Pizza Hut Era Pandemi: Singkirkan Gengsi!


Tidak terbantahkan, resto dan kafe adalah salah satu industri yang terdampak parah pandemi Covid-19. Separah apakah? Mari kita lihat beberapa resto di tanah air satu demi satu. Tentunya resto yang telah tercatat di lantai bursa. Yang lain datanya tidak tersedia untuk publik.

KFC alias PT Fast Food Indonesia Tbk semester pertama 2020 ini membukukan omzet Rp 2,51 triliun. Omzet tersebut mengalami penurunan 26% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Beban pokok penjualan adalah Rp 1,03 triliun, juga turun 19% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Beban penjualan dan distribusi Rp 1,40 triliun turun 16% dari dari sebelumnya Rp 1,66 triliun. Dengan beban umum administrasi yang relatif konstan, Rp 289 miliar pada periode ini dan Rp 188 miliar pada periode sebelumnya, KFC akhirnya membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp 142 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 158 miliar (ROE 9,5%). Secara Cash Flow operasional, franchisee dari Yum! Brands ini masih membukukan nilai positif Rp 35 miliar walaupun menurun dari periode sebelumnya Rp 192 miliar

Starbucks alias PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. semester ini membukukan penjualan Rp 960 miliar. Menurun 33% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,43 triliun.  HPP Rp 294 miliar alias turun 28% dari tahun lalu Rp 406 miliar. Biaya penjualan dan distribusi Rp 667 miliar, turun 18% dari sebelumnya Rp 815 miliar.  Biaya umum dan administrasi juga dipangkas tinggal Rp 124 miliar dari sebelumnya Rp 136 miliar. Hasil akhirnya, Starbucks mengalami kerugian tahun berjalan sebesar Rp 115 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 58 miliar alias ROE 4,7%. Secara cashflow operasional masih positif Rp 127 miliar walaupun menurun 32% dari tahun sebelumnya Rp 188 miliar.

CFC alias PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. membukukan omzet Rp 202 miliar alias menurun 44% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 360 miliar. HPP juga mengalami penurunan menjadi Rp 88 miliar alias   37%   dari sebelumnya Rp 139 miliar. Beban penjualan Rp 127 miliar menurun 21% dari Rp 160 miliar.  Beban umum administrasi Rp 36 miliar menurun dari Rp 42 miliar. Hasilnya, perusahaan lokal ini rugi Rp 44 miliar. Tahun sebelumnya laba Rp 14 miliar alias ROE 7,3%. Arus kas operasional minus Rp 14 miliar. Tahun sebelumnya positif Rp 52 miliar. Minus arus kas operasional ditutup dengan uang utang bank jangka panjang.

Ketiganya mengalami rugi. Bahkan arus kas operasional sudah minus untuk kasus CFC. Apakah semua perusahaan resto dan kafe senasib? Mari kita lihat Pizza Hut alias PT Sarimelati Kencana Tbk. Omzet franchisee Yum! Brands ini adalah Rp 1,83 triliun alias menurun 6% dari periode sebelumnya 194 triliun. Beban pokok penjualan Rp 635 miliar naik 1% dari Rp 631 miliar. Beban penjualan Rp 1,06 triliun alias naik 4% dari sebelumnya Rp 1,10 triliun. Biaya umum dan administrasi Rp 101 miliar alias naik 9% dari tahun sebelumnya Rp 93 miliar. Hasilnya laba tahun berjalan Rp 10 miliar (ROE 6,8%) menurun 90% dari sebelumnya Rp 100 miliar (ROE 52%). Arus kas operasional minus tipis Rp 478 juta. Periode sebelumnya positif Rp 74 miliar.

&&&

Banyak yang diskusi di media sosial tentang kebijakan Pizza Hut yang buka lapak di pinggir-pinggir jalan menawarkan pizza murah meriah Rp 25 ribu. Nada sumbang pun tidak bisa dihindari. Dikatakan bahwa gerai waralaba merek asal USA ini telah menurunkan gengsinya. Semula kelas atas menjadi kelas pedagang kaki lima pinggir jalan.

Singkirkan gengsi!

Apakah kebijakan melapak di pinggir jalan itu tidak mengganggu branding sebagai intangible asset? Tentu ini belum bisa dinilai sekarang. Tetapi secara jangka pendek, paling tidak Pizza mampu  mengerem laju penurunan omzet hanya 6% dibanding KFC, Starbucks dan CFC yang masing-masing turun 26%, 33% dan 44%. Tentu ini prestasi yang patut diapresiasi walaupun secara cash flow masih minus tipis. KFC dan Starbucks positif Pizza Hut negatif walau negatifnya tidak signifikan. Minus kas operasional Pizza Hut belum separah CFC yang sampai harus menembaknya dengan utang bank jangka panjang. Pelajaran pentingnya, buang jauh-jauh gengsi di era pandemi ini! Ini masa krisis. Kehidupan lebih didahulukan daripada gengsi. Menjaga eksistensi adalah yang utama. Agar nanti ketika pandemi berakhir bisa langsung lari kencang. Bagaimana pendapat Anda?

Baca Juga:
Halu UKM Lebih Tahan Krisis
Pizza Hut Terancam Pailit?
Garuda Indonesia Era Pandemi

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-288 ini ditulis pada tanggal 14 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

One response to “Pizza Hut Era Pandemi: Singkirkan Gengsi!

  1. Ping-balik: Garuda, Air Asia & SQ Era Pandemi: Siapa Paling Parah? | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s