Istriku Editorku


Ummi, kehilanganmu adalah juga kehilangan seorang editor. Bukan sembarang editor. Ummi adalah editor luar dalam bagi abi. Kukura tidak akan ada lagi editor seperti dirimu itu. Air mataku kembali menetes deras. Air mata keridhoan untukmu duhai ibu anak-anakku.

Dulu awal kita menikah belum musim komputer. Kau punya mesin ketik manual yang kau beli untuk kepentingan mengerjakan tugas-tugas praktikummu. Jauh sebelum kita menikah. Aku punya mesin ketik yang aku beli dari hadiah lomba menulis artikel di Surabaaya Pos. Juga sebelum kita menikah. Praktis di rumah kita ada dua mesi ketik. Dan, ketika itu kita sepakat, ngapain harus ada dua mesin ketik. Maka tidak pikir panjang salah satu mesin ketik kita itu jual. Aku masih ingat yang dijual adalah mesin ketikmu. Mesin ketikku dipilih karena ketika itu kondisinya lebih baik.

Istriku editorku

Jaman itu kau dan aku menulis dengan mesin ketik manual. Maka tidak ada kebutuhan editor disitu. Yang ada alah type ex berupa cairan atau kertas untuk mengoreksi jika terjadi salah ketik. Dan sebagai penulis aku melakukannya sendiri. Aku sudah produktif menulis yang memang sudah menjadi hobiku sejak SMA. Tentu sudah akrab dengan type ex itu sejak SMA juga. Tapi belum terpikir kebutuhan seorang editor.

Kebutuhan editor baru muncul ketika kita pertama kali beli komputer sekitar tahun 1996. Masih ingat ketika itu sebagai pasangan suami istri yang sama-sama mahasiwa kita harus memastikan bahwa aku dan kau lulus dua duanya. Itu komitmen kita saat menikah. Itu juga janji kita kepada orang tuaku dan oranag tuamu. Bahwa pernikahan tidak akan menggagalkan kuliah kita. Dan alhamdulillah kita sukses membuktikannya.

Untuk memastikan hal itu kita datang berdua ke senior dan dosen kita, Pak Daniel Rosyid bersama istri beliau ketka itu. Kini sang istri itu juga sudah almarhumah. Allahumarhamhunna. Kita konsultasi bagaimana pengalaman beliau menyelesaikan studi bahkan sampai doktor sambil mengasuh anak-anak. Dan saran beliau luar biasa. Mujarab. Salah satunya adalah hal teknis. Bahwa kita harus beli komputer lengkap dengan printer. Agar tiap hari bisa menabung tulisan untuk kelulusan itu setiap hari. Jika sehari menulis satu halaman, maka 3 bulan skripsipun kelar.  Bulan keempat tinggal melakukan perbaikan ini dan itu. Simple sekali.

Dan atas saran itu maka kita beli komputer  untuk pertama kalinya. Komputer rakitan bekas. Kepentingan pokoknya adaLah untuk mengerjakan tugas akhir alias skripsiku  yang memang sudah waktunya diselesaikan. Tentu termasuk untuk melanjutkan hobi menulisku yang sudah kulakukan sejak SMA. Selanjutnya juga skripsi dan tugas akhirmu. Dan alhamdulillah saran pak Daniel Rosyid itu mujarab. Tugas akhirku selesai tidak lama setelah membeli komputer dan printer bekas itu. Tugas akhirmu menyusul tiga tahun kemudian karena kau harus banyak cuti untuk kelahiran anak-anak kita.

Nah, sejak ada komputer itu, begitu aku menulis sesuatu, engkaupun sigap. Membantu mengedit tulisanku manakala aku harus pergi mencari nafkah. Atau kadang aku harus beristirahat untuk menyimpan energi kuliah, aktif di masjid kampus kita, merintis bisnis untjk mencari nafkah, dan tentu mengasuh junior-junior kita. Itu semua kau lakukan disela-sela aktivitasmu yang juga tidak kalah padat.

Jika dihitung dari pembelian komputer itu, kau telah menjadi editorku sejak usia tiga tahun pernikahan kita. Hingga sakitmu dan kau tidak mungkin lagi mengedit tulisanku setahun lalu, berarti kau telah menjadi editor setiaku selama 23 tahun. Subhanallah. Belasan buku dan ribuan artiekel telah terlahir senjang waktu itu.

Mengedit 23 tahun plus kebersamaan dalam suka dan duka sepanjang itu, tentu membuat isi otakku sebagai seorang penulis semua tertumpah ke otakkmu. Jangan heran jika kau adalah editor yang sangat mengerti aku. Luar dalam. Sesekali aku bertanya kepadamu tentang artikel yang telah aku posting tanpa memintamu mengeditnya. Aku tanya kau baca tidak tulisan itu. Dan kau suka menjawab. Ndak usah membacapun aku sudah tau isinya. Begitu jawabmu. Bagaimana tidak tahu, kau adalah istriku sekaligus editorku yang membersamaiku 24 jam tanpa batas.

Maka jangan heran ketika aku pernah mencoba meminta seseorang mengedit tulisanku. Dia kerjakan dengan sangat serius. Tidak main-main. Tapi begitu aku baca lagi hasil editan dia, aku tidak bisa menerimanya. Jauh sekali dengan editanmu. Maka, akupun kembali ke kau. Ke dirimu. Istriku editorku. Dan itu hanya terhenti karena saat sakitmu tidak memungkinkanmu lagi untuk menjadi editor.

Umi, aku menulis berbagai konsep manajemen yang kemudian dipakai berbagai kalangan bisnis atau investor. Aku meiatkannya sebagai amal jariyah melalui ilmu yang bermanfaaat. Sejarah berbagai perusahaan,  gergaji korporatisasi, kurva korporatisasi, financial spiritual quotient, crowding effect, corporate life cycle, sistem manajemen, tripod  manajemen. Itu adalah beberapa contoh konsep yang kini dipakai berbagai perusahaan. Baik klien SNF Consulting maupun perusahaan manapun yang membaca tulisan yang memang aku share secara gratis kemana-mana itu. Dan….kau berkontribusi tak tergantikan disitu.

Ada yang tertulis secara formal posisimu sebagai editor dan itu bisa di-googling. Ada lebih banyak lagi yang tidak tertulis secara formal. Dan demi merasakan pengorbananmu bagiku dan bagi keluarga kita salama ini, aku yakin seyakin-yakinya. Saat ini kau sedang menikmatinya sebagai amal jariyah dari itu semua. Tentu saja disamping amal jariyahmu sendiri sebagai guru Al-Qur’an yang istiqomah selama lebih dari 20 tahun.

Ummi, rumah kita yang juga merupakan studio kepenulisanku adalah saksi bisunya. Di rumah itu buku adalah harta yag paling menonjol. Maka aku suka menamakan rumah itu sebagai SNF Consulting house of management. Melengkapi keberadaan kantor yang di jalan Pemuda itu. Logo SNF hijau segar merah merekah masih terpasang indah di terasnya. Rumah itu menjadi saksi peranmu sebagai editor yang tidak kenal waktu menjaga gawang tulisanku sebelum dibaca orang lain. Dua puluh empat jam. Meja kerja di kamar pribadi kita itu adalah bagian terpenting dari saksi bisu itu.

Ummi, kini kau tidak disisiku lagi. Tidak menjadi editorku lagi. Tapi aku telah berkomitmen untuk terus bekerja keras agar konsep-konsep manajemen itu terus dipakai di dunia korporasi. Melalui SNF Consulting, aku bersama seluruh tim bekerja keras untuk memastikannya. Walaupun profesi resmimu adalah guru Al Qur’an, tapi kau tahu betul konsep itu. Kau tau betul bahwa konsep-konsep itu adalah solusi terhadap eknomi bangsa dan umat ini. Agar kita menjadi bangsa dan umat produsen. Tidak seperti selama ini yang hanya bisa menjadi konsumen. Dan…di dalam peran itu semua ada namamu. Ada amal jariyahmu. Istriku editorku. Allahumarhamha. Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-307 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 19 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesembilan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

10 responses to “Istriku Editorku

  1. Ping-balik: Musim Durian Tahun Lalu | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Ummi di Mata Jo | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Karir Tak Terkenal Insinyur Bergengsi | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik Berbagai Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Pernikahan, Pertengkaran & Sepiring Berdua Kita | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Kau, Aku dan Masjid | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Caramu Memandirikan Anak-Anak Kita | Catatan Iman Supriyono

  9. Ping-balik: Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu | Catatan Iman Supriyono

  10. Ping-balik: Kau, Aku dan Adikku | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s