Category Archives: Stratejik

Thomas Edison-GE: Mengapa Riset Kita Mandul?


Mengapa riset di perguruan tinggi kita mandul? Mengapa hanya menghasilkan dokumen  di rak-rak perpustakaan atau link internet yang hanya dibaca secara terpaksa oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi? Mengapa hasil risetnya tidak bisa dinikmati masyarakat luas? Mengapa anggaran penelitian kita kecil? Ini adalah daftar pertanyaan menarik seputar riset dan hasil-hasilnya. Saya akan menjawabnya dalam bentuk poin-poin

IMG_20190807_105603

Sejarah penemuan bola lampu listrik oleh Thomas Edison tidak bisa dilepaskan dari sejarah General Electric dan JP Morgan Chase sebagai perusahaan

  1. Paling tidak ada lima penjelasan untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Penjelasan pertama, riset itu membutuhkan sumber daya antara lain berupa keahlian, waktu, fasilitas (laboratorium, sumber pustaka, dll), dan sebagainya. Semuanya mengandung angka finansial
  2. Segala sesuatu yang membutuhkan sumber daya finansial tidak akan bisa berjalan secara berkelanjutan kecuali kecuali bisa terjadi putaran. Uang kembali menjadi uang yang terus Gambaran sederhana, sebuah warung makanan di kampung akan bisa hidup berkelanjutan jika sumber daya berupa tenaga pemiliknya, uang yang dipakai untuk membeli kompor dan segala fasilitas warung, maupun bahan baku bisa kembali dari penjualan makanan. Kembali  dengan nilai lebih besar. Output lebih besar dari pada input. Sebagian dari hasil yang lebih besar itu kemudian kembali dibelikan sumber daya bahan dan tenaga untuk menghasilkan makanan yang siap dijual lagi dan menghasilkan lagi
  3. Selisih antara output dengan seluruh sumber daya input inilah yang menarik bagi pemilik warung yang menjadikan yang bersangkutan akan senang untuk terus menerus menjalankan warungnya sampai kapan pun
  4. Sebaliknya, jika selisihnya justru negatif, input lebih besar dari output, maka si pemilik mungkin masih bisa bertahan beberapa waktu. Tetapi jika selisih minus itu terjadi lama maka yang bersangkutan juga tidak akan kuat dan menutup warungnya
  5. Demikian juga riset. Riset yang membutuhkan sumber daya bernilai finansial tetapi tidak bisa mendatangkan hasil secara finansial lama-lama tidak akan dilakukan lagi oleh perisetnya. Tentu saja ada perbedaan rentang waktu antara warung makanan dengan riset. Bila jarak antara input dengan output warung hanya hitungan jam atau hari. Untuk riset jaraknya bisa panjang bertahun-tahun bahkan lintas dekade atau lintas abad. Tetapi pendek atau panjang semuanya bisa dihitung secara matematika finansial
  6. Penjelasan kedua, edukasi riset kita hanya memandang periset sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Kisah tentang Thomas Edison misalnya disekolah-sekolah hanya diajarkan Edison sebagai seorang peneliti secara pribadi. Tidak dijelaskan tentang konteks yang sangat penting yaitu bahwa riset Edison tidak bisaa dipisahkan dari perusahaan besar bernama General Electric. Perusahaan yang dikenal dengan singkatan GE itu didirikan pada tahun 1892 oleh Edison saat usianya 45 tahun. GE tumbuh dan eksis hingga kini dan beroperasi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Mestinya anak-anak sekolah diajak berkunjung ke pabrik General Electric saat ada pelajaran tentang Thomas Edison
  7. Penjelasan tentang Thomas Edison selama ini juga dilepaskan dari JP Morgan Chase. Perusahaan keuangan yang berdiri tahun 1799 dan dalam sejarahnya pernah membiayai perusahaan yang didirikan oleh Thomas Edison. JP Morgan Chase kini adalah perusahaan terbesar ke-2 di dunia berdasar laba, omzet, aset dan nilai seluruh saham. GE saat ini adalah perusahaan terbesar ke-389 dunia. Mestinya, mempelajari sejarah Thomas Edison juga satu paket dengan mempelajari sejarah  GE dan JP Morgan Chase.
  8. Dengan demikian para pelajar dan mahasiswa akan faham bahwa riset itu tidak bisa dipisahkan dari dunia bisnis dan proses korporatisasi. Perusahaan terkorporatisasi lah yang menjadikan hasil riset Edison bisa dinikmati masyarakat luas melalui proses marketing. Disamping membiayai, JP Morgan juga jadi endorser marketing. JP Morgan  adalah perusahaan pertama yang kantornya sepenuhnya menggunakan penerangan lampu pijar karya Edison di New York pada tahun 1882. Thomas Edison sendiri yang melakukan penyalaan pertama lampu tersebut.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  9. Penjelasan ketiga, bahwa riset itu adalah investasi jangka panjang dan demikian tidak bisa dilakukan kecuali dengan cost of capital yang rendah. Ini juga yang tidak dipahami oleh para pelajar kita. Saat saya mengikuti mata kuliah Ekonomi Teknik di jurusan teknik mesin ITS misalnya, analisis cash flow selalu didasarkan pada cost of capital berupa bunga bank yang rate-nya tinggi (sekitar 12%) plus kewajiban mengembalikan pokok dalam jangka pendek (maksimum 5-10 tahun alias pengembalian pokok sebesar 10-20% per tahun). Tidak ada riset yang memenuhi kelayakan dengan cost of capital 22-32% per tahun seperti ini.
  10. Itulah mengapa yang mampu melakukan riset adalah perusahaan-perusahaan terkorporatisasi. Hanya cara ini yang memungkinkan perusahaan melakukan riset dengan syarat kelayakan cost of capital sekitar 1-3% per tahun. Angka itu adalah dividen yang dituntut investor perusahaan-perusahaan terkorporatisaasi.
  11. Sebagai gambaran, L’oreal adalah salah satu contoh perusahaan yang sangat produktif dalam riset. Pada tahun 2017 perusahaan kosmetik terbesar dunia ini mendaftarkan 498 hak paten alias rata-rata 2 paten setiap hari kerja. Prestasi riset ini sudah merupakan tradisi tahunan L’oreal.
  12. Ini bisa dilakukan karena cost of capital (secara cash flow) bagi L’oreal adalah 1,55% per tahun. Artinya, sebuah riset akan disebut layak jika hasilnya kemudian bisa dijual di pasar berbagai negara dan mendatangkan hasil lebih dari 1,55% per tahun. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di negeri ini yang mindsetnya raja utang sehingga harus membayar cost of capital secara cash flow sebesar 22-32% per tahun seperti penjelasan di atas. Tidak juga bisa dilakukan oleh negara secara leluasa karena sumber dana negara juga utang. Setali tiga uang dengan perusahaan-perusahaannya.
  13. Keeempat, riset hanya dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan prinsipal alias pemilik merek. Astra International misalnya walaupun merupakan perusahaan besar dan terkemuka di negeri ini, tidak akan bisa melakukan riset seperti L’oreal. Astra bukan perusahaan prinsipal. Selama ini yang dilakukan adalah menjual produk dengan merek milik perusahaan lain atau menjual komoditas. Risetnya sudah dilakukan perusahaan yang produknya dijualkan oleh Astra seperti Toyota, Honda, Komatsu dll.
  14. Perusahaan yang bukan prinsipal juga tidak akan menarik bagi investor. Investor Astra International misalnya saat ini menuntut ROI sebesar 10% per tahun. Angka ini diperoleh dari kebalikan dari angka price earning ratio (PER) Astra yang sebesar 10,14. Artinya, dana hasil penerbitan saham baru Astra hanya bisa digunakan untuk berinvestasi jika mampu menghasilkan imbal hasil di atas 10%. Bandingkan dengan investor L’oreal yang hanya menuntut ROI 3% karena PER nya 32,62. Itulah mengapa Astra tidak bisa melakukan riset seperti L’oreal. Kondisi ini adalah akibat dari pilihan kebijakan stratejik Astra yang terjebak pada fenomena perusahaan “banci”. Terombang ambing antara investing company dan operating company. Berbeda dengan L’oreal yang full operating company.
  15. Kelima adalah konsekuensi logis dari penjelasan sebelumnya. Tidak adanya kebutuhan dan kemampuan riset perusahaan-perusahaan di negeri ini berakibat tidak digunakannya potensi riset di kampus-kampus. Perusahaan yang kebutuhan risetnya tinggi akan menggandeng periset kampus untu menghasilkan temuan-temuan baru sesuai dengan bidang bisnisnya. Dana riset mengalir ke Hasil riset terjual oleh kemampuan perusahaan. Ada simbiosis mutualisme antar kampus dan perusahaan terkorporatisasi. Sekitar 30% pendapatan Harvard University misalnya berasal dari riset. Tentu konsumennya adalah perusahaan-perusahaan di USA seperti GE di atas. Ini yang tidak terjadi di Indonesia

Itulah penjelasan mengapa riset kita tidak bergairah dan mandul. Bagaimana solusinya? Ya tinggal membalik 5 penjelasan bersifat negatif itu menjadi positif. Anda sudah tidak ragu kan? Nah…sekarang saatnya mengeksekusi sebagai bentuk mental ilmiah. Bukan  mental jahiliah.  Agar kita tidak jadi bangsa tuna riset. SNF Consulting siap membantu.

**)Artikel ke-215 imansu.com ini ditulis di kabin kereta Bima Surabaya-Malang pada tanggal 7 Agusus 2019 oleh Iman Supriyono, konsultan dan direktur SNF Consulting, konsultan korporatisasi untuk perusahaan Anda.

Asing, Aseng, Penguasaan Ekonomi dan Analogi Sepak Bola


Tarian 10 jemari saya di atas keybord laptop kali ini dipicu oleh komentar seorang kawan terhadap posting saya di Facebook tentang tetangga kantor SNF Consulting. Setelah kemarin saya poting tentang Regus, pagi ini Vivo. Komentar yang saya maksud adalah terhadap perusahaan asal RRC ini.  Saya posting logo Vivo dengan caption bahwa karena berkantor persis di depan kantor SNF Cosulting, maka jangan heran akan banyak orang bercakap menggunakan bahasa Mandarin di lorong depan kantor hingga lift menuju lobi gedung. Mereka adalah staf kantor pusat Vivo. Kawan ini berkomentar “Semoga yang menyaksikan mereka hilir-mudik itu tidak ada yang mbatin “Bangsa kita dikuasai aseng””.  Maka saya menuliskan isu menarik ini dalam poin-poin berikut ini

Hasil gambar untuk salah football player

Salah: persaingan era modern itu seperti permainan sepak bola. Foto: http://www.edition.cnn.com

  1. Bahwa sudah sejak sekitar 150 tahun lalu perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia menyadari bahwa masuk dan melayani pasar berbagai negara adalah keharusan untuk memenuhi skala ekonomi. Meningkatkan volume produksi sehingga barang dan jasa bisa dijual kepada masyarakat luas seluruh dunia dengan harga yang terjangkau. Unilever misalnya, agar biaya riset untuk menghasilkan produk baru bisa dibebankan pada setiap unit produk dengan harga murah maka dalam setahun dua tahun setelah diluncurkan, produk tersebut harus terjual ke pasar lebih dari 20  Itulah mengapa hanya perusahan sekelas Unilever yang mampu membiayai riset secara berkelanjutan untuk menghasilkan temuan baru di bidang bisnisnya
  2. Untuk memenuhi kebutuhan eskpansi ke berbagai negara tersebut, perusahaan membutuhkan modal dalam jumlah besar dengan biaya modal (cost of capital) murah. Ini tidak bisa dipenuhi kecuali perusahaan melakukan korporatisasi secara terus-menerus. Itulah mengapa penguasa pasar dunia dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan fully public company yang tidak ada pemengang saham pengendali hasil dari proses korporatisasi secara terus-menerus
  3. Kini adalah era dimana komunikasi melalui internet, transportasi dan akomodasi antar negara menjadi sangat murah sehingga bepergian ke luar negeri makin terjangkau oleh makin banyak orang. Akibatnya, dunia cenderung seragam. Merek yang dikenal di sebuah negara dengan mudah juga akan dikenal di negara-negara lain di seluruh dunia. Batas-batas negara bagi anak-anak milenial hanyalah sekedar masalah paspor. Saya merasakan betul melalui anak-anak saya yang sejak SMA sudah belajar dan tinggal di negara-negara lain.
  4. Dalam kondisi makin pudarnya batas-batas antar negara, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan dari luar negeri. Analoginya jadi seperti pertandingan sepak bola. Dalam permainan bola, pemenenangnya bukanlah kesebelasan yang gawangnya sama sekali tidak dibobol lawan. Pemenangnya adalah kesebelasan yang membobol gawang lawan lebih banyak dari pada gawangnya dibobol lawan. Kesebelasan yang menghabiskan energi agar gawangya tidak dibobol lawan justru tidak mungkin menang karena kehilangan daya untuk menyerang
  5. Di dunia bisnis, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan asing. Pemenang adalah negara yang produk dan perusahaannya masuk ke pasar asing lebih banyak dari pada perusahaan atau produk asing masuk ke negerinya. Ini adalah hukum bisnis baru era milenial yang tidak bisa dihindari
  6. Maka, kita tidak akan memang jika menghabiskan energi untuk menahan masuknya produk atau perusahaan asing karena akan kehilangan daya serang. Sadarlah bahwa masuknya produk atau perusahaan asing sudah terjadi sejak pra kemerdekaan dan tidak mungkin dihindari. Sepatu Bata misalnya sudah masuk ke tanah air jauh sebelum kemerdekaan sedemikian rupa hingga merek dari Republik Cheko ini sering dianggap sebagai merek lokal
  7. Sekedar ilustrasi tambahan, kita sering mendengar protes mengapa bank-bank kita tidak bisa masuk pasar Malaysia dan Singapura sementara bank mereka masuk ke pasar RI sampai ke kota-kota kecil. Ini adalah kesalahan kita sendiri. Selama ini kita berpikir bahwa masuk ke pasar Malaysia atau Singapura adalah dengan membuka kantor cabang Bank Mandiri atau bank lokal lain di negeri jiran tersebut. Ini adalah pemikiran salah dalam bisnis. Masuk ke pasar luar negeri adalah melalui akuisisi perusahaan setempat. Maybank menyiapkan diri secara internal melalui korporatisasi sehingga mampu mengakuisisi bank BII yang kemudian diubah menajadi Maybank. Bank OCBC Singapura masuk melalui akuisisi bank NISP yang kemudian diubah menjadi bank OCBC NISP. Mereka masuk ke pasar RI melalui strategi logis akuisisi. Sementara Bank Mandiri dkk. tidak bisa melakukannya karena cost of capital tinggi akibat proses korporatisaasinya berhenti
  8. Tentang masuknya perusahaan perusahaan RRC ke RI itu adalah konsekuensi logis dari kekuatan ekonomi dunia. Dulu ketika negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua dunia adalah Jepang, maka negeri Matahari Terbit inilah yang paling rajin masuk ke pasar RI setelah si nomor satu USA. Kini karena RRC sudah menggeser Jepang dan menjadi kekuatan ekonomi nomor dua maka wajar jika perusahaan-perusahaan RRC menyusul USA menguasai pasar negeri ini. Mereka masuk dengan mengandalkan cost of capital yang murah untuk mendukung strategi harga produk murahnya. Sebuah alternatif untuk strategi akuisisi. Inilah juga yang dilakukan oleh Vivo yang berkantor di depan kantor SNF Consulting
  9. Jika masuknya perusahaan-perusahaan USA dibarengi dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Inggris, wajar jika masuknya Vivo juga diikuti dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Mandarin
  10. Maka, fokuslah pada penguatan perusahaan-perusahaan RI untuk bisa masuk ke pasar dunia dengan cost of capial rendah yang hanya mungkin dilakukan melalui korpooratisasi. Pelajari, pahami dan lakukan korporatisasi secara terus-menerus pada perusahaan-perusahaan RI agar berkemampuan membobol gawang lawan. Beberapa sudah mulai seperti Alfamart yang masuk Filipina atau Ciputra yang masuk Vietnam. Perusahaan-perusahaan lain harus segera menyusul. Ituah peran Anda para pengelola perusahaan
  11. Bagaimana peran individu? Korporatisasi perusahaan membutuhkan dana besar dari para investor. Munculnya dana besar hanya bisa terjadi pada masyarakat berbudaya investasi. Peran individu adalah menjadikan diri sendiri berbudaya investasi. Teknisnya adalah menyisihkan pendapatan bulanan paling tidak 10% untuk berinvestasi menjadi pemegang saham berbagai perusahaan baik perusahaan listed di lantai bursa maupun perusahaan yang belum listed. Anda harus melakukannya sejak gaji pertama. Jika terlanjur, hitunglah seluruh gaji Anda sejak gaji pertama dan segera sisihkan 10% dari seluruh gaji tersebut sebagai investasi dengan memiliki saham berbagai perusahaan. Logikanya mirip qodho dalam puasa. Jika karena sebuah alasan Anda tidak bisa puasa ramadhan, Anda wajib membayarnya di kemudian hari. Wajib puasa qodho. Terapkan logika ini pada investasi dari gaji.
    Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi
  12. Orang yang melakukan investasi suatu saat pendapatan dividennya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat inilah Anda disebut bebas finansial. Jadi, budaya investasi mengandung manfaat bagi kekuatan ekonomi negara sekaligus manfaat bagi keuangan pribadi. Jangan hanya marah dengan menyalahkan asing dan aseng. Bertindaklah secara pribadi dengan menjadi investor. Bertindaklah sebagai pengelola perusahaan dengan melakukan korporatisasi. Jelas son? Hehehe… Ayo segera cetak gool….

Ditulis di SNF Consulting,  21 Maret 2019. SNF Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen untuk korporatisasi perusahaan.