Category Archives: Uncategorized

Wardah, Dahlan Iskan & Konsolidasi Kosmetik Nasional


“Saya tidak bisa membayangkan apakah orang seperti keluarga Wardah sampai hati untuk goreng-goreng saham. Atau akuisisi sini akuisisi sana. Kalau perlu secara curang – yang penting harga saham naik terus. Saya tidak bisa membayangkan apakah Nurhayati tega sengaja menjatuhkan harga saham untuk menipu publik”

Itulah kutipan tulisan Dahlan Iskan dalam tulisan berjudul “Wardah Sasmi”. Pada artikel yang ditulis setelah wawancara dengan Nurhayati itu, diungkap bahwa dengan berbagai alasan Wardah tidak mau masuk lantai bursa. Kutipan diatas menunjukkan dukungan Pak Dahlan, demikian saya biasa memanggil, terhadap keputusan Wardah untuk tidak masuk lantai bursa.

Mengibarkan merah putih

Saatnya  menerjemahkan semangat juang membela merah putih melalui korporasi. Di era korporasi, ekonomi antara negara itu seperti permainan sepak bola. Pemenang adalah bangsa yang lebih banyak memasukkan “gol” produk dan  perusahaannya ke negara lain daripada sebaliknya.

Sebagai pendiri Wardah, Bu Nur, demikian saya biasa memanggilnya, memang jauh sekali dari karakter curang atau goreng-goreng saham. Jadi jika lantai bursa identik dengan goreng-goreng saham dan kecurangan, memang Wardah tidak akan cocok. Pertanyaannya, benarkah goreng-goreng saham dan curang identik dengan masuknya suatu perusahaan di lantai bursa? Apakah akuisisi merupakan sebuah keserakahan? Mari kita lihat secara seksama. Supaya lebih terstruktur, saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin:

  1. Sebuah perusahaan bisa eksis jika menghasilkan produk yang bisa memberikan manfaat alias benefit untuk masyarakat. Masyarakat memang harus membeli produk itu. Tetapi pembeli akan melakukan evaluasi. Pembelian ulang akan terjadi jika customer mendapatkan benefit jauh lebih besar dari uang (cost) yang digunakan untuk membelinya.
  2. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian terjemah sebuah hadits shahih. Dengan tinjauan benefit-cost, perusahaan yang terus tumbuh dalam omset, aset, laba dan ekuitas pada dasarnya adalah tumbuh juga dalam memberikan manfaat bagi umat manusia.
  3. Ada pendiri perusahaan yang berbisnis sekedar mencari uang. Ada yang berbisnis untuk membangun kemanfaatan bagi sesama. Sepanjang berinteraksi dengan Bu Nur dan Pak Subakat, tampak jelas sekali bahwa Wardah bukan tipe yang disebut pertama. Bu Nur berbisnis bukan sekedar untuk mencari uang. Berbisnis adalah ibadah dan memberi manfaat untuk sesama. Sumbanganya ke berbagai kepentingan sosial besar sekali
  4. Kemanfaatan dalam hadits tersebut tidak dibatasi oleh sekat sekat negara, bangsa, etnis, agama, atau sekat apapun. Untuk mencapai itu, tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan konsolidasi kekuatan yang luar biasa. Konsolidasi yang juga telah dilakukan oleh pesaing wardah seperti Unilever atau L’oreal misalnya sepanjang sejarah mereka.
  5. Konsolidasi seperti apa? Di republik ini ada 2 perusahaan kosmetik yang didirikan dan dikelola oleh anak bangsa yaitu Sariayu dan Mustika Ratu. Keduanya kini berada dalam kondisi yang tidak bagus
  6. Mustika Ratu mengalami kerugian terus menerus dari tahun 2016 sampai tahun 2018. Tahun 2019 baru membukukan laba sebesar Rp 132 juta. Tetapi omzetnya sepanjang periode tersebut turun. Penjualan tahun 2016 Rp 344 miliar, turun 20% dibanding tahun sebelumnya yang Rp 428 miliar. Tahun 2019 penjualan Rp 305 miliar alias masih turun 29% dibanding tahun 2015.
  7. Sariayu setali tiga uang. Tahun 2019 membukukan rugi sebesar Rp 114 miliar. Dua tahun sebelumnya juga rugi. Tahun 2016 laba Rp 8 miliar tapi 2015 juga rugi Rp 14 miliar. Omzet tahun 2015 Rp 694 miliar. Tahun 2019 omset masih berada posisi Rp 502 miliar alias turun 28% dibanding posisi tahun 2015.
  8. Banyak penjelasan yang bisa diberikan terhadap menurunnya kinerja Mustika Ratu dan Sariayu. Tetapi poin penjelasan paling penting adalah bahwa keduanya beroperasi dibawah economic of scale. Pendapatannya tidak cukup untuk menopang seluruh biaya perusahaan. Omzet yang menurun dalam 4 tahun terakhir adalah kinerja yang paling harus diperhatikan. Perusahaan makin kehilangan kekuatan dalam persaingan. Dalam kondisi seperti ini, konsolidasi adalah alternatif terbaiknya.
  9. Nah, dalam kondisi seperti itu,  konsolidasi kekuatan sesama anak bangsa adalah solusi. Bersatu kita teguh. Bhineka tunggal ika. Unilever yang kini begitu digdaya adalah hasil dari proses konsolidasi panjang melalui merger dan akuisisi puluhan perusahaan sepanjang sejarah sejak kelahirannya tahun 1929. L’oreal pun idem ditto. Wardah adalah perusahaan yang tepat untuk memimpin konsolidasi kekuatan nasional di bidang kosmetik melalui akuisisi dan merger.
  10. Apakah akuisisi merupakan keserakahan? Bagi banyak orang dipandang demikian. Tetapi pandangan ini terjadi karena ketidakpahaman tentang korporasi. Faktanya sama sekali tidak. Kita bisa mempelajarinya dari sejarah panjang berbagai perusahaan. Termasuk Unilever dan L’oreal. Akuisisi adalah bentuk konsolidasi yang menguntungkan semua pihak yang terlibat. Untuk menggambarkannya mari kita umpamakan Wardah mengakuisisi Sariayu dan Mustika Ratu untuk membentuk sebuah perusahaan kosmetik besar. Perusahaan yang mampu mengibarkan sang merah putih tinggi-tinggi di berbagai negara. Seperti Unilever yang mengibarkan bendera Inggris dan Belanda dimana-mana termasuk di Indonesia. Seperti L’oreal yang mengibarkan bendera Perancis dimana-mana, termasuk di Indonesia.
  11. Mari kita hitung. Harga 100% saham Mustika Ratu hari ini adalah Rp 58 miliar. Dengan laba seperti tersebut diatas maka ROI bagi pemegang saham adalah 6,64%. Artinya, misalkan Anda saat ini membeli saham Mustika Ratu senilai Rp 100 juta, Anda akan mendapatkan hak laba Rp 6,64 juta sesuai dengan laba tahun 2019.
  12. Wardah sampai saat ini belum tercatat di lantai bursa sehingga belum ada data yang tersedia untuk publik. Tapi untuk kepentingan ini kita bisa mengambil asumsi. Asumsi saya ambil berdasarkan selentingan informasi di berbagai media. Misalkan omzet Wardah 2019 adalah Rp 5 triliun dengan laba Rp 100 miliar. sekali lagi ini adalah angka asumsi. Nah, akuisisi yang bermakna konsolidasi artinya Wardah membeli 100% saham Mustika Ratu.
  13. Akuisisi biasanya terjadi pada harga diatas harga pasar. Harga pasar Mustika Ratu hari ini Rp 58 miliar. Misalkan transaksi terjadi pada harga Rp 200 miliar. Nah, uang itulah yang akan diterima oleh semua pemegang saham Mustika Ratu Termasuk pemegang saham pendiri. Karena tujuannya adalah konsolidasi, maka uang itu tidak kemana-kemanakan. Tetapi digunakan untuk membeli saham wardah..
  14. Misalkan, Wardah saat ini terdiri dari 100 000 lembar saham yang masing-masing nilainya di akta adalah Rp 1 juta. Sekali lagi ini angka asumsi. Modal setor total adalah Rp 100 miliar. Semua  dipegang oleh keluarga Bu Nur.
  15. Bu Nur dan keluarga sama sekali tidak perlu menjual saham yang dimilikinya. Yang akan dibeli oleh mantan pemegang saham Mustika Ratu adalah saham yang baru diterbitkan oleh Wardah. Jumlah lembar yang akan diterbitkan adalah sedemikian rupa sehingga hak laba mantan pemegang saham Mustika Ratu tetap sebesar Rp 132 juta. Dengan demikian tidak ada perubahan ROI bagi mereka.
  16. Misalkan laba wardah setelah mengakuisisi akan menjadi Rp 210 miliar. Naik Rp 10 miliar dari hasil efisiensi, sinergi dan pengambangan pasar setelah memiliki merek-merek dari Mustika Ratu. Maka, Wardah harus menerbitkan 63 lembar saham baru untuk dibeli oleh mantan pemegang saham Mustika ratu. Dengan demikian total lembar saham Wardah akan menjadi 100 063 lembar. Keluarga Bu Nur tetap memegang 100 000 lembar. Sama sekali tidak berkurang.  Mantan pemegang saham Mustika Ratu memiliki 63 lembar. Nilai saham tersebut tetap Rp 200 miliar alias Rp 3,174 miliar per lembar saham. Tidak ada perubahan nilai dari uang yang diterima saat menjual saham Mustika Ratu.
  17. Dengan laba Rp 210 miliar seperti disebut diatas, hak mantan pemegang saham Mustika Ratu akan menjadi 63/100063 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 132 juta. Selanjutnya, keluarga bu Nur akan mendapatan hak laba sebesar 100 000/100 063 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 209 868 miliar.
  18. Salah satu keuntungan dari keluarga Bu Nur adalah nilai perusahaan yang meningkat. Dengan harga per lembar saham Rp 3,174 milar di atas, nilai aset 100 000 lembar saham keluarga Bu Nur setelah akuisisi adalah menjadi Rp 317 triliun.
  19. Dengan jumlah lembar saham seperti di atas, hak laba mantan pemegang saham mustika ratu tidak dikurangi. Sama persis dengan yang diterima sebelum diakuisisi. Bahkan setelah akuisisi akan makin berkembang pesat seperti perkembangan Wardah yang lagi naik daun.
  20. Hak laba keluarga Bu Nur mengalami naik Rp 9,668 miliar dibanding sebelum mengakuisisi. Penambahan ini adalah hasil dari sinergi.
  21. Tentu saja angka jumlah lembar saham untuk mantan pemegang saham Mustika Ratu bisa dinegosiasikan. Misalnya saja Wardah bisa menerbitkan 200 lembar saham baru untuk mantan pemegang saham Mustika Ratu. Jika angka ini yang dipakai maka hak laba mantan pemegang saham Mustika Ratu akan menjadi 300/100300 dikalikan Rp 210 miliar alias Rp 628 juta. Tentu merupakan keuntungan luar biasa jika ini terjadi bagi pemegang saham Mustika Ratu. Hak laba keluarga Bu Nurhayati akan menjadi 100 000/100 300 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 209,372 miliar.  Masih naik juga.
  22. Nah, jika demikian, akuisisi Mustika Ratu oleh Wardah jauh dari stigma negatif seperti serakah, goreng-goreng saham, mencaplok dan sejenisnya. Yang terjadi adalah bersatu untuk menghasilkan sinergi yang akan dinikmati bersama baik oleh pemegang saham kedua perusahaan. Juga untuk pemangku kepentingan yang lain seperti pemerintah dan masyarakat indonesia. Pemerintah menikmati karena ada kenaikan setoran pajak dari laba perusahaan pasca akuisisi dibanding dua perusahaan sebelum akuisisi. Juga karena serapan tenaga kerja karena ekspansi setelah akuisisi.  Masyarakat akan bangga karena dengan akuisisi konsolidasi ini berikutnya Wardah akan mudah melakukan hal serupa untuk perusahaan-perusahaan kosmetik di berbagai negara di seluruh dunia. Seperti yang juga selalu dilakukan oleh Unilever dan L’oreal
  23. Akuisisi Sariayu juga kurang lebih seperti terhadap Mustika Ratu itu. Salah satu pekerjaan konsultan manajemen seperti SNF Consulting, kantor dimana sehari hari saya berkarya, memang  membantu akuisisi seperti seperti itu. Bahkan biasanya untuk lebih powerful akuisisi akan ditindaklanjuti dengan merger.
  24. Apakah dengan demikian Wardah harus IPO? Belum. Ukuran Wardah masih kurang besar untuk masuk lantai bursa. Masih rawan terkena IPO Trap. Wardah mesti terus-menerus menerbitkan saham baru baik untuk akuisisi maupun tumbuh secara organik dengan membangun pabrik. Juga untuk meluncurkan merek-merek baru di berbagai kategori. Di dalam maupun luar negeri di berbagai bangsa.
  25. Penerbitan saham mesti dilakukan di luar lantai bursa. Seperti yang terus-menerus juga dilakukan oleh Gojek misalnya. Seperti juga oleh Unilever dan L’oreal pada awal-awal sejarahnya. IPO baru dilakukan setelah ukurannya cukup besar. Paling tidak sudah dekat-dekat Unilever Indonesia yang kini omzetnya Rp 43 triliun. Setelah IPO masih terus-menerus menerbitkan saham untuk terus tumbuh. Penerbitan saham baru berhenti setelah Wardah hadir di lebih dari 150 negara seperti Unilever.
  26. Pembeli saham baru tersebut bisa mantan pemegang saham perusahaan yang diakuisisi. Seperti contoh terhadap Mustika Ratu di atas. Bisa juga masyarakat luas. Termasuk oleh lembaga sosial seperti Muhammadiyah dimana Bu Nur juga aktif didalamnya. Muhammadiyah bisa mengumpulkan dana wakaf  dari anggota yang jumlahnya puluhan juta untuk digunakan membeli saham baru Wardah. Menguatkan pilar ketiga Muhammadiyah.
  27. Dengan demikian tiap tahun Muhammadiyah aka menerima dividen sesuai dengan jumlah lembar saham yang dipegangnya. Dana dividen digunakan untuk biaya kegiatan sosial. Termasuk pendidikan gratis atau murah untuk anak bangsa.  Ini membuat donasi yang selama ini sudah biasa dilakukan oleh Bu Nur atau Wardah menjadi mengikat dan permanen karena berupa dividen atas saham wakaf. Wardah akan benar-benar dekat dengan customer kosmetik halal yang selama ini menjadi positioningnya
  28. Jika itu dilakukan, Wardah akan menjadi seperti L’oreal yang menguasai pasar lebih dari 70 negara. Akan menjadi seperti Unilever yang menguasai pasar lebih dari 150 negara. Akan menjadi fully corporatized company yang sepenuhnya berjalan sesuai sistem manajemen. Pemegang sahamnya kecil-kecil. Tidak ada pemegang saham yang bisa mendiktekan kemauan pribadinya. Semua bekerja sesuai sistem. Direksi akan menjadi benar-benar berfungsi. Jauh dari fenomena pseudo director seperti yang jamak terjadi pada perusahaan keluarga atau BUMN. Saat ini Wardah sedang dalam perjalanan. Berada pada stage ke 5 dari 8 stage corporate life cycle.
  29. Wardah membesar melampaui sekat-sekat negara. Memberi manfaat untuk sesama dari berbagai bangsa. Menguatkan ekonomi umat. Memberi tempat untuk dana wakaf. Mengibarkan sang merah putih tinggi-tinggi di berbagai negara. Membanggakan Indonesia. Melayani dunia. Meneruskan semangat Panglima Sudirman yang juga kader Muhammadiyah. Meneruskan semangat Bung Tomo dengan pekiknya yang terkenal. Allahuakbar! Merdeka!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-278 ini ditulis pada tanggal 11 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Ngawur Tentang Resesi: Tarik Uang di Bank?


Hari ini di media sosial dan grup-grup WA maupun telegram beredar link tulisan tentang resesi. Komentar-komentar yang muncul menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa tentang hal ini. Bahkan beredar pula anjuran tentang penarikan uang di bank. Apa sebenarnya resesi? Bagaimana kita menyikapinya? Saya akan menjelaskannya dalam bentuk poin poin
stress depresi edit

  1. Ada perbedaan pandangan mengenai definisi resesi. Menurut saya, yang paling pas adalah definisi berikut ini: secara angka, suatu wilayah atau negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya minus. Atau definisi yang lebih tegas bahwa yang disebut resesi adalah jika pertumbuhan ekonomi minus berlangsung paling tidak dua triwulan berturut turut.
  2. Alat ukur pertumbuhan ekonomi gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB)
  3. Sederhananya, PDB adalah jumlah total omzet (revenue, penjualan) semua pelaku ekonomi yang berada di wilayah atau negara tersebut, baik pelaku ekonomi perorangan maupun perusahaan, baik pelaku ekonomi lokal maupun pelaku ekonomi dari luar negeri atau luar wilayah yang diukur
  4. Jadi misalnya dalam konteks Indonesia, omzet PT Unilever Indonesia akan menjadi komponen dari PDB Indonesia walaupun perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan dari Unilever di Inggris/Belanda
  5. Jika Anda seorang pegawai, gaji Anda adalah salah satu komponen PDB Indonesia. Demikian juga gaji WNA yang bekerja di Indonesia
  6. Dengan demikian, secara angka, resesi terjadi jika pada suatu wilayah terjadi penurunan PDB dibanding periode sebelumnya.
  7. Dalam periode tahunan, tidak ada perbedaan persepsi mengenai apa yang dimaksud “periode sebelumnya”. Tinggal membandingkan PDB pada tahun tertentu dengan PDB persis tahun sebelumnya. Misal: PDB tahun 2020 dengan tahun 2019.
  8. Untuk periode triwulan, terdapat kemungkinan dua perbandingan. Bisa dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Bisa juga dibandingkan dengan triwulan persis sebelumnya.
  9. Ini gambaran angkanya. Menurut BPS, pada triwulan I tahun 2020 PDB Indonesia adalah Rp2.703,1 triliun (diukur dengan nilai mata uang konstan tahun 2010). Menurut BPS, angka tersebut naik 2,97% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Secara perhitungan matematis, artinya, PDB Indonesia triwulan pertama 2019 adalah Rp 2.625,1 triliun. Angka pertumbuhan yang positif ini artinya adalah pada triwulan pertama tahun 2020 di Indonesia tidak terjadi resesi. Pembandingnya adalah triwulan yang sama tahun sebelumnya
  10. Menurut BPS, jika dibandingkan dengan triwulan persis sebelumnya (triwulan terakhir 2019) PDB Indonesia mengalami penurunan 2,41%. Artinya, omset para pelaku ekonomi di Indonesia pada triwulan pertama tahun 2020 turun 2,41% dibanding triwulan terakhir 2019. Dengan perbandingan ini, pada triwulan pertama tahun 2020 ini di negeri ini telah terjadi resesi.
  11. Pertanyaannya, sebagai pelaku ekonomi, apa yang Anda rasakan pada triwulan pertama tahun 2020 yang baru saja berlalu? Apakah saat itu Anda mengalami masalah yang begitu beratnya? Apakah sebegitu menderita? Apakah Anda stress? Mau bunuh diri? Saya kira secara umum akan mengatakan tidak. Biasa-biasa saja. Dan memang seperti inilah pelaku ekonomi. Omset turun itu hal yang biasa saja. Tinggal bagaimana menyesuaikan pengelolaan arus kas sesuai kondisi
  12. Nah, kembali kepada pertanyaan di pembukaan tulisan ini. Dengan pengertian resesi seperti di atas. Dengan pengalaman resesi pada triwulan pertama 2020. Adakah yang perlu ditakutkan jika triwulan ini terjadi resesi? Jika tahun  ini terjadi resesi? Jawaban yang normal: biasa saja.
  13. Apalagi jika Anda telah membaca tulisan saya tentang analogi nilai rata rata kelas ini. resesi itu hal biasa bagi para “siswa” yaitu pelaku ekonomi. Karena memang resesi bukan ukuran kinerja seorang “siswa”. Tapi ukuran kinerja “wali kelas” yaitu pemerintah.
  14. Maka bagaimana seandainya triwulan ini terjadi resesi? Haruskah kita berbondong bondong mengambil uang di bank? Kalau Anda menjawab “ya”  untuk pertanyaan ini, berarti Anda belum paham penjelasaan di atas  heheheh. Baca lagi dweh.

Demikian penjelasan saya tentang resesi. Jadi bagaimana kalau terjadi resesi? Woles saja kalau Anda adalah “siswa” alias pelaku ekonomi.  Baru harus kebakaran jenggot jika Anda adalah “wali kelas” alias alias pemegang otoritas kebijakan ekonomi  negeri ini. Berarti kinerja anda sebagai “wali kelas” buruk. Anda bisa diberhentikan dari posisi “wali kelas” oleh “kepala sekolah” heheheh.

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-277 ini ditulis pada tanggal 3 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Ajal Saat Rapat


Surabaya di suatu sore. Rapat klien SNF Consulting yang membahas strategi itu segera dimulai begitu shalat ashar kelar.  Semua peserta telah kembali dari masjid yang tinggal jalan kaki menyeberang jalan dari tempat rapat. Segera rapat dibuka kembali oleh pimpinan rapat. Agenda pertama adalah mendengarkan presentasi progress pekerjaan oleh Pak Imam, begitu panggilannya sehari-hari.

Pak Imam berdiri mendekat layar. Dengan mantap dipaparkannya berbagai agenda penting yang menjadi tugasnya. Tentang upaya-upaya pemasaran. Tentang program promosi. Tentang pertumbuhan pendapatan. Di tengah-tengah keasyikan presentasi, tiba-tiba ia memegang dada dan menyampaikan bahwa dirinya tidak kuat. Lalu terjatuh.

Karena posisi duduk yang paling dekat dengan posisinya, segera saya meraihnya. Lalu membopongnya bersama peserta rapat lain. Lalu dengan mobil yang ada membawanya ke rumah sakit terdekat Dan…setelah berbagai upaya pertolongan dilakukan di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ia telah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

&&&

Kematian memang datang sewaktu-waktu. Pasti terjadi pada setiap orang. Tetapi tidak ada satupun yang bisa memastikan kapan akan terjadi. Nah, selepas ashar tiga tahun lalu itu saya mengalami peristiwa kematian yang paling dramatis terjadi pada seorang kawan. Kematian dalam sebuah rapat perusahaan. Persis di depan saya.

Satu sisi, saya dan seluruh peserta rapat benar-benar shock. Tetapi, sisi lain, juga ada perasaan lega. Mengapa? Karena peristiwa itu terjadi setelah yang bersangkutan mengerjakan sholat berjamaah di masjid. Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan si Fulan ini setelah shalat berjamaah kecuali sebuah kebaikan: rapat untuk memajukan perusahaan yang pendiriannya memang diniatkan sebagai sebuah bentuk ibadah. Bukan sekedar mencari uang.

Satu sisi adalah shock. Sisi lain adalah munculnya untaian hikmah. Pertama, bahwa para direksi, karyawan dan segenap personil perusahaan bisa menghadapi kematian saat sedang mengerjakan tugas perusahaan. Maka, rugi sekali jika pendiri, direksi, karyawan dan segenap personil perusahaan tidak meniatkan apa  yang dikerjakan di perusahaan sebagai ibadah. Tidak mendirikan perusahaan dengan niat ibadah. Tidak berangkat bekerja dengan niat ibadah. Membiarkan tarikan nafas saat bekerja bukan untuk ibadah.

Niat ibadah mesti dibenamkan dalam misi dan kemudian dijabarkan dalam corporate culture. Dengan demikian, niat ibadah akan terus-menerus ditanamkan dan diperkuat pada jiwa setiap personil. Merancang jadwal rapat agar setiap karyawan bisa melaksanakan sholat berjamaah secara on time seperti yang terjadi pada almarhum Imam adalah salah satu aplikasi teknis dari corporate culture.

Kedua, niat ibadah mesti diterjemahkan dalam apa yang akan dicapai oleh perusahaan. Secara teknis, visi perusahaan memang harus singkat, padaat, berisi, inspiratif dan menggerakkan. Visi yang bertenaga dan berbobot. Dalam kerangka ini, niat ibadah dituangkan menjadi visi memberi manfaat bagi umat manusia tanpa pandang suku, ras, agama dan bangsa.

Burung mati edit

Ajal datang sewaktu-waktu. Siapkan diri untuk itu….

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Terjemah Hadits ini sangat relevan bagi visi sebuah perusahaan. Memberi manfaat bagi sesama artinya adalah bahwa produk perusahaan bisa dinikmati umat manusia dimanapun berada. Dunia ini terdapat lebih dari 200 negara. Perusahaan mesti memasukkan kemanfaatan produk untuk mereka semua sebagai bagian dari visinya.

Ketiga, bahwa perusahaan mesti bekerja keras untuk memastikan kesejahteraan ahli waris personil yang meninggal tidak terlalu terganggu dengan kepergian si almarhum. Artinya, perusahaan mesti memastikan bahwa setiap personilnya memiliki financial planning yang memasukkan variabel  ajal yang datang sewaktu-waktu. Memang perusahaan memiliki kewajiban pasca kerja kepada karyawan. Tetapi itu tidak cukup. Mesti dibarengi dengan edukasi personal finance yang yang memadai kepada setiap personil pada level manapun.

Meninggal saat rapat memang membuat seluruh peserta rapat shock. Tetapi di dalamnya juga mengandung hikmah besar. Paling tidak tiga hikmah di atas. Anda para pengelola perusahaan, jangan menunggu kejadian seperti yang dialami almarhum Imam terjadi pada perusahaan Anda. Mari berbenah untuk kebaikan semua personil. Ayo!

Baca juga:
Surga: ketika bekerja bisnis dan ibadah menyatu
Perusahaan Dakwah

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-276 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, juga dimuat di Majalah Matan edisi Agustus 2020, terbit di Surabaya.

Menulis 32 Tahun: Majalah Kiprah


SMA 1 Caruban 1988. Papan kayu seukuran papan tulis. Politur coklatnya sudah kusam. Pelindungnya berupa anyaman kawat sudah berkarat. Sangat sederhana. Tetapi saya suka sekali berlama-lama menatapnya. Berdiri serius membaca tulisan yang menempel nyaris memenuhi seluruh permukaannya.

Awal duduk di bangku kelas 2 saya terpilih menjadi ketua 0SIS. Dalam semangat memajukan organisasi intra sekolah itu, pikiran saya tertuju pada papan sederhana itu. Mengapa tidak diubah menjadi majalah cetakan? Demikian ide dasarnya. Irine Cornelia Indhira Nigraha, kawan sekolah “penguasa” majalah dinding itu pun antusias. Segeralah saya bersama kawan-kawan pengurus OSIS, termasuk si “penguasa” majalah dinding itu,  menyusun proposalnya.

Salah satu yang membuat antusias adalah bahwa sekolah idaman anak-anak Caruban itu memiliki mesin stensil. Ketika itu mesin stensil adalah sarana yang menjadi jantung proses pembelajaran di sekolah. Bahan-bahan ujian semua dicetak di mesin yang master cetakannya mesti diketik atau dilukis dengan pena khusus.

Nah, proposal pun jadi. Termasuk didalamnya kebutuhan dana bulanan agar bisa mencetak majalah dengan kertas CD stensilan. Tentu saja termasuk biaya master stensil lengkap dengan tinta korektornya yang warna pink dengan bau khas itu. Setelah dikoreksi dan disetujui Pak Sumardi, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, pengurus OSIS pun langsung maju ke kepala sekolah. Tidak butuh waktu lama, Pak Hadi Soejatno, kepala sekolah ketika itu, menyetujuinya. Tentu saja lengkap dengan anggaran dana bulanan agar majalah itu bisa diterima dan dibaca seluruh siswa. Sebagai pengaju proposal, saya ditunjuk oleh sekolah untuk menjadi pimpinan redaksi. Singkat kata, majalah itu mulai terbit tahun 1889. Sampai akhir masa tugas saya sebagai pemred dan ketua OSIS, majalah itu terbit 5 edisi dalam 5 bulan berturut-turut.

&&&

Lantai 9 Gedung Sinarmas Land, 20 Maret 2018. Pagi itu hati saya berbunga-bunga. Penyebabnya adalah kedatangan 2 redaktur majalah Kiprah. Kedatangannya adalah dalam rangka wawancara untuk majalah yang terbit pertama kali pada tahun 1989 itu. Saya diwawancarai seputar bagaimana asal muasal majalah itu sampai terbit pada tahun pertamanya.

Mesin stensil

Mesin stensil manual: Dengan mesin yang harus diengkol dengan tangan secara manual inilah dulu saya dan kawan-kawan Majalah Kiprah belajar menulis dan mengelola penerbitan beserta aspek finansialnya

Ditanyakan juga tentang manfaat dari aktif menjadi redaktur majalah itu pada 32 tahun lalu. Saya sampaikan bahwa sejak menjadi redaktur dan harus terus menulis agar majalah bisa terbit bulanan, saya tidak berhenti menulis. Selain menulis untuk majalah Kiprah, saat SMA saya tiap hari juga menulis di buku harian. Menulisnya dalam bahasa Inggris. Topiknya apa saja yang penting bisa menulis dan bisa mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris.

Saat kuliah juga rajin menulis. Menulis buku harian tetap berjalan.  Saya pernah menjadi juara menulis artikel opini di Harian Surabaya Pos. Pada lomba yang digelar koran terbesar pada masanya itu, saya menjadi juara pertama. Hadiahnya adalah piala yang sampai hari ini masih disimpan dengan baik oleh bapak ibu saya di rumah. Plus uang Rp 250 ribu. Tentu ketika itu sangat besar karena uang kuliah di ITS saat itu hanya Rp 120 ribu per semester. Tidak sampai separuh dari uang hadiah itu saya belikan mesin ketik. Tentu akhirnya membuat saya semakin rajin menulis di era yang komputer masih menjadi barang mewah dan langka itu.

Kunjungan redaksi majalah kiprah

Kunjungan dan wawancara adik-adik redaksi majalah Kiprah 20 Maret 2018, alias 30 tahun sejak majalah sekolah itu pertama kali terbit.

Sampai  hari ini saya masih menulis tiap  hari. Yang berbeda hanya kontennya. Dulu menulis masalah sosial kemasyarakatan. Lomba di Surabaya Pos itu topiknya tentang perjuangan Palestina. Saya masih menyimpan guntingan korannya.  Kini menulis tentang sejarah dan strategi korporasi. Sudah ada 11 buku terbit dan lebih dari 2000 artikel saya tulis.

Menulis tentang korporasi membuat saya banyak belajar. Menemukan banyak hal. Salah satunya adalah apa yang kemudian saya sebut sebagai korporatisasi. Korporatisasi adalah proses transformasi dari perusahaan perorangan atau keluarga menjadi korporasi modern yang produknya dipakai oleh masyarakat dunia dari berbagai bangsa. Proses inilah yang kemudian menjadi andalan layanan SNF Consulting, consulting firm yang saya dirikan. Korporatisasi dibutuhkan oleh berbagai perusahaan klien SNF Consulting. Wawancara dengan adik-adik redaktur Kiprah pagi itu juga berlangsung di ruang tamu SNF Consulting, tempat yang biasa digunakan untuk menerima tamu para direksi perusahaan yang sedang atau akan melakukan proses korporatisasi. Semua berawal dari majalah Kiprah. Semua berawal dari menulis. Jika dihitung,  berarti saya telah mengantongi 32 tahun “jam terbang” menulis.

&&&

Bersyukur sekali saya menjadi pemred majalah Kiprah. Ngomong besarnya, keahlian menulis itulah yang kini menjadi sarana membangun kemanfaatan untuk masyarakat luas di bidang manajemen korporasi.  Ngomong sederhananya, keahlian itulah yang kini menjadi sarana untuk nafkah istri dan delapan anak-anak saya. Alhamdulilah 4 diantaranya sudah lulus dan sedang proses belajar di kampus luar negeri di negara-negara yang berbeda-beda. Empat lainya sedang persiapan mengikuti jejak kakak-kakaknya.

majalah kiprah 2019

Cover Majalah Kiprah edisi 2019

Bersyukur sekali saya menjadi pemred majalah Kiprah – OSIS bersama Suraji, Lailin, Yuni Puji, Iriene, Kustin, Intan, Suraji, Nanang, Gatot, Hari, Joko, Endah, Triana, Decky, Gesti, Jety, Yanto, Sapta,  dan masih banyak lagi.  Tentu juga bersyukur berkesempatan menempuh pendidikan di sekolah yang tanggal 1 Agustus nanti memperingati ulang tahunnya yang ke-50 itu. Bersyukur karena menjadi murid Pak Mardi, Pak Hadi Soejatno, Bu Lilik, Pak Alex, Bu Lasmini, Pak Tedjo, Pak Joko, Pak Paryanto, Pak Muhadi, Bu Andi, Bu Maria, Bu Warti, Pak Kasijoen, Pak Wasis, Pak Sinarwadi, Pak Sadirin, dan semua bapak ibu guru ketika itu. Semoga adik-adik sampai kapanpun tetap bisa merasakan apa yang saya rasakan. Dirgahayu almamaterku…..

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-275 ini ditulis pada tanggal 28 Juli 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Corporate Life Cycle


Ada perusahaan yang hanya seumur jagung. Ada yang hidup terus eksis lintas abad. Yang seumur jagung dan mati saat ukurannya masih kecil tidak terhitung. Mati saat pendiri belum sempat merekrut karyawan. Atau kalaupun sempat merekrut karyawan jumlahnya relatif sedikit. Yang seperti ini tidak akan masuk radar pemberitaan media. Baik radar media mainstream, media internet, maupun radar para pegiat media sosial.
anak naik tangga edit

Yang seumur jagung tetapi mati saat ukurannya sudah besar biasanya akan masuk radar pemberitaan. Heboh dan viral di media sosial sedunia. Contoh yang seperti ini adalah pailitnya start bike sharing OFO dari Tiongkok. Pak Dahlan Iskan pernah menuliskannya. Saya juga menulis disini.

Yang berumur panjang lintas abad bahkan sanggup melawan disrupsi yang brutal banyak sekali. Misalnya adalah Western Union. Perusahaan asal USA ini lahir sebagai perusahaan operator telegram. Lahir dengan membangun jaringan kabel telegram. Ketika muncul teknologi email dimana layanan telegram menjadi tidak relevan, ia sudah sukses membuat layanan pengiriman uang yang kemudian tetap eksis hingga saat ini. Saya menulis khusus tentang perusahaan berbasis di USA ini disini.

Pertanyaannya, mengapa ada yang berumur jagung? Mengapa ada yang berumur lintas abad? Untuk menjawabnya perlu pemahaman tentang siklus hidup korporasi. Corporate life cycle. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

  1. Ada 8 tahap dalam siklus hidup korporasi. Pertama adalah tahap kelahiran. Seorang atau beberapa orang pendiri sepakat melahirkan sebuah perusahaan baru. Untuk industri tertentu yang diatur secara ketat, pendirian harus dengan badan hukum yang memenuhi persyaratan ketat. Contohnya adalah industri perbankan. Tanpa memenuhi syarat-syarat pendirian, sebuah bank tidak boleh beroperasi. Melanggarnya merupakan tindakan pidana. Bank gelap.
  2. Sebaliknya, bisa juga perusahaan berdiri pada industri yang tidak diatur ketat. Jasa potong rambut alias barbershop Tidak harus berbadan hukum. Kalaupun ada syarat perijinan ringan sekali.
  3. Tahap kedua adalah tahap rugi. Begitu beroperasi, umumnya sebuah perusahaan akan mengalami tahap ini. Bisa jadi sama sekali tidak memiliki pendapatan. Atau bisa juga memiliki pendapatan tetapi tidak cukup untuk menanggung seluruh biayanya. Besar pasak daripada tiang.
  4. Memang akan ada kemungkinan perkecualian untuk tahap ini. Baru beroperasi langsung mengantongi laba. Misalnya ada resto yang baru dibuka langsung ramai. Pengunjung banyak. Omzet besar. Perusahaan pun mengantongi laba. Tetapi tentu saja sifatnya perkecualian. Bukan rumus umum
  5. Pada tahap ini, perusahaan dapat mengalami perbedaan kondisi berdasarkan industrinya. Perusahaan bisa berada pada industri yang sudah mapan atau berada pada industri yang sama sekali baru. Untuk perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, pendiri harus bertahan dengan segala kesulitannya. Tidak bisa mengharapkan investor. Tidak bisa mengharapkan Venture Capitalist (VC) untuk hadir menolongnya. Tidak bisa mengharapkan investment company (IC) untuk menyuntik modal terus menerus
  6. Kemungkinan untuk mendapatkan tambahan kekuatan bertahan masa rugi adalah dengan menggandeng co founder. Orang yang sama-sama berjiwa entrepreneur yang mau mencurahkan sumber dayanya, diri maupun uangnya, seperti layaknya founder
  7. Sebaliknya, jika perusahaan berada pada industri yang sama sekali baru, VC akan tertarik untuk masuk. Menyuntik dana dan melakukan pembinaan manajemen. Selanjutnya VC akan menjadi pemberi referensi terpercaya untuk masuknya IC. Perusahaan bisa terus-menerus menerbitkan saham dan akan ada banyak IC yang masuk walaupun perusahaan masih rugi. Silakan baca tulisan khusus start up di web ini.
  8. Tahap kedua adalah tahap kritis eksistensi perusahaan. Tahap penentu hidup mati. Perusahaan  yang berada pada industri  mapan harus berlomba antara ketahanan para founder-co founder dengan pencapaian tahap ketiga. Perusahaan akan bubar jika daya tahan founder-co founder habis sebelum mencapai tahap ketiga.
  9. Perusahaan yang berada pada industri baru harus berlomba antara kepercayaan investor dengan pencapaian tahap ketiga. Perusahaan akan bubar jika kepercayaan IC habis sebelum mencapai tahap ketiga.
  10. Tahap ketiga adalah break event point. Pada tahap ini, perusahaan sudah memperoleh pendapatan yang sama dengan total biaya yang harus ditanggungnya. Tidak rugi. Tetapi juga tidak laba. Perusahaan sudah bisa hidup sendiri tanpa tambahan dana dari luar
  11. Tahap keempat adalah memperoleh laba. Laba dicapai dengan proses pembelajaran menangkap dan melayani konsumen dengan produk yang sesuai. Banyak sekali variabel yang merupakan atribut produk baik barang maupun jasa. Perusahaan mesti melakukan trial and error. Melakukan iterasi semua variabel menyesuaikan dengan segmen konsumen yang dibidik. Hasilnya adalah pendapatan yang lebih besar dari pada seluruh total biaya perusahaan. Selisihnya inilah yang merupakan laba perusahaan.
  12. Tahap keempat adalah titik persimpangan bagi sebuah perusahaan. Ada pendiri perusahaan yang visinya sekedar mencari kekayaan. Ada pendiri perusahaan yang bervisi besar. Bagi yang mendirikan perusahaan sebagai sarana mencari kekayaan belaka, maka, laba akan dinikmati sesuai dengan visinya. Mobil mewah, rumah mewah, perjalan ke tempat-tempat wisata di berbagai penjuru dunia, menyumbang panti asuhan, mendirikan sekolah, membangun tempat ibadah adalah contoh pemanfaatan laba perusahaan bagi yang menjadikan perusahaan sebagai sarana mencari kekayaan. Apakah ini salah? Tidak juga. Tetapi jika sebuah bangsa pengusaha-pengusahanya bersikap seperti ini, maka ekonomi bangsa itu akan dikuasai perusahaan-perusahaan dari bangsa lain yang pengusahaanya bervisi besar. Jika sebuah umat atau komunitas pengusaha-pengusahanya bervisi seperti itu, ekonomi umat atau komunitas itu akan dikuasai umat atau komunitas lain. Hanya menjadi bangsa, umat atau komunitas konsumen.
  13. Bagi pendiri perusahaan yang bervisi besar, laba tidak dinikmati. Pendiri mencukupkan diri hidup dari gaji. Hidupnya sederhana. Visinya mendirikan perusahaan bukan sekedar mencari uang. Tetapi perusahaan sebagai sarana  untuk membngun kemanfaatan luas bagi umat manusia tanpa pandang suku, agama maupun bangsa. Bagi yang bervisi seperti ini, laba adalah energi dan sumber daya finansial untuk melangkah menuju tahapan kelima
  14. Tahapan kelima adalah menemukan revenue and profit driver alias RPD. Sebagai gambaran misalnya sebuah perusahan yang bergerak di bidang restoran. Gerai pertama yang dirintisnya semula rugi, lalu mencapai BEP, lalu mencapai laba sebagai hasil proses pembelajaran panjang. Kesuksesan mendirikan gerai yang mencapai laba bagi perusahaan yang bervisi besar dipandang secara skeptis sebagai sebuah kebetulan. Bukan merupakan rumus umum keberhasilan. Maka, laba segera dijadikan sumber daya untuk melangkah membangun gerai kedua. Segala variabel yang telah diterapkan dan sukses pada gerai pertama dicobakan pada gerai kedua. Tetapi yang terjadi pada umumnya adalah kegagalan. Apa apa yang telah dilakukan dari gerai pertama tidak serta merta sukses ketika diterapkan pada gerai kedua. Artinya, variabel yang telah ditemukan dan ditentukan value atau besarannya pada gerai pertama hanyalah bersifat kebetulan. Pada gerai kedua semua variabel harus di set ulang. Dilakukan proses trial and error lagi. Dilakukan proses iterasi lagi. Tanda keberhasilannya adalah dicapainya laba pada gerai kedua.
  15. Begitu tercapai laba pada gerai kedua, perusahaan yang bervisi besar akan segera melangkah untuk membangun gerai ketiga. Prosesnya sama dengan gerai kedua. Trial and error lagi. Iterasi tiap variabel lagi. Sampai suatu saat gerai ketiga pun mendapatkan laba. Dan seterusnya sampai ditemukan rumus umum pembukaan gerai. Cirinya adalah tingkat keberhasilan yang tinggi. Lebih dari 90%. Atau tingkat kegagalan yang rendah. Dibawah 10%. Artinya, jika perusahaan membangun 10 gerai baru, 1 gerai gagal dan tutup, 9 gerai sukses.
  16. Sebagai gambaran, jumlah gerai Starbucks global per 30 september 2018 adalah 29 324 gerai. Sepanjang tahun Starbuck mendirikan 2 492 gerai dan menutup 560 gerai. Dengan demikian pada tanggal 30 September 2019 total jumlah gerai adalah 31 256 gerai. Jumlah gerai ditutup sepanjang tahun adalah 22% dari gerai dibuka. Perbandingan ini tidak tepat karena tidak semua gerai yang ditutup adalah gerai baru. Andai saja Starbuck sama sekali tidak menutup gerai, maka jumlah gerai pada 30 september 2019 adalah 31 816 alias tumbuh 8,5%. Tetapi yang ditutup adalah 560 gerai alias 1,9% gerai. Dengan demikian pertumbuhan neto adalah 6,6% gerai. Angka kegagalan 1,9% gerai tutup ini bisa menjadi benchmark bagi kriteria RPD.
  17. Tahap keenam adalah scale up. Dengan selesainya tahap kelima, sebuah perusahaan sudah menemukan pedal gas” nya yaitu berupa RPD. Pada tahap keenam perusahaan tinggal “menginjak dalam-dalam” pedal gasnya. Caranya adalah dengan melakukan korporatisasi yaitu dengan menerbitkan saham secara terus-menerus dimulai dari luar lantai bursa, kemudian IPO di lantai bursa, dan kemudian menerbitkan saham terus menerus (rights issue) di lantai bursa. Menerbitkan saham pada dasarnya perusahaan sedang menguangkan intangible asset yang dimilikinya. Dengan kata lain, perusahaan sedang melakukan korporatisasi.Kelas Scale Up versi silabus
  18. Ciri utama tahap ini adalah perusahaan menggelontorkan kas untuk investasi lebih dari 5x laba. Investasinya bisa dilakukan secara organik yaitu mendirikan sendiri aset RPD nya atau bisa juga secara anorganik dengan melakukan merger atau akuisisi perusahaan lain yang memiliki RPD sama.
  19. Tahap ketujuh adalah terbentuknya sistem manajemen yang matang. Tanda kematangannya adalah adanya struktur organisasi efektif dan efisien dengan jumlah level jabatan cukup sedemikian hingga gap kapasitas antara level jabatan menjadi rendah. Dengan rendahnya gap, jika ada personil yang pensiun, meninggal atau mundur pada level jabatan manapun, termasuk direktur utama (CEO), maka level jabatan di bawahnya siap mengganti tanpa ada gejala apapun. Perusahaan terus eksis dari generasi ke generasi.
  20. Tahap kedelapan adalah perusahaan ter korporatisasi sempurna (fully corporatized). Cirinya ada 2. Ciri pertama adalah perusahaan sudah tidak ada pemegang saham pengendali. Yang dimaksud pemegang saham pengendali adalah pemegang saham yang memiliki lebih dari 50% saham. Dengan demikian, pada perusahaan seperti ini sudah tidak ada lagi pemegang saham yang bisa memutuskan sesuatu secara mutlak tanpa ada yang bisa menghalanginya. Tidak ada lagi pemegang saham yang bisa mengambil keputusan seperti seorang raja yang memiliki otoritas “sabda pandita ratu”. Tidak ada “raja” yang kata-katanya menjadi“undang-undang” bagi perusahaan
  21. Ciri kedua adalah telah menguasai pasar sebagian besar negara-negara di dunia. Perlu diketahui bahwa di dunia ini ada lebih dari 200 negara. Sebuah perusahaan sudah mencapai tahap ini jika sudah menguasai pasar lebih dari 150 negara. Dengan demikian rata-rata kontribusi pasar sebuah negara terhadap omzet perusahaan akan kurang dari 1%. Artinya, perusahaan seperti ini akan aman dari risiko politik di suatu negara. Jika ada gejolak politik di suatu negara dan bisnis di negara itu hancur maka perusahaan akan kehilangan omzet kurang dari 1%. Bahkan perang dunia pun tidak akan berpengaruh besar terhadap perusahaan. Selama ini yang namanya perang dunia sesungguhnya medan perangnya tidak akan lebih dari 20 negara.

Demikianlah delapan tahapan dalam siklus hidup korporasi alias corporate life cycle. Perusahaan Anda sudah sampai pada tahap keberapa?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-274 ini ditulis pada tanggal 21 Juli 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Korporasi


air
turun dari langit
mengalir ke sungai
juga ke lembah
diikuti buih di permukaannya

leburan logam
dari tungku tanur
dituang ke cetakan
juga diikuti buih di permukaanya

air dan leburan logam terpakai
buih terbuang
yang bermanfaat akan bertahan
yang tidak akan terbuang
ditinggalkan

*)Tulisan ke-273 oleh Iman Supriyono.  Pertama kali dipublikasikan tanpa judul sebagai motto di buku “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia”, buku ke-8 karyanya yang terbit tahun 2010.  Puisi ini terinspirasi oleh Al Qur’an 13:17.  “Korporasi” ditambahkan sebagai judul pada posting ini.

Pizza Hut Terancam Bangkrut?


Pizza Hut terancam bangkrut. Begitu judul tulisan di finance.detik.com yang banyak saya jumpai di media sosial. Bersamaan dengan itu di jalan-jalan kota Surabaya saya beberapa kali menjumpai personil Pizza hut menjajakan produk mereka di pinggir jalan menggunakan motor delivery. Rp 100 ribu untuk 4 pizza. Banting  harga di pinggir jalan. Keduanya saling menguatkan kesan bahwa raja pizza global itu sedang bermasalah. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah jaringan resto global itu sedang bermasalah? Mari kita cermati dengan seksama. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin
burung mati

  1. Berikut ini adalah latar belakan sejarah Pizza Hut: Resto Pizza Hut pertama kali dibuka tanggal 31 Mei 1958 di Wichita, Kansas, USA oleh dua bersaudara mahasiswa Wichita State University Dan dan Frank Carney. Bersaudara ini meminjam uang dari ibunya sebesar USD 600. Nama Pizza Hut dipilih karena papan nama yang tersedia hanya cukup untuk 8 huruf. Enam bulan berikutnya gerai kedua didirikan. Dalam setahun keduanya sudah mendirikan 6 restoran Pizza Hut.  Tahun 1960 logo atap merah mulai digunakan.  Tahun 1971 Pizza Hut menjadi restoran pizza terbesar dunia dalam hal jumlah gerai dan penjualan. Pizza Hut diakuisisi oleh PepsiCo tahun 1977. Tahun 1986 merayakan pembukaan gerai ke 5000 di Dallas, Texas, USA. Tahun 1994 menjadi resto pertama di USA yang melayani order melalui internet. Tahun 1997 Pizza Hut bersama Taco Bell dan Kentucky Fried Chicken di spin off oleh PepsiCo. Ketiganya menjadi perusahaan mandiri dengan bendera Tricon Global Restaurant Inc.  Tahun 2002 Tricon Global Restaurant Inc. di-rebranding menjadi Yum! Brands. Nama Yum! Brands tetap dipakai hingga saat ini

    Berkas:FirstPizzaHut.jpg

    Gerai pertama Pizza Hut

  2. Dengan informasi tersebut, kini Pizza Hut adalah anak perusahaan Yum! Brands, selanjutnya disebut YB. Dengan demikian, mengkonfirmasi berita tentang kebangkrutan tersebut tidak bisa tidak kita harus melihatnya dari induknya, YB yang merupakan perusahaan publik
  3. YB kini adalah perusahaan restoran dengan jumlah gerai terbesar di dunia yaitu lebih dari 50 ribu gerai tersebar di lebih dari 150 negara dengan 4 merek globalnya yaitu KFC, Pizza Hut, Taco Bell dan Habit Burger Grill. Habit Burger baru di akuisisi pada tanggal 18 Maret 2020 seharga USD 375 juta
  4. Tanggal 14 Mei 2020 YB mengumumkan pembagian dividen triwulanan sebesar USD 0,47 per lembar saham. Pada tanggal tersebut diumumkan juga bahwa transfer dividen adalah tanggal 12 Juni 2020. Dividen triwulanan tersebut adalah sebesar 0,54% dari harga saham saat ini yang sebesar USD 86,56. Angka dividen tersebut masih tergolong wajar untuk dividen triwulanan perusahaan-perusahaan global
  5. Sebelumnya YB juga mengumumkan kinerja finansial untuk triwulan pertama yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020. Dipublikasikan bahwa omzet mengalami penurunan sebesar 3%. Penurunan tersebut berasal dari penurunan gerai yang sama (same store, gerai yang telah ada sebelum periode laporan) sebesar 7% yang dikompensasikan dengan kenaikan akibat adanya gerai baru sebesar 4%. Lebih detail, KFC mengalami penurunan omzet 2%, Pizza Hut turun 9%, Taco Bell naik 4%. Dalam hal jumlah gerai, YB mendirikan 65 unit bersih (setelah dikurangi gerai yang ditutup) plus mengakuisisi 276 gerai Habit Burger.
  6. Gerai Pizza Hut per 31 Maret 2020 berjumlah 18 533 gerai. Angka tersebut naik 0,36% dari posisi tanggal yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 18 466 gerai.
  7. Dari catatan kinerja tersebut menunjukkan bahwa YB berada dalam kondisi aman. Akuisisi Habit Burger adalah penanda signifikan bahwa perusahaan masih memiliki kondisi kas yang sehat.
  8. Lalu mengapa ada kabar bahwa Pizza Hut bangkrut? Maksud berita itu tidak lain adalah bangkrutnya NPC International Inc. Bloomberg misalnya memberitakan pengajuan kebangkrutan ini pada tanggal 5 Juli 2020. NPC adalah sebuah perusahaan franchisee Pizza Hut dan Wendy’s yang berdiri tahun 1962. Kini mengoperasikan 1227 gerai Pizza Hut dan 393 gerai Wendy’s. Semua gerai tersebut berada di USA. Saat ini proses kebangkrutannya masih diproses di pengadilan
  9. Apa efek kebangkrutan tersebut bagi YB? Akibat paling berat yang mungkin dari kebangkrutan NPC adalah dijualnya gerai-gerai milik NPC untuk melunasi utang-utangnya. Jika dijual, masih ada franchisee lain yang bisa membeli. Atau juga YM sendiri bisa membeli gerai-gerai tersebut. Hal ini dimungkinkan karena total gerai NPC hanya 6,6% dari total gerai PH. Dengan proporsi itu, jika tidak ada franchisee lain yang mau membeli, YB bisa membelinya sendiri. Jika kas internal tidak memungkinkan, YB bisa menerbitkan saham baru. Jika menerbitkan 10% saham baru saja, saat ini YB bisa memperoleh dana sekitar USD 2,6 miliar alias sekitar IDR 37 triliun. Ini adalah hal mudah bagi YB.
  10. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa berita bahwa Pizza Hut terancam bangkrut itu tidak sesuai dengan kenyataan.
  11. Namun demikian, kebangkrutan NPC memberi  pelajaran yang menarik. Bahwa perusahaan franchisee memiliki kelemahan sangat krusial yaitu tidak memiliki intangible asset berupa merek.  Ketiadaan intangible asset terpenting ini mengakibatkan perusahaan tidak memiliki kesempatan untuk menguangkan intangible asset untuk mendapatkan kas segar dengan cost of capital yang murah seperti perusahaan yang memiliki merek.
    Kelas Visi Korporasi

    Pahami lebih dalam dunia korporasi. Ikuti KELAS VISI  KORPORASI dari SNF Consulting. Daftar https://wa.me/6281358447267

    Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-272 ini ditulis pada tanggal 6 Juni 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Pernikahan Menawan: Tepat Waktu-Simple-Khidmat


Anwar djaelani edit1PENULIS TAMU. Penulis tamu kita kali ini adalah Cak Anwar Djaelani. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 24 juni 2018. Judul asli tulisan yang diunggah di http://www.anwardjaelani.com ini adalah “Pernikahan Menawan Putri Iman”. Tulisan gaya reportase ini viral dalam beberapa hari setelah diunggah. Selamat menikmati.


Iman menikahkan putri sulungnya di Masjid Manarul Ilmi ITS. Acara di Sabtu 23/06/2018 itu, berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan,” kata Ismail Nachu – Ketua ICMI Jatim. Kemudian, hadir di acara itu, “Terasa seperti dikembalikan ke zaman Rasulullah Saw,” kesan Ustadzah Yulyani – aktivis dakwah dan pengusaha. Tak berlebihan kah apresiasi itu?

Mudah dan Indah

Iman, sapaan dari  dri Iman Supriyono. Dia, Konsultan Manajemen Senior di SNF Consulting. Bagi sahabat dan relasinya, Iman –yang telah menulis 10 buku dan ratusan artikel itu- punya sisi menonjol: Agamis, menomorsatukan efisiensi, dan tak lelah berkampanye agar kita selalu tepat waktu.

Maka, seperti apakah konsep dan pelaksanaannya saat dia menikahkan Izza, putri sulungnya? Banyak ketidaklaziman yang Iman lakukan. Misal, cara mengundang. Iman tak mencetak kartu undangan. Sebagai gantinya, secara pribadi dia kirim via Whatsapp (WA) berupa Pdf dari kartu undangan. Formatnya, cukup menarik.

Di undangan itu, banyak tertera hal yang tak biasa. Misal, undangan ditulis dalam empat bahasa (Indonesia, Arab, Inggris, dan Cina). Digunakannya bahasa Cina karena Izza pernah kuliah S1 di “Chinese Literature Jiangxi Normal University”, setelah dia menyelesaikan SMP Luqman Al-Hakim Surabaya dan SMA Al-Hidayah di Johor – Malaysia.

Izza_Hadirin-memenuhi-masjid

Hadirin yang memenuhi masjid bahkan sampai ke teras

Di undangan, ada rincian acara dari menit ke menit. Juga, kabar bahwa tamu tak perlu membawa hadiah dalam bentuk apapun. Tak hanya itu, ada yang “mengejutkan”, yaitu adanya kalimat agar tamu datang sebelum acara dimulai pada pukul 7.00 dan Tuan Rumah sudah siap pada pukul 6.00.

Undangan yang “disebar” pertengahan Ramadhan 2018 itu, beberapa hari setelahnya, diikuti kiriman WA berikutnya. Bahwa. “Untuk membantu keluarga mempelai mengorganisasikan acara, mohon dibantu mengisi konfirmasi kehadiran pada link: https://goo.gl/forms/wxJO6UOQioU8w9zi2. Hasilnya?

Dari semua yang terundang, yang mengkonfirmasi kehadiran 517 orang dan dengan tambahan keterangan bahwa ada yang menyatakan akan hadir sendirian, berdua, bertiga, dan ada yang bersepuluh. Ada juga yang tidak memberikan konfirmasi, tetapi hadir yaitu dari kalangan keluarga dekat.

Lalu, tibalah, Sabtu 23 Juni 2018. Pukul 6.00, Iman, istri, dan sejumlah anaknya bersiap menerima tamu di tangga masjid ITS sisi utara. Masya-Allah, para tamu berangsur berdatangan. Setelah bersalaman, tamu melewati teras sebelum masuk ke Ruang Utama Masjid ITS. Di teras itu, tampak Photo Booth yang sederhana. Di semacam “pembatas ruang”, sehelai kain putih disampirkan. Di kain itu ditambahkan beberapa bunga dan tulisan “Izza dan Muchlis”, nama panggilan kedua calon mempelai.

Izza_Setelah-ijab-kabul

Mempelai setelah ijab qabul

Hadirin memenuhi masjid, terpisah laki dan perempuan Undangan laki-laki dan perempuan dipisah oleh pembatas. Sisi kanan atau utara untuk laki-laki dan di sisi sebelahnya untuk perempuan. Terlihat, rata-rata tamu, begitu masuk masjid langsung menunaikan shalat Tahiyatul Masjid dan Dhuha.

Sahabat dan relasi Iman memang banyak. Maka, tamu-pun terdiri dari banyak kalangan. Misal, ada yang berprofesi sebagai Satpam, pendidik, dan pengusaha. Tapi, dari sekitar 1400 orang yang hadir, yang banyak tampak -antara lain- adalah aktivis dakwah dan pendidik. Sekadar menyebut, ada Ustadz Abdurrahman – Hidayatullah dan Ustadz Nurcholis Huda – Muhammadiyah. Ada juga Prof. Triyogi Yuwono (Mantan Rektor ITS), Prof. Mukhtasor (Fakultas Kelautan ITS), Prof. Sutardi (Fakultas Teknik Mesin ITS), dan Prof. Zainuddin Maliki (Mantan Rektor UMS).

Izza_meja-jamuan

Meja hidangan dengan nasi bungkus daun

Kecuali itu, ada pula dari kalangan pengusaha. Misal, tampak Muh. Najikh (Dirut PT Kelola Mina Laut), Purnomo (Direktur PT Pertani Persero), Dothy (Direktur Pelabuhan Teluk Lamong) dan Ari Tri Priyono (Direktur PT Riscon Realty).

Sambil menunggu acara dimulai, antara para tamu akrab berbincang-bincang. Ada suasana “Halal biHalal” karena memang masih di pekan kedua bulan Syawal.

Pada pukul 7.00, Iman-pun masuk Ruang Utama masjid. Dia duduk di depan mihrab tempat akad-nikah akan dilakukan. Lalu, tepat pk 7.10 Pembawa Acara memulai.

“Kepada Bina Izzatu Dini binti Iman Supriyono dan Muchlis Munibullah bin Slamet Riyadi, ketahuilah! Bagi pengantin baru, perlahan mulai terbuka berbagai kelemahan pasangannya. Ini, bisa menjadi masalah besar. Maka, agar menjadi pasangan yang beruntung, senantiasalah ingat niat awal. Bahwa, niat menikah itu semata-mata untuk mendapat ridho Allah”, nasihat Ustadz Amun Rowie dari Pesantren Hidayatullah. Setelah itu, tepat pukul 7.30, ijab-kabul berlangsung. Ringkas, total hanya 20 menit.

Setelah itu, dua sambutan, dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan. Dari perempuan, Iman sendiri yang menyambut.  Iman berharap kepada mempelai dan yang hadir, agar bisa “Melanjutkan pertemanan atau persaudaraan antar-orangtua yang hadir dengan generasi baru yaitu kedua mempelai”.

Pukul 7.55 Pembawa Acara menyilakan hadirin untuk menikmati jamuan yang disediakan di teras sisi timur masjid. Ada sejumlah meja dengan aneka makanan sederhana. Nasi dan lauknya, disediakan dalam kemasan terbungkus: Ada yang berbungkus daun, mika, dan kertas bungkus coklat seperti yang biasa kita lihat. Menunya, ada nasi krawu, nasi campur, nasi uduk, nasi jagung, nasi jajan, dan nasi bakar. Ada juga penganan seperti kacang rebus, pisang rebus, lemper, dan lain-lain. Untuk minum, ada air mineral gelas ber-merk “Santri” dan Sari Apel ukuran kecil. Kesemuanya, ditata rapi di atas tampah bambu, memberikan kesan tradisional.

Atas jamuan itu, para tamu sangat menikmatinya. Setelah mengambil menu, mereka duduk dalam lingkaran-lingkaran kecil. Rata-rata mereka makan dengan tangan, tanpa sendok. Sambil makan, mereka bertukar bicara ringan. Sesekali tampak, sebagian lalu pindah ke lingkaran yang lain untuk meluaskan silaturrahim. Akrab!

“Nuansa kebersamaan kuat karena banyak Ustadz, Guru Besar, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum makan bersama. Mereka lesehan di teras masjid.  Sungguh pemandangan yang jarang kita temukan di Walimahan pada biasanya,” kata Misbahul Huda – penulis buku “Bukan Sekadar Ayah Biasa” dan Motivator Leadership Spiritual.

Meski masih ada sedikit catatan korektif, namun secara keseluruhan acara telah berlangsung sangat baik. Islami, sebab –misalnya- tak ada yang makan sambil berdiri. Tak ada yang mengambil makanan lebih dari yang dibutuhkannya. Tak ada sisa makanan yang terbuang. Juga, terasa beradab, sebab tamu bisa rileks berbicara –menyambung silaturahim- karena tak ada gangguan suara musik yang menggelegar.

Berkah, Berkah!

Banyak tamu yang terkesan dengan format acara pernikahan putri Iman. “Konsep acaranya sangat efektif, khusyu’, penuh khidmat, dan berusaha secara maksimal menerapkan prinsip-prinsip pernikahan secara syar’i,” tutur Ustadz Jauhari Sani – Direktur Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF).

Izza_Keluarga-Iman-bersama-mempelai

Mempelai bersama adik kakak dan ayah ibu mempelai putri berpose di photo booth

Kembali ke paragraf pertama tulisan ini. Berikut kutipan lengkap dari Ismail Nachu, Ketua ICMI Jatim. Bahwa, acara itu berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan sebagai pondasi penting dalam membangun rumah tangga, yang selama ini terasa hilang terseret budaya populer yang hedonistik dan penuh pencitraan alias tak sejati”.

“Saya bahagia dan terharu hadir di pernikahan ini. Hadir di acara ini serasa dikembalikan ke masa-masa Rasulullah Saw, sederhana dan penuh kekhusyu’an. Damai dalam keberkahan. Tuan Rumah telah menghadirkan konsep pernikahan yang Islami. Saya suka sekali dan kabar tentang ini langsung saya kirim ke anak-anak saya yang masuk usia pernikahan. Bagaimana respon mereka? Suka,” kata Yulyani – Muslimah yang aktif di dunia usaha, sosial, dan politik ini.

Alhasil, “Acara pernikahan yang saya hadiri hari ini sangat berkesan dan bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bagi yang belum menikah, jangan takut menikah karena tidak mampu menyelenggarakan resepsi yang megah, misalnya. Menikah itu mudah dan murah. Hal yang penting, kita hanya berharap berlimpah berkah,” simpul Ustadzah Anandyah Retno Cahyaningrum – pengamat masalah pendidikan dan keluarga.

*)Artikel ini ditulis oleh Anwar Djaelani sebagai penulis tamu di web ini.

Pertamina: IPO Anak Perusahaan?


Pertamina dikabarkan sedang merencanakan IPO untuk anak perusahaannya. Terjadi pro dan kontra. Ada pro kontra karena aspek politik. Ada juga pro kontra karena terkait kecurigaan adanya kecurangan-kecurangan dengan motif ekonomi dibalik  rencana tersebut. Nah, sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya, saya akan membahasnya hanya dari kaca mata strategic management. Apa masalah Pertamina? Apa untungnya IPO anak perusahaan? Apa ruginya? Apa alternatifnya? Apa argumen nya? Saya akan menuliskannya dengan format poin-poin.

  1. Ada banyak masalah di Pertamina. Menurut saya masalah yang paling urgen dan stratejik adalah ketidakmampuan BUMN itu mengelola ladang minyak milik negeri ini. Data per Agustus 2018 setelah akuisisi Blok Rokan dari Chevron yang ditelusuri SNF Consulting, kantor konsultan tempat saya berkarya,  menunjukkan bahwa Pertamina hanya mampu mengelola 15 dari 88 blok Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dari 15 tersebut hanya 3 blok sepenuhnya dioperasikan oleh Pertamina.  Sisanya bekerja sama dengan pihak lain. Dua blok bekerja sama dengan Medco, satu blok dengan perusahaan daerah, dan 10 blok dengan perusahaan asing.
  2. Selain Pertamina, dalam daftar perusahaan lokal Medco mengelola 9 blok. Dari jumlah tersebut, 2 bekerja sama dengan Pertamina, 7 dikelola sendiri. Masih ada Lapindo yang mengelola satu blok. Ada juga Hexindo yang mengelola satu blok. Dengan demikian, secara keseluruhan perusahaan asing mengelola 72 blok alias 84% dari seluruh blok minyak di Indonesia. Rinciannya, 10 blok bekerja sama dengan Pertamina dan 62 blok murni asing. Angka tersebut jelas sekali menggambarkan permasalahan utama Pertamina: tidak mampu mengelola kekayaan minyak negri ini. Menyerahkan sebagian besar (84%) pengelolaan ladang minyak dan gas kepada perusahaan asing

    Ayah menggandeng anak

    Anak perusahaan harus bisa dikontrol sepenuhnya oleh induknya

  3. Apa penyebab ketidakmampuan tersebut? Tentu ada banyak penjelasan. Tetapi secara umum adalah masalah kelayakan ekonomi yang ujung-ujungnya adalah modal beserta cost of capital yang menyertainya. Ladang-ladang minyak tersebut tidak layak menurut analisis cost of capital pertamina tetapi layak menurut pesaing-pesaingnya. Atau dengan bahasa lain, Pertamina kalah bersaing dengan kompetitor-kompetitornya dalam memberikan manfaat kepada SKK migas sebagai pemilik blok blok minyak.
  4. Mengapa tidak layak? Karena melihat laporan keuangan Pertamina, selama ini sumber pendanaan adalah utang. Dengan utang maka bunga dan pengembalian pokok akan menjadi beban cash flow yang harus ditanggung oleh hasil tambang. Jika menggunakan dana bank bunganya sekitar 10% bahkan lebih. Lalu pokoknya rata-rata adalah 20% pertahun jika masa kreditnya 5 tahun. Butuh 30% lebih pengembalian kas dari sumur minyak agar Pertamina tidak kedodoran secara arus kas.
  5. Bagaimana pesaing asing? Mereka umumnya adalah perusahaan fully public company. Tidak ada pemegang saham pengendali. Dengan demikian, mereka dapat dengan ringan menerbitkan saham di lantai bursa untuk mendapatkan modal melalui rights issue. Tuntutan cashflow atas dana rights issue hanyalah berupa pembayaran dividen. Tidak seperti utang yang pokoknya harus dikembalikan. Umumnya, dividen perusahan perusahan global adalah antara 1-3% dari nilai saham. Inilah yang harus dibayar kepada investor hasil dari ladang ladang minyak yang mereka tambang. Badingkan, Pertamina 30% lebih, mereka 1-3%. Maka, tentu saja mereka dapat memberikan keuntungan bagi hasil kepada SKK migas jauh lebih besar dari pada yang bisa dilakukan oleh pertamina. Beban arus kas Pertamina untuk setiap proyek penambangan 10x lipat bahkan lebih dari pada mereka
  6. Nah, dalam suasana masalah besar itu, Pertamina berencana mendapatkan dana seperti mereka yaitu dana ekuitas melalui penerbitan saham baru anak perusahaannya. Langkah seperti ini pernah dilakukan oleh beberapa BUMN. Salah satunya adalah Bank BRI dengan menerbitkan saham baru anak perusahaannya yaitu Bank BRI Syariah melalui mekanisme IPO.
  7. Bank BRI Syariah telah melakukan IPO pada bulan Mei 2018. Aksi korporasi yang  menerbitkan 2,62 miliar lembar saham baru tersebut diserap publik dengan menerima total dana Rp 1,33 triliun
  8. Kapitalisasi pasar Bank BRI, induknya, pada saat itu adalah Rp 390 triliun. Artinya, seandainya saat itu BRI melakukan rights issue dengan menerbitkan saham baru sebesar 10% saja, akan mendapatkan dana sekitar Rp 39 triliun. Uang yang jauh lebih besar dan lebih murah dibanding dengan anak perusahaan yang melakukan IPO. Uang itu kemudian bisa disuntikkan BRI syariah melalui penerbitan saham baru anak perusahaan tersebut. Seluruh saham baru diserap oleh BRI sebagai induk sehingga si anak tetap 100% dalam kontrol induk.
  9. Bahkan jika BRI melakukan ini lebih awal, Bank Mutiara yang sebelumnya sahamnya dipegang BPPN atau yang kemudian menjadi LPA sebagai institusi negara tidak perlu dilepas kepada Jtrust Bank. Pada tahun 2014 bank asal Jepang itu mengakuisisi  Bank Mutiara dengan harga Rp 4,41 Triliun. Kini bank Mutiara telah diubah namanya menjadi Jtrust bank.
  10. Laba pertamina berdasarkan laporan keuangan teraudit 2018 adalah USD 2,659 miliar alias Rp 38 triliun. Laporan 2019 belum tersedia di website resmi perusahaan. Berpatokan pada laba tersebut dan benchmark pada rasio harga terhadap laba (PER) Chevron yang sebesar 43,65, maka jika saat ini Pertamina menerbitkan 10% saham baru melalui IPO, akan mendapatkan dana sekitar Rp 166 triliun. Dan yang menarik, uang itu tidak perlu dikembalikan seperti uang bank. Cukup membayar dividen sebagaimana dengan proporsi yang dijanjikan melalui prospektus.
  11. Inilah argumen pertama. Bahwa IPO alias menerbitkan saham baru oleh anak perusahaan itu sara finansial kalah powerful dengan penerbitan saham baru (baik IPO maupun rights issue setelah itu) oleh induknya.
  12. Diluar masalah keuangan ada masalah otoritas dalam hierarki manajemen. Dalam sebuah perusahaan atau organisasi apapun, dibutuhkan otoritas yang cukup sesuai hierarki manajemen. Direktur utama bersama seluruh direksi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan harus memiliki otoritas penuh untuk memerintah seluruh anak buahnya dari vice president sampai office boy atau selevel. Otoritas penuh baik secara langsung atau tidak langsung melalui delegasi wewenang berupa SOP dan struktur organisasi. Itulah mengapa masyarakat paham bahwa seorang karyawan yang tidak mau dimutasi misalnya sama artinya dengan mengundurkan diri. Otoritas ini penting untuk menjalankan beban amanat besar yang berada dalam pundak direksi.
  13. Seorang direktur anak perusahaan pada dasarnya adalah bagian dari struktur organisasi induknya. Direktur anak perusahaan bisa diperintah oleh direksi. Seorang direksi anak perusahaan pada hakikatnya adalah seorang manajer dengan level tertentu di Pertamina. Direksi Pertamina bisa mengangkat, memecat, atau memutasi seorang direktur anak perusahaan tanpa ada campur tangan pihak lain.
  14. Ketika sebuah anak perusahaan melakukan IPO, saat itulah otoritas direksi ini dilucuti. Ada pemegang saham lain yang harus ikut RUPS dan menandatangani keputusan penggantian direksi anak perusahaan. Ada otoritas lantai bursa terkait pergantian direksi perusahaan listed.
  15. Itulah mengapa misalnya saja Aqua hengkang dari lantai bursa alias delisted begitu diakuisisi oleh Danone. Demikian juga Mount Elizabeth Hospital hengkang dari lantai bursa Singapura begitu diakuisisi oleh IHH, sebuah perusahaan rumah sakit dari Kuala Lumpur. Begitu diakuisisi, Aqua dan Mount Elizabeth berkedudukan sebagai anak perusahaan.
  16. Untuk delisting anak perusahaannya Danone dan IHH harus melakukan tender offer di lantai bursa. Memberikan penawaran kepada pemegang saham lain dengan harga tinggi jauh diatas harga pasar untuk memperoleh otoritas mutlak itu. Membayar berapapun alias at any cost untuk berjalannya sebuah hirarki organisasi. Inilah argumen kedua. Bahwa IPO anak perusahaan itu salah secara hirarki
  17. Ada pandangan bahwa IPO anak perusahan dibutuhkan untuk keterbukaan dan akuntabilitas. Ini argumentasi yang benar tetapi mestinya tidak diberlakukan untuk  sebagian dari aset pertamina yaitu si anak perusahaan. Yang benar adalah bahwa akuntabilitas harus dilakukan untuk seluruh aset Pertamina dan dengan demikian yang mestinya IPO adalah Pertamina sebagai induk. Agar aset pertamina yang sebesar USD 64,728 miliar alias Rp 928 triliun itu bisa dikelola dengan akuntabilitas sesuai standar tata kelola perusahaan modern. Tidak seperti saat ini yang belum listed. Inilah argumentasi ketiga.
  18. Dengan tiga argumen diatas, maka IPO mestinya dilakukan oleh pertamina, bukan anak perusahaannya. IPO Pertamina sebagai bagian dari konsolidasi BUMN. Namun demikian, terhadap keputusan logis ini banyak pihak yang keberatan karena IPO pertamina dinilai sama dengan menjual aset negara apalagi minyak dan gas adalah aset stratejik bangsa.
  19. Keberatan itu mengandung dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah memandang bahwa Pertamina adalah alat negara untuk penguasaan bumi air udara dan kekayaan yang  terkandung didalamnya sebagaimana amanat UUD 45. Yang benar, alat penguasaan itu ada pada SKK migas. Lembaga yang kini dipimpin Dwi Soetjipto itu hingga kini sampai kapanpun  termasuk ketika Pertamina IPO tetap menguasai 100% ladang minyak dan gas di bumi pertiwi. Kedudukan Pertamina adalah sebagai kontraktor atau operator. Kedudukan pertamina sama persis dengan Chevron, BP, Petrochina, atau perusahaan operator ladang minyak apapun. Operator ini mengikat perjanjian pengoperasian dengan SKK migas sebagai pemilik sepenuhnya ladang minyak
  20. Kesalahan kedua adalah tidak bisa membedakan antara aset perusahaan dengan aset pemegang saham. Sesuai Undang-Undang PT, begitu sebuah perseroan terbatas didirikan, aset yang sebelumnya milik pendiri telah dipisah dan dilepas menjadi aset milik perusahaan yang didirikannya. Imbalan atas pelepasan aset ini adalah saham dengan jumlah lembar dan nilai tertentu sesuai akta perusahaan. Jadi begitu negara mendirikan sebuah perseroan terbatas bernama Pertamina, maka asetnya sebesar modal disetor telah dilepas dan menjadi aset Pertamina. Pada saat itu juga aset yang dilepas itu diganti dengan aset berupa 090.697 lembar saham dengan nilai nominal (par value) Rp 1 juta per lembar saham.
  21. Ketika menerbitkan 10% saham baru melalui IPO, saham pemerintah sejumlah 133.090.697 lembat itu sama sekali tidak ada yang dijual. Pemegang saham baru akan menyetor uang dengan nilai Rp 166 triliun (berdasar benchmark PER Chevron) kepada Pertamina dengan imbalan 14.787.855 lembar saham baru dengan nilai nominal Rp 1 juta. Dengan demikian yang dijual adalah “tanda tangan notaris” berupa saham baru. Total saham Pertamina akan menjadi 147.878.552 lembar, 133.090.697 lembar tetap menjadi aset negara, 14.787.855 lembar menjadi aset pemegang saham baru.
  22. Dengan jumlah lembar saham baru dan nilai tersebut, artinya harga setiap lembar saham baru yang dibayar oleh investor adalah Rp 11,2 juta. Secara akuntansi, dari Rp 11,2 juta itu Rp 1 juta akan dicatat sebagai saham, sisanya, Rp 10,2 juta akan dicatat sebagai agio saham alias tambahan modal disetor alias additional paid in capital. Atau, dari total Rp 166 triliun, Rp 14,788  triliun menjadi  saham, Rp 151,212 triliun menjadi agio saham. Inilah “upeti” dari pemegang saham baru yaitu sebagai penghargaan terhadap intangible asset Pertamina berupa corporate brand, keahlian, sistem manajemen, hubungan dengan pemasok, kekayaan sejarah dan sebagainya.
  23. Tetapi kesalahan kedua ini memang masih menjadi opini banyak orang dan banyak pihak. Apa yang terjadi pada saat debat kandidat presiden tahun 2019 lalu bisa menjadi gambaran. Saat itu Capres Jokowi menyatakan bahwa Capres Prabowo memiliki lahan seluas  220 ribu hektar di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah. Pernyataan ini terjadi tentu karena Capres Jokowi tidak membedakan antara aset Capres Prabowo sebagai pemegang saham dengan aset perusahan yang sahamnya dipegang oleh Capres Prabowo. Sebuah pernyataan yang tidak sesuai  dengan undang-Undang PT.
  24. Dalam debat itu Prabowo menanggapi bahwa memang benar ia memiliki aset ini tetapi sewaktu waktu akan mengembalikan lahan ini kepada negara jika negara membutuhkan. Jawaban ini juga menunjukkan bahwa Capres Prabowo juga tidak membedakan antara aset dirinya sebagai pribadi dan aset perusahaan yang sahamnya dipegang sebagai badan hukum PT. Sebuah tanggapan yang juga tidak sesuai dengan Undang Undang PT
  25. Jika Capres Prabowo mengikuti Undang Undang PT, tanggapannya kurang lebih akan begini “Pak Jokowi sekarang kan masih Presiden. Silahkan Bapak cek kepada kepala BPN atau kepada Dirjen Pajak karena tanah yang Bapak Maksud sudah bersertifikat BPN dan semua sudah dilaporkan dalam SPT. Dan saya jamin, pernyataan Bapak itu salah total. Saya sama sekali tidak memiliki tanah itu”
  26. Setelah debat itu, Wapres JK menanggapi bahwa memang benar Prabowo memiliki lahan itu. Tetapi proses kepemilikannya dilakukan secara legal formal dan sah. Proses kepemilikan itu berada dalam koordinasi nya dalam pemerintahan. Tanggapan Wapres JK ini juga setali tiga uang. Tidak sesuai dengan Undang-Undang PT.
  27. Nah, itulah pandangan banyak orang. Pandangan banyak pihak. Akibatnya adalah opini bahwa IPO Pertamina identik dengan menjual aset negara. Sebuah cara pandang yang bertentangan dengan Undang Undang PT dan harus diluruskan. Tetapi tentu saja tidak mudah meluruskan apa yang dalam bahasa jawa disebut salah kaprah Kesalahan yang terjadi secara masal. SNF Consulting sebagai corporate citizen terus menerus melakukan peran edukasi ini. Sosialisasi  Undang Undang PT sebagai bentuk operasional dari pelaksanaan Pancasila dan UUD 45. Tulisan yang kini Anda baca itu adalah bentuk dari upaya itu. Edukasi untuk memperkuat enam pilar kemerdekaan ekonomi umat  dan bangsa.
  28. Dengan tiga argumentasi beserta penjelasannya di atas, dapat disimpulkan bahwa IPO anak perusahaan Pertamina adalah sebuah langkah yang salah sehingga tidak perlu dieksekusi. Yang harus dilakukan adalah IPO Pertamina dilanjutkan dengan rights issue secara terus menerus agar Pertamina mampu menyelesaikan masalah pokoknya. Mampu mengoperasikan sebagian besar ladang minyak dan gas milik negeri ini. bahkan seperti Chevron, mampu mengoperasikan tambang minyak milik berbagai negara lain di seluruh penjuru dunia. Mengibarkan tinggi-tinggi sang merah putih di berbagai negara dalam kedudukannya sebagai perusahaan operator tambang. Allahu akbar! Merdeka!

Baca Juga: Ahok dan kemustahilan Pertamina

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-271 ini ditulis pada tanggal 30 Juni 2020 oleh Iman Supriyono, CEO & founder SNF Consulting

Kelas Corpopreneur

Ikuti KELAS CORPOPRENEUR dari SNF Consulting. Daftar: https://wa.me/6281358447267

Pedal Gas: Revenue & Profit Driver


Tahun 1980-an saya tinggal di desa pertanian. Bapak saya pun berprofesi sebagai petani. Bapak bertani padi diselingi palawija dengan luas lahan satu kuli. Setara dengan sekitar setengah hektar. Seperti itu juga lahan yang dimiliki tetangga pada umumnya. Bahkan ada yang hanya setengah kuli.

Menanam padi atau palawija adalah kegiatan produksi. Menggunakan sumber daya berupa lahan pertanian, tenaga kerja, air, bibit, pupuk, pestisida atau sejenisnya yang bernilai uang. Selanjutnya menikmati panen menghasilkan gabah atau palawija. Setelah itu para petani menjual hasil taninya atau sebagian disimpan untuk konsumsi sehari hari. Menjual menghasilkan uang. Selanjutnya sebagian uang akan digunakan lagi untuk modal kerja masa tanam berikutnya.

Uang menjadi uang. Siklus itu dijalani oleh para petani. Tidak lain tidak bukan itu adalah sebuah siklus bisnis. Pelakunya disebut pengusaha.  Dengan badan hukum jadilah sebuah perusahaan. Siklus yang dijalani petani itu tidak berbeda dengan apa yang dijalani misalnya saja Djoko Susanto dengan Alfamart-nya. Mereka adalah pengusaha. Entrepreneur bahasa kerennya.

Petani dengan lahan sawahnya. Djoko Susanto dengan gerai minimarketnya. Lahan sawah berfungsi sama persis dengan gerai minimarket. Tiap tahun Alfamart menambah jumlah gerai. Gerai pertama berdiri tahun 1999. Saat ini sudah ada sekitar 16 ribu gerai di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada yang di Filipina.

Sebesar apa proporsi penambahan gerai, sebesar itu pulalah pertambahan pendapatan atau omzetnya. Jika gerai dalam satu tahun bertambah 10%, maka omzetnya juga akan tumbuh kurang lebih sebesar 10%. Jika jumlah gerai bertambah 20%, omzet juga akan bertambah sebesar 20%. Pertumbuhan omzet adalah fungsi linier dari pertumbuhan jumlah gerai.

Dengan keterampilan yang cukup, setiap hasil panen akan menghasilkan nilai yang lebih besar daripada seluruh sumber daya yang digunakan untuk menghasilkannya. Hal serupa juga terjadi pada bisnis minimarket. Dengan keterampilan yang cukup, omzet yang dihasilkan sebuah gerai akan lebih besar dari pada seluruh biaya yang digunakan untuk menghasilkan omzet itu. Selisih inilah yang disebut laba.

Sawah bertemu keterampilan yang cukup akan menghasilkan hasil panen dan laba. Gerai minimarket bertemu dengan keterampilan yang cukup akan menghasilkan omzet alias revenue dan laba alias profit. Luas lahan sawah adalah faktor penentu omzet dan laba dunia pertanian. Jumlah gerai adalah faktor penentu omzet dan laba di dunia minimarket. Saya suka menyebutnya sebagai revenue and profit driver. Disingkat RPD.

&&&

Survey Antar Sensus Pertanian BPS tahun 2018 melaporkan bahwa di Indonesia terdapat 33 487 806 orang petani. Dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang sekitar 100 juta jiwa, tentu ini merupakan proporsi besar. Tidak kurang tidak lebih, mereka adalah para entrepreneur.
RPD

Dengan entrepreneur sejumlah itu mengapa ekonomi Indonesia tidak berkembang pesat? Padahal banyak pihak yang mengatakan bahwa dengan entrepreneur 7% saja sebuah bangsa akan maju? Pemahaman RPD adalah masalahnya.

Djoko Susanto faham RPD. Itulah mengapa Alfamart kejar habis pertumbuhan perusahaan dengan menambah gerai secara masif. Sebagian besar menyewa, bukan beli. Dalam empat tahun terakhir, Alfamart rata-rata menggelontorkan dana untuk menambah gerai sebesar 6,5 kali laba. Itulah yang berbuah pertumbuhan gerainya bisa sejajar dengan Indomaret yang 11 tahun lebih senior. Gerai pertama Indomaret berdiri tahun 1988. Alfamart tahun 1999.

RPD adalah aset yang begitu dimiliki atau ditambahkan pada sebuah perusahaan, akan langsung meningkatkan pendapatan dan laba. Sekali lagi RPD adalah aset, bukan orang atau sumber daya manusia.  Dengan analogi sebuah mobil, RPD adalah pedal gas nya. Seberapa dalam pedal gas diinjak, seberapa cepat pulalah mobil melaju. RPD adalah syarat utama sebuah perusahaan untuk melakukan korporatisasi, baik di lantai bursa maupun di luar lantai bursa.

Kelas RPD

SNF Consulting menyelenggarakan kelas RPD untuk membantu perusahaan Anda menemukannya “pedal gas”-nya. Hubungi https://wa.me/6281358447267

 

Mengapa kesejahteraan petani yang entrepreneur tidak tumbuh? Banyak penjelasan. Yang utama antara lain karena tidak paham RPD. Keahlian dan keterampilan bertani sudah bagus. Bisa menghasilkan laba. Tetapi tidak pernah menambah luas lahan yang ditanami. Laba dari hasil bertani semuanya dipakai untuk kebutuhan hidup. Berbeda dengan Djoko Susanto dengan Alfamartnya yang tahun lalu misalnya hanya mengambil sekitar 11% laba sebagai dividen. Sisanya digunakan untuk menambah jumlah gerai dan bahkan ditambah lagi dengan utang dan menerbitkan saham baru. Jadinya rata-rata 6,5 kali laba.  Keahlian bertemu dengan RPD yang terus tumbuh. Bagi petani, sawah tidak harus dibeli. Bisa sewa seperti Alfamart. Itu kuncinya. Keahlian saja tidak cukup. Seahli apapun, jangan pernah berharap bisnis akan tumbuh tanpa pertumbuhan RPD. Perusahaan Anda bagaimana? Apa RPD-nya? Seberapa dalam “pedal gas”-nya diinjak?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-270 yang ditulis oleh Iman Supriyono ini juga  terbit di Majalah Matan, edisi Juli 2020