Korporatisasi Terpaksa: Agung Podomoro


Korporatisi adalah keniscayaan. Keharusan. Dunia bisnis yang monopolistik, adanya fenomena crowding effect, career choice effect dan kebutuhan akan sistem manajemen adalah pemaksanya.  Tidak bisa tidak.  Saya sudah banyak menulis tentang bagaimana melakukan korporatisasi secara suka rela. Secara terencana.  Kali ini adalah contoh bagaimana korporatisasi dilakukan secara terpaksa. Sebuah pelajaran penting lagi dari melambatnya ekonomi terkait corona.

Korporatisasi terpaksa1

Korporatisasi terpaksa itu merugikan dan menyakitkan.

Adalah Agung Podomoro. Perusahaan yang akar sejarahnya berawal dari perumahan di Simprug Jakarta tahun 1973 ini adalah contoh bagus korporatisasi terpaksa. Perusahaan yang di lantai bursa disebut APLN ini memutuskan untuk menerbitkan saham baru (rights issue, HMETD alias hak memesan efek terlebih dahulu) pada RUPS tanggal 5 Nopember 2019. Inilah keputusan korporatisasi terpaksa itu diambil.

perampokan edit

Dipaksa itu tidak menyenangkan. Dipaksa itu merugikan

Paling tidak ada 3 karakteristik korporatisasi terpaksa. Apa saja karakteristik itu? Apa kerugiannya? Siapa yang dirugikan? Bagaimana cara mencegahnya? Saya akan menjelaskannya dengan poin-poin berikut ini.

  1. Dalam RUPS tersebut APLN memutuskan untuk menerbitkan 3.986.821.526 lembar saham ditawarkan seharga Rp 240 per lembar saham sehinggaa total akan mendapatkan Rp 957 miliar sebelum dipotong biaya penerbitan (biaya emisi)
  2. Memperhatikan laporan keuangannya, nilai buku per lembar saham adalah Rp 388. Menerbitkan saham dengan harga dibawah nilai buku adalah karakteristik pertama sebuah korporatisasi terpaksa. Disebut terpaksa karena penerbitan saham tersebut justru akan menurunkan nilai buku. Ini adalah sesuatu yang merugikan existing share holder.
  3. Menurunkan nilai buku artinya terjadi disagio. Dengan kata lain,  perusahaan memiliki intangible asset Bukan saja tidak punya intangible asset, tetapi bahkan bisa disebut intangible liabilities.
  4. Dari dana tersebut, dalam prospektusnya APLN akan menggunakan sebesar Rp 800 milar untuk membayar sebagian utang kepada sindikasi 5 bank yaitu PT Bank BNP Paribas Indonesia, PT Bank DBS Indonesia, Standard Chartered Bank – Cabang Jakarta, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Shinhan Indonesia, dan PT Bank Permata Tbk yang jatuh tempo Juni 2020 ini.
  5. Utang sindikasi bank ini diambil pada tahun 2018 digunakan untuk melunasi utang obligasi tahun 2013 senilai Rp 1,2 triliun. Dengan kata lain, utang sindikasi 5 bank tersebut sudah bersifat “tutup lobang” untuk “lobang” yang telah “digali” sebelumnya berupa obligasi
  6. Dana hasil penerbitan saham baru digunakan untuk membayar utang. Inilah karakteristik kedua sebuah proses korporatisasi terpaksa. Korporatisasi untu membayar utang

    Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

    Korporatisasi: lakukan secara suka rela dan terencana sebelum dipaksa oleh kondisi untuk melakukannya

  7. Pada saat dilaksanakan RUPS dengan keputusan rights issue tersebut, harga saham APLN adalah Rp 235. Penawaran Rp 240 sudah sesuai dengan harga pasar saat itu. Apalagi dalam sejarah harga APLN pernah mencapai Rp 560.
  8. Namun demikian, karena berbagai faktor, termasuk melambatnya bisnis akibat pandemi corona, harga saham APLN mengalami penurunan. Pada saat HMETD diperdagangkan di lantai bursa, 12-18 Maret 2020, harga APLN tinggal berada pada kisaran Rp 107 hingga Rp 83. Padahal harga nominal (par value) saham adalah Rp 100. Harga buku pun Rp 388.
  9. Artinya, penawaran saham baru Rp 240 jadi sangat tidak menarik. Bagaimana orang mau membeli saham Rp 240 sedaangkan di pasar bisa membeli dengan harga tidak sampai separuhnya. Tidak sampai Rp 100. Inilah karakteristik ketiga dari korporatisasi terpaksa. Perusahaan terpaksa menerbitkan saham baru di saat harga pasar sedang jatuh. Kalo tidak terpaksa, mestiny APLN menerbitkan saham baru saat harga dipasar paling tidak berada di atas nilai buku yang Rp 388 tadi.
  10. Seharusnya harga rights issue juga harus jauh lebih tinggi dari harga saat IPO tahun 2010 yang sebesar Rp 365. Dengan harga yang Rp 240 itu, para pemegang saham yang membelinya saat IPO justru mengalami capital lost sebesar 34%. Merugikan sekali.
  11. Dalam prospektus juga disebut bahwa existing shareholder, pemegang saham yang ada, yaitu PT Indofica dan Trihatma Kusuma Haliman memutuskkan membeli seluruh saham yang menjadi hak belinya. Hak beli ini memang sesuai dengan ketentuan dalam HMETD. Dengan informasi ini, Indofica dan Haliman, satu sisi keduanya rugi karena nilai buku perusahaan menurun dengan penerbitan saham baru. Sisi lain, sebagai pembeli saham baru ia juga menikmati membeli saham dengan harga dibawah nilai buku. Impas aja bagi keduanya. Tapi kalau dibanding harga pasar, keduanya rugi luar biasa besar.
  12. Bagaiamana bagi existing share holder lain yang tidak mau membeli saham baru yang menjadi hak belinya? Jika benar benar sama sekali tidak mau membeli, mereka akan rugi karena penurunan nilai buku. Tapi ada cara murah meriah yang justu menguntungkan. Caranya adalah dengan membeli saham yang ada di pasar. Harganya hanya separuh harga saham baru. Bahkan ini jauh lebih murah dari pada harga IPO. Padahal tentu saja nilai bukunya sudah jauh lebih tinggi dari pada saat IPO.
  13. Demikianlah tiga karakteristik korporatisasi terpaksa. Menjual saham dibawah nilai buku, dana hasil pererbitan saham dipakai untuk membayar utang, dan menerbitkan saham baru saat pasar saham sedang terpuruk.
  14. Bagaimana solusinya agar perusahaan tidak melakukan korporatisasi terpaksa? Paling tidak ada tiga cara. Pertama, jangan berhutang melebihi kemampuan cash flow Sejak awal, danai ekspansi dengan ekuitas alias dengan penerbitan saham baru. Bukan dengan utang. Hindari perilaku raja utang.
  15. Kedua, jangan menerbitkan saham di lantai bursa jika ukuran masih kecil. APLN yang nilainya (market cap) saat ini sekitar Rp 2,63 triliun masih terlalu kecil untuk ukuran lantai bursa. Ibaratnya menggunakan perahu rakit untuk berlayar di samudra luas yang ombaknya setinggi 5 meter. Rp 2,63 triliun itu teralu kecil untuk lantai bursa yang kapitalisasi pasarya  sekitar Rp 6 ribu triliun.
  16. Lalu bisakah melakukan korporatisasi tanpa masuk lantai bursa? Bisa bangeeets. Gojek misalnya, menerbitkan saham berkali-kali dengan nilai triliunan dan semuanya dilakukan di luar lantai bursa. Jika berkaca dari Gojek, APLN belum saatnya melantai di bursa efek tahun 2010 itu. Bahkan saat ini pun belum saatnya. Alibaba misalnya juga baru masuk lantai bursa setelah kebutuhannya ratusan triliun dalam sekali penerbitan saham.

    CEO Sparring partner3

    Management sparring partner adalah salah satu layanan stratejik dari SNF Consulting

  17. Ketiga, buatlah road map korporatisasi yang bagus. Road map jangka panjang yang mencakup saaat-saat yang tepat untuk menerbitkan saham baru. Diawali dengan menerbitkan saham di luar lantai bursa alias private placement. Lakukan berkali-kali sampai besar. Jika telah besar baru masuk lantai bursa. Panggil konsultan seperti SNF Consulting yang memang spesialis korporatisasi untuk menyusunnya. Juga untuk menjadi sparring parner dalam eksekusinya. Jangan biarkan perusahaan Anda melakukan korporatisasi terpaksa dan bahkan kemudian terjebak IPO Trap. Biayanya terlalu mahal. Jauh lebih bernilai membayar jasa konsultan manajemen untuk merencakan dan mengeksekusinya dengan baik sejak dini.
    IPO Trap1

Demikian penjelasan saya. Semoga bermanfaat untuk menjadikan perusahaan Anda dan perushaan-perusahaan negeri ini unggul dalam percaturan bisnis era monopolistik dimana batas-batas negara sudah semakin pudar.  Mengibarkan merah putih di berbagai negeri.  Menguatkan rupiah dengan bisnis di berbagai bangsa. Unggul dari generasi ke generasi.  Aamin.

Baca juga: Perusahaan keluarga haruskah melakukan korporatisasi?

*)Artikel ke-257 ini ditulis di Surabaya pada tanggal 7 April 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting dan peneliti sejarah perusahaan. 

9 responses to “Korporatisasi Terpaksa: Agung Podomoro

  1. Ping-balik: Perusahaan Keluarga Haruskah Melakukan Korporatisasi? | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Korporatisasi: Asal Muasal & Peran | Catatan Iman Supriyono

  3. Terima kasih Cak, telah berbagi. Contoh lain perusahaan besar yang belum listing, Aramco.
    Kalau boleh request, tolong tulis tentang bagaimana strategi masyarakat biasa dan perusahaan menghadapi ketidakpastian ekonomi (paling tidak sampai Des 2020).

  4. Kalau memang sudah banyak investornya ya pasti lbh mudah utk korporatisasi. Wong sdh beauty contest dan dimake-up aja, investor masih blm ada atau belum tertarik. Itulah kenapa korporatisasi dimasa non-krisis pun lambat, apalagi saat krisis. Contohlah Kopi Kenangan yang dikorporatisasi investor Jepang melalui venture capital.

  5. Ping-balik: Perusahaan Gocap | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Kampus Sekolah Pesantren, Jangan Berbisnis! | Catatan Iman Supriyono

  7. Gancar Karyono

    Naturnuwun penjelasannya Pak Supriono .. . ..semoga berkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s