Bayi Melawan Raksasa: ROE & ROI


Ketika merintis usaha dengan mendirikan sebuah perusahaan baru, seorang entrepreneur memiliki dua jenis pilihan bidang. Jenis pertama adalah bidang yang sama sekali baru. Contohnya adalah ketika Mark Zuckerberg merintis Facebook, atau saat Serge Brin merintis Google, atau ketika Thomas Edison merintis General Electric, atau saat Boeing merintis pabrik pesawat terbang. Ketika itu belum ada contoh perusahaan sejenis. Tidak ada pesaing. VC seperti Sequoia adalah pengasuh untuk entrepreneur jenis ini.  Jenis kedua adalah meniru bidang yang sudah ada. Contohnya adalah saat ini Anda mendirikan developer perumahan, resto, kafe, pabrik mobil, pabrik tahu, tempe, pabrik sepeda, dan pabrik piring.

gajah semut2

Semut bisa mengalahkan gajah

Saya pernah  menulis tentang logika bisnis dibalik bakar uang perusahaan start up bidang baru. Perusahaan yang lahir dengan model bisnis sama sekali baru. Konsep baru. Bakar uang.  Membuat sesuatu yang baru yang belum pernah ada di muka bumi ini. Silakan klik disini untuk alternatif pertama ini.

Pertanyaannya, bagaimana untuk jenis kedua?  Bisnis yang bukan baru? Yang meniru  perusahaan lain yang sudah ada. Baru lahir sudah berhadapan dengan perusahaan lain yang sudah menjadi raksasa dengan segala kekuatannya? Saya akan menjelaskannya dengan bentuk poin-poin.

  1. Untuk alternatif kedua, sebuah bisnis harus sudah  memperoleh laba sejak awal. Tetap ada toleransi untuk beberapa waktu. Tetapi kerugian tersebut harus bisa ditanggulangi sendiri oleh si pendiri. Bisa dengan uang yang sebelumnya telah disiapkannya. Bisa juga dengan mengencangkan ikat pinggang. Puasa senin kamis jumat sabtu minggu senin selasa rabu hehehehe
  2. Berapa lama harus menanggung kerugian atau puasa? Tidak ada rumusan yang pasti. Variabelnya banyak. Terkadang bisa sangat panjaaang. Oleh karena itu, bisa jadi seorang pendiri (founder) perusahaan jenis kedua ini juga butuh co founder bahkan mungkin tidak hanya satu. Tujuannya adalah untuk menambah kekuatan bertahan saat perusahaan belum mencapai laba.
  3. Bagaimana jika perusahaan belum mencapai laba tapi founder dan co-founder yang ada sudah kehabisan nafas? Bahkan aset-aset yang ada sudah dijual untuk menjaga bisnis tetap bertahan? Sudah utang sana-sini untuk menambal cash flow. Pada kondisi seperti ini, si founder bisa menambah co-founder lagi untuk menambah nafas.
  4. Jika tidak bisa menambah nafas, maka perusahaan akan bangkrut. Apa yang dilakukan hilang begitu saja.  Disinilah founder dan co-founder harus pintar mengelola bauran strategi jangka pendek dan jangka panjangnya dengan baik. Silakan baca disini. Jika tidak, akibatnya bisa fatal. Bahkan tidak jarang perceraian terjadi karena masalah ini.
    ikan kecil ikan besar korporatisasi1
  5. Masa-masa perjuangangan ketika perusahaan rugi pada dasarnya adalah masa penyesuaian variabel-variabel internal perusahaan dengan kondisi pasar. Pada bisnis restoran misalnya variabel itu adalah cita rasa, tata ruang, logo, standar pelayanan, metode promosi, variasi menu, dan sebagainya. Intinya  adalah inovasi. Istilah yang sering kita dengar: ATM. Amati, tiru, modifikasi. Jadi yang dibutuhkan adalah kemampuan inovasi untuk memodifikasi variabel-variabel tersebut sampai diterima oleh konsumen. Cirinya adalah omzetnya cukup besar untuk menutup seluruh biaya. Inilah yang disebut sebagai break event point (BEP). Perusahaan tidak laba tetapi juga tidak rugi. Seluruh biaya sudah terbayar. Termasuk gaji bagi direksi yang biasanya adalah dijabat oleh founder dan co-founder.
  6. Setelah BEP perusahaan masih harus berjuang lebih lanjut agar omzet meningkat lagi untuk mendapatkan laba. Inilah titik penting bagi bisnis jenis kedua. Pada saat ini sebuah perusahaan memiliki ROE positif. ROE adalah rasio antara laba dibanding ekuitas. Ekuitas alias aset bersih adalah selisih antara total aset dikurangi utang perusahaan.
  7. Misalnya sebuah resto memiliki aset berupa persediaan, alat-alat, masa sewa gedung yang telah dibayar, alat-alat, dan sebagainya senilai Rp 1 miliar. Resto tersebut juga punya utang untuk menambal masa-masa ruginya, termasuk utang bahan baku, senilai Rp 400 juta. Dengan demikian ekuitas alias aset bersihnya adalah Rp 600 juta. Jika dalam setahun laba bersih (setelah pajak) resto adalah Rp 200 juta maka ROE nya adalah 200/600 alias 33%.
  8. ROI bagi pendiri adalah 200/600 alias 33% juga. ROE sama dengan ROI karena belum ada intangible asset yang diuangkan.
  9. Bagaimana selanjutnya? Tugas membangun perusahaan belum selesai. Resto yang hanya satu seperti ini tidak akan memiliki sistem manajemen yang kuat. Terdapat gap yang jauh antara direksi (founder dan co-founder) dengan karyawan. Ibaratya kopral dan jenderal. Jika direksi ada yang mundur atau meninggal, karyawan dibawahnya tidak akan bisa melanjutkan. Kopral tidak akan bisa menggantikan  Resto akan rugi dan selanjutnya tutup.

    Syirkah korporatisasi1

    Syirkah mesti dilakukan melalui skema ekuitas

  10. Untuk itu direksi harus bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan. Dalam contoh resto tadi maka direksi harus bekerja keras untuk terus-menerus mendirikan gerai baru dan laba. Tujuannya adalah ada level jabatan yang cukup untuk memiliki sistem manajemen. Silakan baca link ini untuk detail tentang sistem manajemen. Dibutuhkan sekitar 100 gerai milik perusahaan (bukan waralaba. Baca disini, kenapa bukan waralaba) untuk memiliki sistem manajemen seperti itu.
    Sistem manajemen2
  11. Bagaimana caranya? Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah dengan mengumpulkan laba. Utang akan sulit karena tidak ada agunan. Jika setahun laba Rp 200 juta maka dibutuhkan waktu 5 tahun untuk membangun gerai baru. Ini cara yang butuh waktu lama. Kelemahannya, bisa jadi si pendiri meninggal sebelum sistem manajemen terbentuk. Perusahan akan oling dan bisa bangkrut
  12. Kemungkinan kedua adalah dengan menerbitkan saham baru alias korporatisasi. Tentu saja harus di luar lantai bursa karena ukurannya masih kecil. Seperti  yang dilakukan oleh Gojek yang  hingga kini juga masih di luar lantai bursa. Bahkan sampai kebutuhan dana triliun seperti Gojek pun masih terlalu kecil untuk masuk lantai bursa dan selamat dari IPO Trap. Nanti kalau kebutuhan sudah tidak bisa dipenuhi dari luar lantai bursa barulah IPO.
    IPO Trap1
  13. Katakan perusahaan resto tersebut telah berdiri dengan nama PT ABC dengan modal setor Rp 600 juta (senilai ekuitas) yang terdiri dari 600 lembar masing-masing Rp 1 juta. Untuk kesederhanaan hitungan maka diasumsikan laba Rp 200 juta semuanya dibagikan sebagai dividen sehingga ekuitas tetap Rp 600 juta.
  14. Katakan untuk membaangun gerai baru dibutuhkan modal Rp 1 miliar. Maka dibutuhkan investor. Investor yang mau masuk dengan skema ekuitas dengan menyetor uang Rp 1 miliar kepada PT ABC. Banyak yang berpandangan bahwa perusahaan harus menerbitkan 1000 lembar saham dengan dibayar Rp 1 juta per lembar oleh investor. Total perusahaan menerbitkan 1600 lembar. Jika seperti ini maka pendiri langsung terdilusi besar dan tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali. Pendiri memegang 600/1600 alias 37,5%. Investor memegang 1000/1600 alias 62,5%. Hak laba pendiri juga turun semula 100% dari Rp 200 juta yaitu Rp 200 juta. Turun menjadi 37,5% dari Rp 400 juta (jika gerai kedua menghasilkan laba Rp 200 juta, sama dengan gerai pertama) alias Rp 150 juta.
    SNF Quote kapitalis2
  15. Perusahaan akan mengalami masalah karena si pendiri yang memiliki keahlian tidak lagi menjadi pemegang saham kendali. Sementara si investor yang tidak memiliki pengalaman dan keahlian justru mengendalikan. Perusahaan akan bubar.
  16. Bagaimana yang benar? Harga per lembar saham bagi investor yang akan masuk dengan skema ekuitas tidak boleh Rp 1 juta. Katakan investor setuju untuk membayar Rp 5 juta per lembar saham PT ABC. Maka perusahaan akan menerbitkan saham baru sejumlah Rp 1 miliar dibagi Rp 5 juta yaitu 200 lembar. Dengan demikian perusahaan menerbitkan total 600+200 yaitu 800 lembar saham. Maka pendiri pegang 600/800 alias 75% saham. Investor pegang 200/800 alias 25% saham. Ini adalah prosentase yang aman. Pendiri yang  memiliki keahlian dan pengalaman tetap memegang kendali perusahaan. Dan kondisi ini harus dipertahankan sampai sistem terbentuk.

    BlacRock ekuitas2

    Jadilah investor berskema ekuitas seperti BlackRock. Investor yang dananya masuk ke perusahaan investee sebagai ekuitas. Sebagai saham.

  17. Katakan gerai kedua telah dioperasikan dan setelah beberapa waktu rugi akhirnya mencapai BEP dan kemudian laba. Labanya adalah seperti gerai pertama yaitu Rp 200 juta per tahun. Besar laba ini sudah harus dijanjikan oleh pendiri ketika menawarkan peluang kepada investor. Perusahaan total mendapatkan laba Rp 400 juta (per tahun). Dengan demikian maka ROE perusahaan adalah (Rp 400 juta/Rp 1,60 miliar) alias 25%. Rp 1,6 miliar diperoleh dari ekuitas sebelum menerbitkan saham ditambah total modal dimasukkan oleh investor yaitu Rp 1 miliar.
  18. Pendiri akan menerima hak laba sebesar 75% dari Rp 400 juta yaitu Rp 300 juta. ROI bagi pendiri adalah Rp 300 juta/Rp 600 juta alias  50%. Inilah keuntungan pemegang saham pendiri. Memang sahamnya terdilusi. Tapi hak labanya meningkat. Baca tulisan saya tentang nikmatnya dilusi.
  19. Investor akan menerima hak laba 25% dari Rp 400 juta yaitu Rp 100 juta. Dengan demikian ROI investor adalah Rp 100 juta/Rp 1 miliar yaitu 10%. Angka inilah yang juga dijanjikan oleh pendiri kepada investor saat penawaran peluang investasi untuk membuka gerai kedua.
  20. Perhatikan kembali angka ROE dan ROI. ROE perusahaan 25%. ROI bagi investor adalah 10%. Perbedaan inilah yang disebut sebagai faktor koreksi ROE-ROI. Faktor koreksi ini dikenal juga sebagai price to book value ratio alias PBV. Makin besar PBV, makin besar pula gap antara ROE dan ROI investor. Baca tentang 4 ukuran perusahaan disini.  Jika ditelusuri, akarnya ada pada intangible asset perusahaan.
  21. Berhentikah di gerai kedua? Tidak. Pendiri harus terus-menerus mendirikan gerai baru sampai terbangun sistem manajemen sebelum yang bersangkutan meninggal atau resign dari posisi direktur atau CEO. Beradu cepat dengan ajal. Sebagaimana di depan, dibutuhkan sekitar 100 gerai milik perusahaan (bukan waralaba) untuk  memiliki sistem manajemen yang kuat
  22. Sebelum sistem manajemen kuat, pendiri tetap harus mempertahankan sahamnya minimal 51% agar perusahaan tetap berjalan baik. Maka, disamping beradu cepat dengan umur dan ajal, pendiri juga harus beradu cepat dengan dilusi. Pengalaman L’oreal bisa menjadi pelajaran. Inilah tantangan sulit yang harus dihadapi pendiri. Utang dengan mengelola gergaji korporatisasi adalah salah satu cara menjaga hal ini. Tantangan korporatisasi. Tapi namanya entrepreneur, semakin tinggi tingkat kesulitan yang dihadapi, semakin tertantanglah dia. Semakin semangatlah dia. Hehehe….saya kan entrepreneur juga. Saya founder SNF Consulting hehehehe

Demikianlah si bayi yang harus melawan raksasa. Bisakah ini terjadi? Sangat bisa. Yang ada di depan mata adalah Alfamart yang berdiri tahun 1999 kini jumlah gerainya kurang lebih sama dengan Indomaret yang berdiri tahun 1988. Ini terjadi karena walaupun  kalah 11 tahun Alfamart terus-menerus menerbitkan saham baru. Terus mendilusi diri. Menguangkan intangible asset. Alfamart terus memanfaatkan ROE nya agar mendatangkan duit besar dari investor yang mau menerima ROI lebih kecil. Indomaret tidak. Bagaimana, Anda siap melawan raksasa?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Saham pendiri non dilutif, mungkinkah?

*)Artikel ke-259 ini ditulis di Surabaya pada masa WFH Corona tanggal 11 April 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

9 responses to “Bayi Melawan Raksasa: ROE & ROI

  1. Ping-balik: Saham Pendiri Non Dilutif, Mungkinkah? | Catatan Iman Supriyono

  2. gaya aja lu…

    sotoy

  3. Ping-balik: Investment Company: Apa & Bagaimana Memulainya? | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Diakuisisi atau Mengakuisisi: Satu Demi Satu Jatuh ke Tangan Asing | Catatan Iman Supriyono

  5. penting sekali

  6. Ping-balik: Menguangkan Intangible Asset: Sari Roti | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Samudera Indonesia: Pejuang Dulu Pejuang Kini | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Korporatisasi Di Luar Lantai Bursa | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s