Musim Durian Tahun Lalu


Ummi,  kemarin sore aku menikmati durian di Lampung. Buah yang kita suka menikmatinya rame-rame bersama anak-anak. Kembali aku ingat keindahan bersamamu. Maka, di Cengkareng ini hatiku tergerak menuliskan obituari kesepuluh untukmu ini. Obituari tentang durian sebagai salah satu cara kita menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan keluarga. Kebahagianmu. Kebahagiaanku. Kebahagiaan anak-anak kita.

Musim durian tahun lalu, kita menikmati puncaknya dalam festifal tumpeng raksasa durian di Wonosalam. Pemicunya adalah seorang sahabat yang memposting di media sosial tentang event itu. Pendiri perusahaan perkekebunan durian itu mengumumkan adanya acara camping bersamaan dengan perhelatan besar itu. Kau langsung antusias saat kuajak ikut.

Dan, sore itu, selepas kau mengajar TPQ, kita berangkat berempat. Kau, aku,  Jo dan Disa. Enam buah hati yang lain sudah pada meninggalkan rumah karena menikah,  kuliah, maupun di pesantren. Sore itu kita berempat menikmati perjalanan menuju wonosalam dalam cuaca yang hujan deras nyaris sepanjang perjalanan. Jarak pandang terbatas.  Seperti biasanya kau selalu mengingatkan agar aku berhati-hati mengemudi dalam cuaca seperti itu. Kita menikmati kebersamaan perjalanan dengan kehati-hatian. Tetapi bersamamu, lambatnya laju kendaraan yang diakibatkannya pun sudah merupakan kegembiraan. Kita menikmatinya.

Tiba di lokasi, sahabatku bos kebun durian itu  langsung menyambut kita dengan setumpuk buah harum semerbak itu. Kita makan sepuasnya dalam keceriaan. Duriannya melimpah. Pembatasnya hanya perut kita. Paduan antara durian dan kebersamaan. Kebersamaan kita dengan anak-anak. Kebersamaan dengan sahabatku itu.

Kita puas-puaskan menikmatinya sebelum akhirnya tiba waktu adzan isya. Kita sholat jamak magrib dan isya di mushola kebun durian itu juga. Mushola di tengah kebun durian adalah sebuah kenikmatan tersediri. Berbalut keceriaan mondar mandir Jo dan Disa keluar masuk tenda. Bercengkerama menikmati suasana pegunungan.

Keesokan harinya kita bersama menikmati pesta akbar durian itu. Banyak pejabat datang untuk puncak acaranya. Kita gelar tikar sekedarnya di lokasi acara. Duduk-duduk menikmati keceriaan Jo dan Disa diterpa hangatnya sinar mentari pagi pegunungan nan menyehatkan. Diselingi keceriaan mereka naik komedi putar. Diselingi keceriaan kita menikmati aneka menu di para pedagang di sekitar lokasi acara.

&&&

Ummi, kita sekeluarga suka durian. Suka kebersamaan dalam menikmatinya.  Tapi kita penasaran bagaimana bisa memilih dan memastikan durian yang benar-benar enak. Yang dagingnya tebal. Yang teksturnya lembut. Yang rasanya legit. Yang ada sedikit  pahit-pahitnya. Yang aromanya menggoda. Tidak sekali dua kali kita salah pilih. Atau bahkan tertipu. Maka, musim durian tahun lalu kita berdua bertekat untuk belajar. Serius menguasai keahlian memilih durian.

Kita pelajari konspnya melalui berbagai sumber internet. Lalu kita prakekkan. Membeli durian yang belum masak. Kita bawa pulang. Lalu kita amati perkembanganya dari hari ke hari. Begitu matang kita belah bareng-bareng dengan penuh penasaran. Benarkah pilihan kita itu? Dan tiu terus-menerus kita lakukan sepanjang musim durian tahun lalu. Di rumah selalu ada durian menunggu masak.

Musim durian tahun lalu tepat berkahir ketika kita yakin telah menguasai keahlian itu. Keahlian memilih durian. Akurasinya telah kita buktikan dengan percobaan sederhana itu. Kita tidak bisa lagi ditipu-tipu tentang durian. Dan…kita akan menyambut musim durian tahun-tahun berikutnya dengan lebih suka cita. Terbayang sudah kenikmatannya. Terbayang sudah kebahagiaannya. Terbayag sudah manfaatnya untuk kekokohan keluarga kita.

Tapi takdir berkata lain.  Mejelang musim durian tahun ini kau dipanggil-Nya. Ummi, kini musim durian telah tiba. Tapi abi tidak bisa lagi menikmatinya denganmu. Menikmati lezatnya buah asli nusantara ini ini bersamamu. Menikmati hasil pembelajaran kita bersamamu. Menikmati keindahan bersamamu.

Tetapi itulah takdir-Nya. Aku masih terus berproses  untuk bisa sepenuhnya menerima. Memang tidak mudah. Air mata ini masih terus berlinang mengingatmu. Tetapi delapan anak-anakmu sangat membantu prosesnya. Alhamdulillah. Aku masih bisa menikati durian bersama mereka. Memang segala sesuatunya  tidak akan lagi seperti musim durian tahuh lalu. Ketika kau  masih bersamaku. Mempelajarinya bersamamu. Dan menikmatinya bersamamu.

Ummi, yang menguatkanku adalah keyakinan bahwa membahagiakan anak-anak adalah tugas mulia bagi setiap orang tua. Itulah keyakinan kita. Menjadikan keluarga sebagai tempat yang paling indah bagi mereka. Keceriaan durian di keluarga hanyalah salah satu dari cara sederhana kita mewujudkan keluarga idaman bagi anak-anak kita. Salah satu dari banyak cara.

&&&

Ummi, banyak orang yang suka durian tetapi tidak mampu memilihnya sendiri saat membelinya. Dan di situ ketrampilan yang kupelajari bersamamu mendapatkan tempatnya. Beberapa waktu lalu aku rapat dengan klien SNF Consulting di Wonosalam. Bagasi mobil penuh buah durian.  Sebagian untuk aku nikmati bersama anak-anak. Sebagian untuk diantar ke tetangga. Dan betapa bahagianya hati ini manakala mereka sangat mengapresiasi durian pilihanku. Durian yang dipilih dengan ilmu hasil belajar kita berdua.

Ummi, dalam hidupmu kau biasa melakukan banyak hal untuk membahagiakan orang lain. Bahkan bukan hanya kebahagiaan dunia semata. Dan kini, ketika kau telah tiada, ilmu sederhana pemilihan durianmu insyaallah akan tetap bisa membahagiakan orang lain. Walaupun kecil, aku yakin itu adalah tambahan pahala untukmu. Membahagiakan anak-anak kita. Membahagiakan tetangga kita. Membahagiakan sahabat-sahabat kita.  Melengkapi amal jariyah besarmu mengajarkan Al Qur’an selama lebih dari 20 tahun hidupmu. Allahumarhamha. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-308 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan pulang di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 21 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesepuluh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

10 responses to “Musim Durian Tahun Lalu

  1. Ping-balik: Ummi di Mata Jo | Catatan Iman Supriyono

  2. Ping-balik: Karir Tak Terkenal Insinyur Bergengsi | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik Berbagai Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Pernikahan, Pertengkaran & Sepiring Berdua Kita | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Kau, Aku dan Masjid | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Caramu Memandirikan Anak-Anak Kita | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu | Catatan Iman Supriyono

  9. Ping-balik: Kau, Aku dan Adikku | Catatan Iman Supriyono

  10. Ping-balik: Istriku Editorku | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s