Akibat Buta Sejarah: Bangsa Pembantu


Sedang ramai dibicarakan rencana penghapusan mata pelajaran sejarah.  MGMP Sejarah langsung memprotesnya. Apa pentingnya sejarah? Apa akibat buta sejarah?

Sejarah adalah studi tentang masa lalu. Selama ini obyeknya bisa dikatakan selalu institusi negara. Bahkan studi tentang masa lalu seseorang atau individu diberi sebutan sendiri. Biografi.

Obyek sejarah yang hanya berupa institusi negara itu tidak terpisahkan dari peran sentral negara dalam kehidupan masa lalu. Tetapi peran itu terus berkurang dari waktu ke waktu. Dahulu penanda sejarah adalah hasil karya negara. Piramida di Mesir atau Borobudur di Indonesia misalnya. Tapi kini komputer, internet, media sosial, mobil dan penanda-penanda sejarah lain merupakan hasil karya korporasi.

Nah, bicara sejarah adalah bicara penanda sejarah. Bicara penanda sejarah modern mestinya adalah bicara korporasi. Tapi malang sekali, sejarah korporasi sebagai kreator penanda sejarah tidak diajarkan di sekolah. Bahkan pelajaran sejarah keseluruhan pun ada wacana untuk dihapus. Haruskah kita buta sejarah? Haruskah kita tetap buta sejarah korporasi?

Selama ini kita sudah buta sejarah korporasi. Akibatnya sangat fatal. Paling tidak ada lima akibat buta sejarah korporasi. Pertama, karena sejarah korporasi tidak diajarkan di sekolah-sekolah, kita jadi tidak sadar bahwa penanda sejarah era modern yang sekarang kita nikmati adalah hasil kaya korporasi. Tidak sadar bawa  korporasi memiliki peran luar biasa besar dalam kehidupan kita. Tulisan ini tidak bisa Anda baca tanpa peran korporasi.

Akibat kedua, di negeri kita tidak terbentuk korporasi besar yang mampu membuat penanda sejarah. Mobil, gadged, laptop, android, googlemap, pesawat terbang, alat berat, bahkan produk lifestyle seperti McDonald, KFC, Starbucks dan sebagainya diproduksi oleh orang lain. Kita hanya menjadi bangsa konsumen. Tidak tahu bahwa bangsa produsen itu terbentuk melalui korporasi. Tidak faham bagaimana membentuk korporasi besar sampai pada stage ke 8 pada corporate life cycle.

Ketiga, sulitnya terjadi merger dan akuisisi. Padahal kalau mempelajari sejarahnya, korporasi besar seperti Unilever atau Danone misalnya adalah hasil dari proses merger dan akuisisi panjang berbagai perusahaan.

Merger dan akuisisi sulit dilakukan di negeri ini karena ketidakmampuan membedakan antara aset korporasi dengan aset pemegang saham. Apa yang terjadi pada saat debat kandidat presiden tahun 2019 lalu bisa menjadi gambaran. Saat itu Capres Jokowi menyatakan bahwa Capres Prabowo memiliki lahan seluas  220 ribu hektar di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah. Pernyataan ini terjadi tentu karena Capres Jokowi tidak membedakan antara aset Capres Prabowo sebagai pemegang saham dengan aset perusahan yang sahamnya dipegang oleh Capres Prabowo. Sebuah pernyataan yang tidak sesuai  dengan undang-Undang PT.

Dalam debat itu capres Prabowo menanggapi bahwa memang benar ia memiliki aset ini tetapi sewaktu waktu akan mengembalikan lahan ini kepada negara jika negara membutuhkan. Jawaban ini juga menunjukkan bahwa Capres Prabowo juga tidak membedakan antara aset dirinya sebagai pribadi dan aset perusahaan yang sahamnya dipegang sebagai badan hukum PT. Sebuah tanggapan yang juga tidak sesuai dengan Undang Undang PT

Jika Capres Prabowo mengikuti Undang Undang PT, tanggapannya kurang lebih akan begini “Pak Jokowi sekarang kan masih Presiden. Silahkan Bapak cek kepada kepala BPN atau kepada Dirjen Pajak karena tanah yang Bapak Maksud sudah bersertifikat BPN dan semua sudah dilaporkan dalam SPT. Dan saya jamin, pernyataan Bapak itu salah total. Saya sama sekali tidak memiliki tanah itu”

Setelah debat itu, Wapres JK menanggapi bahwa memang benar Prabowo memiliki lahan itu. Tetapi proses kepemilikannya dilakukan secara legal formal dan sah. Proses kepemilikan itu berada dalam koordinasi nya dalam pemerintahan. Tanggapan Wapres JK ini juga setali tiga uang. Tidak sesuai dengan Undang-Undang PT. Tidak mampu bisa membedakan antara aset korporasi dengan aset para pemegang sahamnya.

Merger dan akuisisi akan  mudah jika masyarakat bisa membedakan aset korporasi dengan aset pemegang sahamnya. Merger dan akuisisi sama sekali tidak mengurangi aset pemegang saham yang berupa lembaran saham dengan nilai pasarnya. Yang terjadi justru ada efisiensi dan nilai tambah dari hasil merger dan akuisisi sehingga nilai dan hak laba atau ROI bagi si pemegang saham justru meningkat.

Merger dan akuisisi adalah cara konsolidasi kekuatan ekonomi nasional. Jika belajar dan menghayati sejarah Unilever misalnya, Infofood, Indofood CPB, Mayora, Ultrajaya, Grup Orang Tua, dan Wings misalnya akan merger menjadi sebuah perusahaan FMCG besar dan berekspansi ke berbagai negara. Seperti Unilever. Jika mempelajari sejarah Citibank misalnya, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BCA, dan semua bank akan merger menjadi satu bank nasional yang asetnya sekitar Rp 8 ribu triliun. Dan sebagainya.

Keempat, tidak muncul masyarakt berbudauya investasi alias investing society. Adanya justru masyarakat berbudaya utang. Jika punya iddle money diutangkan melalui deposito dan tabungan perbankan. Jika butuh uang untuk ekspansi usaha utang. Akibatnya bunga bank pun selangit.

Dalam investing society, investment company lebih berkembang dari pada bank komersial. Seperti di USA   yang aset investment company terbesarnya yaitu BlackRock adalah senilai USD 7,4 triliun alias sekitar Rp 110 ribu triliun. Jauh lebih besar dari aset Citibank misalnya yang hanya sekitar Rp 12 ribu triliun. Bandingkan dengan investment company terkemuka di negeri ini yaitu Saratoga yang sekitar Rp 24 triliun. Jauh lebih kecil dari aset Bank Mandiri misalnya yang lebih dari Rp 1300 triliun. Investing society adalah darah bagi munculnya korporasi penanda sejarah.

Kelima, tercerabutnya riset dari korporasi sebagai akarnya. Ketika mempelajari Thomas Edison misalnya, anak anak kita tidak pernah tahu bahwa temuan bola lampu listrik itu adalah bagian dari riset General Electric. Posisi Edison adalah founder dan CEO General Electric, perusahaan yang juga memiliki pabrik di Indonesia.

Mestinya, anak anak belajar tentang sejarah General Electric. Belajar tentang bagaimana Thomas Edison mendirikannya. Belajar tentang bagaimana Generals Electric membangun lab dan kapasitas riset beserta sumber pembiayaannya. Anak-anak SMA yang sudah ada mata pelajaran akuntansi mempelajari sejarah General Electric sampai pada bab laporan keuangan perusahaan teknologi terkemuka hingga saat ini itu.


Dengan belajar sejarah korporasi, kita akan mendidik anak-anak bagaimana menjadikan warung pecel sebagai korporasi resto besar sekelas McDonald’s. Kita akan mengirim anak bangsa ke berbagai negara bukan sebagai pembantu rumah tangga. Tetapi sebagai manajer puluhan ribu gerai pecel di berbagai negara.

Saat waktunya wisata, anak anak dibimbing oleh para guru mengunjungi pabrik General Electric di Surabaya sebagai sebuah situs sejarah lintas abad yang masih berproduksi. Jadilah anak anak-akan belajar membangun korporasi besar seperti General Electric.

&&&

Itulah lima akibat buta sejarah korporasi. Sangat merugikan. Membuat kita lemah di ekonomi. Menjadi bangsa konsumen. Menjadi bangsa penonton. Menjadi bangsa pembantu rumah tangga di berbagai negara. Maka, pelajaran sejarah sangat dibutuhkan.  Mutlak. Tetapi tidak  boleh hanya membahas sejarah negara. Paling tidak separuhnya harus membahas sejarah korporasi. Agar terlahir banyak korporasi penanda sejarah yang menguasai pasar berbagai negara. Semoga. Aamin. Alllahuakbar! Merdeka!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Mengapa riset kita mandul?
Agar kita merdeka secara ekonomi

*)Artikel ke-291 ini ditulis pada tanggal 24 September 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

2 responses to “Akibat Buta Sejarah: Bangsa Pembantu

  1. Terimakasih kepada Mas Iman dengan tulisan ini.Benar adanya generasi muda kita jaman now menganggap tidak perlu belajar sejarah ,belakang ada wacana penghapusan pelajaran Sejarah untuk beberapa strata pendidikan.
    Berharap Mas Iman trus menulis untuk memberikan pencerahan wawasan buat yg masih peduli.Salam Hormat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s