Category Archives: Uncategorized

Wakaf: Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun


Tahun 2019, dari masyarakat Indonesia terkumpul dana zakat, infak dan sedekah sebesar Rp 10,227,943,806,555. Nilai tersebut tumbuh 17,73% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8,688,221,234,354. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi ketika itu yang hanya sebesar 5,02%. Inilah angka dari Statistik Zakat Nasional 2019 yang diterbitkan oleh BAZNAS. Data tahun 2020 belum keluar. Tetapi saya yakin kerja akumulasi seluruh lembaga amil zakat (LAZIS) maupun badan amil zakat (BAZIS) tetap tumbuh walaupun ekonomi justru mengalami kontraksi 2,07 % akibat pandemi.

Membaca angka itu, hati saya campur aduk. Satu sisi senang sekali. Bahagia. Betapa ternyata umat ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Tinggi dan pertumbuhannya pun tinggi. Sisi lain sedih sekali. Mengapa dana sebesar itu dari tahun ke tahun selalu “melayang”? Apa yang terkumpul tahun ini habis dikonsumsi tahun ini juga. Melayang karena secara ekonomi hanya mendorong peningkatan konsumsi. Bersifat operational expenditure bagi dana umat.  Padahal mestinya sangat powerful untuk menjadikannya pendorong peningkatan kapasitas produksi umat dengan menjadi capital expenditure.  

Kita cermati lebih lanjut, dari angka Rp 10 triliun lebih itu Rp 3,951,113,706,297  alias 38,9% adalah berupa zakat maal. Rp 306,737,147,482 alias 3% adalah zakat maal badan. Rp 1,406,144,490,186 alias 13,7% adalah zakat fitrah. Total kontribusi zakat adalah 55,4%. Dengan demikian, sisanya yaitu sebesar  Rp 4.563.948.462.590 alias 44,6% adalah berupa infak dan sedekah.

Untuk yang zakat, secara fikih bersifat wajib. Cara penyalurannya pun sudah ditentukan dengan tegas. Dengan demikian, maka biarlah zakat tetap berkarakter konsumtif. Tahun ini dikumpulkan, tahun ini juga disalurkan untuk kebutuhan konsumtif masyarakat yang membutuhkan.

Yang berpotensi adalah infak yang Rp 4,56 triliun itu. Sayang sekali uang itu juga “melayang”. Tahun ini dikumpulkan. Tahun ini juga disalurkan habis untuk konsumtif. Hanya jadi “umpan”. Padahal mestinya bisa menjadi “kail”.

Dan Islam sudah menyediakan fasilitas untuk itu. Menjadikan dana itu bukan hanya bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan sosial seperti fakir miskin dan sejenisnya. Tetapi juga sekaligus menjadi sarana untuk memupuk kekuatan umat. Kekuatan umat untuk berkontribusi dalam memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat luas.

Wakaf. Itulah pintu terbuka yang telah disediakan oleh Islam untuk “kail” itu. Skema amal jariah ini sungguh potensial. Skema yang benar-benar menjadi pahala yang mengalir karena manfaatnya juga terus mengalir. Sudah banyak pembicaraan yang sangat bergairah untuk mendayagunakannya. Lalu, mengapa infak itu tidak dikonversi menjadi wakaf?

&&&

Untuk ilustrasi, mari kita simulasikan dua lembaga yaitu ABC dan DEF. ABC adalah lembaga amil zakat infak dan sedekah alias LAZIS. DEF adalah lembaga pengelola wakaf alias nazir. Mari kita simulasikan ABC dan DEF yang sepanjang waktu 15 tahun mulai tahun ini, 2021, disebut sebagai tahun nol, sampai tahun 2036 yang disebut sebagai tahun ke-15

Misalkan pada tahun 2021 ini mengumpulkan ZIS sebesar Rp 100 milyar dalam setahun. Dengan pengumpulan itu, tahun 2021 ABC mendapatkan bagian dana operasional sebesar 12,5% alias Rp 12,5 miliar.  Kita  simulasikan bahwa ABC selalu mengumpulkan ZIS secara konstan sepanjang 15 tahun dan selalu menggunakan haknya sebagai amil sebesar Rp 12,5 miliar per tahun sepenuhnya untuk biaya operasional tanpa sisa.

Tahun 2021 alias tahun ke nol, sebagaimana ABC, DEF juga mengumpulkan dana sebesar Rp 100. Bedanya dana ini adalah dana wakaf. Bukan dana ZIS. Karena dana wakaf maka pada tahun ke nol ini DEF tidak mendapatkan hak sama sekali dari dana yang dikumpulkannya. DEF menginvestasikan semua dananya.

Tiap tahun DEF menerima dana hasil investasi sebesar 10% dari dana tersebut alias Rp 10 miliar. Atas hasil investasi itu, tiap tahun DEF menerima dana hasil investasi Rp 10 miliar. Sebagai nazir, sesuai UU Wakaf, DEF berkewajiban menyalurkan 90% dana hasil investasi yaitu Rp 9 miliar. Sisanya, yaitu 10% alias Rp 1 miliar merupakan hak DEF untuk menggunakannya untuk biaya operasionalnya sebagai organisasi. Dana Rp 1 miliar ini akan terus menerus diterima ABC sebagai biaya operasional  sejak tahun 2022 dan seterusnya.

Wakaf agar dana umat Rp 10 triliun per tahun tidak melayang

Tahun 2022 alias tahun pertama, atas dana yang diperolehnya dan diinvestasikannya pada tahun 2021, DEF menerima bagi hasil investasi sebesar Rp 10 miliar. Dengan demikian DEF memperoleh bagian sebesar Rp 1 miliar yang bisa digunakan untuk biaya operasional lembaga. Sebagaimana ABC, tahun 2022 DEF juga mampu mengumpulkan dana wakaf Rp 100 miliar lagi. Uang itu langsung diinvestasikan dengan hasil sebagaimana dana tahun sebelumnya.

Tahun 2023 alias tahun kedua,  DEF menerima lagi bagian dari hasil investasi dana yang dikumpulkan pada tahun 2021 sebesar Rp 1 miliar. DEF juga menerima bagian dari hasil investasi atas dana yang dikumpulkannya pada tahun 2022 sebesar Rp 1 miliar. Dengan demikian total dana operasional DEF tahun kedua, 2023, adalah Rp 2 miliar.  Sebagaimana ABC, tahun 2023 DEF juga tetap mampu mengumpulkan dana wakaf dari masyarakat lagi sebesar Rp 100 miliar dan langsung diinvestasikan.

Tahun 2024 alias tahun ketiga, DEF menerima bagian dari hasil investasi dana yang dikumpulkan tahun 2021, 2022, dan 2023 masing-masing Rp 1 miliar. Jadi tahun 2024, alias tahun ketiga, DEF mendapatkan dana operasional sebesar Rp 3 miliar. Sebagaimana ABC, pada tahun 2024 itu DEF juga mengumpulkan dana wakaf baru sebesar Rp 100 miliar dan semuanya langsung diinvestasikan.

Demikianlah perjalanan DEF dari tahun ke tahun. Tiap tahun jatah hasil investasi yang diterimanya terus naik Rp 1 miliar. Tahun 2025 alias tahun keempat menjadi Rp 4 miliar. Tahun 2026 menjadi Rp 5 miliar. Tahun 2027 dan seterusnya naik seperti itu. Maka, pada tahun ke-13 alias tahun 2034 mendapatkan jatah dana dari hasil investasi sebesar Rp 13 miliar. Pada tahun inilah pertama kalinya DEF mendapatkan jatah biaya operasional melampaui jatah biaya operasional yang diterima oleh ABC.

Tahun-tahun berikutnya, DEF semakin melesat meninggalkan ABC. Tahun ke ke-25 jatah dana operasional DEF akan sebesar Rp 25 miliar alias sudah 2x ABC. Dengan demikian, jika biaya-biaya operasional adalah linier, maka alokasi gaji bagi SDM DEF juga 2x ABC. Jika gaji merupakan cerminan kesejahteraan maka pada tahun ke 25 karyawan DEF 2x lebih sejahtera daripada karyawan ABC.

&&&

Simulasi di atas memberi kita paling tidak tujuh poin penjelasan penting tentang wakaf. Pertama, bahwa ada kesulitan besar LAZIS untuk mengonversikan seluruh kerja mengumpulkan dana ZIS menjadi mengumpulkan dana wakaf. Atau paling tidak mengonversi 44,6% dana dari dana ZIS. Dari infak menjadi wakaf. Mengapa demikian? Akan terjadi penurunan jatah dana operasional selama 14 tahun yaitu dari tahun saat mulai mengonversi (tahun ke nol), sampai tahun ke 13. Penerimaan dana operasional baru aman pada tahun ke 14. Sepanjang penurunan masa penurunan tersebut artinya gaji karyawan dan manajemen LAZIS juga akan berkurang dan kesejahteraannya menurun.

Kedua, satu satunya cara bagi LAZIS untuk masuk dalam pengelolaan dana wakaf adalah melakukan konversi secara bertahap. Misal, dimulai dengan hanya mengonversikan 1%. Jadi konsisten dengan contoh ABC di atas, tahun ke nol hanya Rp 1 miliar berupa wakaf. Sisanya, Rp 99 miliar tetap berupa ZIS sehingga juga hanya mengalami penurunan kesejahteraan sebesar 1%. Demikian seterusnya tahun-tahun berikutnya wakaf menjadi Rp 2 miliar, Rp 3 miliar, Rp 4 miliar dan seterusnya. Dengan cara ini maka konversi memakan waktu 100 tahun. Lama sekali.

Ketiga, dibutuhkan lembaga baru, bisa berbadan hukum yayasan ataupun perkumpulan, yang memang sejak awal dirancang sebagai nazir. Ilustrasinya adalah seperti DEF di atas. Dibutuhkan puasa selama 13 tahun (yaitu tahun ke nol sampai tahun ke-12 pada ilustrasi di atas). Seiring berjalannya waktu puasa akan makin terasa ringan dan akan memetik hasilnya setelah beroperasi 14  tahun. Saat itu DEF lebih sejahtera dari pada ABC.

Keempat, zakat, infak dan sedekah adalah bisa disebut sebagai operational expenditure alias opex bagi dana sosial umat. Karena bersifat belanja operasional maka sifatnya tidak menumbuhkan ekonomi. Hanya sekedar memenuhi kebutuhan. Untuk menumbuhkan ekonomi, dibutuhkan dana wakaf yang berkarakter sebagai capital expenditure alias capex. Wakaflah yang berfungsi untuk ini.

Wakaf menumbukkan ekonomi karena karakter dananya sama dengan dana kelolaan sebuah perusahaan investasi alias investing company. Sebagian dana kelolaan akan menjadi dana investasi jangka panjang yaitu dana untuk pengembangan perusahaan-perusahaan dengan skema ekuitas. Masuk ke perusahaan sebagai belanja modal (capital expenditure) perusahaan untuk ekspansi. Melakukan proses korporasi yaitu mengembangkan pasar, membangun pabrik baru, menambah cabang baru, menambah gerai baru, ekspansi wilayah, akuisisi perusahaan untuk ekspansi ke laur negeri dan sebagainya.

Kelima, poin keempat di atas juga merupakan jawaban atas keluhan tentang ketertinggalan ekonomi umat  Islam dibanding umat-umat agama lain. Atau bisa juga ketertinggalan negeri ini dibandingkan negeri-negeri lain karena mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Maka, kita perlu mendorong wakaf agar ekonomi umat dan bangsa tumbuh. Munculkan banyak lembaga seperti DEF agar umat dan bangsa ini mampu menghadirkan perusahaan-perusahaan yang merupakan principal mobil, motor, gadget, pesawat, makanan, minuman, sabun dan sebagainya melalu proses korporatisasi. Bangsa produsen bukan hanya bangsa konsumen. Bangsa principal bukan hanya bangsa pedagang.

Keenam, data pertumbuhan ZIS pada bagian awal tulisan ini adalah tantangan. Bagaimana yang berkembang tidak hanya opex tetapi juga capex umat. Laman resmi BWI belum menampilkan laporan dana wakaf seperti laporan dana ZIS di atas. Saya kita ini tantangan yang luar biasa. Wakaf adalah pisau bermata dua, menyelesaikan kebutuhan sosial sekaligus menumbuhkan ekonomi umat dan bangsa.

Ketujuh, banyak hal yang bisa dikreasikan oleh lembaga nazir seperti DEF. Bisa muncul lembaga-lembaga wakaf spesifik untuk solusi berbagai bidang sosial. Bisa muncul lembaga khusus penyedia beasiswa abadi seperti ACR yang bisa diakses melalui www.acrku.org dengan cita-cita menjadi Fulbright dari timur. Bisa muncul lembaga pengelola dana abadi untuk biaya pasien kaum miskin. Bisa muncul dana abadi untuk santunan bencana alam. Bisa juga dana abadi untuk mualaf. Bisa dana abadi untuk penyandang cacat. Bisa dana abadi untuk prestasi olah raga  dan sebagainya. Semua akan berlomba-lomba memupuk dana abadi dari dana wakaf yang kalkulatornya hanya mengenal tombol plus dan kali. Tidak ada tombol minus dan bagi. Terus tumbuh.

Itulah tujuh kesimpulan sekaligus tantangan. Anda tertarik? Dibutuhkan banyak social entrepreneur untuk menjadi founder alias pendiri lembaga seperti ABC dengan berbagai pemanfaatan dana hasil investasi yang spesifik.  Agar dana Rp 10 triliun itu tidak terus menerus ‘melayang” karena hanya menjadi opex umat. Agar dana Rp 10 triliun yang tiap tahun terus meningkat itu bisa berkontribusi menumbuhkan ekonomi. Menjadi capex. Menjadi “kail” bukan sekedar “ikan”. Jika dilakukan mulai sekarang, dana abadi Rp 500 triliun lebih seperti yang dimiliki oleh Harvard Management Company itu hanya masalah waktu. Anda tertantang? SNF Consulting siap membantu!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
wakaf Uang
Investment Company Muhammadiyah
Konversi kotak infaq menjadi kotak wakaf
Wakaf modern mengabadikan amal
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal
SWF: investment company BUMN

*)Artikel ke-314 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 7 Maret 2021

Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur


Ashraf Ghani, presiden  Afghanistan sejak 2014 sampai saat ini. Giuliano Amato, perdana menteri Italia 1992-1993 dan 2000-2001. Lamberto Dini, perdana meteri Italia 1995-1996. Abdul Ghani Abdul Aziz, perdana menteri Yaman 1994-1997. Moeenuddin Ahmad Qureshi, perdana menteri Pakistan 1993. Hyun Seung-Jong, perdana menteri  Republik Korea 1992-1993. Wallace E. Rowling, perdana menteri New Zealand 1974-1975. Itulah beberapa dari 39 kepala negara berbagai belahan dunia yang merupakan alumni penerima beasiswa Fulbright.

Muhammad Yunus, Bangladesh, penerima hadiah nobel perdamaian 2006. Osamu Shimomura, Jepang, penerima hadiah Nobel bidang kimia tahun 2008. Aaron Ciechanover, warga negara Israel, penerima hadiah Nobel bidang kimia, 2004. Joseph Stiglitz, warag USA, pemenang hadiah nobel Ekonomi 2001. Itulah sebagian kecil dari 60 orang alumni Fulbright yang pernah menerima hadiah nobel. Hadiah paling bergengsi hingga saat ini.

Greg Grandin, professor and penulis, penerima hadiah  Pulitzer Prize untuk  kategori nonfiksi umum tahun 2020. David Hackett Fischer, sejarawan, penerima  hadiah Pulitzer pada bidang sejarah tahun 2005. Daniel Grech,  jurnalis, penerima  hadiah Pulitzer Prize bidang jurnalisme untuk Breaking News Reporting tahun 2001. Charles Wright, penyair, penerima  hadiah Pulitzer di bidang puisi tahun 1988. Itulah beberapa dari 94 alumni Fulbright yang telah menerima hadiah bergengsi tersebut.

Anies Baswedan, salah satu tokoh alumni penerima beasiswa Fulbright

Tiga paragraf diatas menggambarkan betapa powerfulnya beasiswa Fulbright. Mencetak para pemimpin dunia. Mencetak para ilmuwan dunia. Mecetak para penulis dunia. Siapa yang tidak tahu tiga penghargaan dunia di atas. Itulah impact dari progam beasiswa  yang diberikan kepada para mahasiswa  berbagai bangsa untuk menempuh pendidikan di berbagai pergruuan tinggi terbaik berbagai bangsa itu.

Adalah J William Fulbright. Tahun 1945 senator USA itu mengajukan rancangan undang undang untuk menggunakan dana hasil penjualan surplus properti perang milik pemerintah negerinya untuk mendanai pertukaran pelajar internasional. Tanggal 1 Agustus 1946 presiden Harry S Truman menandatanganinya menjadi Undang Undang. Sebuah peristiwa yang menghasilkan sebuah program pertukaran pelajar terbesar di dunia. Program beasiswa terbesar di dunia.

Perkembangan dana abadi ACR yang menggembirakan

Tanggal 7 Pebruari 1977, para alumni beasiswa Fulbright asal USA membentuk sebuah organisasi non pemerintah. Namanya Fulbright association. Kini ada sekitar 140 ribu alumini Fulbright asal USA. Ada 16 orang diantara mereka yang telah menerima presidential medal of freedom dari kepala negara USA. Sebuah penghargaan bergengsi di USA. Masih ada alumni dari 164 negara lain yang catatan prestasinya adalah seperti yang tertulis di atas.

&&&

Adalah Perkumpulan Alkhirrijunn Caruban Raya. Organisasi yang secara singkat disebut sebagai ACR ini adalah sebuah badan hukum formal beasiswa. Demikianlah sebagaimana telah dituangkan dalam anggaran dasar oleh para pendirinya. ACR didirikan dengan maksud tunggal untuk memberi beasiswa pada para pelajar yang membutuhkannya. Menjadi seperti Fulbright.

Organisasinya masih seumur jagung. Akta pendiriannya ditandatangani di Bogor pada tanggal 9 Oktober 2020. Pendirinya adalah beberapa orang alumni sekolah-sekolah di Caruban, sebuah kota kecil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Rekeningnya baru aktif setelah seluruh urusan legalitas selesai yaitu pada tanggal 12 januari tahun berikutnya.

Tidak sampai sebulan setelah aktif, kini pengurus sedang proses seleksi penerima beasiswa. Uang untuk beasiswa diperoleh dari investasi dana abadi yang dikumpulkan oleh para pendiri dan anggota. Semua dana dari para donatur dimasukkan pada rekening dana abadi. Rekening yang kalkulatornya hanya mengenal tombol tambah dan kali. Tidak mengenal tombol kurang dan bagi. Beasiswa murni dari hasil investasi yang kedepan sebagian besar melalui skema ekuitas. Melalui kepemilikan saham berbagai perusahaan. Jadi pemberian beasiswa murni dari dividen. Sama sekali tidak mengurangi nilai uang donasi.

Fulbright dari timur. Itulah cita cita besar ACR. Caruban hanyalah titik awal bagi organisasi yang berlaman web www.acrku.org itu. Tahun 1946 Fulbrihgt berdiri dan kini, 75 tahun kemudian, mewarnai dunia dengan para alumninya. Tahun 2020 ACR berdiri. Harapannya, kelak, 75 tahun yang akan datang, ACR juga akan mewarnai dunia dengan kontribusi para alumninya. Itulah cita-cita besar ACR. Bedanya, Fulbright didanai oleh anggaran negara, ACR tidak. ACR memberi beasiswa dari investasi dana abadi alias dana wakaf yang disumbangkan oleh para anggotanya. Dana amal jariyah yang pahalanya terus mengalir karena manfaatnya juga terus mengalir. Dana wakaf untuk hadirnya sebuah fulbright dari timur. Saatnya mendayagunakan wakaf untuk peran besar di masyarakat dunia.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corporate Life Cycle
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal
SWF: investment company BUMN

*)Artikel ke-313 karya Iman Supriyono ini dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Maret 2021

SWF: Antara Harapan dan Belenggu


Sudah lama saya menulis tentang pentingnya kita punya apa yang akhirnya secara resmi disebut LPI ini. Lembaga Pengelola Investasi. Sovereign Wealth Fund. SWF. Seperti Temasek milik Singapura atau Khazanah  miliki Malaysia. Ada harapan besar. Alhamdulillah kini ada LPI.  Pertanyaannya, bisakah LPI melaju dan berperan besar dalam penumbuhan kekuatan ekonomi negeri ini? Mari kita mencermatinya dari konten regulasi yang menaunginya  yaitu PP no 74 tahun 2020.  Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin

SWF: Antara harapan dan belenggu
  1. LPI adalah badan hukum Indonesia yang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia, sebagaimana disebut pada pasal 1 PP tersebut
  2. Konsekuensinya LPI tidak bisa menerima dana dari masyarakat (sebagai aset) melalui pintu ekuitas. LPI tidak bisa melakukan korporatisasai. Tidak bisa mencapai step kedelapan dalam corporate life cycle. Satu satunya kemungkinan adalah melalui pintu utang.
  3. Dengan poin ini, LPI juga akan berpola seperti BUMN pada umumnya sebagaiman sampai saat yang polanya akan seperti ini
    1. Perusahaan akan stagnan atau pertumbuhan rendah jika membatasi utang
    2. Perusahaan akan tumbuh pesat dengan kebijakan utang yang sangat berani. Rasio utang bisa empat kali ekuitas atau lebih. Sesuatu yang sangat mencekik
  4. Alternatifnya, LPI menjadi perusahaan manajer investasi (MI) sehingga bisa menerima titipan dana masyarakat melalui pintu reksadana. Tetapi ini dana sifatnya titipan. Tidak menjadi aset milik LPI. Jadi dana ini tidak akan mempengaruhi aset LPI
  5.  Jika model manajer investasi yang dipilih, maka LPI bukan hal baru. Sudah banyak perusahaan pengelola reksa dana  di negeri ini. Lebih dari 30 perusahaan. Tapi hingga kini dana kelolaannya juga masih relatif kecil. Per Desember 2020 hanya Rp 573 triliun. Bandingkan dengan dana pihak ketiga perbankan yang sekitar Rp 6 ribu triliun yang sepenuhnya disalurkan melalui skema utang
  6. Dana kelolaan MI Rp 573 triliun pun tidak semuanya disalurkan melalui pintu ekuitas. Peran obligaasi (utang piutang) masih dominan. Dengan demikian harapa untuk menggelontor dunia bisnis dengan dana jangka panjang (ekuitas) hampir  mustahil terwujud
  7. Pasal kedua PP menyebut  modal LPI adalah Rp 75 triliun. Negara akan menyetor modal tersebut dengan modal awal berupa uang tunai minimal Rp 15 triliun yang akan dilakukan secara bertahap sampai akhir tahun 2021 Pasal tersebut juga menyebut bahwa setoran negara  selengkapnya akan berupa: dana tunai, barang milik negara, piutang negara pada BUMN/perseroan terbatas, saham milik negara pada BUMN atau perseroan terbatas
  8. Artinya, dana yang bisa diharapkan benar-benar berfungsi menggelonor dunia bisnis melalui pintu ekuitas (jangka panjang) adalah sebesar Rp 15 triliun. Dana seperti itu di dunia bisnis hanya setara dengan sekitar separunya nilai seluruh saham Alfamart. Minor sekali untuk peran pertumbuhan dunia bisnis
  9. Menkeu Sri Mulyani menyampaikan dalam sebuah webinar UI, kamis, 18/2/21, sebagaimana yang dikutip oleh www.cnbcindonesia.com, “Mengapa kami membuat institusi baru ini? Karena Indonesia tidak bisa terus membangun hanya melalui pembiayaan yang berasal dari leverage atau utang,”.  Bahwa pembiyaan dunia bisnis kita selama ini terlalu didominasi utang menang bemikianlah adanya. Tapi dengan kondisi belenggu LPI diatas, maka harapan solusi masalah utang ini akan amat sangat sulit tercapai. Pintu ekuitas masuknya dana kepada LPI tertutup
  10. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sebagaimana dikutip oleh www.cnbcindonesia.com, saat ini sudah sudah ada investasi senilai US$ 9,5 miliar atau setara dengan Rp 133 triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang siap masuk ke Sovereign Wealth Fund (SWF) yang kini bernama Indonesia Investment Authority (INA). Calon investor itu antara lain adalah sebagai berikut.  Dana sebesar US$ 9,5 miliar berasal dari United States International Development Finance Corporation (US DFC), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Caisse de depot et placement du Wuebec (CDBQ)-Canada (Quebec Deposit and Investment Fund), dan perusahaan pengelolaan aset asal Belanda yakni APG-Netherland.
  11. Masuknya danaa seperti ini kepada LPI atau INA kemungkinan besar adalah melalui pintu utang. Mengapa? Sebagaimana penjelasan di atas, pintu ekuitas tertutup. Sementara pintu dana titipan dengan memposisiskn LPI sebagai MI akan sangat kecil kemungkinannya. Penyebabnya, pertama, perijinan sebagia MI tentu tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Kedua, nama-nama yang disebut calon investor adalah institusi pengelola aset yang sudah jauh lebih berpengalaman dan mapan dibanding LPI. Tentu sulit berharap LPI lebih baik dalam menghasilkan ROI dari pada mereka. Sementara kalau tidak lebih baik, mengapa harus menitipkan dananya ke LPI? Melakukannya sendiri secara langsung akan lebih baik hasil ROI nya
  12. Nah, dengan penjelasan di atas, jelas sekali bahwa harapan besar kehadiran LPI di dunia bisnsi tanah air masih terhambat oleh belenggu yang akan menghadang  SWF merah putih ini dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada harapannya. Tidak adakah solusinya? Ikuti terus tulisan-tulisan di www.korporatisasi.com ini

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corporate Life Cycle
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal
SWF: investment company BUMN

*)Artikel ke-312 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantornya, SNF Consulting, pada tanggal 20 Pebruari 2021

Harapan Bank Syariah Indonesia, Nyata atau Fatamorgana?


Bank Syariah Indonesia (BSI) hadir dengan sambutan yang luar biasa. Penuh opmisme. Harapan tinggi diletakkan dipundaknya. Pertanyaannya, apaka BSI akan mampu memenuhi harapan itu? Atau hanya fatamorgana? Mari kita cermati. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin. Semua angka adalah ditampilkan sesuai kaidah pembulatan.

  1. Sebagaimana dokumen resmi rencana mergernya, ada tiga bank perserta merger. Masing -masing adalah  Bank BRI Syaraiah (BRIS) dengan aset Rp 50 triliun, ekuitas Rp 5 triliun, dan laba Rp 122 miliar.  Bank Syariah Mandiri (BSM) dengan asat Rp 114 triliun, ekuitas Rp 10 triliun, dan laba Rp 726 miliar.  Bank BNI Syariah (BNIS) dengan aset Rp 51 triliun, ekuitas Rp 5 triliun, laba Rp 230 miliar. Semua angka adalah berdasar laporan semester pertama 2019
  2. Berdasarkan dokumen tersebut juga, bank hasil merger menurut angka pro forma akan memiliki aset Rp 215 triliun, ekuitas Rp 20 triliun, dan laba Rp 1 triliun.
  3. Begitu besarkah hasil penggabungan itu? Mari kita bandingkah dengan perbankan nasional. Bank Mandiri beraset Rp 1 236 triliun, ekuitas Rp 190 triliun, dan laba Rp 16 triliun. Bank BRI aset Rp 1 288 triliun, ekuitas Rp 191 triliun, laba Rp 21 triliun. Bank BCA aset Rp 870 triliun, ekuitas Rp 160 triliun, dan laba Rp 14 triliun. Tampak sekali dibandingkan dengan tiga pemain utama industri pergankan tanah air itu BSI masih sangat kecil
  4. Mungkin ada yang akan memprotes bahwa perbandingan itu tidak apple to apple. BRI, Mandiri dan BCA kan bukan bank syariah? Justru itu tantangannya. Bagaimana bank syariah berperan tidak kalah dengan bank konvensional di percaturan industri perbankan negeri ini
  5. Bagaimana jika dibandingkan dengan bank syariah global? Menutur data yang dikutip www.thasianbanker.com, bank syariah terbesar dunia adalah Al Rajhi bank dari Saudi Arabia dengan aset USD 111,3 miliar alias Rp 1 565 triliun, ekuitas USD 13,8 miliar (Rp 194 triliun) dan laba USD 1,3 miliar (Rp 18 triliun). Terbesar kedua adalah Dubai Islamic Bank dengan aset USD 80,3  miliar, ekuitas USD 9,9 miliar dan laba USD 577 juta. Kedua sampai kesepuluh masing masing adalah Kuwait Finance House, Maybank Islamic, Qatar Islamic Bank, Alinma Bank, Abu Dhabi Islamic Bank, Masraf Al Rayan, Al Baraka Banking Group, dan CIMB Islamic Bank.  Malaysia hadir dengan dua banky yaitu Maybank Islamic dan CIMB Islamic. CIMB Islamic beraset USD 26,1 miliar (Rp 367 triliun), ekuitas USD 1,6 miliar (Rp 22 triliun), laba USD 49  juta (Rp 689 miliar).
  6. Untuk menyamai aset CIMB syariah, sesuai angka di atas, BSI harus menambah aset sebesar Rp 152 triliun. Dengan asumsi syarat kecukupan  modal minumum (CAR) 12%, maka untuk mencapai aset seperti CIMB Islamic dibutuhkan modal (ekuitas) sekitar Rp 44 trilun.
  7. Dengan posisi ekuitas sebagaimanadi atas yang Rp 20 triliun, masih dibutuhkan tambahan ekuitas Rp 24 triliun untuk bisa mengejar CIMB Islamic. Padahal, jika laba tahunan diasumsikan sama dengan laba semesteran, maka tiap tahun BSI akan memperoleh laba Rp 2 triliun. Jika laba tersebut tetap dan tidak pernah diambil sebagai dividen dibutuhkan wakatu 12 tahun untuk bisa mengejar CIMB Islamic. Jikapun laba naik, tidak mungkin akan bisa dicapai dalam waktu 4 tahun kedepan yaitu tahun 2025 sebagaimana yang selama ini didengung-dengungkan. Padahal yang dikejar dalam waktu sepanjang itu juga terus berlari
  8. Tidak adakah cara lain untuk mencapatakn tambahan modal sebesar Rp 24 triliun itu dalam wakktu dekat? Sebenarnya ada. Kapitalisasi pasar BSI saat ini adalah Rp 111 triliun. Jika BSI melakukan penerbitan saham baru (rights issue) sebesar 22% saham, akan diperoleh Rp 24 triliun. Persis seperti yang dibutuhkan untuk mengejar CIMB Islamic dalam perhitungan di atas.
  9. Dan tentu saja pelaksanaannya tidak bolehh sekali rights issue. Tetapi dilakukan bertahap supaya lebih optimal. Misal tahap perama 10% dengan memperoleh dana Rp 11 triliun. Dana itu diputar dulu untuk meningkatankan aset. Genjott program promosi agar masyarkat menyimpan uangnya di                 BSI. Dengan demikian laba akan meningkat. Selanjutnya, right issue tahap kedua dengan menerbitkan 10% saham pereolehannya sudah akan jauh lebih tinggi ari pada tahap pertama. Efeknya akan seperti bola salju.
  10. Sayang seribu sayang, tradisi rights issue tidak berlaku di dunia korporasi indonesia pada umumnya. Perusahaan-perusahaan Indonesia masih bermindset mempertahankan keberadaan pemegang saham pengendali. BRI, BNI, Mandiri dan BTN yang sudah lebih lama IPO pun tidak punya tradisi rights issue. Jangan heran jika misalnya BRI yang jauh lebih tua dari Maybank tapi asetnya hanya sekitar separuh Maybank.
  11. Masih banyak yang memandang right issue BUMN sama dengan menjual aset negara. Takut. Pandangan ini salah total. Tapi masih banyak yang berpersepsi seperti ini. OJK pun masih mengatur bahwa bank harus memiliki pemegang saham pengendali. BSI tidak bisa seperti CIMB yang sudah tidak lagi ada pemegang saham pengendali. Yang sudah mencapai fully corporatized dalam 8 step corporate life cycle. Yang tidak tidak perlu lagi takut hilangnya pengendalian karena melakukan rights issue.
  12. Dengan mindset seperti itu, right issue BSI itu hanya sekedar fatamorgana. Perkembangan BSI akan menunggu akumulasi laba. Itupun tidak akan sepenuhnya karena negara butuh dividen untuk APBN. Laba tidak bisa diharapkan untuh menjadi pemicu pertumbuhan. Kecuali ada perubahan paradigma dalam waktu singkat. Ada revolusi mindset menjadi korporatisasi. Semoga.
Harapan BSI, fatamorgana atau nyata?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corporate Life Cycle
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal
SWF: investment company BUMN

*)Artikel ke-311 karya Iman Supriyono ini ditulis di kantornya, SNF Consulting, pada tanggal 5 Pebruari 2021

Dari Turki Usmani Hadir di Indonesia


Isaac Carasso lahir di Salonika 1874. Sudah ratusan tahun  nenek moyangnya tinggal di kota yang berada di teluk Thermaic ini setelah terusir dari Spanyol karena masalah politik. Salonika adalah sebuah kota yang berada dalam wilayah Turki Usmani sejak tahun 1430. Perubahan politik telah menjadikan kota yang berdiri tahun 315 SM ini menjadi Wilayah Yunani sejak tahun 1912 dengan nama Thessaloniki.

Tahun 1916 Carasso berhijrah bersama istri dan tiga buah  hatinya. Pria berdarah Yahudi ini meninggalkan kota yang kini terbesar kedua di Yunani itu untuk mencari penghidupan baru di Barcelona, Spanyol.

Di Barcelona  ia mengamati bahwa banyak anak-anak mengalami masalah infeksi usus. Terinspirasi oleh pemenang hadiah Nobel dan direktur PasteurInstitute Ilya Mechnkov, ia memerkenalkan yogurt untuk mengatasi masalah tersebut. Yogurt sudah terkenal bermanfaat bagi kesehatan di semenanjung Balkan, tanah kelahirannya. Hanya 3 tahun dari kedatangannya di Barcelona, tahun 1919 Isaac meluncurkan yogurt berkemasan keramik dengan merek Danone. Danone diambil dari nama anaknya, Daniel Carasso, yang sehari-hari dipanggil Danon.

Sepuluh tahun kemudian, Isaac mulai mengepakkan sayap ke Perancis. Tahun 1929 ia mendirikan Societe Parisienne du Yoghourt Danone dan membuka gerai ritel pertamanya di Paris. Gerai berlokasi di rue Andre Masseger itu mengusung slogan lezat dan sehat. Danone diposisikan sebagai makanan penutup yang tepat untuk pencernaan yang sehat dan menyenangkan.  Warga Paris menyerbu makanan yang sebelumnya telah dijajakan di apotek itu.

Daniel Carasso hijarah ke Amerika Serikat tahun 1941, dua tahun setelah Isaac Carsso, sang ayah, meninggal. Pria kelahiran 1905 di Salonika berhijrah karena Paris diinvasi oleh Nazi. Hijrah yang dilakukan karena paksaan kondisi politik ini justru menjadi berkah. Daniel mengembangkan bisnisnya di negeri Paman Sam. Diawali dengan mengakuisisi sebuah toko yogurt di New York, Daniel menambahkan cita rasa lokal berupa lapisan selai buah.  Produk itupun diterima luas di pasar. Danone di USA telah berkembang pesat ketika Daniel kembali ke Perancis tahun 1951.

Tahun 1970 BSN adalah perusahaan makanan dan minuman bayi terbesar di Eropa setelah mengakusisi Evian. Tahun 1972 BSN merger dengan Danone.  Merger ini menjadi mungkin karena kedekatan Daniel Carasso dengan Antoine Riboud, pendiri BSN, setelah bertemu di REDEP. REDEP adalah pusat pengembangan profesional yang telah membantu kedua perusahaan sejak beberapa tahun sebelumnya.  Daniel Carasso ingin lebih mengembangakan Danone secara internasioanl dan memandang Riboud sebagai orang yang tepat untuk melakukannya. Merger diumumkan pada bulan Desember tahun 1972. 

Mehmed Al Fatih, salah satu pemimpin terkemuka Turki Usmani

Sejak tahun 1978, BSN-Gervais Danone, nama resminya ketika itu, telah mengakuisisi berbagai perusahaan termasuk Amora, Maille, Vandamme, Leibig, dan Volvic. Dalam kurun waktu kurang dari 2 dasarwarsa telah berkembang menjadi perusahaan makanan terbesar ketiga di Eropa. Menguasai pasar di Perancis, Luxemburg, Italia, Jerman, Spanyol, Belgia dan Portugis.

Setelah sukses di Eropa Timur, selanjutnya Danone mengincar pasa Amerika Latin dan Asia. Di Asia Danone mengawali langkahnya tahun 1991 dengan mengakusisi Amoy, produsen saus kedelai dan makanan beku dari Hongkong.

Tahun 1994 BSN-Gervais Danone melakukan corporate rebranding. Nama yang terlalau panjang dipangkas dan disingkat menjadi satu kata saja yaitu Danone. Logonya pun diubah menjadi siluet seorang anak yang menatap bintang dengan warna dasar biru.  Rebranding tersebut dilakukan saat Danone sudah menguasai pasar di 46 Negara.

Tahun 2007 Danone mengakusisi Royal Numico. Ketika itu Numico adalah perusahaa nutrisi bayi dan makanan medis terbesar di dunia. Akusisi inilah yang menjadikan Danone hadir di bisnis susu bayi negeri merah putih melalui SGM melengkapi kehadirannya melalui Aqua yang juga diperoleh melalui akusisi pada tahun 1998. SGM diakusisi oleh Royal Numico pada tahun 1998 melalui Nutricia.

&&&

Pembaca yang Baik, sejarah Danone memberi pelajaran kepada kita tentang sebuah korporasi yang awalnya didirikan sebagai sebuah kebutuhan dasar yang sederhana. Kebutuhan nafkah dalam suasana keterpaksaan politik. Danone yang kini menguasai pasar dunia, termasuk pasar tanah air, adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Proses tranformasi dari perusahaan keluarga sederhana menjadi sebuah korporasi besar yang mengusai pasar berbagai bangsa tanpa pemegang saham pengendali. Proses korporatitasi. Dari Turki Usmani hadir di berbagai penjuru dunia. Dari Turki Usmani hadir di Indonesia.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corporate Life Cycle
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Korporatisasi: Asal Muasal

*)Artikel ke-310 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan telah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Pebruari 2021.

Ummi di Mata Jo


Ummi, menjelang penyembelihan dua ekor kambing pagi itu, kita sepakat nama Joang Dimarga Albarr untuk buah hati kedelapan kita itu.  Marga artinya jalan.  Albarr adalah asmaul husna yang artinya Maha Baik. Berjuang di jalan Sang Maha Baik. Itulah arti lengkap nama yang merupakan untaian doa untuk bungsu kita itu.

Ketika itu kita putar otak untuk mencari ide nama unik. Yang tidak sama dengan nama orang lain. Mengikuti pola nama kakak-kakaknya. Mulai si sulung Bina Izzatu Dini, disusul Raih Salsabila, Ahmad Aufa Bil Jihadi, Gina Aninnas, Dibela Syafaatillah, Siar Risalatunnabi, dan Disayang Ahlu Jannati.

Namanya adalah doa agar si sulung membina kehidupan untuk kemuliaan agama.  Agar si nomor dua meraih salsabila yaitu mata air di surga. Agar si nomor tiga memenuhi panggilan perjuangan di jalan-Nya. Agar si nomor empat kaya dari meminta-minta kepada manusia. Agar si nomor lima dibela oleh syafaat Tuhannya. Agar si nomor enam menyiarkan ajaran nabi. Agar si nomor tujuh menjadi orang yang disayang oleh pemilik surga. Semoga semuanya adalah untaian doa yang terkabul. Aamin.

Ummi, si bungsu itu masih berumur 3 tahun ketika kau tinggal pergi. Tentu saja si Jo belum bisa memahami apa arti kematian. Taunya adaah bahwa ummi pergi naik ambulan. Kebetulan bungsu kita itu sangat suka dengan mobil-mobilan. Ada macam-macam mainan mobil koleksinya. Ambulan adalah salah satunya. Maka, ia hafal betul apa itu ambulan. Dan kebetulan sepanjang sakit sampai meningal memang ummi beberapa kali berangkat dan pulang naik ambulan. Memori itu berbekas sekali bagi Jo.

Ummi, beberapa hari setelah kepergianmu, abi mengajaknya jalan-jalan bermobil sekitar rumah. Di jalan ada ibu-ibu berjilbab besar seperti jilbab yang biasa kau pakai. Jo pun menunjuk-nunjuk ibu itu. “Itu ummi ya?”. Itu kata yang terucap dari bibir mungilnya. Air mata harukupu meleleh lagi.

Jo sedang bereksperimen mencicipi garam himalaya

Tidak terhitung berapa kali Jo menanyakan kapan ummi pulang. Wajar karena sejak sakit ummi beberapa kali pergi naik ambulan dan  pulang kembali ke rumah.  Tentu kecuali ambulan yang kau naiki menuju  pemakaman.  Semula abi selalu menjawab bahwa ummi pergi tidak akan pulang. Belakangan ada ide jawaban bagus dari si sulung. Ummi pergi tidak akan pulang. Kita nanti yang akan menyusul ummi suatu saat. Jawaban itu yang akhirnya aku pakai menjawab pertanyaan tentang kepulangan umi dari si Jo.

Ummi, semalam, hampir genap sebulan kepergianmu, Jo minta abi untuk meneleponkan ummi. Abi tidak menyangka Jo punya permintaan seperti itu. Tapi abi tidak pikir panjang menjawabnya bahwa ummi tidak bisa ditelepon. Itu adalah seperti yang selama ini kau lakukan kepada anak-anak. Tidak pernah menjawab dengan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Katakan apa adanya. Tidak menipu anak-anak walau dengan maksud menghiburnya. Walaupun mungkin itu terasa berat. Itulah pelajaran kejujuran yang kau selalu ajarkan ke anak-anak.

Ummi, sepanjang usia Jo sampai kau tinggalkan, praktis hanya dua tahun kau sempat mengasuhnya sebagaimana kakak kakaknya. Sepanjang dua tahun kemanapun kau pergi kau ajaknya. Karena aktivitas sehari-harimu adalah mengajar Al Qur’an dan mengurusi TPQ Qiroaty se kota Surabaya, maka si bungsu itu juga mengikutimu berinteraksi dengan Al Qur’an.   Tahun ketiga kau sudah sakit. Disamping juga karena pandemi sehigga kau praktis hanya di rumah.

Insyaallah, dua tahun itu cukup untuk mewarnai jiwanya. Mulai mendengar adzan dan iqomat yang abi kumandangkan begitu ia lahir. Lalu kita hadirkan di dekat dua ekor kambing yang abi sembelih sendiri pada hari ketujuh hidupnya. Sebagaimana kakakak-kakaknya, kita pastikan buah hati kita merasakan dari dekat makna pengorbanan sejak dini. Lalu selalu mengikutimu mengajar dan mengurusi pengajaran Al Qur’an dari masjid ke masjid.  Lalu terus abi ajak sholat jamaah ke masjid sebelum pandemi. Lalu ikut menikmati lantunan adzan dan iqomat lima waktu yang abi kumandangkan sebelu sholat jamaah di rumah semasa pandemi.  Insyaallah harapanmu agar Jo menjadi anak sholeh akan terwujud. Menjadi anak yang terus mendoakanmu sepanjang hayatnya. Tentu juga mendoakanku juga. Aamin.

Ummi, obituari yang abi tulis ini pun juga punya maksud pendidikan bagi Jo. Harapan abi, kelak ketika Jo sudah faham arti kematian. Ketika Jo sudah bisa membaca. Ketika Jo sudah dewasa. Seri obituari untukmu yang insyallah akan diterbitkan menjadi buku ini akan membantunya mengenalmu. Mengenal ibunya yang pejuang Al Qur’an. Mengenalmu sebagai sosok ibu sempurna bagi anak-anakmu. Mengenalmu yang mengakhiri hidup dengan menyebut nama Tuhanmu. Dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang merupakan penanda husnul khotimah. Allahumarhamha.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu

*)Artikel ke-309 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya pada tanggal 23 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesebelas untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Musim Durian Tahun Lalu


Ummi,  kemarin sore aku menikmati durian di Lampung. Buah yang kita suka menikmatinya rame-rame bersama anak-anak. Kembali aku ingat keindahan bersamamu. Maka, di Cengkareng ini hatiku tergerak menuliskan obituari kesepuluh untukmu ini. Obituari tentang durian sebagai salah satu cara kita menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan keluarga. Kebahagianmu. Kebahagiaanku. Kebahagiaan anak-anak kita.

Musim durian tahun lalu, kita menikmati puncaknya dalam festifal tumpeng raksasa durian di Wonosalam. Pemicunya adalah seorang sahabat yang memposting di media sosial tentang event itu. Pendiri perusahaan perkekebunan durian itu mengumumkan adanya acara camping bersamaan dengan perhelatan besar itu. Kau langsung antusias saat kuajak ikut.

Dan, sore itu, selepas kau mengajar TPQ, kita berangkat berempat. Kau, aku,  Jo dan Disa. Enam buah hati yang lain sudah pada meninggalkan rumah karena menikah,  kuliah, maupun di pesantren. Sore itu kita berempat menikmati perjalanan menuju wonosalam dalam cuaca yang hujan deras nyaris sepanjang perjalanan. Jarak pandang terbatas.  Seperti biasanya kau selalu mengingatkan agar aku berhati-hati mengemudi dalam cuaca seperti itu. Kita menikmati kebersamaan perjalanan dengan kehati-hatian. Tetapi bersamamu, lambatnya laju kendaraan yang diakibatkannya pun sudah merupakan kegembiraan. Kita menikmatinya.

Tiba di lokasi, sahabatku bos kebun durian itu  langsung menyambut kita dengan setumpuk buah harum semerbak itu. Kita makan sepuasnya dalam keceriaan. Duriannya melimpah. Pembatasnya hanya perut kita. Paduan antara durian dan kebersamaan. Kebersamaan kita dengan anak-anak. Kebersamaan dengan sahabatku itu.

Kita puas-puaskan menikmatinya sebelum akhirnya tiba waktu adzan isya. Kita sholat jamak magrib dan isya di mushola kebun durian itu juga. Mushola di tengah kebun durian adalah sebuah kenikmatan tersediri. Berbalut keceriaan mondar mandir Jo dan Disa keluar masuk tenda. Bercengkerama menikmati suasana pegunungan.

Keesokan harinya kita bersama menikmati pesta akbar durian itu. Banyak pejabat datang untuk puncak acaranya. Kita gelar tikar sekedarnya di lokasi acara. Duduk-duduk menikmati keceriaan Jo dan Disa diterpa hangatnya sinar mentari pagi pegunungan nan menyehatkan. Diselingi keceriaan mereka naik komedi putar. Diselingi keceriaan kita menikmati aneka menu di para pedagang di sekitar lokasi acara.

&&&

Ummi, kita sekeluarga suka durian. Suka kebersamaan dalam menikmatinya.  Tapi kita penasaran bagaimana bisa memilih dan memastikan durian yang benar-benar enak. Yang dagingnya tebal. Yang teksturnya lembut. Yang rasanya legit. Yang ada sedikit  pahit-pahitnya. Yang aromanya menggoda. Tidak sekali dua kali kita salah pilih. Atau bahkan tertipu. Maka, musim durian tahun lalu kita berdua bertekat untuk belajar. Serius menguasai keahlian memilih durian.

Kita pelajari konspnya melalui berbagai sumber internet. Lalu kita prakekkan. Membeli durian yang belum masak. Kita bawa pulang. Lalu kita amati perkembanganya dari hari ke hari. Begitu matang kita belah bareng-bareng dengan penuh penasaran. Benarkah pilihan kita itu? Dan tiu terus-menerus kita lakukan sepanjang musim durian tahun lalu. Di rumah selalu ada durian menunggu masak.

Musim durian tahun lalu tepat berkahir ketika kita yakin telah menguasai keahlian itu. Keahlian memilih durian. Akurasinya telah kita buktikan dengan percobaan sederhana itu. Kita tidak bisa lagi ditipu-tipu tentang durian. Dan…kita akan menyambut musim durian tahun-tahun berikutnya dengan lebih suka cita. Terbayang sudah kenikmatannya. Terbayang sudah kebahagiaannya. Terbayag sudah manfaatnya untuk kekokohan keluarga kita.

Tapi takdir berkata lain.  Mejelang musim durian tahun ini kau dipanggil-Nya. Ummi, kini musim durian telah tiba. Tapi abi tidak bisa lagi menikmatinya denganmu. Menikmati lezatnya buah asli nusantara ini ini bersamamu. Menikmati hasil pembelajaran kita bersamamu. Menikmati keindahan bersamamu.

Tetapi itulah takdir-Nya. Aku masih terus berproses  untuk bisa sepenuhnya menerima. Memang tidak mudah. Air mata ini masih terus berlinang mengingatmu. Tetapi delapan anak-anakmu sangat membantu prosesnya. Alhamdulillah. Aku masih bisa menikati durian bersama mereka. Memang segala sesuatunya  tidak akan lagi seperti musim durian tahuh lalu. Ketika kau  masih bersamaku. Mempelajarinya bersamamu. Dan menikmatinya bersamamu.

Ummi, yang menguatkanku adalah keyakinan bahwa membahagiakan anak-anak adalah tugas mulia bagi setiap orang tua. Itulah keyakinan kita. Menjadikan keluarga sebagai tempat yang paling indah bagi mereka. Keceriaan durian di keluarga hanyalah salah satu dari cara sederhana kita mewujudkan keluarga idaman bagi anak-anak kita. Salah satu dari banyak cara.

&&&

Ummi, banyak orang yang suka durian tetapi tidak mampu memilihnya sendiri saat membelinya. Dan di situ ketrampilan yang kupelajari bersamamu mendapatkan tempatnya. Beberapa waktu lalu aku rapat dengan klien SNF Consulting di Wonosalam. Bagasi mobil penuh buah durian.  Sebagian untuk aku nikmati bersama anak-anak. Sebagian untuk diantar ke tetangga. Dan betapa bahagianya hati ini manakala mereka sangat mengapresiasi durian pilihanku. Durian yang dipilih dengan ilmu hasil belajar kita berdua.

Ummi, dalam hidupmu kau biasa melakukan banyak hal untuk membahagiakan orang lain. Bahkan bukan hanya kebahagiaan dunia semata. Dan kini, ketika kau telah tiada, ilmu sederhana pemilihan durianmu insyaallah akan tetap bisa membahagiakan orang lain. Walaupun kecil, aku yakin itu adalah tambahan pahala untukmu. Membahagiakan anak-anak kita. Membahagiakan tetangga kita. Membahagiakan sahabat-sahabat kita.  Melengkapi amal jariyah besarmu mengajarkan Al Qur’an selama lebih dari 20 tahun hidupmu. Allahumarhamha. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-308 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan pulang di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 21 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesepuluh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Istriku Editorku


Ummi, kehilanganmu adalah juga kehilangan seorang editor. Bukan sembarang editor. Ummi adalah editor luar dalam bagi abi. Kukura tidak akan ada lagi editor seperti dirimu itu. Air mataku kembali menetes deras. Air mata keridhoan untukmu duhai ibu anak-anakku.

Dulu awal kita menikah belum musim komputer. Kau punya mesin ketik manual yang kau beli untuk kepentingan mengerjakan tugas-tugas praktikummu. Jauh sebelum kita menikah. Aku punya mesin ketik yang aku beli dari hadiah lomba menulis artikel di Surabaaya Pos. Juga sebelum kita menikah. Praktis di rumah kita ada dua mesi ketik. Dan, ketika itu kita sepakat, ngapain harus ada dua mesin ketik. Maka tidak pikir panjang salah satu mesin ketik kita itu jual. Aku masih ingat yang dijual adalah mesin ketikmu. Mesin ketikku dipilih karena ketika itu kondisinya lebih baik.

Istriku editorku

Jaman itu kau dan aku menulis dengan mesin ketik manual. Maka tidak ada kebutuhan editor disitu. Yang ada alah type ex berupa cairan atau kertas untuk mengoreksi jika terjadi salah ketik. Dan sebagai penulis aku melakukannya sendiri. Aku sudah produktif menulis yang memang sudah menjadi hobiku sejak SMA. Tentu sudah akrab dengan type ex itu sejak SMA juga. Tapi belum terpikir kebutuhan seorang editor.

Kebutuhan editor baru muncul ketika kita pertama kali beli komputer sekitar tahun 1996. Masih ingat ketika itu sebagai pasangan suami istri yang sama-sama mahasiwa kita harus memastikan bahwa aku dan kau lulus dua duanya. Itu komitmen kita saat menikah. Itu juga janji kita kepada orang tuaku dan oranag tuamu. Bahwa pernikahan tidak akan menggagalkan kuliah kita. Dan alhamdulillah kita sukses membuktikannya.

Untuk memastikan hal itu kita datang berdua ke senior dan dosen kita, Pak Daniel Rosyid bersama istri beliau ketka itu. Kini sang istri itu juga sudah almarhumah. Allahumarhamhunna. Kita konsultasi bagaimana pengalaman beliau menyelesaikan studi bahkan sampai doktor sambil mengasuh anak-anak. Dan saran beliau luar biasa. Mujarab. Salah satunya adalah hal teknis. Bahwa kita harus beli komputer lengkap dengan printer. Agar tiap hari bisa menabung tulisan untuk kelulusan itu setiap hari. Jika sehari menulis satu halaman, maka 3 bulan skripsipun kelar.  Bulan keempat tinggal melakukan perbaikan ini dan itu. Simple sekali.

Dan atas saran itu maka kita beli komputer  untuk pertama kalinya. Komputer rakitan bekas. Kepentingan pokoknya adaLah untuk mengerjakan tugas akhir alias skripsiku  yang memang sudah waktunya diselesaikan. Tentu termasuk untuk melanjutkan hobi menulisku yang sudah kulakukan sejak SMA. Selanjutnya juga skripsi dan tugas akhirmu. Dan alhamdulillah saran pak Daniel Rosyid itu mujarab. Tugas akhirku selesai tidak lama setelah membeli komputer dan printer bekas itu. Tugas akhirmu menyusul tiga tahun kemudian karena kau harus banyak cuti untuk kelahiran anak-anak kita.

Nah, sejak ada komputer itu, begitu aku menulis sesuatu, engkaupun sigap. Membantu mengedit tulisanku manakala aku harus pergi mencari nafkah. Atau kadang aku harus beristirahat untuk menyimpan energi kuliah, aktif di masjid kampus kita, merintis bisnis untjk mencari nafkah, dan tentu mengasuh junior-junior kita. Itu semua kau lakukan disela-sela aktivitasmu yang juga tidak kalah padat.

Jika dihitung dari pembelian komputer itu, kau telah menjadi editorku sejak usia tiga tahun pernikahan kita. Hingga sakitmu dan kau tidak mungkin lagi mengedit tulisanku setahun lalu, berarti kau telah menjadi editor setiaku selama 23 tahun. Subhanallah. Belasan buku dan ribuan artiekel telah terlahir senjang waktu itu.

Mengedit 23 tahun plus kebersamaan dalam suka dan duka sepanjang itu, tentu membuat isi otakku sebagai seorang penulis semua tertumpah ke otakkmu. Jangan heran jika kau adalah editor yang sangat mengerti aku. Luar dalam. Sesekali aku bertanya kepadamu tentang artikel yang telah aku posting tanpa memintamu mengeditnya. Aku tanya kau baca tidak tulisan itu. Dan kau suka menjawab. Ndak usah membacapun aku sudah tau isinya. Begitu jawabmu. Bagaimana tidak tahu, kau adalah istriku sekaligus editorku yang membersamaiku 24 jam tanpa batas.

Maka jangan heran ketika aku pernah mencoba meminta seseorang mengedit tulisanku. Dia kerjakan dengan sangat serius. Tidak main-main. Tapi begitu aku baca lagi hasil editan dia, aku tidak bisa menerimanya. Jauh sekali dengan editanmu. Maka, akupun kembali ke kau. Ke dirimu. Istriku editorku. Dan itu hanya terhenti karena saat sakitmu tidak memungkinkanmu lagi untuk menjadi editor.

Umi, aku menulis berbagai konsep manajemen yang kemudian dipakai berbagai kalangan bisnis atau investor. Aku meiatkannya sebagai amal jariyah melalui ilmu yang bermanfaaat. Sejarah berbagai perusahaan,  gergaji korporatisasi, kurva korporatisasi, financial spiritual quotient, crowding effect, corporate life cycle, sistem manajemen, tripod  manajemen. Itu adalah beberapa contoh konsep yang kini dipakai berbagai perusahaan. Baik klien SNF Consulting maupun perusahaan manapun yang membaca tulisan yang memang aku share secara gratis kemana-mana itu. Dan….kau berkontribusi tak tergantikan disitu.

Ada yang tertulis secara formal posisimu sebagai editor dan itu bisa di-googling. Ada lebih banyak lagi yang tidak tertulis secara formal. Dan demi merasakan pengorbananmu bagiku dan bagi keluarga kita salama ini, aku yakin seyakin-yakinya. Saat ini kau sedang menikmatinya sebagai amal jariyah dari itu semua. Tentu saja disamping amal jariyahmu sendiri sebagai guru Al-Qur’an yang istiqomah selama lebih dari 20 tahun.

Ummi, rumah kita yang juga merupakan studio kepenulisanku adalah saksi bisunya. Di rumah itu buku adalah harta yag paling menonjol. Maka aku suka menamakan rumah itu sebagai SNF Consulting house of management. Melengkapi keberadaan kantor yang di jalan Pemuda itu. Logo SNF hijau segar merah merekah masih terpasang indah di terasnya. Rumah itu menjadi saksi peranmu sebagai editor yang tidak kenal waktu menjaga gawang tulisanku sebelum dibaca orang lain. Dua puluh empat jam. Meja kerja di kamar pribadi kita itu adalah bagian terpenting dari saksi bisu itu.

Ummi, kini kau tidak disisiku lagi. Tidak menjadi editorku lagi. Tapi aku telah berkomitmen untuk terus bekerja keras agar konsep-konsep manajemen itu terus dipakai di dunia korporasi. Melalui SNF Consulting, aku bersama seluruh tim bekerja keras untuk memastikannya. Walaupun profesi resmimu adalah guru Al Qur’an, tapi kau tahu betul konsep itu. Kau tau betul bahwa konsep-konsep itu adalah solusi terhadap eknomi bangsa dan umat ini. Agar kita menjadi bangsa dan umat produsen. Tidak seperti selama ini yang hanya bisa menjadi konsumen. Dan…di dalam peran itu semua ada namamu. Ada amal jariyahmu. Istriku editorku. Allahumarhamha. Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-307 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil menunggu penerbangan di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 19 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kesembilan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

Bisnis Rumah Sakit: Bagaimana 2021?


Bagi sebuah perusahaan, akhir tahun adalah saat penyusunan rencana bisnis. Salah satu tugas para direksi. Tugas administratif yang didalamnya mengandung konten stratatejik. Disebut tugas admistratif karena memang secara formal harus dilakukan. Undang-undang PT sebagai dasar berdirinya perusahaan mewajibkannya. Tidak melakukannya berarti melalaikan kewajiban. Bisa menjadi pintu masuk berbagai kesalahan-kesalahan berikutnya. Bahan bisa fatal.

Disebut mengandung konten stratejik karena rencana bisnis adalah bagian dari perencAnaan secara umum. Bagian dari planning. Planning adalah satu dari tiga tripod manejemen. Dua yang lainnya adalah executing dan controlling. Fungsinya persis seperti kaki-kaki sebuah tripot. Tidak adanya salah satu kaki mengakibatkan tripod tidak berfungsi. Lemahnya salah aatu kaki mengakibatkan kelemahan tripod secara keseluruhan.

Perencaan adalah berdiri diantara dua kutub waktu. Masa lalu dan masa yang akan datang. Ini yang menarik. Tahun 2020 dunia bisnis diobrak-abrik oleh pandemi. Ada yang menikmatinya sebagai durian runtuh. Ada yang datar-datar saja. Ada yang dihabisi. Bagimana tahun 2021?

$$$

Hingga triwulan ketiga tahun 2020, Siloam Hospital mencatatkan pendapatan Rp 5,00 triliun. Angka ini mengalami penurunan 4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesaar Rp 5,22 triliun. Penurunan omzet ini sampai berakitbat perusahaan jaringan rumah sakit ini mengalami kerugian Rp 43 miliar. Periode yang sama tahun lalu mengantongi laba Rp 55 miliar.

Bagaimana tahun 2021: Menyerang atau bertahan?

Namun demikian, dalam kondisi yang merugi, Siloam tetap berivestasi. Laporan arus kas nya menunjukan besaran investasi sebesar Rp 177 miliar. Lebih dari 3x laba tahun sebelumnya. Tepatnya 3,2x laba tahun sebelumnya. Dari catatan laporan keuangannya, sebagaian besar investasinya adalah berupa pembelian aset tetap.

$$$

Belanja modal. Ini adalah isu paling stratejik dalam sebuah perencanaan bisnis. Stratejik karena ini adalah tentang eksistensi perusahaan. Belanja modal terkait erat dengan ekspansi pasar. Bagi sebuah perusahaan rumah sakit misalnya, belanja modal artinya adalah menambah rumah sakit baru. Menambah kapasitas.

Kemungkinannya bisa dua. Rumah sakit baru itu disambut baik oleh pasar. Menghasilkan pendapatan yang cukup umtuk menutup biaya dan menghasilkan laba. Jika ini yang terjadi maka sebuah perusahaan akan makin eksis di pasar. Jika pesaing-pesaingnya tidak melakukan hal yang sama artinya pangsa pasar perusahaan mengalami kenaikan. Makin mendominasi pasar.

Sebaliknya jika investasi gagal diterima baik oleh pasar, perusahaan akan mengalami kerugian. Jika volume investasinya sangat besar, maka efeknya pun akan sangat besar. Bisa mengganggu dan bahkan menghancurkan eksistensi perusahaan. Inilah risikonya.

Pertanyaannya, jika Anda adalah CEO alias direktur utama Siloam, perencanaan seperti apa yang akan Anda putuskan? Tetap seperti tahun 2020 yang walaupun rugi tetap menggelontorkan investasi lebih dari 3x laba tahun sebelumnya? Atau menahan diri tidak berinvestasi sambil menunggu apa yang terjadi. Sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh para pesaing?

Bagaimana perushaaan Anda? Apakah merencankan untuk verinvestasi? Atau masih menahan diri sambil menunggu perkembangan? Menunggu apa yang akan dilakukan oleh para pesaing? Membiarkan para pesaing menguasai pasar? Anda yang bergerak di sektor rumah sakit, bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Corona Pits Stop atau New Normal
Pandemi dan Analogi Rata-rata Kelas

*)Artikel ke-306 karya Iman Supriyono ini ditulis pada akhir tahun 2020 untuk Majalah Matan yang terbit di Surabaya edisi Januari 2021

Kau, Aku dan Adikku


Ummi, sejak awal kita sepakat bahwa pernikahan bukan hanya antara kau dan aku. Lebih dari itu, pernikahan ini adalah antara keluargaku dan keluargamu. Dan untuk ini, abi benar-benar bersyukur memilikimu. Kau pandai menjalin persaudaraaan dengan kakak adikku. Kau cakap berinteraksi dengan ayah ibuku.

Karena kau perempuan, tentu saja interaksi dengan saudara-saudaraku yang perempuanlah yang lebih menonjol. Dan karena kedekatan tempat tinggal, yang paling kompak tentu saja dengan adik perempuanku si nomor 4 yang rumahnya tidak sampai sejam perjalanan bermobil dari rumah kita. Kau biasa memanggilnya dengan panggilan sayang anak-anakmu kepada adikku itu, Amah Bud.  

Sesungguhnya, kedekatan itu sudah kau bangun sejak Amah Bud kuliah. Kebetulan dia adalah adik kelas kita di ITS. Adik kelas sangat jauh. Selisih 9 tahun dengan kita. Karena kita juga tinggal di kawasan tidak jauh dari kampus kita itu, maka, jadilah Amah Bud praktis seperti “ikut” kita saat kuliah.

Apalagi masuknya ke ITS pun atas arahan dan bimbingan kita. Mulai dari pemilihan jurusan sampai bagaimana belajar mempersiapkan diri untuk bisa tembus ujian masuknya. Praktis selama proses pembelajaran juga rajin berdiskusi dengan kita. Bahkan saat menulis tugas akhir alias skripsi untuk kelulusannya pun berdiskusi dengan kita. Aku masih ingat di Jurusan Biologi itu ia membuat tugas akhir tentang obat nyamuk.

Kedekatan Amah Bud denganmu itu kau wariskan dengan sempurna ke anak-anak kita. Jika sedang ada masalah, anak-anak kita itu mengadu kepada amah Bud seperti mengadu kepada ibunya sendiri. Bahkan ketika masalah itu begitu berat dan mereka perlu bantuan orang lain diluar bapak ibunya, Amah Bud adalah tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencurahkan masalahnya.

Bukan hanya kau yang merasa dekat dengan amah Bud. Tetapi juga sebaliknya. Amah Bud juga merasa sangat dekat denganmu. Ini jelas terbaca pada saat adikku itu dilamar seorang pemuda. Ketika itu, dia mantap bulat untuk menyerahkan keputusannya kepadamu. Adikku percaya penuh pada ketajaman jiwamu. Pada kekuatan hatimu. “Jika menurut mbak Anni iya aku akan memutuskan iya. Jika mbak Anni tidak, aku akan menolaknya”. Demikian sikapnya.

Kau bersama dua adik perempuanku

Setelah mempertimbangkannya dengan seksama, kau memutuskan iya. Subhanallah, ayahku, ibuku, aku, kakakku, adik-adikku semua percaya kepada keputusanmu. Dan itulah yang dijalani oleh Amah Bud hingga kini. Kini dua buah hati nan cantik shalihah terlahir dari pernikahan yang keputusannya didasarkan pada ketajaman hatimu itu. Semoga keputusan itu akan mengantarkan keluarga Amah Bud untuk juga mengikuti jejakmu kelak ketika sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Menghadap-Nya dengan cara yang indah. Menyebut nama Sang Khaliq pada kalimat terakhirnya. Menghadap-Nya dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang di agama kita adalah penanda husnul khotimah. Aamin.

Kau ringan sekali membantu adikku itu manakala ia membutuhkan. Saat-saat kau sudah sakit berat dan adikku itu ada masalah, kau dengan ringan hati bersamaku datang ke rumahnya. Kau turun dari mobil dengan berat untuk naik ke undak-undakan di depan rumahnya itu. Dengan penderitaan sakit yang sebenarnya tak tertahankan. Ragamu terasa berat. Tetapi hatimu terasa ringan untuk membantunya. Kau adalah kakak sejati baginya.

Sebaliknya, saat-saat sakitmu, adikku itulah orang yang paling banyak membantuku merawatmu. Mengantarmu ke rumah sakit dan gantian denganku menjagamu. Mengurusi penyewaan ranjang pasien untukmu ketika kau minta keluar dari rumah sakit dan memilih perawatan di rumah. Mencarikan tenaga profesional untuk perawatanmu di rumah. Dan tentu saja menjaga Jo dan kakak-kakaknya agar tetap dalam kondisi baik dalam segala hal manakala kita berdua tinggal di rumah sakit.

Saat-saat sakitmu makin memberat, adikku itulah yang menjadi temanku mengambil berbagai keputusan penting tentangmu.  Mengambil keputusan-keputusan penting tentang perawatanmu pada detik-detik terakhirmu berada di dunia ini. Dan akhirnya, air mata adikku itupun meleleh deras manakala kau pergi. Larut bersama air mata anak-anakmu. Larut bersama air mataku. Kau pergi dipangkuanku, di pangkuan anak-anakmu, dan di pangkuan adikku itu.

Dalam kondisiku galau sepeninggalmu, adikku itu yang membesarkan hatiku. Disampaikanya bahwa kau telah meninggalkan dunia dengan cara yang sangat baik. “Justru kita yang ditinggalkan ini yang tanda tanya. Bisakah kita meninggal dunia dengan amal jariyah sebanyak  yang Mbak Anni telah lakukan? Bisakah kita meninggal dengan cara yang sangat indah seperti Mbak Anni?”. Subhanallah. Ummi, air mataku kembali meleleh deras saat sepuluh jemariku menulis obituari kedelapan untukmu ini. Allahumarhamha. Duhai Dzat yang menggenggam jiwaku, berilah aku husnul khotimah saat Engkau takdirkanku menyusul almarhumah kelak. Berikan juga itu untuk anak-anakku. Pula untuk adikku itu.  Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-305 karya Iman Supriyono ini ditulis kantornya di Surabaya pada tanggal 14 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kedelapan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.