri. tetapi bukan berarti tidak bisa. akusisi adalah cara yang jamak dilakukan untuk maasuk pasar luar negeri

  2. Posindo sulit go public selama parpol pendukung koalisi Presiden terpilih masih terbiasa minta jatah kursi Komisaris. Seperti halnya di BUMN lain. Saya sarankan Bapa buka kantor di Sudirman CBD Jakarta utk mendekati orang2 Senayan. Siapa tahu ide Anda bisa direalisasikan.

  3. Ping-balik: Corona & Dekorporatisasi BUMN oleh Erick Thohir | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s